
Rumah sakit.
"Gimana ke adaannya?" Robbet langsung bertanya pada Roy saat dirinya baru saja tiba di rumah sakit saat mendapat kabar dari Ammar.
"Sedang di tangani oleh Dokter, di ruang operasi, Pak, " ucap Roy yang memberi hormat kepada Robbet.
"Terus, Ammar di mana sekarang?" tanya Robbet yang tidak melihat Ammar di sekitar ruangan tunggu.
"Bos lagi di dalam ruangan operasi, Pak. Ikut menemani Nyonya Aini." Jawab Roy dengan tegas.
Belum sempat Robbet mengajukan pertanyaan lagi kepada Roy, dari arah samping Dinda datang bersama suaminya dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Gimana keadaan, Aini sekarang?" tanya Dinda yang baru saja tiba bersama Andi suaminya.
"Dokter sedang melakukan tindakan Operasi Caesar, sedangkan Bos Ammar ikut menemani Nyonyah Aini di dalam ruang Operasi" Roy langsung menjawab pertanyaan Dinda.
Mendengar jawaban dari asisten Ammar, mereka semua hanya bisa menunggu di ruang tunggu Operasi, sambil terus berdoa agar persalinan Aini berjalan dengan lancar.
Sedangkan di sisi lain.
Ammar yang berada di dalam ruangan Operasi, tiada henti-hantinya membacakan semua surah untuk mempermudah persalinan Aini dan untuk memberikan keselamatan kepada Istri beserta kedua calon anaknya.
Tut ... tut ... tut!
Suara monitor yang memantau kondisi Aini terus berbunyi mengisi kesunyian yang mencekram di dalam ruangan operasi tersebut.
Hanya suara Dokter yang terus memberikan intruksi kepada asistennya untuk menyiapan segala keperluan yang akan di lakukan tindakannya.
Sebagian para staf medis yang sibuk melakukan bagian tugasnya merasa tenang karena mendengar suara lantunan ayat yang di bacakan oleh suami pasien dengan sangat merdu walaupun Ammar melantunkannya dengan nada cukup pelan di telinga Aini.
Sayatan demi sayatan terus di gores di setiap lapisan perut Aini hingga akhirnya Dokter melihat lapisan ketuban yang masih menyelimuti sebagian tubuh sang bayi, dengan kedua jari sang Dokter yang sedikit menekan bagian perut bawah Aini agar kepala bayi bisa keluar dari perut pasien dengan mudah.
Saat kepala bayi mulai keluar secara perlahan, Dokter langsung membantu mengunakan kedua tangannya untuk mengangkat sang bayi secara perlahan agar bisa keluar dari perut Ibunya.
Dokter pun langsung memotong tali pusar pada sang bayi yang masih tersambung dengan sang ibu menggunakan gunting bedahnya.
Cress!
Oowekk, oowekk, oowekk!
Tangisan bayi pertama terdengar oleh Ammar saat tali pusarnya di potong oleh sang Dokter. Ammar langsung terdiam sejenak saat mendengar suara tangisan bayi pertamanya lahir dengan selamat.
__ADS_1
Tetesan air mata Ammar mewakili suara yang tidak bisa keluar dari dalam mulutnya, ketika rasa syukurnya yang tiada henti-hentinya Ammar panjatkan.
Sang Dokter menyerahkan bayi pertama yang lahir kepada asistennya untuk segera di tangani lebih lanjut, lalu kembali fokus untuk mengeluarkan bayi kedua dari dalam perut Aini.
Sekali tekan dengan kedua jari sang Dokter pada perut bawah Aini, bayi mungil ke dua itu mulai keluar secara perlahan, saat kepala bayi mulai sempurna kelihatan. Dokter langsung mengambilnya dan memotong tali pusar pada sang bayi yang ke dua.
Oweek ... owekk ... oweekk!
Tangisan bayi ke dua telah lahir dengan selamat.
"Ma sya allah, Alhamdulillah ...." Ammar mencium kening istrinya dengan derai airmata.
"Terimakasih, sayang!" Ammar berbisik di telinga Aini dengan suara yang serak.
Setelah proses persalinan selesai. Dokter meminta izin kepada Ammar untuk melakukan tindakan operasi selanjutnya. Ammar pun menyetujuhi tindakan yang di ambil oleh sang Dokter untuk menyelamatkan sang istri.
Ammar di minta untuk menunggu di luar saat melakukan tindakan operasi selanjutnya, saat itu juga Ammar menemui kedua bayi kembar sepasangnya untuk mengumandakan adzan di telinga kanan sang bayi.
Suara adzan yang begitu merdu di kumandangkan oleh Ammar membuat para suster yang menjaga ruangan bayi merasa tersentuh dan kagum.
