Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 54. I Love You


__ADS_3

" Gak di jawab kan? trus buat apa abang Nikahin Nabila tapi tidak pernah disentuh..? abang orang yang mengerti agama kan, ? Nabila rasa abang juga tau betul hukum dan dosanya" ucap Nabila


" Nabila abang malas berdebat sama kamu, sudah malam mending kamu tidur. " ucap Ammar.


" Berdebat..? ok..! kalau gitu Nabila yang mengalah... " ucap Nabila yang masuk ke atas dan mempersiapkan koper beserta isinya. dan keluar dari kamar turun tangga melewati Ammar.


" Nabila kamu mau kemana..? abang bilangkan abang gak mau berdebat...! kenapa kamu malah seperti ini hah?..!" ucap Ammar mulai marah.


" Tanya sendiri sama diri abang..!" ucap Nabila


" Astagfirullah,,, terus mau kamu apa..? abang harus maksain nyentuh kamu, walaupun kamu istri abang, abang harus melakukan hubungan badan sama kamu walaupun gak ada rasa cinta ya...? kamu mau seperti itu ok" ucap Ammar yang marah sama Nabila


Ammar langsung menarik Nabila dan mendorong Nabila hingga terjatuh di sofa, Ammar membuka paksa kancing baju nya sendiri dan mendekat ke arah Nabila yang menangis.


" Jangan nangis,,! kamu yang mau kan..?! " ucap Ammar yang mencium Nabila secara paksa.


Nabila hanya terus menangis mendapat perlakuan paksa dari Ammar. Ammar yang mempunyai hati nurani sebagai kakak melihat Nabila menangis atas perlakuannya terhadap Nabila, langsung terdiam memeluknya dan mencium keningnya.


" Bagaimana? apakah enak di paksa..? gak kan? sekarang kamu tau bagaimana posisi abang. " ucap Ammar yang bangun dan duduk di samping Nabila.


" Nabila maaf bila abang harus bicara seperti ini ke kamu, Nabila... kamu harus tau,, abang sangat mencintai Aini,, rasa cinta abang yang abang kasih ke kamu dan ke Aini berbeda,, kamu sudah sangat abang sayang bangett sebagia adik, melibihi adik kandung abang sendiri, trus bagaimana abang menyentuh kamu, sedangkan abang gak tega menyentuh adiknya sendiri Nabila... " ucap Ammar menangis.


" Abang ngerti di posisi kamu Nabila... ! tapi abang perlu waktu,, waktu Nabila...! untuk mengubah rasa sayang ini ke kamu,,, abang gak mau sembarangan menyentuh kamu. karena bagi abang kamu itu berharga di mata abang Nabila,, "


" Jadi abang terpaksa menikahi Nabila..? buat apa? Nabila sudah bilang ke abang jangan nikahi Nabila kalau bukan ke inginan abang sendiri.. " ucap Nabila yang mulai berani bicara sambil menangis. Ammar hanya terdiam.


" Jawab,, " ucap Nabila yang pilu. tapi Ammar hanya terdiam.


" Nabila benci sama abang" ucap Nabila yang bangun dan membawa kopernya tapi di cegah oleh Ammar.


" Please,, abang mohon jangan pergi..! " ucap Ammar yang memeluk Nabila.


" Abang gak pernah ngertiin perasaan Nabila, mentang mentang Aini yang abang cintai, selalu Aini yang di perioritaskan,, selalu Aini, Aini dan Aini.. abang jahat,,, Nabila benci sama abang,, abang lebih mentingin perasaan Aini ketimbang Nabila, abang gak perduli sama Nabila. kalian berdua egoiiiissss...! Nabila benci...! " ucap Nabila yang meronta ronta dari pelukan Ammar.


" Istigfar Nabila..! istigfaaarrr...! " ucap Ammar yang menenangkan hati Nabila.


" Nabila kamu sadarr,,, Aini juga mengorbankan perasaanya untuk kamu, " ucap Ammar.


" Heh,,,! Jelas,,, abang sangat cinta sama dia, sampai membelanya.. " ucap Nabila.


" Abang gak membelanya, itu kenyataanya, jujur Nabila,,,, abang itu baru menikah dengan Aini 4 hari sebelum abang menikahi kamu,,, kamu bilang,, abang gak punya waktu buat kamu setelah menikah,, abang aaja belum ada waktu untuk berduaan dengan Aini setelah kami menikah,,, itu yang disebut gak adil iya? " Marah Ammar.


" Aini mencoba mengalah disaat malam abang bersama kamu,,, kamu tau Nabila..? abang belum menyentuh nya tapi dengan rela dia membuat kamar pengantin kita seromantis mungkin untuk malam pertama kita..! tapi kamu malah menyebut dirinya perempuan murahan..! " ucapan Ammar langsung membuat Nabila terdiam.


