Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 148. Rey kabur


__ADS_3

Ammar merasa ada sesuatu yang aneh pada istrinya itu, seakan dia tidak mau membahas soal keluarga Al-Ghazali dan meninggalnya ibu mertua Ammar.


"Roy! Bantu aku selidiki kasus kecelakaan di daerah kota X." Ammar menghubungi asisten pribadinya saat dia berada di kamarnya.


Rio pun menerima perintah dari atasannya, walaupun dirinya tidak tahu pasti akan mendapat informasi yang sesuai dengan kemauan Ammar. Pasalnya kejadian itu sudah berlalu kurang lebih 25 tahun, dan sekarang dia harus mengorek kembali yang dia sendiri tidak tahu pasti.


***


Semenjak tahu bahwa Jasmine melakukan pekerjaan kotor itu hanyalah terpaksa, Rey menjadi semakin yakin untuk memantapkan dirinya melamar gadis itu, dia pun berbicara jujur pada kedua orang tuanya mengenai Jasmine.


"Apa! Ayah tidak akan pernah setuju kamu sama pellacur itu!" bentak sang ayah pada Rey.


"Yah! Dia bukan pellacur yang ayah kira," kecewa Rey pada ucapan sang ayah.


Bunda Ismi pun mencoba untuk menjelaskan kepada anaknya secara perlahan. "Bukan gitu maksud ayahmu."


"Bun ... Bunda mau lihat aku terus tersiksa sama perasaan aku ke Aini? Aku udah coba Bun! dan sekarang aku sudah menemukan itu!" Rey memohon kepada ibunya.


"Kalau kamu masih maksa untuk tetap bersama pelacur itu, silahkan angkat kaki dari sini!" bentak sang ayah..


Sang ayah bukannya tidak ingin melihat anaknya bisa membuka hatinya untuk wanita lain, tapi karena setatus Jasmine yang bekerja sebagi wanita penghibur, Sang ayah hanya ingin menjauh dari rumor yang tidak mengenakan, apalagi karena setatus dia begitu dihormati se-Jawa barat. Otomastis akan berpengaruh pada keluarganya.


"Jadi ayah ngancam Rey kaya dulu lagi? Oke!" Rey melangkahkan kakinya keluar dari rumah, dia tidak percaya bila sang ayah mengancamnya seperti saat dia bersih kukuh dengan pendirian dia untuk mencari Aini.


Kali ini Rey akan mendapatkan kebahagian itu sendiri, dia membawa sepeda motornya dan pergi menjauh dari kediaman rumah Al-Ghazali.


***


Sudah beberapa hari telah berlalu, kini Aini di temani oleh baby sister yang membantunya untuk mengurus bayi kembar. Malam ini, sengaja Aini berpenampilan cantik untuk menyenangkan hati suaminya itu.


"Mas, ini minumnya." Aini menaruh gelas di atas lemari kecil yang ada disamping tempat tidur.


"Terima kasih, sayang," ucap Ammar.


Ammar meminumnya, lalu kembali fokus pada layar laptopnya kemudian, Aini pun berjalan mendekat ke arah suaminya itu.


"Mas, cape ya? Aini pijitin, ya." Aini mulai menaruh tangan pada kaki Ammar. Perlahan tangan itu bergerak menelusuri kaki sang suami.

__ADS_1


Ammar pun melirik ke arah tangan sang istri, kemudian dia menaruh laptopnya itu ke atas meja lemari kecil, kemudian menarik tangan Aini agar bisa berada di sampingnya.


"Kapan wisudanya?" tanya Ammar.


"Minggu depan." Aini memeluk suaminya dari arah samping.


"Oke, setelah Wisuda, Mas akan pergi ke London dalam kurun waktu sebulan. Mas pengen kamu juga ikut sama Mas." Ammar mencoba menjelaskan kepada Aini tentang perjalanan bisnis.


"Hah? Ke London?" tanya Aini.


Aini langsung melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya. Niatnya ingin bermanja-manjaan tetapi malah dia yang mendapat kabar yang membuat hatinya kecewa.


"Iya." Ammar menarik bahu Aini lagi untuk bisa bersandar dalam pelukannya.


"Aini gak bisa ikut, kan Aini harus urus semua keperluan di kantor bunda Ismi nanti setelah wisuda," ucap Aini dengan lirih.


Ammar pun mengelus kepala Aini seraya mengecup keningnya, dia mencoba untuk menjelaakan perjalanan bisnis dia yang harus berangkat ke London Minggu depan.


Dengan berat hati, Aini pun membiarkan Ammar pergi London untuk pekerjaannya, sementara dia dan kedua anaknya harus hidup terpisah selama sebulan.


"Hai, jangan cemberut gitu dong ... kan bisa video call." Ammar mencubit hidung sang istri.


Ucapan Aini terpotong saat suara ponsel miliknya berdering, Ammar mencoba melihat siapa yang menelepon sang istri selarut ini. Tertera nama Bunda Ismi yang ada pada layar ponsel Aini.


