Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
42. Merebut kembali


__ADS_3

" Mas,, bentar lagi mau subuh, Aini mau mandi" ucap Aini yang merengek.


" Bentar lagi ya, mas masih mau peluk kamu." Ucap manja Ammar yang masih memeluk Aini.


" Mas...?" tanya Aini.


" Hmmm,, apa sayang? mau lagi?" tawar Ammar.


"Ihss,,, mas ini ya " ucap Aini yang memukul manja.


" Ya trus,, mau apa sayang ku..?" ucap Ammar yang melihat Aini lalu menciumnya.


" Nanti Aini langsung kuliah ya mas, ada mata kuliah pagi minggu ini" ucap Aini.


" Hmm, Yakin..?"


" Yakin?" ucap Aini bingung


" Sudah nanti mas yang minta izin untuk sehari lagi liburnya." ucap Ammar.


" Mas,, Aini udah lama liburnya,, Aini gak mau jadi mahasiswi abadi" ucap manja Ainin.


" Jam berapa?"


" Jam 9an" ucap Aini


Ammar hanya terdiam, langsung duduk dari tidurnya, lalu bergegas ke kamar mandi. Mengetahui bahwa suaminya sedang marah pada dirinya hanya menghela nafasnya.


Setelah Ammar selesai, Aini bergegas ke kamar mandi menggunakan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, tapi saat Aini hendak menurunkan kakinya dan melangkahkan langkah pertamanya. Aini merasakan perih yang teramat di bagian sensitive nya.


" Aaauuwww" teriak Aini sambil memegangi bagian sensitivenya.


Ammar langsung menggendong Aini dengan ala bridal style nya, melepaskan selimutnya dan menurunkan Aini masuk kedalam bathtub yang sudah terisi air hangat.


" Mas tunggu di depan, kita sholat subuh berjamaah sama Nabila dan juga anak anak." bisik Ammar ke telinga Aini.


"Anak anak..?" ucap Aini yang bingung.


Setelah selesai, Ammar mengandeng tangan Aini keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan perlahan menuju mushola yang ada di samping rumahnya.


Setelah selesai sholat berjamaah, Ammar pun memperkenalkan Aini kepada anak muridnya. Nampak ramah ramah di wajah anak remaja yang mengaji subuh.


Ammar mengajar ngaji anak laki laki sedangkan Nabila mengajar ngaji anak perempuan. Aini pun hanya duduk di samping Ammar melihat suaminy sangat serius di saat mengajar menjadi guru ngaji.


Pada saat Ammar menerangkan, Aini pun ikut duduk di bangku murid paling belakang dan mencoba mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Ammar.


Ketika Ammar memberikan soal tanya jawab, terkadang Aini memberitahukan jawaban ke pada anak murid Ammar dengan cara berbisik pelan disampingnya.


Hal hasil semua anak muridnya menjawab dengan benar dan tepat, dan saat Ammar mengetahui ternyata Aini membantu anak muridnya menjawab. Ammar langsung melemparkan tatapan sinis ke Aini, Aini langsung tersenyum dan mengangkat dua jarinya ke Ammar.


" Ok, sesi tanya jawab kita tutup sampai di sini sekarang waktunya setor hafalan." ucap Ammar.


Anak anak maju satu persatu dan mulai menyetor hafalan surah nya, kini Aini duduk di samping Ammar mendengarkan anak anak menghafalkan ayat ayat suci.


Saat ada anak muridnya tiba tiba berhenti saat maju untuk menyetor hafalan sama Ammar. Aini melanjutkan ayat suci pada anak tersebut dengan niat membantu menyambung ayat suci yang lupa.


Ammar memukul pelan badan Aini dengan tongkat sakralnya yang di takuti setiap anak murid Ammar, karena membantu anak muridnya saat maju ke depan untuk hafalan.


Mengajar mengaji pun selesai, saatnya anak anak berpamitan pulang pada Ammar, Nabila dan Aini.


Ternyata pada banyak yang minta no ponsel Aini dengan motif alesan ingin belajar atau bertanya-tanya soal pelajaran agama. terutama yang banyak minta kalangan anak perempuan di tambah anak laki laki pun pada berbaris untuk minta no ponsel.