Setelah Ammar mengumandangkan azdan dan iqomah kepada kedua bayinya, Ammar menunggu kembali di luar ruangan.
Semua keluarga Aini beserta asistennya merasa senang saat melihat kedua bayi Ammar dan Aini berada di dalam ruangan khusus bayi.
"Iya, Yah lucu! Mirip saya, ya ... Yah, hidungnya mancung, ganteng!" ucap Ammar yang tidak mau kalah saing dengan Ayah mertuanya.
"Iya, kamu benar. Hidungnya mancung seperti kamu tapi raut wajahnya yang ganteng semuanya mirip banget sama saya, kakeknya!" Robbet juga tidak mau merasa kalah dari sang menantu.
"Si Ayah, bisa saja ... kan saya, Abi nya! Jelas mirip saya lah, Yah!" Ammar tertawa dengan maksud menyindir sang mertua.
"Iya, kamu benar! Kamu memang ayahnya, tapi saya, kakeknya!" Robbet membalas sindiran dari menantunya.
Melihat perdebatan antara menantu dan sang mertua. Dinda dan para asisten Ammar hanya menepuk jidat mereka masing-masing sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, sudah ... lebih baik kita ke ruang tunggu operasi aja! Untuk menunggu Aini." Andi mencoba melerai perdebatan antara menantu dan mertua.
Setuju dengan pendapat Andi Robbet hanya melangkahkan kakinya lebih dulu sebelum Ammar menjalankan kursi roda otomatisnya.
"Aduh-aduh ... gak mertua, gak menantu sama aja!" Dinda membuang nafas panjangnya secara kasar.
------
__ADS_1
"Apa kamu sudah berpisah dari nya?" tanya Robbet saat sedang berdua dengan menantunya.
"Dia sudah mengajukan surat pisah sama saya! Dan saya sudah mendapat surat dari Pengadilan Agama." Ammar berterus terang kepada Robbet.
"Saya harap, kamu tidak mengecewakan saya untuk kedua kalinya!" Robbet mencengram bahu Ammar dengan kuat lalu meninggalkannya begitu saja di ruangan tunggu.
"Bos," ucap Roy yang mengawatirkan atasannya saat Robbet sudah melangkahkan kakinya keluar.
"Sudahlah! Saya tidak apa-apa." ucap Ammar menenangkan rasa kekawatiran asistennya.
Beberapa jam kemudian.
Pintu ruangan operasi terbuka, terlihat sang Dokter keluar bersama para staf medis lainnya yang sudah selesai menjalankan tugasnya.
"Keluarga pasien?" ucap salah satu suster yang menemui keluarga Aini.
"Iya, Sus?"jawab Robbet yang bagun dari tempat duduknya.
"Mohon untuk ikut saya keruangan, Dokter! Selebihnya bisa menunggu di ruangan." Suster meninggalkan ruangan tersebut saat selesai berbicara.
Robbet dan Ammar mengikuti suster ke ruangan Dokter untuk mengetahui hasil operasi yang di lakukan sang Dokter.
Setelah Dokter menjelaskan panjang lebar mengenai penyakit Aini selama ini, ternyata berpusat pada kecelakaan tahun lalu yang mengakibatkan gangguan di kepala Aini.
Dengan menunjukan hasil CT-scannya kepada Robbet dan Ammar, bahwa ada beberapa sedikit masalah pada pada bagian kepala Aini, itu lah yang mengakibatkan pasien merasakan sakit luar biasa saat kondisi tertentu.
Berkat kerja keras Dokter dan juga doa dari keluarga pasien, akhirnya operasi berjalan dengan lancar dan pasien bisa di selamatkan.
Ammar dan Robbet mengucapkan rasa terima kasih atas kerja keras Dokter dan para staf medis lainnya untuk menyelamatkan orang yang mereka cintai.
Setelah mendengar penjelasan dari Dokter, mereka berdua keluar dan berjalan menuju ruang rawat pasien. Robbet mendorong kursi roda Ammar sambil berbincang senang kepada menantunya.
Dinda bersama suaminya merasa heran melihat tingkah laku menantu dan mertua yang begitu akrab dan hangat semejak keluar dari ruangan Dokter.
"Sudah ah, pusing aku liat mereka! Tadi berdebat soal bayi, sekarang saling tertawa dan bercanda," ucap Dinda yang tidak habis pikir melihat keharmonisan antara mertua dan menantu.
Bersambung...
Terima kasih untuk kalian yang masih setia menanti kisah Aini untuk Up, 😀 maaf ya, lama ...😢
Nah selagi menunggu kisah Aini untuk up mampir yuk di cerita yang menarik satu ini dari Author yang terkece.😀
__ADS_1