Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 175. Merebut kembali istri tercinta


__ADS_3

"Bik, tolong kasih tahu Ayah dan A'Rey, Mas Rahman bawa aku ke puncak! Aku berada di jalan Ganggalia sebelum masuk pintu tol Timur! Jangan di balas!"


Isi pesan Aini yang dibaca oleh Ammar, tentu saja pria itu langsung marah dan segera menghubungi anak buah naga putih untuk mencegah Rahman, dia langsung berpamitan kepada Ainun untuk membawa Aini pulang.


Mobil sport yang selama sebulan penuh tidak dipakai oleh sang pemilik, kini siap melaju dengan kecepatan tinggi saat Ammar sudah membawanya masuk ke dalam jalan raya.


"Di mana posisinya sekarang?" tanya Ammar dengan suara ciri khas baritonya kepada anak buah naga putih


Naga putih memberikan informasi kepada Ammar kalau mereka sudah masuk pintu tol Utara dengan kecepatan sedang. Dua mobil yang mengejar mobil yang dibawa oleh Rahman langsung melesat cepat agar bisa menghadang mobil tersebut.


"Pastikan kalian tidak membuat mobil itu mengetahui bila kalian mengikutinya!" perintah Ammar agar Rahman tidak membawa mobil itu berlalu kencang untuk menghindar dari kejaran mobil naga putih karena memikirkan Khanza yang ikut bersama Aini kemudian Ammar dengan cepat melajukan mobilnya menyusui mereka.


Naga putih pun mengerti maksud dari perintah Amar, mereka terus mengikuti mobil yang dikendarai oleh Rahman dari belakang dengan cara perlahan. Mereka juga melakukan pergantian jarak agar Rahman tidak curiga bila mobilnya mereka ikuti.


Sampai pada akhirnya, Amar bisa melihat dari kejauhan mobil Rahman yang dia ketahui hanya dengan melihat plat nomor yang sudah diberitahu oleh naga putih.


"Pepet secara perlahan!" ucap Ammar yang memerintahkan anak buahnya melalui speaker bluetooth.


Tentu saja anak buah naga putih pun langsung menancapkan gasnya untuk sejajar dengan mobil yang dikendarai oleh Rahman, melihat jalanan cukup sepi mobil pasukan naga putih langsung mobil Rahman.


Suara ban berdecit ketika Rahman menginjakkan rem secara mendadak begitu terdengar jelas, tangan Rahman pun menjulur ke arah depan Aini agar wanita itu tidak menabrak dashboard.


"Astaghfirullahaladzim!" Aini terkejut memeluk anaknya dengan erat saat pria yang ada di sampingnya secara mendadak menginjak pedal rem.

__ADS_1


"Brengsek!" Umpat Rahman ketika dia mengetahui bahwa yang mencegahnya itu adalah anak buah Amar, dia pun memundurkan laju mobilnya lalu melewati mobil yang ada di depannya begitu saja.


"Siap, si Mas? Ada apa? Kenapa mereka mengejar kita?" Tanya Aini yang semakin curiga dengan sikap Rahman.


"Diam dan duduk manislah! Pegangan yang kuat!" Perintah Rahman kepada Aini, dia menginjakkan pedal gas seraya menambah kecepatan yang cukup tinggi.


Mobil itu melaju dengan pesat meninggalkan mobil yang ada di depannya, tetapi siapa sangka bila ternyata mobil yang dikendarai oleh Amar bisa menyusulnya.


Suara mobil sport yang dikendarai oleh Amar meraung bagaikan singa memecah keheningan pada jalanan tol yang cukup sepi, bagaikan sedang berada di area balap mobil di saat mereka saling menambah kecepatan begitu menegangkan dan menguji adrenalin mereka.


"Mas, mereka mau apa? Kenapa kamu menghindar darinya? Ingat ada Naura dan Khanza!" Ucap Aini yang masih belum sadar bila salah satu mobil yang mengejar mereka adalah mobil suaminya.


"Soal!" Maki Rahman ketika melihat ke arah samping ternyata Amar berhasil menyusulnya, dia pun memerintahkan untuk menutup mata dan telinganya serta memeluk erat tubuh Khanza.


