
"Sembilan-sembilan, seratus!" Roy menghitung dari satu sampai seratus di kalah mereka telah melakukan pull up bersama yang kini menjadi tiang olah raganya di saat para penjaga tengah lengah.
Otot kekar kedua pria yang kini disekap di dalam gudang menjadi tambah kuat, usai mereka berlatih selama kurang lebih sebulan. Mereka berdua memang dipasung tapi beruntungnya, Rio tahu cara melepaskan pengikat pasung pada rantai besi. Mereka awalnya berusaha untuk pergi kabur dari sekapan itu, tetapi mereka menyadari bukan saatnya yang tepat untuk kabur saat itu.
Butuh perencana matang, agar bisa terbebas dari pulau kecil itu yang ternyata dikelilingi oleh lautan dan juga hutan, nggak butuh perhitungan matang agar mereka berhasil untuk lolos. Sembari menunggu waktu yang tepat mereka pun melakukan kegiatan di dalam ruangan itu yang menjadi tempat sekapan mereka.
Pada saat penjagaan mulai berjaga mereka pun kembali berpura-pura terikat oleh pasung, tetapi ketika penjagaan di tengah malam begitu lemah mereka pun melakukan kegiatan olahraga demi kebugaran dan kekuatan pada tubuh mereka agar siap bertempur melawan musuh yang jumlahnya tidak sedikit.
"Roy, tidurlah! Siapkan tenagamu untuk besok malam! Karena aku, tidak mau membiarkan bedebah itu bisa mendapatkan istriku dengan mudah!" perintah Ammar kepada Roy usai melakukan olahraga rutin setiap malam.
***
Perusahaan energi Abqori, menjadi salah satu perusahaan terbesar di negara tersebut. Awalnya semua rekan bisnis menganggap perusahaan itu akan segera bangkrut cepat atau lambat. Akan tetapi siapa sangka, bila perusahaan itu semakin berkembang dengan pesat saat Aini menjalankan perusahaan baru beberapa hari.
Jam terus bergulir, matahari pun mulai menegakkan cahayanya hingga bayangan yang tak terlihat pun menjadi saksi bila paparan sinarnya terlalu tinggi. Aini yang telah usai menghadiri rapat penting, langsung mengajak salah satu rekan bisnisnya untuk ikut makan siang bersama tetapi baru saja dia ingin masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba dari belakang seseorang telah memanggilnya.
__ADS_1
"Aini!" teriak Rahman ketika baru saja tiba.
Aini pun melihat ke arah samping ketike Rahman baru saja keluar dari dalam mobilnya dengan penampilan rapih dengan membawa sebuket bunga menghampiri ke arah dia, ingin rasanya Aini langsung pergi dari sana ketika semua tatapan tertuju ke arahnya saat ini.
"Astagfirullahaladzim!" gumam Aini dalam hatinya, dia pun menahan tangan salah satu karyawanya agar tidak pergi meninggalkan dia.
"For you," ucap Rahman seraya menyerahkan buket bunga tersebut.
"Thanks," sahut Aini dengan malas, dia hanya bisa menerima bunga itu saat ini.
Aini melihat kedua bola mata Rahman melihat ke arah karyawannya yang bernama Susi, dia pun berinisiatif untuk mengenalkan Rahman kepada Susi. Karyawannya itu menjulurkan tangannya ke arah Rahman sebagai tanda pengenalan, Rahman hanya tersenyum seraya menyebut namanya.
"Ah, tidak usah. Kebetulan Susi meminta makan siang di restoran seafood! Ya kan, Sus?" Aini menatap Susi dengan tatapan mengancam agar karyawannya itu mau bekerja sama dengan dirinya.
"Ha? Ha ... ah ... iya, seafood ... iya, seafood!" Susi tertawa canggung melihat ke arah Rahman.
__ADS_1
Aisyah tahu kalau Rahman tidak bisa makan seafood, bukan karena alergi tapi memang dia tidak suka dengan makanan seafood. Aini berharap dengan ini Rahman tidak mau ikut dengannya, agar bisa menjauh dari lelaki itu yang setiap hari, setiap waktu menempel terus menerus.
"O-oke kalau begitu, kebetulan saya juga ingin makan seafood." Rahman ragu-ragu membuka pintu mobilnya agar Aini beserta karyawannya itu mau masuk ke dalam mobilnya.
"Kita bawa mobil sendiri aja, soalnya abis makan siang aku sama Susi mau langsung menemui clein." Aini langsung membuka pintu mobil tetapi Rahman sudah menutupnya kembali.
"Biar saya juga yang akan mengantar kalian bertemu dengan clien!" Rahman tetap pada pendiriannya.
"Mas?" ucap Aini yang menekan suaranya.
"Apa? Kan kamu sudah janji, sama Mas! Kalau ka—"
"Ok," ucap Aini yang semakin jengkel dengan Rahman. "Sus, ayo!"
Aini terpaksa masuk ke dalam mobil Rahman di mana dia diperintahkan duduk di depan sedangkan Susi duduk di belakang, dia hanya terdiam selama perjalanan menuju restoran enggan untuk membuka suara lebih dulu, dia menyadari kesalahannya yang memberikan pria itu kesempatan selama seminggu.
__ADS_1
Masih ada beberapa hari lagi, Aini berharap jika dia menolak lelaki itu maka Rahman bisa menerimanya dengan lapang dada. Bagaimanapun juga perasaannya tidak bisa dipaksakan untuk berpaling dari sang suami yang selama ini sudah singgah di hatinya bertahun-tahun.
bersambung...