
Warning!!! Adegan dalam episode kali ini mengandung unsur dewasa, mohon readers bijak dalam membaca. Bagi yang kurang berkenan silahkan diskip tanpa melupakan like and komen serta bunga ataupun vote. Karena hadiah sudah memanggilmu untuk menjemputnya. 😄
Malam menunjukan pukul 23:45, Gabriel terbangun dan melihat Roy yang masih asik dengan laptopnya, mengerjakan tugas kantor dengan beberapa file.
Gabriel yang tidak mau ikut campur hal pribadi suaminya karena dia sadar mereka menikah hanya untuk kepentingan pribadi dan mengobati hati yang sama-sama terluka. Jadi Gabriel memutuskan untuk tetap cuek berjalan ke arah kamar mandi dihadapan Roy dengan penampilan yang cukup seksii.
Roy yang kesusahan untuk menelan slalivanya saat melihat istrinya berjalan santai menggunakan baju tidur yang cukup terbuka, langsung menarik napas kasarnya dan menunggu Gabriel kembali ke tempat tidurnya.
"Om, laper." Gabriel menaruh kepalanya di atas paha Roy saat dirinya sudah keluar dari arah kamar mandi.
Roy mengusap rambut Gabriel dengan lembut dan meraba perut istrinya sembari mengucap mantra agar rasa lapar pada perut Gabriel hilang, hal tersebut membuat sang istri tertawa melihat tingkah Roy.
"Om ini lucu ya, mana ada laper malah di bacain mantra langsung kenyang," ucap Gabriel dengan tertawa.
"Iya juga ... berarti kita sama ya, Om juga laper ... mana ada cuma ngeliatin kamu doang semalaman, Om bisa kenyang," sindir Roy kepada istrinya.
"Kenapa gak bangunin aku kalau om laper?" sahut Gabriel dengan polos.
"Sudahlah lupakan saja." Roy mengambil ponselnya dan menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan pesanan untuk sang istri.
"Pakai jaketnya." Roy melempar jaket ke arah Gabriel ketika beberapa menit pihak pelayanan hotel datang membawa makanan yang sudah dipesan oleh Roy.
Pelayan pria hotel masuk dan menaruh semua makanan di atas meja sembari melirik Gabriel yang tengah asik memainkan ponselnya. Pelayan hotel itu terus memperhatikan lekuk tubuh Gabriel yang hanya memakai jaket dan memperlihatkan paha Gabriel yang mulus.
"Ehem, terima kasih atas pelayanannya. Ini tips kamu selama bekerja di sini." Roy melempar selembar chek yang berisikan nominal yang sangat menggiurkan.
"Maaf, Tuan saya tidak bermaksud untuk ...." ucap pelayan tersebut yang sudah lebih dulu dipotong oleh Roy dengan mengusirnya keluar dari kamarnya.
Roy langsung membanting pintu kamarnya dan mendekat ke arah Gabriel yang merasa tidak berdosa sembari mengunyah daging yang ada dimulutnya.
"Om mau?" Gabriel menyodorkan sepotong ayam kepada sang suami.
Tanpa menjawab ucapan Gabriel, Roy menarik wajah sang istri dan melummat bibir Gabriel yang berlumur saus. Begitu lembut jilatan dan kecupan dari lidah Roy, hingga Gabriel terbawa suasana dan menikmati ciuman yang manis dimalam pertamanya.
"Makanlah yang banyak, biar kuat sampai pagi," bisik Roy ditelinga sang istri.
Mendengar bisikan dari sang suami membuat pipi Gabriel bersemu merah merona, mungkin kata-katanya tidak romantis tapi mampu membuat dirinya mengerti maksud dari ucapan Roy yang menginginkan dirinya.
__ADS_1
Tanpa canggung Gabriel makan dengan lahap sembari menonton film romantis, Roy hanya bisa tersenyum melihat istrinya begitu tenang makan dengan pakaian yang begitu minim dan terbuka dihadapannya.
