
Ke esokan harinya.
"Roy!" Ammar memanggil asistennya sembari membuka semua surat yang ada di atas meja kerjanya.
"Iya, Bos." Roy berlari menghampiri Ammar yang masih sibuk mencari sesuatu.
"Surat-surat kemarin apa masih ada yang belum kamu lihat?" Ammar penasaran dengan omongan semalam Nabila.
"Ada, Bos." Roy membuka laci lemari dan mengeluarkan beberapa surat yang belum di berikan semua kepada Ammar.
Ammar mencari satu persatu surat yang ada di atas meja kerjanya, dan ternyata hasilnya nihil, tidak ada sama sekali surat dari Pengadilan Agama.
"Gak ada, apa aku semalam salah dengar ya?" ucap Ammar pelan dan masih terdengar oleh Roy.
"Cari surat dari perusahaan apa, Bos?" tanya Roy dengan sopan, agar tidak menyinggung perasaan Ammar.
"Bukan surat itu!" Ammar mulai melajukan kembali kursi otomatis rodanya.
'Bukan surat itu? Trus surat apa dong? Surat cinta?' Roy bingung dengan sikap atasannya, langsung mengikuti dari belakang.
"Sarah!" panggil Ammar mencari asisten pribadi istrinya.
"Sar?"
"Iya, Tuan." Sarah mendekat ke arah Ammar dengan memasang wajah juteknya karena melihat Roy berada di belakangnya.
"Apa ada surat lagi, selain surat yang kamu kasih kemarin?" tanya Ammar dengan pelan agar tidak terdengar oleh istrinya.
"Tidak ada, Tuan!" jawab singkat Sarah.
"Kamu cari ini Mas?" Tanya Aini dari belakang Sarah dan mendekat ke arah Ammar.
Aini sudah menebak bahwa Ammar pasti mencari surat dari Pengadilan Agama, karena kemarin Aini membaca nama pengirim semua surat yang masuk.
"Aini?" Ammar melihat Aini memegang surat gugatan cerai dari Nabila.
Merasakan aura atsmofir yang mencengram antara sepasang suami istri. Roy mengajak Sarah untuk meninggalkan mereka berdua.
"Ini maksudnya apa, Mas?" suara Aini mulai menegang.
"Aini, duduk dulu!" Ammar mencoba berbicara lembut dengan istrinya yang sudah terlanjur emosi.
"Jadi ini ... Alesan, kenapa Mba Nabila tidak ikut tinggal bersama kita? Bukan karena Papihnya sakit, iya?"
"Aini tenang dulu!" Ammar mendekat ke arah Aini dan mencoba menenangkan perasaannya.
"Jawab, Mas!" Aini meneteskan airmatanya.
Sesuai dengan dugaan Ammar, Aini pasti tidak menyetujui perceraian dirinya dengan Nabila. Oleh sebab itu, Ammar dan Nabila sepakat untuk tidak membahas perceraian mereka dengan Aini.
"Iya," ucap Ammar dengan suara pelan.
"Kenapa? Mas Ammar yang paksa, Iya?" tanya Aini yang sudah merasakan sakit di area perutnya.
__ADS_1
"Bukan! Mas gak pernah maksa dia, Nabila sendiri yang mau."
"Dan Mas mau bercerai dari Mba Nabila?" Aini memegang perutnya menahan sakit.
"Kenapa diam?" Aini mulai geregetan dengan Ammar yang tidak meresponnya.
"Mas! Aini tanya sama, Mas!" Aini mulai kesal dengan Ammar.
"Iya! Karena Mas gak cinta sama dia, karena Mas gak mau kehilangan kamu lagi sama anak kita. Karena Mas hanya mau sama kamu! Apa Mas salah?" Ammar melepas semua rasa di hatinya yang selama ini Ammar harapkan.
"Astagfirullah, Mas! Mas tau kalau perceraian itu sangat di benci sama Allah," Aini yang masih keberatan dengan keputusan Ammar.
"Aini cukup, ini sudah menjadi keputusan Mas berdua dengan Nabila." Ammar mengengam bahu Aini dengan kecang mengunakan satu tanganya.
"Kenapa Mas gak jujur dari awal sama Aini. Mas? Kenapa harus berbohong soal Mba Nabila yang tidak mau tinggal bersama kita!"
Aini merasa kecewa dengan sikap Ammar yang membohongi dirinya dan menutupi perceraiannya dengan Nabila.
"Apakah Aini seperti anak kecil dimata, Mas? Sehingga dengan mudahnya Mas bisa bohongi Aini? Aini tahu, ini masalah privasi Mas dan Mba Nabila! Tapi, haruskah Mas berbohong dan menutupi semua ini dari Aini?" Aini mulai geram dengan Ammar entah mengapa hatinya begitu sakit saat Ammar berbohong kepada dirinya.
"Maaf Aini, mas gak bermaksud untuk berbohong sama kamu. Mas hanya tidak ingin kamu ...."
"Sudah lah, Mas ... Gak perlu di jelaskan!" Aini merasa kecewa dengan sikap Ammar, sambil menahan rasa sakit di bagian perutnya. Aini mencoba untuk berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Aini, kamu kenapa?" Ammar yang panik meliat raut wajah Aini yang penuh keringat menahan rasa sakit di perutnya dan melihat cairan yang menetes dari kaki istrinya saat berjalan.
"Aaauwwh!" meringis Aini kesakitan menahan perutnya semakin sakit dan berpegangan dengan pundak kiri Ammar agar tidak terjatuh.
"Astagfirullah, Aini!" Ammar tambah panik saat cairan yang keluar bercampur darah.