" Dan abang juga tau, sebelum Aini pergi, dia lebih dulu mengirim pesan ke kamu, menyuruh kamu untuk menggunakan kesempatan emas untuk berduan dengan abang sebaik mungkin... IYA KAN..?!! "


" JAWAB..!!" teriak Ammar yang mulai emosi.


" Tapi kamu malah bilang ke abang, (Apakah Aini yang menyuruh Abang supaya abang gak nyentuh Nabila sampai saat ini) gak inget kamu sudah menuduh Aini, padahal kamu tau Aini berusaha untuk mendekatkan kamu sama abang? " ucap Ammar yang menahan Amarahnya.


Nabila masih terdiam dan membisu saat semua yang terlontar dari kata kata Ammar.


" Silahkan kalau kamu masih ingin pergi..! abang gak akan melarang kamu.. dan abang harap kamu bisa merenungi semua yang selama ini kamu pikirkan tentang Aini," ucap Ammar yang pergi ke ruang kerjanya.


Perumahan Elit Jak-Ut...


Aini sudah mempersiapkan semua barang barang pemberian dari keluarga Ghozali untuk di kembalikan, Aini mengirim pesan ke ke Rey untuk bertemu besok di cafe terdekat.

__ADS_1


" Aini makan malam dulu,," ucap Neneknya.


" Iya nek,,, " ucap Aini yang menuruni anak tangga.


Aini makan malam bersama neneknya, penuh dengan kenikmatan, setelah selesai Aini pun menghabiskan waktunya bersama Neneknya di ruang keluarga.


" Apa ada yang kamu sembunyikan dari nenek..? " ucap Neneknya yang tau perasaan Aini saat menanyakan kabar soal Ammar.


" Gak nek, Aini dan mas Ammar baik baik saja,, nenek gak perlu kawatir. " ucap Aini yang merasa neneknya kawatir tentang dirinya.


" Ya sudah kalau gitu,, lebih baik kamu tidur,, " ucap Neneknya.


Aini pun masuk kekamarnya dan melihat isi ponselnya yang sudah masuk beberapa pesan dari Rey.


Kak Al


" Maaf baru balas pensan kamu, "


" Oh ada apa mau ketemu di cafe..? "


Aini pun membalas pesan dari Rey.


Nur ✨


" Ada yang mau aku omongin,,, ini soal barang barang yang kamu kasih ke aku,, "


Kak Al


" Kalau kamu mau ketemu sama aku cuma mau balakin barang barang yang sudah aku kasih ke kamu, maaf Nur kakak gak bisa ketemu sama kamu"


Pesan Rey membuat Aini tidak bisa membalasnya. Aini pun pergi ke kamar mandi sebelum melanjutkan untuk tidur, pada saat Aini membuka pintu kamar mandi, Aini sangat terkejut meliat Ammar suaminya sudah ada di atas kasur dan memegang ponsel baru Aini.


" Mas Ammar kapan datangnya..? " ucap Aini yang tau Ammar sedang marah melihat ponsel Aini.


Ammar masih terdiam melihat sinis ke arah Aini.


" Mass,, Aini bisa jelasin kok. " ucap Aini yang mendekat dengan pelan pelan.


" Jelasin apa..? pergi begitu saja, menyuruh Sarah dan Pak Karto pulang, gak ada kabar... jadi ini alesan nya supaya kamu bisa dekat lagi dengan Nya... ? IYA..?! " Marah Ammar yang mendekat ke Aini.


Aini mulai malas untuk berdebat dengan suamianya.


" Jawab,,! " ucap Ammar yang membanting ponsel Aini hingga retak layarnya tapi masih bisa menyala.


" Astagfirullah,,, Gak..! gak seperti itu" ucap Aini yang mengambil ponselnya yang retak.


" Truusss apa..!"


" Ponsel Aini mati gak bawa chacher.."


" Itu Alesann kamu saja kan..."


" Terserah.. " ucap Aini yang malas berdebat dengan suaminya dan pergi mengambil baju tidur.


" Mas kecewa sama kamu" ucap Ammar yang pergi keluar dari kamarnya.


" Bodo amat... " ucap pelan Aini yang masih terdengar oleh Ammar yang sudah keluar dari pintu.

__ADS_1


Tiba tiba masuk kekamar lagi dan membalikan tubuh Aini supaya bisa menghadap Ammar, Ammar langsung merangkul leher Aini dan memcium bibirnya.