Sekilas Aini pun melirik Ammar suaminya, saat Ammar hanya terdiam dengan tatapan sinis ke anak muridnya yang laki laki, mereka langsung bubar ketakutan sambil tertawa.


" Ampun Kak... ppiiiisssss" ucap serentak anak murid laki lakinya sambil bubar dan kabur.


Nabila yang sudah badmood dalam mengajar tadi langsung meninggalkan Ammar dan Aini.


" Mas,,,?" ucap Aini di belakang Ammar.


" Apa..?" ucap Ammar yang menengok.


" Gendong,, " ucap Aini yang manja masih merasakan perih saat berjalan.


" Gak mau.." ucap Ammar yang meninggalkan Aini.


" Mas,,, ihh mau nya doang nih,, tanggung jawab gak.."


" Terserah,,,," ucap Ammar makin jauh.


" Ya udah Aini libur dulu kuliahnya, puas..?"


Ammar langsung balik lagi sambil tersenyum dan berjongkok di depan Aini. Aini tersenyum dan melompat ke punggung Ammar sambil mencium pipinya.


Bik Nuni dan asisten yang lainnya hanya mendunduk saat Ammar dan Aini lewat, tapi tidak dengan Nabila yang sedikit kesal dengan Ammar seakan dia pilih kasih.

__ADS_1


" Bersiaplah setelah sarapan kita akan berangkat." ucap Ammar yang menurunkan di depan kamarnya


" Bersiap?"


" Ke kantor mas, apa kau tak ingin kesana?" ucap Ammar.


" Mba Nabila?"


" Dia juga ikut sayang,,, dia salah satu karyawan terbaik di kantor mas" ucap Ammar.


" Baik lah, Aini siapkan dulu baju kerja mas ya.." ucap Aini yang ingin masuk tapi ditahan Ammar.


" Gak usah, Nabila sudah menyiapkanya" ucap Ammar yang berat mengatakan nya ke Aini.


"Ohmmm.." ucap Aini dengan anggukan.


" Ya sudah Aini siap siap dulu." ucap Aini dengan suara sedikit gemetar karena begitu sakit bila Ammar yang mengatakannya.


Aini masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya, lalu bersandar di pintu menumpahkan air matanya yang tak terbendung lagi.


"Astaghfirullah,, Aini loe harus kuat, cuma nyiapin keperluan suami kerja, apalagi saat suami loe dan Mba Nabila tidur bareng." ucap Aini bicara sendiri dalam hatinya.


Aini sudah siap dengan penampilannya, ingin sekali Aini menolak nya untuk pergi, tapi apa boleh buat. Aini sudah terlanjur senang saat di ajak oleh Ammar.


Tok tok tok..


" Nyonya..? tuan sudah menunggu nyonya di meja makan bersama nyonya Nabila." ucap bik Nuni tapi tidak di jawab oleh Aini.


" Nyonyaa..?" ucap Bik Nuni.


Aini pun meneteskan air matanya, tidak menjawab panggilan bik Nuni. Nuni langsung kebawah dan memberitahu Ammar, Ammar yang mendengar dari Bik Nuni bahwa Aini tidak menjawabnya langsung naik ke atas menjemput Aini untuk sarapan.


Ammar langsung membuka pintu kamar Aini dan melihat Aini di balkon sedang berbicara dengan seseorang di ponsel. Ammar hanya bisa menunggu Aini selesai berbicara.


" Astghfirullah allazim.... Mas Ammar..!" kagetin Aini saja." Ucap Aini.


" Siapa..?" ucap Ammar


" Oh,, dari Prof Pratama... maaf mas sepertinya Aini gak bisa ikut mas ke kantor,, mungkin lain kali" ucap Aini.


Ammar masih terdiam di hadapan Aini.


" Mas,, Aini gak ke kampus kok, Aini cuma di rumah aja sambil ngerjain tugas dari Prof Pratama." ucap Aini yang sekarang ada alesan untuk menolaknya pergi.


" Ya kalau mas masih gak percaya, suruh Sarah aja buat nemenin Aini ngerjain tugas kampus" ucap Aini lagi agar Ammar tidak marah.


