Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 87. Perilaku Nabila


__ADS_3

PT Abqori Energi.


Mengetahui perusahaanya di ambang kehancuran, Ammar terjun langsung menangani masalah di perusahaannya. Semua karyawan Ammar sibuk untuk menaikan investasi saham yang sedang anjlok, karena sebagian klien Ammar mencabut kontrak kerja yang sudah di sepakati. Membuat kerugian yang besar bagi perusahaan Ammar.


"Roy, atur jadwal pertemuan dengan direk Perusahaan Lior!" Ammar memberi perintah hanya dengan sekali ucapan tampa memandang Roy.


"Siap, Bos." Roy mencatat semua tugas yang akan dia kerjakan.


Terling, ling


Suara sambungan telefon dari sekertaris ke meja Ammar terhubung.


"Ya!" jawab Ammar ketus


"Ibu Nabila ingin bertemu Pak,"ucap Shindy dari seberang telefon.


"Ck! Astagfirullah ... Suruh masuk!" Ammar yang tengah sibuk merasa kesal dengan Nabila.


"Baik, Pak." menutup telefonya.


"Roy, kamu siapkan dokumen mengenai proyek yang ada di kota XXX." Ammar menyerahkan dokumen lainnya yang sudah di periksa oleh Ammar.


"Baik, Bos!" Roy meninggalkan ruangan Ammar dan berpapasan dengan Nabila.


"Assalamualaikum, Bang?" Nabila masuk membawakan bekal siang Ammar.


"Wa'alaikumussalam," ucap Ammar ketus.


"Apa Nabila ganggu?"


"Hmm, sorry ya Nabila Mas belum ... Eh, maksudnya Abang belum jemput kamu dari rumah Papih." Ammar melirik sebentar lalu melanjutkan lagi untuk fokus ke laptopnya


"Gak apa-apa bang, Nabila ngerti kok. Oh iya, ini ... Nabila bawakan makan siang Abang!" Nabila meletakan bekalnya di atas meja kerja Ammar tepat di sampingnya.


"Bisa tolong taruh dulu di sana? Nanti Abang makan," ucap Ammar yang menunjuk ke arah meja yang di kursi tunggu.


"Oh, iya." Nabila kembali membawa bekal makan siangnya dan meletakan ke meja lainnya.


Nabila melihat lihat sekitar ruangan Ammar yang masih sama persis seperti dulu waktu Nabila masih bekerja di kantornya. Nabila terus melihat seisi ruangan Ammar, namun Nabila sama sekali belum pernah masuk ke ruangan privasi Ammar.


"Bang?" Nabila memanggil suaminya.


"Hmm," jawab Ammar malas.


"Maaf kalau Nabila ikut campur, Nabila hanya memberi saran. Pakailah aset Papih untuk menutup segala kerugian." Nabila berjalan mendekat ke arah Ammar.


"Tidak perlu, Abang bisa mengatasi masalah ini." Ammar kembali fokus ke mengerjakan tugasnya.


"Tapi, kalau Abang menolak. Papih pasti akan sedih." Nabila merangkul Ammar yang sedang fokus ke layar lebar yang ada di hadapannya.


"Abang hanya tidak mau berhutang budi pada Papih." Ammar perlahan melepaskan rangkulan Nabila yang ada di pundaknya.

__ADS_1


"Loh, kenapa? Kan Papih Nabila juga Papih Abang, lagian Papi juga menyerahkan perusahaan atas nama Abang." Nabila memutarkan kursi yang Ammar duduki agar posisi Ammar menghadap Nabila.


"Untuk sekarang, Abang masih mau berusaha tanpa harus mengandalkan yang lain, termasuk Papih." Ammar memutar lagi kursi nya agar kembali ke posisi semula.


"Kenapa Abang nolak bantuan dari Nabila?" Nabila mulai kecewa dengan sikap cuek Ammar.


"Karena Abang mau berusaha sendiri dulu, Nabila!" Ammar mulai kesal dengan Nabila yang terus mengganggu konsentrasi Ammar yang sedang bekerja.


Deg,


Rasa kecewa itu langsung bertambah ketika dirinya di bentak oleh suaminya. Nabila meneteskan air matanya tanpa disadari.


"Maaf." Nabila mengusap air matanya dengan kasar dan melangkah keluar dengan cepat.


"Astagfirullah." dengan kasar Ammar mengusap wajahnya yang tidak bisa melihat Nabila menangis.


"Bos?" Roy tiba tiba masuk saat Nabila baru keluar dari ruangannya dengan menangis.


Ammar langsung berdiri dan mengejar Nabila, sedangkan Roy meletakan dokumen yang Ammar pinta dan keluar tanpa ingib ikut campur rumah tangga bosnya. t


"Nabila!" teriak Ammar yang melihat Nabila sudah masuk kedalam lift.


Ammar mengejarnya menjulurkan tangannya agar pintu lift tidak tertutup, membuat Nabila mendongak ke arah depan melihat siapa yang mencegah lift tertutup.


"Nabila?" Ammar berdiri di depan lift dengan menghadang pintu lift tertutup, dan melihat mata sembab Nabila.


"Apakah harus seperti ini sikap kamu?" ucap Ammar yang masuk kedalam lift dan menarik tangan Nabila agar kembali ke dalam ruangan Ammar.


