
"Maaf, Aini sudah berkata yang membuat Mas Ammar sakit." Aini menjulurkan tangannya agar Ammar bisa memukul telapak tangannya.
"Mas hanya minta satu hal sama kamu, please percaya sama Mas. Hanya kamu yang Mas cinta dan hanya kamu yang Mas mau!" Ammar mencium tangan Aini.
"Kasih tau aku, siapa yang tidak cemburu bila suaminya mementingkan wanita lain?" tanya Aini yang melihat sorot mata Ammar.
"Mas tahu, Mas salah ... tapi Mas bukan Dhani, bukan Aris, bukan juga siapa itu yang kamu sebut tadi?" tanya Ammar yang melirik Aini.
"Aini dengar! Apa perlu Mas bersumpah di atas kitab suci? Bahwa Mas gak ada niat sedikitpun untuk mengkhianati pernikahan kita, hanya kamu yang Mas cinta dan Mas sayang!" Ammar memeluk Aini dengan erat.
"Iya, Aini percaya!" Aini membalas pelukan suaminya, Ammar pun lega dan senang karena Aini mulai mengerti dan mau percaya pada dirinya.
Ammar mengusap lembut rambut Aini yang sudah panjang, dia menarik dagu Aini agar dirinya bisa mencium bibir ranum milik sang istri.
Satu kecupan lembut berhasil mendarat dibibir Aini, hingga akhirnya Ammar melumatt bibir istrinya dengan sedikit bergairah. Tangannya mulai menjalankan aksinya, meraba perut Aini dan secara perlahan naik ke atas meremas dua gundukan yang begitu berisi karena status Aini yang menyusui kedua anaknya.
"Mas, Aini lagi datang bulan." Aini menahan remasan dari tangan Ammar agar tidak melanjutkan aksi selanjutnya.
Semangat Ammar langsung merosot seketika, saat mendengar ucapan dari Aini. Ammar menjatuhkan kepalanya didada Aini dan memendamkan wajahnya masuk ke dalam sela-sela belahan dada Aini.
Aini membuka kancing baju agar sang suami bisa leluasa berada di dadanya, hisapan demi hisapan Ammar berikan dibenda kenyal milik Aini hingga meninggalkan beberapa tanda berwana biru keunguan pada kulit putih mulus milik sang istri.
Perlahan Ammar membaringkan Aini dan memeluknya sembari terus menghisap kesukaannya, beberapa menit kemudian suara tangisan Khansa terdengar oleh Ammar dan Aini yang berada di dalam satu kamar.
"Biar Mas saja!" Ammar bangun dari tidurnya dan menjalankan kursi rodanya ke arah tempat tidur Khansa, melihat popok Khansa yang sudah penuh dengan cairan zat asam. Ammar langsung menggantikan popoknya dengan telaten.
"Sudah Umi, aku mau nyusu." Ammar menggendong Khansa yang sudah dibersihkan oleh dirinya dan menyerahkan kepada Aini.
Aini terkagum dengan cara Ammar yang begitu sabar dan mau ikut membantu menggantikan popok Khansa tanpa merasa jijik, Aini pun mengambil Khansa dari tangan Ammar dan menyusuinya di sebelah kanan.
Namun, Khansa menolaknya dengan cara terus menangis. Hingga akhirnya, Aini mengubah posisi Khansa menjadi sebelah kiri. Barulah Khansa mau menyusu dan tertidur lelap dalam dekapan Aini.
__ADS_1
Aini menahan tawanya saat melihat tingkah Khansa yang tidak mau menyesap susunya karena bekas hisapan dari sang Abi. Ammar hanya terdiam melihat Aini menahan tawanya agar tidak membangunkan anak kembarnya yang satunya lagi.
Ammar mencubit pipi Aini dengan gemas, begitu senang dirinya ketika melihat istrinya bisa tertawa didekatnya. Aini mengeluh kesakitan kepada sang suami dan langsung mendapat belaian dipipinya.
***
Hari semakin berlalu, setelah berlalunya kabar duka dari keluarga Nabila, Ammar dan Aini bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Gabriel dan Roy.
Acara pernikahan yang hanya dihadirkan oleh keluarga terdekat dan juga rekan-rekan dari pihak keluarga, walaupun sederhana tapi begitu mewah dan elegan. Ayah dari Gabriel begitu senang ketika anaknya menikah dengan Roy yang memiliki harta lebih banyak dari pada Panji rekan bisnisnya.
Berbeda dengan keluarga Roy yang begitu membenci keluarga Gabriel tapi tidak membenci Gabriel sebagai menantunya.