Setelah selesai Roy langsung menyambar bibir Gabriel yang masih belepotan bumbu, Gabriel berusaha untuk mendorong Roy, tetapi tetap saja Roy menahan lengan sang Istri agar tidak bisa bergerak.
"Om, aku belum gosok gigi," ucap Gabriel saat Roy melepaskan ciumannya.
Roy tersenyum dan menggendong Gabriel dan membawanya ke dalam kamar mandi, Roy dengan sabar menunggu Gabriel sembari memeluk tubuh sang istri dari belakang dan mencium leher serta bahu Gabriel dengan lembut.
Setelah selesai, Roy membalikan tubuh Gabriel menghadap ke arahnya dan melahap bibir sang istri sembari mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di atas wastafel, ciumannya begitu bergairah seakan sudah tidak bisa terbendung lagi.
Tangan Roy mulai meremas gemas pada bagian favoritnya sembari memainkan pucuk yang berwarna merah muda merona, lidahnya begitu lihai saat berada di dalam mulut sang istri. Sehingga Gabriel merasa kualahan mengimbangi napsu Roy.
lidah Roy terus bergulat bersama lidah sang istri, hisapan dan lummatan terus Roy berikan di dalam mulut Gabriel, tangan Roy pun menuntun tangan Gabriel agar meremas lembut pusaka yang sudah mengeras.
Tidak sampai disitu, tangan Roy mulai masuk ke dalam cellana G-string sang Istri yang hanya seuntaian tali tipis, jari tengah Roy mulai meraba aset berharga Gabriel dari atas hingga bagian tengah dan menekan pelan diarea lubang sensitif.
"Akkh, sakit Om." Gabriel melepaskan ciumannya dan meremas rambut Roy dengan kencang akibat menahan sakit di area sensitifnya saat Roy memasukan jari tengahnya.
Degup jantung Roy semakin kencang saat sang istri merintih kesakitan akibat ulahnya, Roy mengusap pipi Gabriel dengan lembut sembari menatap mata sang istri, lalu berkata.
"Gab, Om mau kamu seutuhnya," ucap Roy dengan suara yang sudah parau menahan gejolak hasrat yang ingin disalurkan.
"Aku mau kamu, Gabriel istriku. Bukan Ulfa." Roy langsung membuka bajunya dan menggendong Gabriel sembari mencium bibirnya dengan lembut.
Gabriel memeluk Roy dan kakinya melingkari pinggang Roy serta membalas ciuman yang di berikan oleh suaminya, tangan Gabriel meremas rambut Roy seakan menambah filter agar semakin nikmat.
"Aaakkhh," desaahan Gabriel lolos dari bibirnya saat Roy membaringkan dirinya lalu menggigit kecil diarea gundukan yang kenyal.
Jemari Roy mulai menggelitik setiap lekuk tubuh Gabriel hingga menerobos masuk ke dalam dan menggesek lembut area terlarang milik sang istri dengan gesekan lembut. Membuat sang istri melambung tinggi merasakan sensasi yang begitu nikmat tiadatara.
Jemari Roy terus memberikan rangsangan pada sela-sela area sensitif sang istri hingga Gabriel terus merancau dengan suara yang begitu seksi, membangkitkan hasrat naluri laki-laki pada diri Roy yang semakin menggila.
Setelah puas melukis dibagian atas gundukkan kenyal, Roy perlahan turun ke bawah hingga ke pusat area yang sudah licin akibat ulah jemari Roy.
Lidahnya mulai menjilat dan menyesap dengan napsu yang sudah tidak tertahan lagi, lidahnya begitu lihai menggoyangkan area tersebut dengan kecepatan tinggi sembari menghisap dengan kencang.
"Om stop! Aahhh ...." Gabriel sudah mencapai puncaknya saat sang suami tidak berhenti menggoyangkan lidahnya di bawah sana dengan lihai.
