
Sebulan telah berlalu, kini Aini sudah siap menerima kenyataan dan menata kehidupan bersama kedua anaknya tanpa sosok suami yang berada di sampingnya. Ya, Aini akan risegn dari pekerjaannya dan mengurus perusahaan milik sang suami, meskipun Aini tidak mengerti tentang perusahaan, tapi Aini akan tetap berusaha untuk membuat PT Energi Abqori berkembang pesat.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Pak, terima kasih sudah mau menerima saya untuk bekerja sama dengan perusahaan Anda!" ucap Aini.
"Ya, sama-sama, saya antar kamu pulang!" ajak Rahman yang mengambil konci mobil.
"Tidak perlu, Pak! Saya bawa mobil sendiri!" tolak Aini secara halus.
"Kalau gitu, saya antar kamu sampai depan!" ucap Rahman dan kali ini Aini tidak bisa melarangnya.
Rahman pun mengantar Aini sampai ke halaman parkir, dia pun hanya menatap kepergian mobil itu dengan tatapan nanar.
"Kapan kamu membalas cintaku Aini?" gumam Rahman dalam hati. "Sudah banyak pengorbananku untuk bisa sampai ke titik ini, kali ini aku pastikan kamu menjadi milikku!"
Rahman mengepalkan erat tangannya lalu kembali masuk ke dalam ruangannya, dia pun menelepon seseorang yang selama ini dia andalkan agar bisa bersama wanita pujaannya.
Sementara itu, Aini masih tinggal di rumah bersama Ainun karena dia tidak mau meninggalkan wanita yang sudah membesarkan suaminya sendiri.
"Assalamualaikum, anak Umi yang ganteng dan cantik." Setelah turun dari mobil Aini langsung mendekat ke arah si kembar yang tengah bermain dengan baby sister-nya.
"Kamu sudah balik lagi, Aini? Tidak kerja?" tanya Ainun yang baru keluar sembari membawakan buah untuk si kembar.
Aini mencium tangan Ainun. "Aini sudah resign, Bu! Insyaallah mulai besok Aini sudah masuk kantor, mohon doanya ya, Bu! Biar Aini bisa membawa PT Energi Abqori seperti yang Almarhum inginkan!"
"Kenapa mesti keluar? Itu kan pekerjaan yang kamu inginkan, sedangkan kamu belum mengerti di dunia bisnis," ucap Ainun yang sejak awal dia tidak mempersalahkan Aini untuk mengelola perusahaan.
"Apa Ibu kurang percaya sama Aini? Ya, mungkin Aini belum paham betul dunia bisnis tapi lambat laun insyaallah Aini bakalan ngerti kok, Bu! Toh juga sekarang ada Mba Nabila yang akan bantu Aini." Aini menggendong Khansa setelah usai mencuci tangan.
"Bukan itu maksud Ibu, hanya saja Ibu tahu bila profesi kamu ini adalah cita-cinta yang sudah kamu impi-impikan." Ainun menangkup wajah sang menantunya dengan penuh lekat.
"Nggak apa-apa, Bu. Sekarang cita-cinta Aini hanya ingin membahagiakan Ibu dan juga anak-anak," ucap Aini dengan tutur kata yang lembut.
__ADS_1
Mata Ainun pun berkaca-kaca saat mendengar ucapan menantunya, dia begitu bersyukur memiliki menantu seperti Aini. Ammar tidak salah dalam memilih seorang istri, pantas saja anaknya itu sampai rela melakukan apa saja demi menjadikan Aini sebagai ibu untuk anak-anaknya.
Ainun memeluk wanita yang selalu dia anggap sebagai anaknya sendiri, bukan hanya sekedar ucapannya semata. Akan tetapi, dia benar-benar menjadikan Aini bagaikan anak kandung yang terlahir dari rahimnya.
***
Nabila merapikan sebuah barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam sebuah bok, karena hari ini dia berniat untuk risegn dari pekerjaannya sebagai guru.
Nabila pun keluar dari ruangan kepala sekolah dan melihat Abizar sudah menunggunya di halaman parkir yang sedang bersandar sembari memainkan ponselnya.
Langkah Nabila perlahan mendekat ke arah Abizar yang sudah menunggunya, pria yang usianya lebih muda darinya terus menawarkan niat baik untuk mengantar dia sampai ke kota tempatnya tinggal.
Abizar tersenyum dikala Nabila sudah keluar dari ruangan guru dan perlahan mendekat ke arahnya, dia pun tidak segan-segan membantu membawakan barang Nabila dan menaruhnya di kursi belakang.
"Sudah semua?" tanya Abizar yang membukakan pintu mobil depan dan mempersilahkan Nabila masuk ke dalam.