"Nabila harus apa? Nabila cuma mau membantu Abang, apa salah?" Nabila mulai berbicara saat sudah berada di dalam ruangan Ammar.


"Apa kamu tahu perusahaan lagi tidak stabil?"


"Nabila tau semua nya tentang Abang, apa Nabila juga salah sebagai istri, kalau Nabila tahu semua tentang masalah abang?"


"Berarti kamu juga tau kenapa perusahan Abang bisa menurun drastis? Kamu juga tahu kalau Aini lebih memilih pergi dari Abang karena mengalah untuk kamu?" Ammar melemparkan pertanyaan yang membuat Nabila tidak bisa berkutik.


"Jawab!" emosi Ammar mulai meningkat saat Nabila tidak menjawab.


"Iya, Nabila tau semuanya!"


"Oh, apa kamu juga yang menyuruh Aini untuk pergi dari Abang? Iya!" Ammar melemparkan pertanyaan yang membuat Nabila mematung.


"Kenapa kamu bisa berbuat seperti itu Nabila?"


"Karena Nabila cinta sama Abang," ucap Nabila lirih.


"Nabila juga mau mendapat perhatian dari abang, Nabila juga mau sama seperti Aini yang bisa mengandung anak dari Abang," ucap Nabila menangis


"Abang gak nyangka sama kamu." Ammar berdiri dan ingin meninggalkan Nabila tapi di tahan oleh Nabila.


"Kenapa harus Aini?" Nabila memeluk Ammar dari belakang.

__ADS_1


"Nabila yang pertama bertemu abang, Nabila yang selalu ada di samping abang dari kecil. Nabila sudah berusaha menjadi seperti wanita yang pantas untuk abang."


Nabila yang mengingat dirinya waktu kecil selalu disuruh mamahnya agar memakai baju muslim tertutup dan memakai cadar dan memperdalam ilmu agama agar dirinya bisa menikah dengan Ammar.


"Oh, jadi karena itu? Astagfirullah! Abang bener bener kecewa sama kamu, Nabila! " Ammar melepaskan pelukan Nabila.


"Apa beda nya Nabila dengan Aini? Dia lebih parah dari Nabila, dia hanya seorang Mualaf!"


Plak!


Ammar melayangkan tanganya tepat di pipi Nabila, membuat Nabila memegang pipinya lalu pergi dari ruangan kerja Ammar. Untung saja dinding kantor Ammar kedap suara jadi tidak ada yang bisa mendengar pertengaran Ammar dan Nabila.


Ammar yang membiarkan Nabila pergi tampa mengejarnya langsung duduk di kursinya dan memegang keningnya yang sedikit pusing dengan ucapan Nabila.


Ammar masih tidak percaya dengan ucapan Nabila, ternyata Nabila melakukan semua itu hanya untuk dirinya. Ammar memang selalu merasa curiga dengan sikap Nabila yang bertolak belakang dengan penampilanya.


Ammar mengingat sikap Nabila sebelum menikah dengannya, Nabila sangat sopan, lembut, tutur kata baik. Bahkan Ibu Ainun sangat kagum dan menginginkan sosok menantu seperti Nabila.


Tapi, saat sudah menikah dengan Nabila. Sikap Nabila mulai berubah, Ammar merasakan itu mulai dari malam pertama setelah menikah dengan Nabila.


Nabila berani berinisiatif merayunya, mencumbunya, berani mengatakan Aini seorang pela'cur, berani menyuruh Aini untuk meninggalkan suaminya saat Aini mengandung anak suaminya.


Ammar masih tidak percaya dengan semua perbuatan Nabila, Ammar tidak bisa menyalakan cadar dan jilbab yang Nabila pakai. Ammar juga tidak bisa membenci Nabila. Ammar hanya bisa membenci dengan sikap Nabila dan prilakunya.


"Astagfirullah Nabila. Abang benar benar tidak bisa habis pikir sama kamu!" Ammar menjambak rambutnya bila mengingat sikap Nabila saat sebelum menikah dengan dirinya dan saat sudah menikah denganya.


Tok, tok, tok.


"Masuk!"


"Bos, ini jadwal pertemuan dengan perusahaan Lior. Robbet sudah menyetujui untuk bertemu secara langsung." Roy menyerahkan hasil laporannya.


"Terima kasih." Ammar melihat dokumen yang Roy berikan.


"Bos?" Roy memanggil Ammar saat Ammar sedang membaca dokumen.


"Apa?"


"Ini kartu debit Nyonya Aini." Roy menyerahkan semua kartu debit limit warna hitam dan gold.


Ammar manarik nafas panjangnya, mengambil semua kartu yang di serahkan Roy dan memasukannya kedalam saku jasnya.


Ammar melihat ponsel barunya dan mengecek nama Bank yang terhubung dengan Aini. Ammar bernafas lega karena Bank tersebut masih terhubung atas nama Aini, sehingga Ammar masih bisa memberi nafkah ke Aini, walaupun Ammar belum tahu keberadaan Aini.


"Bagaimana dengan tugas yang saya berikan." Ammar memasukan ponselnya.


"Maaf Bos, pasukan Naga Putih belum menemukan keberadaan Nyonyah Aini." Roy menundukan kepalanya sebagai tanda maaf atas kinerjanya yang kurang maksimal.


"Kembali bekerja!" Ammar menyuruh tanpa melihat ke arah Roy.


"Baik, bos!" Roy segera keluar dari ruangan Ammar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2