
Pasukan naga putih telah tiba di pulau tampak berpenghuni tersebut di mana Rahman menyembunyikan Ammar dan juga Roy, mereka langsung memberikan makanan dan baju salin untuk keduanya.
Setelah itu baru membawa mereka kembali untuk sampai ke bandara, perkiraan amar dan juga Roy memakan waktu dua hari bisa bertemu lagi dengan sanak keluarganya tetapi dugaan mereka salah. Mereka masih di negara asing yang membutuhkan translate pesawat terbang tiga kali sehingga memerlukan waktu kurang lebih dua hari untuk tiba di tanah air.
Begitu mereka sampai di bandara negara tersebut, Amar bersama pasukan naga putih memilih untuk menginap di salah satu hotel terdekat dengan bandara.
Ammar meminjam ponsel dari salah satu anak buah naga putih untuk menghubungi orang rumah, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Hatinya begitu cemas, sampai dia pun menyuruh Roy untuk membeli ponsel baru agar bisa mengecek m-banking pengeluaran yang dipakai oleh Aini terakhir kali.
Tidak memerlukan waktu lama untuk membeli sebuah ponsel keluaran terbaru, hingga membuat Amar langsung mengecek pengeluaran uang yang dipakai oleh istrinya. Alangkah terkejutnya mengetahui bahwa Aini menarik uang dalam jumlah banyak, tertera nama kota tanggal dan jam di mana sang istri menarik uang.
"Siapa yang sakit?" Tanya Amar pada dirinya sendiri, dia pun langsung mencari tahu pada naga putih.
Hanya lima menit naga putih berhasil menemukan berita terhangat tentang keluarga Ammar, bila ternyata anak kembar Ammar dan Aini diculik dan saat ini Khan masih belum ditemukan sedangkan Khanza berada di rumah sakit mengalami luka memar pada seluruh tubuhnya.
"Apa?" Amar sangat terkejut dan terpukul mendengar berita tersebut hatinya bergetar hebat ketika mendengar anak laki-lakinya masih dalam pencarian dia tidak bisa membayangkan posisi Aini saat ini.
"Apakah pelakunya sudah tertangkap?" Tanya Amar, pasukan naga putih pun menceritakan bila pelakunya dalang dari penculikan tersebut adalah Rose tantenya sendiri.
Proses membalaskan dendam atas Monica yang diberikan hukuman mati di negara orang lain atas tuduhan perencanaan pembunuhan, naga putih pun juga menceritakan bila ini hampir saja digilir oleh kalimat bodyguard Rose.
Akan tetapi, Reyzal berhasil menyelamatkan Aini dan itu berhasil membuat Ammar lega, tetapi beberapa detik kemudian perasaannya menjadi panas terbakar oleh emosi dan amarah. Mengetahui bila kejadian penculikan anaknya yang diselamatkan oleh Rahman membuat Aini memberi kesempatan untuk pria itu.
"Bos, tunggu dulu! Mau ke mana?" Roy mengejar Ammar.
"Aku nggak bisa tinggal diam begini Roy, kamu lihat sendiri kan? Apa yang dilakukan oleh bedebah itu? Sampai kapanpun aku nggak bakalan rela bila dia mendapatkan istriku!" ucap Ammar yang emosi.
"Iya tapi sabar! Penerbangan adanya besok pagi, mau pakai apa bos ke sana sekarang?" Tegur Roy mengingatkan Amar.
Amar langsung tersadar apa yang diucapkan oleh Roy itu benar, dia pun memijat kening seraya memejamkan mata dan mengucapkan kata istighfar.
"Kau benar!" Ammar langsung kembali ke dalam kamar dan menunggu keberangkatan esok pagi.
__ADS_1
***
Suasana pagi hari di rumah sakit begitu cerah dengan sorot matahari yang bagus untuk kesehatan, Aini yang berjalan-jalan bersama Khanza yang ditemani oleh Jasmine tengah asik berbincang.
Jasmine memberi kabar gembira pada Aini bila kini dia sedang mengandung anak Reyzal dengan usia kandungan dua Minggu, tetapi dia masih belum memberitahu tentang kehamilannya pada sang suami.
"Aahh, Masya Allah, tabarakallah! Selamat ya Teh, atas kehamilannya," ucap Aini.
"Makasih, ya Aini! Maaf sebelumnya bila kemarin-kemarin aku terlalu cemburu saat Rey—"
"Sudah, jangan di bahas! Nggak apa-apa, yang penting Teteh tau, kalau Aa sayang banget sama Teteh." Aini membalikan posisi Khanza untuk terkena matahari.