" Aakkkhh... mas gak usah,,, aku bisa jalan sendiri.." ucap Aini.


" Mas... " ucap Aini memelas.


" Mas,, gak enak sama mba Nabila kalau di liat, cukup mas gandeng tangan Aini aja" ucap Aini.


Akhirnya Ammar menurunkan Aini dan memegang tangannya sampai ke meja makan, Nabila hanya terdiam saja saat Aini menyapa, Aini melirik Ammar saat Ammar mengelus kepalanya untuk menyuruhnnya duduk.


Sarapan pagi mereka ber tiga di mulai dengan keheningan yang sunyi, hanya suara sendok yang sedikit berbunyi mengisi kesunyian di pagi hari.


Setelah selesai makan. Ammar pamit dengan Aini lalu mencium keningnya. sedangkan Nabila hanya terdiam duduk di dalam mobil menunggu suaminya melakukan drama berangkat kerja oleh istri pertamanya.


" Huufftthh..." Aini hanya menghela nafas panjang saat mobil suaminya mulai menjauh.


"Permisi nyonya Aini, selamat pagi" ucap Sarah yang muncul di belakang Aini.


" Astaghfirullah,,,, Sarah..? kapan datangnnya?" ucap Aini terkejut karena Sarah tiba tiba ada di belakangnya.


" Baru saja nyonya,, saat nyonya dan tuan sedang sarapan" ucap Sarah.


" Oh,,, ya sudah" ucap Aini langsung masuk kedalam ke ruang tv.


" Sarah..?" Panggil Aini.


" Iya nyonya? " ucap Sarah maju lebih dekat.


" Boleh saya minta tolong..?"


" Silahkan nyonya." ucap Sarah.


" Bisa ambilkan laptop saya di kamar saya? sekalian bawakan paper bag yang ada di samping lemari ok.?" ucap Aini yang pergi ke taman samping dekat kolam berenang.


" Baik nyonya" ucap Sarah.


Aini membuka ponselnya dan melacak posisi Veby berada.


" Aku tau kamu datang ke acara pernikahanku..? " ucap Aini berbicara sendiri.


" Tapi kenapa gak ada yang aneh ya..? alhamdulillah semua berjalan lancar lancar aja,, astaghfirullah Aini kenapa berfikiran buruk ke Veby. " ucap Aini sendiri.

__ADS_1


" Permisi nyonya, ini laptop dan juga paper bag nya" ucap Sarah.


" Thanks ya.."


" Sama sama nyonya" ucap Sarah yang membukuk dan berdiri di samping Aini.


Aini membuka paper bagnya melihat hadiah pemberian dari suaminya semalam, Aini sangat senang karena Ammar memberikanya sebuah topi khusus untuknya yang tertera namanya dan nama suaminya di dalam topi, beserta buku buku panduan tentang hukum.


Aini langsung mengerjakan tugasnya yang menumpuk terkadang Prof Pratama melakukan Video call untuk memberikan nilai atau mengabsen Aini.


Panggilan VC.


" Hallo Prof. good morning" ucap Aini.


"Morning,, Oh abaikan saja baground di belakang, kita mulai bahas pelajaran kita. karena waktu saya tidak banyak" ucap Prof Pratama yang ternyata sedang berada di rumah.


" Sorry Prof, kalau Prof di rumah terus yang di kampus..?"


" Mau bahas pelajaran atau mau bahas ke hidupan saya?" ucap Prof yang menyindir.


" Heheh maaf Prof".


Saat Aini menyampaikan tugasnya, tiba tiba Ada Zovin abang Shandy yang dari belakang Pratama sedang melambaikan tangannya dan berkata hallo saat sepintas lewat.


Aini pun reflek melambaikan tangannya ke Zovin tapi di tatap sinis oleh Pratama karena di suruh fokus untuk tugasnya.


Saat Prof Pratama menerangkan materinya, tiba tiba Shandy terus mondar mandir, Aini hanya terdiam saja karena merasa canggung dan merasa bersalah atas kejadian semalam.


