
Sebulan kemudian.
Semua sudah Ammar lakukan seperti permintaannya Nabila, mulai dari bersikap romantis, membelikan Nabila bunga mawar setiap sepulang dari kantor. Sampai pergi berkencan saat hari libur.
Namun, perasaan Ammar kepada Nabila tetap sama, semua yang sudah Ammar lakukan semata mata hanya memandang Nabila sebagai adik.
"Bang, nanti pulang kerja langsung pulang ya, Nabila sudah siapkan makan malam untuk Abang." Nabila yang sudah percaya diri akan hati Ammar yang akan berubah selama sebulan ini.
"Astagfirullah, Abang lupa Nabila! Hari ini sepeluang dari kantor Abang harus ke kota X karena di undang oleh Direktur Sanjaya." Ammar yang memberikan surat undangan ke Nabila.
"Oh, gitu ... Boleh Nabila ikut?" pinta Nabila.
"Boleh si, emang gak apa-apa? Karena semua patner bisnis Abang tidak ada yang membawa pasangannya. Nanti kamu bosan!" ucap Ammar agar Nabila tidak ikut bersama dirinya ke acara pertemuan bisnis.
"Nabila bisa menunggu di hotel kok!" Nabila memaksa untuk ikut.
Ammar yang kehabisan kata kata oleh Nabila hanya memijat keningnya yang terasa pusing, bagaimana supaya Nabila tidak ikut bersamanya.
"Ya, boleh ya bang?"ucap Nabila yang bergelayut manja kepada Ammar.
"Nabila, Ibu boleh minta tolong! Nanti malam ada pengajian di masjid An-Nur, Ibu mau kamu menemani ibu untuk ikut ke acara pengajian nanti malam. Ibu tidak enak kalau kamu tidak datang karena Ibu sudah bilang sama Ustadzahnya." Ainun tiba tiba datang menghampiri Ammar dan Nabila.
"Tapi bu, Nabila mau pergi sama Bang Ammar." Nabila yang tetap ingin ikut bersama Ammar.
"Nabila, mending kamu ikut sama Ibu nanti malam ke pengajian. Abang gak lama kok. In sya allah jam sepuluhan Abang sudah sampai rumah." Ammar mengusap kepala Nabila.
Nabila yang mendengar perkataan Ammar, hanya bisa menurutinya dengan terpaksa.
"Ya, sudah. Abang hati-hati ya ... jangan terlalu malam pulangnya." Nabila mengantar Ammar ke depan pintu rumah.
"Bu, Ammar pamit dulu ya, Assalamualaikum." Ammar mencium tangan Ainun tanpa membalas ucapan Nabila.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati yo nak," ucap Ainun tersenyum manis.
"Jangan lupa kasih kabar ya, Bang!" Nabila mencium tangan Ammar.
"In sya allah." Ammar hanya tersenyum ke arah Nabila lalu masuk kedalam mobil yang sudah di bukakan pintu oleh Roy.
Mobil pun mulai menjauh dari rumah Ammar, Ammar yang sudah mempersiapkan rencananya untuk lolos malam ini dari Nabila akhirnya bisa bernafas lega, karena Ibunya membantunya agar terhidar dari Nabila.
"Alhamdulillah ...." Ammar yang berbicara sendiri melihat ke arah kaca tepat di sampingnya.
"Kenapa, Bos?" tanya Roy penasaran.
"Kepo banget!" Ammar langsung memasang wajah dinginnya.
'Pagi-pagi sudah salah aja saya!" gumma Roy.
Kurang dari tiga puluh menit mobil sudah sampai di perusahaan yang kini perlahan mulai bangkit kembali.
"Roy siapkan metting untuk hari ini!" Ammar yang berjalan dengan cool melewati para karyawan yang berada di hadapannya.
Semua karyawan pada memberi salam serta menunduk sebagai tanda hormatnya kepada atasanya.
__ADS_1
Roy yang mengikuti langkah Ammar hanya mencatat setiap perintah yang di keluarkan oleh Ammar, termasuk acara ke kota X.
_______
Di lain sisi.
Aini yang sedang berjemur di bawah sinar matarhari pagi yang bagus untuk ibu hamil, menikmati masa-masa Trisemester ke duanya.
Paparan sinar matahari yang masuk kedalam tubuh Aini yang sedang duduk di tempat kursi santai dekat kolam renang rumahnya sambil menikmati buah-buhan yang segar.
Sumber Foto: Mbah google
"Aini!" panggil Tante Dinda.
"Apa tante?" Sahut Aini sambil mengunyah buah kesukaanya.
"Kok, belum siap siap? Bukannya sekarang ada jadwal Chek kandungan?" Dinda yang menghampiri Aini.
"Jadwalnya malem tan, gak jadi pagi." Aini menangambil minumannya.
"Loh, kok malem si? Katanya pagi." Dinda yang duduk di sebelah Aini sambil mengambil buah dan memasukan buah ke dalam mulutnya.