"Iya, makasih ya, Aini," ucap Jasmine.
Aini hanya bisa tersenyum, lantas mengajak Khanza untuk masuk kembali ke dalam kamar. Pada saat itu mereka bertemu dengan Rahman yang di koridor rumah sakit membuat mereka berhenti sesaat.
"Mas, kamu kenapa bisa di sini? Apa kamu diperbolehkan keluar?" Tanya Aini yang heran.
Aini dan Jasmine pun menengok ke arah belakang, lihat bagaimana cara Naura berlari menghampiri Aini seraya memanggil namanya dengan sebutan kata Bunda.
"Hai, loh kamu nggak sekolah?" Aini menyerahkan Khanza pada Ismi ketika Naura meminta gendong kepadanya.
"Naura izin nggak masuk Bunda, Naura kangen Ayah sama Bunda sama Ade Khanza!" ucap Naura yang mencium pipi Aini.
"Bunda juga kangen sama Naura!" Aini membalas mencium pipi mungil itu.
"Benarkah? Jadi kapan kita bisa Bobo bareng'? Naura nggak mau bobo sendirian," ucap Naura yang merengek.
Apa ini hanya terdiam saat bertanya Naura yang membuat Aini bingung mau menjawab apa, sedangkan Rahman hanya terdiam menanti ucapannya. Namun, Ismi yang menjawab untuk meyakinkan Naura bila keduanya akan sebentar lagi bisa bersama.
"Benarkah apa yang diucapkan sama Nenek, Bunda?" tanya Naura dengan polos.
__ADS_1
"Insya Allah," sahut Aini yang membuat Rahman senang.
Rahman memengang bagian dadanya saat debaran jantung berpacu cepat, membuat Ismi begitu khawatir terhadap kondisi Rahman.
"Tidak apa–apa, Tan!" ucap Rahman yang tersenyum senang.
"Ayah cepat sembuhnya, nanti pulang dari rumah sakit kita bobo sama Bunda dan Ade Khanza dan Ade Khan!" ucap Naura yang masih belum mengetahui keberadaan Khan.
"Iya, putri cantiknya Ayah!" Rahman mencubit hidung kecil itu.
Di sela-sela mereka berbincang di lorong koridor rumah sakit, Ismi yang mengetahui Khanza tertidur dalam gendongannya langsung mengajak Jasmine untuk ikut menaruh ke dalam ruang rawat inap. Sementara Naura meminta Aini dan Rahman untuk menemaninya membeli es krim di kantin rumah sakit.
"Biar aku bantu dorong!" Aini mengambil dorongan infusan dari tangan Rahman membuat pria itu semakin senang.
Selamat berjalan menuju kantin Aini dan Rahman hanya terdiam dan menjaga jarak, mereka hanya terus mendengarkan celotehan dari Naura, menceritakan tentang dirinya yang mendapatkan teman baru.
Sampai akhirnya mereka pun sampai di sebuah kantin, Naura meminta untuk Aini menyuapi es krim salam mangkok tersebut saat mereka sudah duduk di kantin. Dengan penuh perhatian Aini menyuapinya.
Terkadang Naura pun juga menyuapi Aini es krim, hingga menciptakan suasana di mana membuat Rahman melihatnya dengan penuh kebahagiaan.
"Permisi, jus buah Alpukat!" Salah satu pelayan kantin menaruh satu gelas jus alpukat dengan roti bakar kesukaan Aini.
"Tapi saya nggak mesan," ucap ini yang bingung, dia melirik ke arah Rahman yang tersenyum ke arahnya.
"Makanlah, itu aku pesankan untuk kamu!" Rahman menggeser piring yang berisi roti bakar ke hadapan Aini.
"Tapi tadi saya sudah sarapan, Mas!" ucap Aini.
"Tapi kan itu tadi sekarang udah jam sepuluh! Kamu harus banyak makan, butuh extra kuat untuk menjaga Khanza!" Rahman menunjukkan ekspresi seraya memohon kepada Aini agar wanita itu mau memakan pesanan yang telah dia pesan.
Mau tidak mau Aini menerima makanan dan minuman itu, yang sudah di perankan oleh Rahman lantas melirik ke arah Naura yang seakan menginginkan roti bakar yang ada di piringnya.
__ADS_1
Bersambung...