Sedangkan Shandy sengaja bolak balik di dekat ayahnya karena ingin melihat wanita pujaannya walaupun sudah menjadi milik orang lain.


Karena menurut Shandy ini satu satunya agar bisa melihat Aini sejak kejadian semalam, seakan terciduk sedang selingkuh dengan istri orang.


Shandy pun duduk di belakang ayahnya yang agak jauh,sambil memainkan laptop agar bisa melihat wanita pujaannya lebih lama lagi.


" Ok, sampai sini pembahasan materi saya, saya harap kamu bisa menyelesaikan tugas tugas dari saya sebelum jam makan siang. ok..!" ucap Prof Pratama dan langsung mematikan.


" Loh yah ko udahan si..?" ucap Shandy kesal.


" Ingat Shandy, dia itu sudah jadi istri orang, lebih baik kamu cepat lupakan dia dan cari pengantinya. atau.....


" Atau apa yah..?"


" Kalau memang kamu sangat mencintainya, ya,,,,kamu rebut saja..." ucap Pratama bercanda.


" Emang boleh yah?" ucap Shandy.


" Ya boleh..." ucap Pratama.


" Bener ayah dukung Shandy buat ngerebut yah?" ucap Shandy ke girangan.


" Rebut apa si?" kata mamanya.


" Ya rebut gelangnya Shandy kembali lah bu,,, masa rebut istri orang... ya gak boleh lah hahahahahahah ada ada saja kamu ini Shan.. Shan..." ucap ayah nya yang berhasil mengerjai Shandy. Shandy hanya merasa kesal karena berfikir untuk bisa merebut istri orang.


Sedangkan di sisi lain.


PT. Abqori Energi.


Nabila merasa senang karena Aini tidak ikut ke kantor, Nabila bebas keluar masuk ke ruangan Ammar, tapi aneh di mata karyawan lainnya, walaupun karyawan lain nya tau bahwa Nabila adalah sahabat bosnya dari kecil tapi karena Ammar sudah menikah itu menjadi topik pembicaraan rahasia di antara karyawan lainnya.


" Bang, sudah waktunya makan siang,, istrahat dulu, makan dulu.." ucap Nabila yang membawakan minuman untuk suaminya.


" Trimakasi ya Nabila, " ucap Ammar yang meminum airnya.


" Kamu sudah laper? abang masih sedikit lagi untuk menyelesaikannya. kamu mau makan di sini atau di luar..?" ucap Ammar.


" Terserah abang .." ucap Nabila.


" Ya abang akan pesan tepat dulu untuk makan, pergilah dulu , nanti abang akan nyusul setelah pekerjaan abang selesai." ucap Ammar yang mencium kepala Nabila.


" Tapi jangan terlalu lama ya?" ucap manja Nabila yang memeluk Ammar.


Nabila keluar dari ruangan Ammar dan pergi ke tempat restoran yang akan di tujuh. Nabila selalu mendapat ajakan makan bersama karyawan lainnya yang masih satu tim dalam bekerja. tapi sekarang Nabila hanya bisa menolaknya karena dia akan makan siang bersama suaminya.


Sesampai nya di restoran Nabila menunggu Ammar di tempat yang sudah di pesankan oleh Ammar, beberapa menit kemudian Ammar datang dengan Asisten barunya karena yang lama sudah mengundurkan diri.


" Maaf abang lama datangnya" ucap Ammar yang mencium kening istrinya.


" Gak apa apa bang, Nabila paham kok, " ucap Nabila.


" Oh ya, Rey kamu ikut makan sekalian ya,, jangan sungkan sungkan" ucap Ammar yang mepersilahkan nya untuk makan bersama di meja makan yang sama.


" Terimakasih bos atas kebaikannya, tapi maaf saya disini aja," ucap Rey yang terkejut atas kebaikan bos barunya.


Sedangkan Nabila hanya mengambil nafas panjang saat Ammar mengajaknya untuk makan bersama, menutupi rasa kecewa dan sebal terhadap suaminya.

__ADS_1


Ammar yang tau Nabila kesal olehnya hanya bisa menyuruh Rey untuk makan bersama walaupun di meja makan terpisah.


Bersambung.....


__ADS_2