Sontak membuat Aini terkejut, dengan refleks Aini mencoba mendorong tubuh Ammar tapi tidak bisa karena tenaga Ammar lebih besar darinya.


Dengan sangat agresif penuh dengan rasa cemburu Ammar, Ammar tumpahkan lewat ciumannya.


Aini merasakan perlakuan Ammar terhadap dirinya, seperti takut akan kehilangan dirinya, Aini melihat dari sudut mata Ammar yang mengeluarkan air mata sambil menciumnya.


Aini pun langsung memeluk Ammar dengan lembut, membalas setiap ciuman Ammar.


" I love you, you are the only one in my heart, you are everything to me, don't ever leave me,.." ucap Ammar yang melepaskan ciumannya.


" Katakan kamu mencintai Mas Aini. " ucap Ammar menangis di pelukan istrinya.


" I love you too,,, I love you so much, too" ucap Aini yang memegang pipi Ammar dengan kedua tangannya agar tatapan mereka bertemu.


Ammar yang mendengar ucapan Aini, begitu senang dan langsung melanjutkan lagi ciuman yang sempat berhenti.Mereka berdua pun kembali menikmati manisnya cinta malam yang panjang di rumah neneknya.


Suara alerm dari ponsel Ammar berbunyi membuat Aini terbangun dan mematikan suara dari ponselnya. Melihat suaminya yang memeluk erat tubuhnya, menjadi hal yang paling Aini suka saat bangun tidur, Aini menikmati pemandangan wajah suaminya di depan matanya.


" Seandainya waktu bisa berhenti, aku ingin menjadi istri yang egois saat ini, yang hanya boleh menjadi milikku seorang, tanpa harus berbagi dengan siapapun. " ucap Aini yang melihat wajah Ammar sedang tertidur di pelukannya.


Aini pun terus mengecup bibir Ammar berulang kali, tanpa sadar Ammar mendengar ucapan Aini yang barusan Aini lontarkan, dengan cepat Ammar menangkap ciuman Aini.


" Kamu mau menjadi istri yang paling egois..? " ucap Ammar bertanya membuat Aini terkejut dengan ucapan yang Ammar katakan


"Lahirkan anak anak ku.." ucap Ammar yang mencium Aini sambil menutupi mereka berdua dengan selimut.


Sarapan pagi pun tiba, Nenek sudah masak begitu banyak masakan yang di hidangkan, karena Ammar menginap semalam di rumahnya.


" Makan yang banyak ya cucu mantu nenek yang ganteng,,, " ucap Nenek yang memberikan Iga bakar salah satu menu favorite Ammar.


" Terimakasih nek,, " ucap Ammar.


" Kok mas Ammar doang si nek..? Aini juga mau... " ucap Aini uang menyodorkan piring ke neneknya.


" Nih,,, makan yang banyak ya sayang,,, biar cicit nenek cepet besar" ucap Nenek yang melirik perut Aini.


" Nenek bisa aja.." ucap Aini malu.


" Aamiin makasih ya nek doanya,, " ucap Ammar yang tersenyum ke nenek.


Nenek Aini sangat senang, melihat cucu kesayanganya bisa kembali lagi kerumahnya bersama cucu mantunya.


Selesai makan Aini mengajak Ammar untuk keliling di dalam rumahnya, walaupun rumahnya tidak sebesar rumah milik ayahnya yang ada di pondok indah, tapi bagi Aini rumah ini adalah istana nomor satu di hatinya.


Saat berada di ruang keluarga, Ammar melihat foto foto Aini sewaktu kecil, mulai dari foto pernikahan kedua orang tua Aini, saat Aini lahir, usia 1 tahun sampai 7 tahun semua masih komplit tersimpan ada yang di dinding ataupun di dalam album, semua Ammar melihatnya.


Begitu juga foto saat Aini bersama Rey, mulai dari mengaji, bermain sampai saat lamaranpun di abadikan dalam sebuah foto.


Sangat sederhana dalam foto tersebut, tidak ada kesan lamaran orang dewasa sama sekali, hanya di hadirin oleh kedua keluarga Rey, dan juga Aini, tapi didalam foto tersebut Ammar melihat Rey sangat peduli dan sayang kepada Aini.


Aini pun menutup Album yang sedang Ammar pegang, karena Aini tau pasti foto itu menyakitkan buat Ammar lihat. Ammar pun langsung mencium bibir Aini tanpa aba aba.


" Mmmmas,, " ucap Aini yang mendorong pelan Ammar, karena mereka sedang berada di ruang keluarga takut ada yang melihat.


" Apa kau masih mencintainya..? " ucap Ammar yang bertanya.

__ADS_1


Bersambung,,,,


__ADS_2