"Di Cancel Tan, jadwalnya penuh!" jawab santai Aini.
"Terus nanti bagaimana? Tante sama Om kamu ada acara nanti malam," ucap Tante Dinda.
"Gak bisa dong cantik! Coba Tante bilang dulu sama Om kamu." Dinda yang mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suaminya.
"Gak usah, Tante! Aini bisa pergi sendiri kok, nanti yang ada malah ngerepotin tante lagi," ucap Aini yang melarang Dinda mengubungi suaminya.
"Yakin? Kalau gak, nanti kamu ikut sama Tante dan Om ke acara temannya Om. Biar Tante punya alesan pulang duluan, soalnya Tante kurang suka ikut acara pembisnis," ucap Dinda menjelaskan.
"Mau kan? Biar gak bosan di dalam rumah mulu ... mending ikut! " Saran Tante Dinda.
"Oke deh, Tante! Tapi banyak makanan kan?" tanya Aini cengengesan.
"Banyak!" balas Tante sambil tertawa.
________
Pukul 07 : 30 pm.
"Bun, sudah siap?" tanya sang suami kepada istrinya.
"Sudah Yah," ucap Dinda
"Loh, Aini mana? Katanya mau ikut?" tanya sang suami.
"Sudah di bawah Yah, sama Kenzo." Dinda menuruni anak tangga bersama suaminya.
"Kenzo mana?" Tanya Dinda ke Aini.
__ADS_1
"Sudah tidur mba, di bawa sama bibik ke kamar," ucap Aini menejelaskan.
"Wah, tumben Kenzo tidur lebih awal. Ya sudah, kita berangkat sekarang. Takut keburu malam." Suami Dinda masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
Selama perjalan Aini menatap jalanan yang indah penuh dengan lampu yang cantik dari balik jendelanya.
"Bun, apa tidak apa-apa Aini ikut bersama kita?" ucap Suaminya kepada Dinda.
"Tenang saja Yah, lagiankan tidak ada yang mengenali wajahnya. Tertutup ini," ucap Dinda
Beberapa menit kemudian, mobil pun sampai di tempat acara yang di selenggarakan oleh teman suaminya dalam rangka merayakan keberhasilan perusahaanya yang maju dengan pesat.
Di dalam acara tersebut semua kalangan pembisnis kelas kakap pada bersundau gurau, Suami Dinda pun di ajak untuk duduk bergabung dengan rekan bisnis lainnya.
"Selamat datang Pak Andi malik, selamat malam Nyonyah Malik? " ucap pemilik pesta
"Malam," balas Dinda
"Selamat malam Nona?" ucap Pemilik yang melihat ke arah Aini dengan ragu.
"Ah ... Dia adik saya, Namanya Naoumi dari luar negeri. Kebetulan suaminya lagi dinas ke luar kota. Jadi saya yang mengajaknya untuk ikut." Andi yang menutupi identitas Aini.
"Oh, ya .... Silahkan! Tidak apa-apa." Sang pemilik menunjukan sikap ramahnya.
"Nyonya Malik, boleh saya pinjam dulu suaminya? Silahkan Nyonyah malik dan Nona Naoumi keliling pesta dan makan sepuasnya di jamin halal." timpal sang pemilik pesta yang mengajak suaminya Dinda untuk bergabung dengan rekan bisnis lainnya, dan di anggukan oleh Dinda.
Dinda dan Aini akhirnya memutuskan untuk mengambil beberapa makanan dan di bawanya ke bangku dan meja yang kosong.
"Untung saja, Tante ngajak kamu. Coba kalau tidak, gak tau bakal seperti apa tante di tengah tengah pesta yang di tinggal sendiri oleh suaminya," ucap Dinda menjelaskan.
"Tante bisa aja! Oh iya Tan, Aini boleh ke toilet sebentar?" ucap Aini yang menahan di saat perjalanan tadi.
"Mau Tante anterin?" Dinda yang menawarkan diri untuk mengantar Aini ke toilet.
"Gak usah, Tan! Aini bisa sendiri kok." Aini bangun dan melangkah pergi.
Saat Aini ingin masuk ke dalam toilet, ternyata ada sepasang mata yang sudah mengintai gerak gerik dari Aini, orang itu pun melaporkan ke atasannya dengan cepat.
"Ikuti!"perintah seseorang.
"Baik, Bos! " ucap anak buah yang melihat ke arah toileh wanita.
Bersambung....
Hallo, Readers ....!
Maafkan bila author lama upnya, dan tidak muaskan kalian dalam up kali ini. Akan author usahankan untuk up setiap hari...
Author minta dukungannya ni dari readers semua,,, dengan komen, like, hadiah dan vote nya ya, terimakasih...
Oh ya, sembari nunggu Aini Up.. mampir yukkk di cerita karya teman aku yang satu ini... Authornya yang manis untuk karya terkecenyanya...
__ADS_1