"Ya Allah, Non!" teriak Sarah saat melihat darah yang merembas di baju warna biru Aini langsung memapah Aini berjalan.
"Roy, cepat Roy!" teriak Ammar yang merasa frustasi saat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa saat istri di depan matanya membutuhkan bantuan.
"Astagfirullah!" tanpa meminta izin dari suaminya, Roy langsung membopong Aini dan memasukannya ke dalam mobil, sementara Sarah mendorong kursi Ammar agar lebih cepat sampai kemobil.
Setalah itu, Roy baru membantu Ammar untuk duduk di samping istrinya.
"Cepat Roy, jalan!" Ammar mengengam tangan Isitrinya yang merasakan sakit luar biasa.
"Mas, sakit!" ucap Aini dengan deru nafas yang tidak teratur.
"Sabar ya, sayang!" ucap Ammar yang mencium kening Aini dan menggenggam tangannya.
"Tarik nafas panjang, Non! Buang ... Tarik Lagi ... Buang!" Sarah menuntun Aini agar bisa mengikuti arahan dari dirinya.
Aini mulai mengikutin intruksi dari Sarah untuk menarik nafas panjangnya dan membuang nafasnya secara perlahan dari mulut, dan terus berulang kali Aini melakukanya sampai suami dan Roy pun mengikuti arahan dari Sarah.
Melihat Roy dan atasanya ikut menarik nafas panjang dan membuah nafas secara perlahan, membuat Sarah menahan tawanya.
"Tarik nafas lagi ... Lalu buang pelan pelan ...." Sarah menggeman tangan Aini yang satunya lagi dan terus memberi intruksi nafas pajang untuk menghilangkan rasa sakit pada perut Aini akibat kontraksi.
"Huuuu, haaaa, huuuu, haaaa," ucap Roy yang sedang mengemudi ikut merasakan tegang di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Sontak perhatian terahlikan ke arah Roy yang sedang mengemudi dengan gerakan Roy yang mengambil nafas panjang dan membuang nafasnya.
Ammar yang melihat gerakan Roy dengan mendengar suara Roy mengambil nafas panjangannya dengan Refleks mengikuti gaya Roy.
"Huuuuu ... Haaaa ... Huuu ... Haaa." Ammar mengikuti gaya Roy dan menatap Aini dengan pekat.
"Astagfirullah ... Sakit Mas, maaafin Aini Mas kalau Aini banyak salah! Maafin sikap Aini yang kurang sopan sama Mas, maafin Aini kalau Aini sering mendumel di belakang, Mas. Maafin Aini, Mas ... Yang sudah marah-marah sama, Mas," rancau Aini yang teringat akan dosa-dosanya terhadap suaminya saat merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.
"Ya, sayang. Sudah Mas maafin! Kamu yang kuat, kamu pasti bisa sayang. Mas akan ada di samping kamu," ucap Ammar yang mendengar semua pengakuan istri terhadap dirinya.
Sarah yang mendengar dan melihat dua sejoli di depan matanya sangat terharu sekaligus menahan tawanya.
"Sarah maafin aku ya ... Yang belum bisa menyatukan kamu sama Roy." Ingetan Aini tentang dirinya yang belum bisa membantu Sarah di saat sakit melanda dirinya.
Deg.
Sarah yang merasa malu dengan ucapan Aini hanya bisa tersenyum dan terus memberikan semangat untuk Aini. Karena Sarah mengerti kondisi Aini saat ini, begitu juga dengan Roy yang hanya melihat ke arah belakang dengan sekilas menggunakan kaca spion atasnya.
"Aduhh, sayang udah jangan banyak pikiran! Fokus sama diri kamu." Ammar yang mengingatkan Aini untuk membuang hal spele.
Ciiit!
Saat Roy mengerem mendadak karena mendapat beberapa pengendara genk motor yang ugal-ugalan di jalanan.
"Astagfirullah, Roy!" teriak Ammar yang marah terhadap kelalaian Roy dalam mengemudi.
"Maaf, Bos!" Roy menjalankan mobilnya kembali. Pada saat itu juga Aini menjambak rambut Ammar dengan kencang.
"Saaakkittt! Hhuuu ... Hhaaa ...." Teriak Aini sangat kencang saat menjambak rambut suaminya.
"Adduuhh, duh, duh! Sakit yank, sakit!" teriak Ammar mencoba melepaskan jambakan dari tangan Aini.
"Istigfar yank! Istrigfar ... Astagfirullahallazim!" ucap Ammar mengintruksi Aini sambil melepaskan jambakan dari tangan Aini.
"Astagfirullahallazim ...." Aini mulai mengendurkan jambakannya dan memegang tangan kiri Ammar lagi.
"Kuat ya, sayang!" Ammar membelai kepala Aini dan mencium keningnya yang sudah bercucuran keringat.
Aini melihat suaminya dengan sabar berada di sampingnya mulai perlahan kehilangan kesadarannya dan mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Astagfirullah, Aini! Tisu Sar, tisu!" Ammar mulai panik saat darah keluar dari Hidung Aini.
"Roy, cepat Roy!" Ammar mulai menangis melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Aini, bangun sayang! Kamu harus kuat! Sabar sebentar lagi kita sampai!" Ammar terus menangis menatap istrinya yang terus mengeluarkan darah dari hidungnya.
Bersambung...
***Mohon maaf ya, kalau feelnya kurang greget!
Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah Aini.
like, komen, hadiah, rate beserta Vote dari kalian author tunggu ya.
__ADS_1
see you next time.. 😊😘***