Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 129. Saingan cinta


__ADS_3

Aini terus memperhatikan Gabriel yang melihat ke arah Nico di atas panggung. Begitu jelas tersirat rasa benci dan cinta di kedua mata Gadis belia itu.


"Apakah dia orangnya?" Aini berbisik di telinga Gabriel.


"Iya," jawab Gabriel dengan suara pelan di telinga Aini, setelah mendengar jawaban dari Gabriel. Mereka pun kembali fokus ke acara selanjutnya.


Setelah acara utama telah selesai, semua tamu undangan diberikan kebebasan untuk bercengrama sembari menikmati hidangan yang sudah disajikan.


"Kak, aku ambil puding dulu ya?" Gabriel menggeser bangkunya.


"Hmm, iya." Aini mengangguk ke arah Gabriel.


"Aini?" panggil seseorang dari arah samping Aini.


"Ulfa? Masyaallah bisa ketemu di sini. Kamu, ama siapa?" Aini membalas rangkulan dari Ulfa.


"Samaa ...." Ulfa terkejut saat melihat Roy berada di samping kiri Ammar.


"Hallo, selamat malam, Tuan Ammar." Altan menjulurkan tanganya.


"Wah, suatu kehormatan untuk saya di hampiri seorang pengusahan sukses terbesar dari Turki." Ammar membalas uluran tangan Altan.


"Wah, ucapan Tuan Ammar berlebihan. Oh iya, Tuan Ammar. Boleh kita ikut bergabung?" tanya Altan.


"Hmm?" Ammar sedikit bingung dengan ucapan Altan dengan menyebut dengan kata kita.


"Oh iya, hampir lupa. Ini Istri saya, Ulfa. Honey, kenalkan ini teman aku waktu kita satu kampus." Altan menarik pinggang ramping milik Ulfa.


"Ah iya ... Ulfa," ucap Ammar langsung menyebut nama Istri Altan.


"Kalian saling kenal?" tanya Altan dengan heran.


"Istrinya, Mas Ammar teman kampus, aku." Ulfa mencoba menjelaskan kepada suaminya.


"Wah ... kebetulan sekali, sepertinya kita double couple yang sangat serasi. Boleh kita ikut bergabung dengan kalian?" Altan melirik ke arah Roy yang berada di samping Ammar.


"Oh, iya. Silahkan," ucap Ammar tersenyum.


"Oh iya, kenalkan, dia Sahabat saya," Ammar memperkenalkan Roy kepada Altan sebagai sahabatnya, bukan asistennya.


"Oh iya? Hallo, Altan. Suaminya, Ulfa." Altan menjulurkan tangannya terlebih dahulu kepada Roy sembari masang senyuman yang mengejek.


"Roy." Roy membalas uluran tangan Altan.


Tangan mereka saling mencengram satu sama lain dengan sangat kuat, sehingga menciptakan angin topan tornado di astmofer sekitar mereka.


"Wahh, gimana kabar kamu, Al?" Ammar tertawa mencoba menghangatkan suasana sebelum badai petir menyambar.


"Alhamdulillah, baik. Kapan kamu akan kerumah lagi, seperti dulu saat masih kuliah?" tanya Altan melepaskan tangan Roy dan berahli ke Ammar.


Mereka pun saling bercerita tentang masa-masa saat kuliah dulu, berbeda hal dengan Ulfa dan Aini yang masih mempersiapkan ujian akhir semester di mata kuliahnya.

__ADS_1


Begitu bahagia Altan dan Ulfa saat mereka menceritakan keharmonisan rumah tangga mereka yang baru saja beberapa bulan, kepada Ammar dan Aini.


Aula yang begitu ramai penuh canda dan tawa, tetapi sangat gelap dan kelam di atas kepala Roy. Sakit, perih di relung hati Roy yang di rasakan saat ini.


Ketika mendengar bahwa wanita yang belum bisa Roy lepaskan sepenuhnya, tengah mengandung benih cinta dari Altan. Musuh Roy saat bertemu di pantai waktu itu.


Di sisi lain.


"Hai, Gab?" Sisil mendekat ke arah Gabriel sembari menggandeng tangan Nico.


"Oh, hai!" Gabriel berbalik melihat Sisil bergelayut manja di tangan Nico.


"Eh, sorry. Gak apa-apakan kalau gue tunangan sama, Nico? Kalian udah putuskan?" tanya Sisil masih sok akrab dengan Gabriel.


"Gak apa-apa," jawab Gabriel dengan santai.


"Syukur deh, kalau gitu. Oh iya, kamu kesini sama calon suami, kamu?" tanya Sisil yang mengetahui bahwa Gabriel akan menikah dengan Panji, lelaki tua yang sudah memiliki banyak Istri.


"Iya!" Jawab Gabriel dengan berani.


"Kamu berani juga ya? Datang bersama Istri pertamanya, Om Panji." Gabriel tertawa di samping Nico.


"Oh," jawab Gabriel dengan dingin.


"Kamu kenapa sih? Marah sama, aku? Karena aku tunangan sama, Nico? Kaliankan sudah putus. Benerkan, Beb?" Tanya Sisil kepada Nico.


"Iya," jawab Nico yang tersenyum ke arah Sisil.


"Aku gak marah kok, sama kalian. Selamat ya, Sil, Nic. By the way ... muka kamu kenapa, Nic? Kaya habis dipukulin sama calon suami orang!" sindir Gabriel dengan sinis.


