Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 123. Pengalaman Baru bagi Gabriel.


__ADS_3

Warning!! Bab ini mengandung konten khusus, mohon bijak dalam membaca. Jika tidak berkenan, silahkan di skip! Kerena terdapat adegan pelampiasan dari seorang yang patah hati yang teramat dalam, sehingga menyebabkan dirinya lepas kendali. Adegan ini tidak pantas untuk di tiru!!!


Malam hari.


"Masih ngambek?" tanya Aini yang mendekat ke arah suaminya. Tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri, Ammar terus memainkan ponselnya.


"Mas, kamu kan tau, tadi itu ada Bunda dan juga Ibu. Lagian kan, aku dan Aa itu hanya sebatas Kakak dan Adik." Aini mengambil ponsel Ammar agar suaminya mau mendengarkan penjelasannya.


"Tapi, Mas, tetap tidak suka, kalau ada lelaki lain masuk ke kamar kita!" ucap Ammar dengan tegas.


"Maaf." Aini mengeluarkan rotan dan menyerahkan kepada Ammar lalu merentangan kedua tangannya agar dirinya bisa di pukul oleh sang suami akibat telah membuat suaminya murka.


Aini sudah siap menerima pukulan dari Ammar, memejamkan matanya saat Ammar mengambil rotan yang sudah di berikan oleh Aini.


Ammar mengangkat rotan dan siap memukul kedua telapak tangan Aini. Namun, bukan sakit yang Aini dapat, justru rasa geli di telapak tangan yang di rasakan oleh Aini di tambah Ammar langsung mengecup sekilas bibir Aini.


"Bagaimana mungkin aku bisa menghukummu dengan cara seperti ini? Sedangkan kamu sudah berjuang menahan sakit saat melahirkan kedua anakku!" Ammar memeluk Aini dengan hangat.


"Maaf, Aini janji gak akan ada laki-laki lain yang masuk ke dalam kamar kita!" Aini membalas pelukan Ammar.


"Mas, pegang janji kamu dan jangan terlalu dekat dengannya. Mas gak suka!" ucap Ammar yang mulai posesif terhadap istrinya.


"Iya, Aini janji," ucap Aini yang menyakinkan suaminya.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Ammar yang ingin mengetahui dari mulut istrinya sendiri.


"Apa kedua buah hati kita belum cukup untuk membuktikannya?" tanya Aini.


"Kalau begitu, kasih tambahan untuk membuktikanya." Ammar langsung menyambar bibir Aini dengan rakus.


Mendapat sambaran yang begitu tiba-tiba, Aini langsung mengimbangi permainan yang di berikan oleh suaminya. Ciuman yang Ammar berikan kali ini begitu posesif dan sangat jelas Aini rasakan.


Hmmpp!


Suara decapan dari pangutan kedua bibir membuktikan betapa nikmatnya yang mereka rasakan, entah sudah berapa lama Ammar menyesap dan melumatti setiap inci mulut istrinya.


Setelah di rasa sudah di ujung tanduk, Ammar menuntun Aini agar istrinya mau mengikuti arahan darinya.


Kini posisi Aini berada di atas tubuh Ammar, Aini terus memberikan aksi yang begitu luar biasa dia atas sana dengan lihai dan lebih berani, sehingga hasrat yang sudah Ammar tahan, hancur di bobol oleh Aini.


"Come on, Honey!" ucap Ammar yang begitu frustasi akibat ulah Aini yang begitu lihai memainkan sesuatu di bawah sana.


Mendengar ucapan dari suaminya Aini tersenyum puas dan langsung melanjutkan aksi berikutnya yang membuat Ammar semakin lepas kendali.


"Akhhh!" suara nikmat Ammar lolos saat Aini mengarahkan junior milik sang suami masuk kedalam sangkarnya.


Tanpa berbasa-basi Aini langsung menggoyangkan pinggulnya secara perlahan membuat sensansi nikmat yang tiada tara.

__ADS_1


Suara kenikmatan saling beradu satu sama lain, menambah kesan yang begitu mendominasi untuk meraih titik puncak birahi sepasang insan yang sudah resmi.


Gesekan demi gesekan yang di lakukan sang istri di atas sana, membuat junior merasa ada kedutan pertama yang dirasakan. Ammar manuntun pinggul Aini agar lebih di percepat gesekanya.


"Akkh ... fast, Honey!" pinta Ammar saat dirinya sudah merasakan sesuatu yang ingin meledak dari dalam sangkar.


"Ahhh!" erangan panjang dari mulut istrinya lolos bersama dengan erangan dari sang suami.


Masih dengan deruh nafas yang tidak beraturan Ammar menyesap salah satu benda kenyal milik Aini sembari memejamkan matanya.


Come back to Roy and Gabriel.


Apartemen Roy.


Setelah kejadian di danau yang membuat Roy salah paham dengan Gabriel. Gabriel hanya bisa terdiam seribu bahasa. Begitu banyak yang ingin dia sampaikan kepada Roy, akan tetapi dia urungkan niatnya.


"Makanlah!" Roy menyodorkan sepiring nasi goreng di depan Gabriel yang sedang mengerjakan tugas sekolah.


"Makasih, Om!" Gabriel tersadar dari lamunanya.


"Loh kok di beresin? Aku kan belum selesai, Om!" Gabriel menghentikan tangan Roy untuk merapihkan buku sekolahnya.


Cup. Ciuman mendarat di bibir Gabriel.