"Hmm, iya," sahut Nabila. Dia pun hendak masuk ke dalam mobil tetapi salah satu seorang guru memanggilnya.
"Nabila, tunggu!" panggil Zainal---wakil kepala sekolah yang seumuran dengannya, dia berlari menghampiri Nabila.
"Ini, untuk kamu! Bekal dalam perjalanan." Zainal memberikan sebuah cake kesukaan Nabila di depan mata Abizar.
"Masyaallah, jazakallah khairan Pak Zainal. Pake ngerepotin segala," ucap Nabila yang melihat kue kesukaannya.
"Wa iyyaki! Nggak merepotkan, nanti juga bakal terbiasa. Oh ya, nanti setelah sampai, jangan lupa di kabarin ya!" perintah Zainal yang tersenyum manis ke arah Nabila.
"Insyaallah---"
Abizar langsung menyela ucapan Nabila yang sedari tadi memperhatikan sikap dan tutur kata Zainal, dia menjadi emosi dan maju selangkah untuk memastikan sesuatu. "Maksud Anda apa? Ngomong apa barusan? Terbiasa? Ngabarin? Ck!"
"Astaghfirullah, Abizar kamu kenapa, sih!" Nabila langsung berdiri menghadang Abizar. Namun, pemuda itu masih terus menatap ke arah Zainal menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Apa saya salah khawatir terhadap wanita yang saya suka?" Zainal langsung melempar bom melalui kata-katanya pada Abizar.
"Salah! Seharusnya Anda berucap seperti itu pada wanita yang masih single! Belum terikat apapun!" ucap Abizar yang membalas menatap mata Zainal dengan sorot mata yang tajam.
"Apa Nabila sudah menikah? Belum kan? Jadi saya tidak salah dong suka sama wanita single, saya single dia pun single, nggak ada urusannya sama situ!" Tunjuk Zainal yang sudah mulai ikut terpancing dengan ucapan Abizar.
"Jelas ada! Karena dia, calon istri saya! Paham?" Abizar ingin maju satu langkah tapi dicegah oleh Nabila.
Zainal pun mengerutkan keningnya ketika mendengar pengakuan, lantas melirik ke arah Nabila untuk yang meminta penjelasan. Apakah yang di katakan Abizar adalah benar atau salah?
"Abizar, ngomong apa sih kamu?" bentak Nabila yang tidak suka dengan pengakuan pemuda itu, lalu berbalik melihat Zainal. "Nggak, jangan salah paham! Saya bukan calon istrinya!"
Zainal menaikan satu alisnya melihat ke arah Abizar setelah mendengar ucapan Nabila, dirinya begitu bangga seakan Nabila memihaknya.
"Nabila?" Abizar terkejut ketika Nabila berbicara seperti itu pada pesaing cintanya.
"Sudah, lebih baik kita langsung pergi!" ucap Nabila. Dia mendorong tubuh Abizar agar duduk di kursi pengemudi lantas melihat ke arah Zainal. "Maafkan atas sikap adik saya, saya permisi dulu Pak Zainal, assalamualaikum!"
"What! Adik?" Abizar ingin keluar dari dalam mobil tetapi Nabila sudah mengancam nya lebih dulu.
Nabila pun masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Zainal dan menyuruh Abizar untuk segera pergi menjalankan mobilnya.
Dengan kesal, Abizar menyalahkan mesin mobil lalu melaju pesat keluar dari sana dan berbaur bersama kendaraan lainnya.
Selama perjalanan baik dari Abizar maupun Nabila, mereka hanya terdiam. Nabila yang tahu letak kesalahannya di mana sehingga brondong yang ada di sampingnya tampak memancarkan kobaran api cemburu, sedangkan Abizar masih terus beristighfar dalam hati untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Maaf," ucap Nabila dengan lembut seraya menunduk.
"Nggak usah minta maaf, kamu nggak salah! Seharusnya saya yang meminta maaf, karena masih berharap bisa mendapatkan hati kamu! Mungkin memang benar, saya hanya cocok jadi adik kamu ketimbang suami kamu," ucap Abizar dengan ketus.
"Bukan begitu, aku terpaksa karena aku tahu kalau Pak Zainal itu orangnya nekat. Apapun yang dia mau pasti harus dia dapat!" Nabila melihat ke arah Abizar yang fokus menyetir dengan keadaan kecewa, dia pun kembali melanjutkan ucapannya, "Karena aku nggak mau bila Pak Zainal menyakiti orang yang begitu berharga dalam hidup aku!"
__ADS_1
Nabila langsung menunduk dengan wajah yang menahan malu setelah mengucapkan kata-kata itu, dia tidak berani berucap kembali setelah Abizar menghentikan mobilnya secara mendadak.
Bersambung...