"Ah ... biasa laki-laki." Sisil menjawab petanyaan Gabriel.


"Oh, ya, ya. Laki-laki. Waduh ... kalau aku boleh saran ya, Sil. Hati-hati sama sifat laki-laki yang main celap-celup, bahaya! Takut ada penyakitnya." Gabriel menyerang dengan kata-katanya yang mampuh membunuh Sisil dan Nico dengan serangan anak panahnya.


"Maksud kamu apa?"tanya Sisil terpancing emosi. Namun, Nico menahannya.


"Gak ada maksud apa-apa. Ya udah, selamat menikmati pasangan baru, eh lama! Bye." Gabriel mengambil piring yang berisikan puding lalu melangkah pergi meninggalkan Sisil yang sudah terbakar emosi.


"Gab, tunggu!" Sisil mengejar Gabriel yang di ikuti Nico.


Gabriel perlahan mendekat ke arah meja Aini dan juga Ammar, tetapi Gabriel melihat aura yang sungguh menyeramkan lebih dari sebuah film horor yang pernah dia tonton, berada di sekitar Roy.


Dalam waktu singkat Gabriel bisa memahami kondisi yang berada di meja tersebut. Gabriel bisa menebak bahwa wanita yang bertemu dengan dirinya adalah Ulfa, pujaan hati Roy.


"Cih, dasar cowok baperan! Oke, Gab. Tunjukan bakat actingmu, ready, rolling and ... action." Gabriel berbicara pada dirinya sendiri dan berjalan mendekat ke arah Roy.


"Eh, Maaf ya ... Bee, lama." Gabriel duduk di samping Roy membawakan sepiring puding jeruk di hadapan Roy.


Sontak membuat orang yang berada di dekat mereka berhenti berbicara dan tertuju pada sosok Gadis belia yang masih muda dan cantik. Roy pun di buat terkejut dengan cara bicara dan sikap Gabriel kepada dirinya, sampai tidak bisa berkata apa-apa.


"Eh, ada Kakak yang di toilet" Gabriel tersenyum melihat ke arah Ulfa dan Altan.

__ADS_1


"Kakak yang di toilet?" tanya Aini yang terheran dengan ucapan polos Gabriel.


"Ah, iya. Kita bertemu pas ketoilet bareng." Ulfa mencoba mencairkan suasana.


"Oh, iya kenalin Gab, dia teman kakak," ucap Aini yang memperkenalkan Ulfa kepada Gabriel.


"Oh, ternyata teman Kak Aini? Hai, Kak, aku Gabriel calon Istri, Mas Roy." Gabriel menjulurkan tangan putih mulusnya kehadapan Ulfa.


"Ulfa," jawab Ulfa.


"Altan," ucap Altan. Namun, Gabriel hanya membalas dengan senyuman.


Gabriel fokus kembali kepada Roy yang masih belum bisa mencerna sikap Gabriel saat ini.


"Bee? Kok gak di makan pudingnya? Kamu gak suka pudingnya ya? Aku ambilin yang lain, mau?" tanya Gabriel yang begitu manja di setiap intonasi perkataanya.


"Eh, gak usah! Suka kok, makasih ya." Roy menahan tangan Gabriel agar tidak bangkit dari duduknya.


"Ya sudah di makan! Atau mau cobain punya, Aku?" Gabriel memberikan sepotong kue di atas sendok bekas bibirnya dan di berikan kepada Roy.


"Gimana? Enak?" tanya Gabriel dengan senyuman manisnya.


"Enak." Roy memakan kue sisa gigitan dari Gabriel.


Giliran Ulfa yang merasakan hawa panas yang menyelimuti hati kecilnya, rasa suka yang di rasakan oleh Ulfa selama ini hanya dia yang tahu bagaimana dia bisa memiliki perasaan cinta terhadap Roy, tetapi dia sudah terikat dengan perjodohan bersama Altan.


"Kak Altan, mau cobain minuman, Ulfa?" Ulfa menyodorkan gelas yang yang bernoda lipstik miliknya kepada Altan.


"Hmm, buat aku aja ya? Kamu kan lagi hamil, gak boleh minum-minuman yang bersoda." Altan menghabiskan minuman gelas Ulfa.


"Huuk, huuk!" Roy tersedak saat mendengar perkataan Altan.


"Ya ampun, Bee. Minum dulu, pelan-pelan!" Gabriel memberikan segelas minuman kepada Roy penuh perhatian.


"Makasih, ya!" Roy meminum dari gelas Gabriel.


"Sayang, aku haus ... tolong suapin," teriak Ammar kepada Istrinya yang tidak mau kalah romantis dengan pasangan yang berada di samping kiri dan kanannya.


"Minum kok disuapin, Mas?" tanya Aini yang heran dengan permintaan suaminya.


"Iya, mau di suapin dari bibir, kamu." Ammar menarik kursi Istrinya agar lebih dekat dengan dirinya.


"Huus, ngaur!" Aini yang mencubit pinggang Ammar.


"Auuh, sakit. Yank." Ammar merakul Aini lalu menciun keningnya.


Seketika orang-orang yang berada di meja Ammar tertawa melihat keromantisan pasutri yang berbeda dari yang lainnya.


"Gabriel!" Panggil Sisil kepada sahabatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2