"Itu sebagai hukuman buat kamu, karena sudah melanggar perjanjian." Roy mengingatkan kembali kepada Gabriel tentang larangan menyebut nama Om di saat sedang berdua.


"Om! Bisa gak jangan sembarangan mencium orang? Aku tuh sudah punya pa ...." Belum sempat Gabriel meneruskan ucapannya, Roy langsung mendorong bahu Gabriel hingga terjatuh di atas sofa.


Roy melihat sorot mata Gabriel yang begitu berani dan deru nafas yang tidak beraturan membuat kedua buah kembarnya bergerak seakan sedang menggoda Roy.


Keringat dingin Roy melihat gundukan yang begitu dekat dengan matanya. Tanpa mendengar ucapan dari Gabriel, Roy mendekat dan mencoba untuk mencium kembali bibir yang sudah menjadi candu baginya.


"O-o-om, ja-jangan!" Gabriel memalingkan wajahnya saat Roy ingin mencium bibirnya.


"Apa kamu sudah putus darinya?" tanya Roy ke pada calon istrinya.


"Apa hak, Om!" Gabriel berusaha melepaskan cengraman dari tangan Roy.


"Karena aku calon suami kamu!"


"Apa buktinya? Om aja gak pernah nembak aku? Om juga belum minta persetujuan dari ayah kan?" tanya Gabriel dengan sendu.


"Aku sudah bilang sama Ayah, kamu! Juga sudah membayar semua kerugian untuk membatalkan perjodohan kamu dengan Panji, Dan juga ... sudah melaporkan kelicikan yang kakak kamu rencanakan."Roy mendekatkan dan menekan wajahnya di atas benda kenyal milik Gabriel.


"Kenapa, Om melakukan itu?" tanpa sadar tangan Gabriel mengusap kepala Roy dengan lembut, menikmati sensai yang baru Gabriel rasakan.


"Karena aku, sudah jatuh cinta pada pandangan pertama." Roy masih mengusak wajahnya ke benda empuk yang berada di hadapannya.

__ADS_1


"Akkh! Om tahu? Om hanya terobsesi dengan tubuhku," ucap Gabriel yang merasakan benda keras yang menekan area bagian bawahnya.


"Apa kau menyukainnya?" Roy memberanikan diri untuk menggerakan sang pusaka secara perlahan di atas area milik sang gadis.


"Coba lah pegang!" ucap Roy yang menuntun tangan Gabriel ke arah benda pusakanya.


"Akkhh!" erangan pelan dari mulut Roy keluar saat benda pusakanya mendapat sentuhan untuk pertama kalinya.


Gabriel tidak percaya dengan dirinya yang sudah berani melakukan hal yang sudah diluar nalarnya.


Roy menjadi lepas kendali saat tangan Gabriel, meremas lembut pusakanya, Roy melihat ke arah Gabriel yang sudah merah merona.


"Apa kamu belum pernah melakukanya?" tanya Roy saat melihat wajah Gabriel merah merona.


"Hmmm," ucap Gabriel yang menahan rasa sensasi di bawah sana saat tangan Roy mulai menyeledup masuk ke area sensintive Gabriel.


Roy tersenyum puas, pikiran mesum dan nakalnya mulai menjalar, akal sehatnya tertutup oleh nafsu yang sudah meningkat.


"Keluarkan suara mu!" suara Roy yang sudah semakin berat.


"Om, jangan! Akkhh!" Gabriel mencoba menghentikan aktifitas di bawah sana.


"Panggil aku, Roy! Aku akan menghentikannya." Roy masih terus mengelus dan memainkan benda kecil yang menjadi titik pusat bagi seorang wanita.


"Om! Akkhh!" Gabriel mendapat sengatan baru yang Roy ciptakan.


"Good Girl," ucap Roy yang tersenyum senang. ketika Gadisnya menginginkannya.


Deru nafas Gabriel menjadi semakin tidak karuan saat Roy mempercepat permainan tanganya di bawah sana, karena ini pertama bagi Gabriel.


Pengalaman pertama yang belum pernah Gabriel rasakan, begitu aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya sehingga menginginkan lagi dan lagi.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Roy mencium bibir Gabriel dengan rakus sambil terus mengaduk titik sensi pada Gabriel.


"Akkhh, Om!" Gabriel sudah di batas puncaknya.


"Yes, Baby!" sahut Roy ketika melihat raut wajah Gabriel sungguh menggoda.


"Mau pipis!" ucap Gabriel dengan nada bicara yang sudah parau.


Mengerti dengan apa yang di maksud oleh Gabriel. Roy mempercepat gerakan jarinya, sehingga Gabriel menarik wajah Roy dan melumatii bibir Roy dengan gigitan kecil untuk menutupi sesuatu yang meledak keluar dari bawah sana.


"Ahhm." Gabriel melepaskan ciumanya saat denyutan di bawah sana mulai berkurang.


"Aku ingin kamu putus dengannya! Karena sekarang, kamu sudah menjadi wanitaku!" ucap Roy di telinga Gabriel.


"Hhm!" jawab Gabriel yang teramat malu dengan apa yang dia lakukan bersama Roy.

__ADS_1


Roy tersenyum puas, saat dirinya sudah berhasil menikung kekasih orang lain, rasa sakit yang Roy rasakan, mengubah dirinya menjadi seorang yang cukup tidak bermoral terhadap Gabriel.


Bersambung...


__ADS_2