"Siapa mereka? Inikah alasan Rahman berubah? Tunggu dulu, mobil itu ...."


Aini mengingat kembali mobil sport yang mengejarnya, dia teringat mobil itu sama persis dengan milik mendiang suaminya. Pikirannya terus berpikir bila bukan hanya Amar saja yang memiliki mobil sport seperti itu. Namun, siapa yang mengejarnya saat ini?


"Tidak mungkin, Mas Ammar!" Batin Aini terus berkecambuk dengan pikirannya, dia munafik semua bila yang mengejarnya itu adalah suaminya. Akan tetapi, dia menyadari sesuatu yang membuatnya yakin kenapa sikap Rahman berubah.


Ya, Rahman takut Aini kembali ke pelukan Amar bila ternyata yang berada di mobil tersebut adalah suaminya, berarti jika terbukti benar Amar masih hidup, apa hubungannya dengan Rahman? Kini semua yang ada di dalam benak Aini menjadi satu sebagai kunci jawaban.


"Mas Ammar?" Ucap Aini yang mengangkat kepalanya dan melihat ke arah samping. Dia melihat begitu jelas bagaimana raut wajah pria yang selama ini dia rindukan yang selalu ada di dalam setiap doanya kini terpampang jelas di matanya saat kaca mobil yang dikendarai oleh Amar terbuka.

__ADS_1


Aini melihat sorot mata yang kesal dengan ekspresi yang serius serta membentak Rahman untuk menghentikan mobilnya, Aini melihat Rahman yang tersenyum ke arahnya seakan mengejek.


"Surprise ... apa kau menyukainya, Sayang?" Rahman tersenyum ke arah Aini ketika wanita bercadar itu tidak menuruti katanya agar untuk tetap tutup mata dan telinga, saya nggak bisa tahu siapa yang mengejar mereka saat ini.


Buliran air mata pun jatuh ke pipi Aini, dia benar-benar tidak menyangka kejadian saat ini di luar akal sehatnya. Berkali-kali dia mencoba meyakinkan bila ini kenyataan yang saat ini dia rasakan, tapi melihat bagaimana ekspresi Rahman dan juga sosok suami yang ada di depan matanya seakan hanya halusinasinya saja.


"Tenang, Sayang ... mereka tidak akan bisa mengejar kita! Kamu jangan takut, ada aku di sampingmu!" ucap Rahman dengan percaya diri.


Sungguh ini benar-benar gila, Rahman mempercayakan bila dirinya memilih lelaki seperti itu. Sampai Aini berpikir keras bagaimana caranya dia bisa kembali pada amar dan menghentikan aksi gila Rahman.


Aini melihat anaknya—Khanza yang tengah tertidur pulas dalam pangkuannya dan melihat ke arah Naura yang tengah tertidur di kursi belakang, apa yang akan dia lakukan? dia melihat ke arah depan yang ternyata sudah terbentang oleh mobil polisi dengan suara sirinenya menandakan bila Rahman harus segera menghentikan laju mobilnya.


"Mas, kamu tidak akan menerobos mereka kan?" Tanya Aini seraya masih terus berpegangan pada Han grip.


"Idemu bagus juga, Sayang!" Rahman menyentuh kepala Aini seraya tertawa atau ucapan wanita itu dan seakan menjadi ide cemerlang untuk bisa lolos dari mereka.


"Kamu gila! Hentikan! Stop!" Aini mencoba mengalihkan setirnya ke kanan dan ke kiri sehingga mobil itu pun menjadi oleng tak menentu dengan arahnya.


"Astagfirullah!" ucap Amar yang melihat mobil yang ditumpangi oleh anak dan istrinya. "Injak pedal rem-nya. Sayang!"


Seperti halnya kontak batin antara suami dan istri, Aini pun bangun seraya mempertahankan Khanza dalam gendongannya kemudian menekan kaki Rahman agar bisa menginjak rem.


"Aini, minggir!" bentak Rahman kesal ketika mobil itu berhasil berhenti saat Aini menekan kaki Rahman untuk menginjak rem pada mobil tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2