"Assalamualaikum, Bun." Ammar menjawab panggilan bunda Ismi dan menyuruh sang istri jangan berbicara lebih dulu.


Terdengar suara Bunda Ismi yang menanyakan keberadaan soal Reyzal, Ammar pun hendak menjawab pertanyaan Bunda Ismi, tetapi suara ketukan pintu kamar terdengar oleh pasangan suami istri tersebut.


Aini pun membuka pintu kamar dengan sedikit, dan terlihat Bik Sumi yang menyampaikan kepada Aini bahwa di ruang tamu ada Reyzal yang langsung tertidur di kursi ruang tamu.


Ammar yang mendengar obrolan sang istri bersama asisten rumah tangga, langsung memberi kabar kepada Bunda Ismi, bahwa Reyzal berada di rumahnya. Bunda Ismi pun memberi nasihat kepada Ammar, tentang menasihati Reyzal soal keputusan sang ayah yang mengizinkan dia bersama Jasmine. Asalkan Reyzal bisa pulang dan mau membawa Jasmine ke rumah.


Mendengar ucapan dari Bunda Ismi, Ammar pun mengerti dan akan menasihati Reyzal soal keputusan sang ayah. Dia pun mematikan sambungan teleponnya dan berjalan mendekat ke arah sang istri.


"Kamu jangan keluar, biar mas yang menemui Rey," pinta Ammar.


"Iya," sahut Aini.

__ADS_1


"Pakai baju yang lebih ketutup! Jangan buka pintu kamar sebelum mas balik!" Ammar membalikan tubuh sang istri agar mengganti baju yang lebih tertutup.


Ammar pun menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menuruni tangga, sampai di ruang tamu dia melihat Reyzal yang sudah tertidur pulas di kursi, jaket serta sepatu pun masih menempel di tubuhnya.


Ammar menggelengkan kepala melihat tingkah Reyzal yang semaunya saat berada di rumahnya. Apalagi saat Ammar mendengar ucapan bunda Ismi tentang Jasmine, Ammar berfikir bahwa sudah ada wanita lain untuk dijadikan istri oleh Rey.


"Jasmine, katanya Nabila!" Ammar menendang kaki Rey. Namun, sang empu masih belum sadar.


"Pulang, pulang, pulang!" Ammar masih menendang kaki Rey agar sang empu terbangun.


"Berisik lo, bang! Ngantuk gue!" Rey bangun dari tidurnya dan langsung berjalan ke arah dapur.


"Di suruh pulang malah ke dapur," ucap Ammar yang melihat ke arah Rey.


Rey mengambil piring beserta lauk pauk yang di masak oleh Aini, dia langsung melahap makanannya usai membaca doa.


"Katanya, ngantuk tapi makan! Gimana sih? Ngantuk itu tidur, bukan makan!" Ammar menuang air ke dalam gelas.


"Sorry lupa bilang, numpang makan, Bang." Rey menyendok lagi makanan ke dalam mulutnya.


"Selesai, cuci piring sendiri!" Ammar duduk di ruang televisi sembari menonton siaran bola.


Usia selesai makan, Rey pun mencuci bekas piringnya dan berjalan menuju Ammar, dia pun duduk di samping pria yang bersatatus suami dari adik angkatnya.


"Orang mana?" tanya Ammar.


"Mau tahu aja, Lo! Entar diembat lagi," ledek Rey. Dia ikut menonton pertandingan dengan sekor satu banding satu sembari menikmati kacang yang ada dihadapannya.


Ammar langsung merebut menyumpal mulut Rey dengan cangkang kacangnya. Rey pun tertawa mendapat luapan emosi dari Ammar.


"Pulang sana!" celetuk Ammar dengan tatapan sinis.


"Ya, ya ... ampun, Bang!" Reyzal langsung merangkul Ammar sembari tertawa, tidak lupa dia membukakan kacang untuk Ammar sebagai tanda permintaan maaf, kemudian dia menceritakan tentang sosok Jasmine yang sudah berhasil merebut hatinya.


Ammar pun turut senang mendengar Reyzal sudah menemukan pengganti Aini, dia juga memberi nasihat kepada Reyzal bahwa dia harus membawa Jasmine kehadapan orang tuanya karena sang Ayah sudah merestui hubungan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


***hallo sobat readers tersayang... masih pada nunggu cerita Aini gak ya? Maaf author sibuk ngurus karya kedua sampai lupa alur cerita pertama ... semoga tidak terlalu mengecewakan ya... 🤭🤭 Jangan lupa mampir di karya ke dua author ya... yang berjudul : Kesayangan Sang Pewaris. Author tunggu like komen hadiah serta votenya ya... di karya ke dua author...


terimakasih bagi yang masih setia menunggu kisah Aini... salam sayang untuk kalian di mana pun kalian berada.. 😘***


__ADS_2