__ADS_1
Roy melihat dari dekat bagaimana larva itu mengalir keluar dari sarangnya. Begitu indah dan cantik ketika daging tembam Gabriel yang berwarna merah merekah berkedut mengeluarkan larva putih.
"It's beautiful, baby." Roy langsung menyambar bibir Gabriel dan membuka baju tidurnya.
Dalam hitungan seperkian detik Roy menyambar bibir Gabriel dan mengarahkan senjatanya tepat dilubang privasi milik sang istri, walaupun Gabriel sudah berbicara jujur kepada Roy, bahwa dia ketakutan tapi Roy meyakinkan sang istri agar dirinya akan melakukanya dengan secara perlahan agar Gabriel tidak merasakan sakit.
Roy mencium bibir istrinya dengan lembut agar bisa mengalihkan rasa sakit saat Roy mencoba membelah duren milik Gabriel. Sekali hentakan Gabriel merintih kesakitan, bayangannya mengingat ketika Nico mencoba merenggut mahkota berharganya.
"Look at me," ujar Roy saat melihat air mata sang istri keluar dari sudut matanya.
Gabriel membuka matanya secara perlahan dan melihat raut wajah Roy yang begitu tampan dari atasnya, seketika dahi Gabriel mengkerut saat hentakan kedua yang dilakukan oleh Roy, tangannya mulai mencakar punggung Roy, hingga suara teriak Gabriel terdengar ditelinga Roy bercampur tancapkan kuku dipunggung nya.
"Aaakkh, Roy." Gabriel mencakar sekuat tenaga dipunggung Roy, saat sang suami berhasil membobol gawangnya.
"Aarrggghh!" erangan Roy lolos dari bibirnya ketika senjatanya berhasil masuk ke dalam berangkasnya.
Mata mereka saling tatap menatap, senyuman terlukis diwajah Roy, hatinya begitu senang karena ketakutannya selama ini ternyata salah. Roy membiarkan sejenak senjatanya berada di dalam berangkas milik Gabriel, menikmati aliran yang berkedut menarik senjatanya lebih dalam lagi.
Lumattan dari bibir Roy tidak lupa dia berikan untuk menambah rasa nikmat surgawi yang di rasakan oleh pasangan pengantin yang baru saja menikah. Denyutan demi denyutan Roy rasakan di bawah sana yang begitu hangat.
"Om goyang ya?" Roy meminta izin terlebih dahulu kepada Gabriel dan tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Roy sudah menarik ulur benangnya dengan ritme pelan.
Suara dan deru napas keduanya begitu syahdu menandakan persatuan mereka begitu luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya erangan yang saling bersautan satu sama lain diiringi kecepatan yang dihentakkan oleh pinggul Roy.
Keringat menetes dikening mereka masing-masing, walaupun mereka berada di dalam ruangan yang terdapat mesin pendingin yang menyala, tidak menghalangi mereka untuk berpacu dalam kecepatan yang maksimal demi mencapai puncak kenikmatan.
"Aaakkh, Om," rancauan Gabriel yang sudah tidak bisa tertahan.
"Sebut namaku, baby." Roy menambah kecepatan saat dirinya juga sudah pada batas kemaksimalnya.
"Aaaahh, Roy!" Gabriel mencakar kuat-kuat punggung Roy saat dirinya telah sampai pada puncaknya.
"Im coming, baby. Aaarrgggh!" erangan Roy yang menghentakkan senjatanya agar lebih dalam sembari merem melek ketika dia sudah mencapai kepuasannya.
Suara deru napas yang tersengal akibat pelepasan yang begitu dahsyat nikmatnya, Roy menciumi bibir Gabriel dan memeluknya dari arah samping sembari mengatur napas mereka masing-masing, Roy membiarkan Gabriel untuk beristirahat sejenak sebelum memulai pertempuran panjangnya.
"I love you, I love you Gabriel." Roy mencium pucuk kening istrinya dan memeluknya dalam selimut yang sama.
__ADS_1
Bersambung...