Acara akad nikahpun berjalan dengan lancar saat Roy mengucap ijab kabul begitu lantang dan benar. Setelah semua berjalan sesuai yang diharapkan dan hari semakin malam, Ammar dan Aini pamit untuk pulang.
"Jangan langsung digas pol, ingat belum lulus sekolah istrinya!" Ammar berbisik kepada Roy dengan nada yang mengejek.
"Maaf bos, itu terserah saya!" Roy tersenyum lebar kepada Ammar sembari membalas uluran tangan bosnya.
"Jangan pulang sih, kak," ujar Gabriel dengan manja.
"Jangan takut ada suamimu." Aini mencolek hidung Gabriel dengan gemas.
"Justru dia yang aku takuti." Gabriel tertawa ke arah Aini agar sang kakak mau mengerti maksudnya.
"Roy jangan ...." belum sempat Aini melanjutkan ucapannya tapi Gabriel sudah mendekapnya.
"Kak Aini, iiihhh," cemberut Gabriel kepada Aini.
Mereka pun hanya tertawa melihat tingkah Gabriel yang begitu manja, membuat Erika Kakak Gabriel merasa cemburu dan memasang rencana untuk bisa membalas rasa sakit hati kepada adik tirinya.
Setelah acara pernikahan telah usai dan hari semakin larut, Gabriel terlebih dahulu untuk masuk ke dalam kamar hotel dan bergegas untuk membersihkan dirinya agar terlihat lebih segar.
__ADS_1
Di sisi lain, Roy yang berjalan ke arah kamarnya sudah terlebih dahulu dicegah oleh Erika, Roy terpaksa berhenti dan mengikuti ke dalam kamar Erika yang sudah memasang perangkap agar Roy bisa menghabiskan malam pertama dengan dirinya.
"Maaf ya jadi merepotkan kamu," ucap Erika dengan nada dibuat seseksi mungkin.
"Kenapa gak minta petugas hotel aja untuk membetulkan mesin pendinginnya?" Roy memeriksa kerusakan pada mesin pendingin dikamar hotel Erika.
"Tadi si udah, tapi ... sampai sekarang belum datang juga." Erika menungging agar bisa sejajar dengan Roy yang sedang berjongkok membetulkan mesin pendingin kakak iparnya.
Begitu montok dan berisi saat kedua benda kenyal milik Erika terpampang jelas di mata Roy, saat Erika begitu dekat dengan Roy.
"Dah selesai," ucap Roy dengan nada ketus yang melihat gerak-gerik Erika yang ingin menggodanya.
"Makasi, ya ... Mas, Roy." Erika menggandeng tangan Roy dengan manja, hingga kedua benda kenyal milik Erika begitu menempel di lengan Roy.
"Erika lepasin!" Roy mencoba melepaskan tangan Erika tapi Erika terus memaksa Roy dengan sentuhan-sentuhan yang memancing hawa napsu Roy.
Roy terus mendapat serangan sentuhan dari tangan Erika, tanpa ada rasa malu. Erika menyentuh aset Roy yang paling berharga sembari mendorong Roy hingga ke dinding.
Buah dada Erika pun dia tonjolkan agar terkesan menggoda dimata Roy. Namun Roy tersenyum sinis ke arah Erika dan tatapan mata elangnya yang menunjukan, bahwa Roy begitu jijik melihat tingkah Erika.
"Tidurlah malam ini di sini, Gabriel itu masih ****** belum punya pengalaman untuk memuaskan napsu kamu." Erika membuka resleting celana Roy tapi dengan sigap Roy meremas tangan Erika dengan kuat.
"Aaakkhh, sakit, sakit Roy!" rintihan Erika saat tangannya dipelintir kuat oleh Roy.
"Dengar ya, gue gak tertarik sama barang bekas!" Roy menyudutkan tubuh Erika menghadap ke dinding dengan tangan yang melintir ke belakang.
Setelah itu, Roy bergegas keluar dari kamar Erika sembari mengelap tangannya dengan sapu tangan dan membuang sapu tangan tersebut ke tempat sampah.
Roy membuka pintu kamarnya dan melihat Gabriel yang sudah tertidur menggunakan baju tidur dengan model yang sedikit terbuka, Roy menutup tubuh Gabriel dengan selimut agar dirinya bisa menahan godaan dari hasrat naluri lelaki.
Dia bisa saja menyerang Gabriel saat ini, tetapi dia menahannya agar malam pertama mereka begitu mengesankan dan dilakukan dengan saling cinta.
__ADS_1
Bersambung...