Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 167. pembalasan dendam Rose


__ADS_3

Pagi pun telah tiba, sinar mentari pagi masuk ke sela-sela kaca mobil mengusik Aini yang masih tertidur dengan lelap di kursi depan, dia mulai mengerjapkan matanya mulai tersadar dari tidurnya. Matanya mulai menelisik di sekitarnya tidak ada Rahman sama sekali.


"Astagfirullah!" Aini mengusap wajah dan menyadari kesalahannya yang tidak mau mendengarkan ucapan Rahman untuk pulang ke rumah, hingga dia tertidur di dalam mobil.


"Kau sudah bangun?" tanya Rahman yang berdiri di luar pintu mobil.


"Apakah Rahman tidur di luar semalaman?" tanya Aini yang berpikir keras. "Rasanya tidak mungkin!"


"Ah, hmm. Maaf, apakah semalam kita tidur satu mobil?" tanya Aini untuk memastikan pikirannya.


"Menurutmu?" Rahman bukannya menjawab tapi dia justru melempar pertanyaan kepada Aini.


"Aku bertanya serius padamu!" Aini membuka pintu mobilnya tetapi dicegah oleh Rahman.


"Aku hanya bercanda, aku tidur dibelakang!" ucap Rahman yang melihat ke arah belakang ternyata dan Aini melihat bagasi belakang mobil memang terbuka sejak dia bangun.


"Apakah sudah ada kabar polisi?" tanya Aini kepada Rahman dan hanya mendapat gelangan kepala dari pria itu.


Aini mendengus kesal, dia benar-benar putus asa, sampai akhirnya sebuah pesan pun masuk ke ponsel Aini, dia melihat isi pesan dari sang ayah dan ternyata mendapat kabar bila si kembar berada di tangan Rose.


"Apa? Tante Rose? Untuk apa dia melakukan ini semua?" Ucap Aini yang terdengar oleh Rahman. Hingga membuat pria yang ada di sampingnya itu bertanya tentang siapa itu Rose dan Aini pun menceritakan siapa itu Rose.


Satu hal yang Aini tahu kenapa Tante Rose bisa nekat menculik anaknya. Ya, mungkin karena dendam. Dia pun langsung menghubungi Rose dan ternyata diangkat oleh tantenya itu.


"Tante kenapa Tante bisa tega sama Aini apa salah ini salah tante?" Ainii langsung menyerang dengan kata-katanya menggunakan bahasa Prancis.


"Gimana rasanya kehilangan seorang anak yang kamu sayang?" Tanya rose dengan nada sindiran.


"Apa maksud Tante? Aini tidak pernah sekalipun mengusik kehidupan Tante dan juga Monic!" bentak Aini yang sudah tidak tahan meluap emosinya ketika mengetahui bila Rose yang menculik anaknya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Tidak pernah mengusik? Kamu memang tidak pernah ngaca Aini! Kamu dan ibu kamu—"


"Stop tante! Jangan pernah sekali-kali tante membawa-bawa orang tua aku! Apa salah Aini sama tante? Sekarang Aini pinta tante kembalikan si kembar sekarang juga! Kalau Tante berani nekat nyakitin si kembar maka jangan salahkan Aini bila Aini akan bertindak tegas sama Tante Rose!" ujar Aini dengan tegas dan derai Air mata.


"Oh ya? Kamu berani mengancam saya? Kamu pikir, saya takut? Dengar Aini gara-gara kamu saya kehilangan anak saya selama-lamanya! Sekarang kamu juga harus merasakan apa yang saya rasakan!" Roster tawa dari seberang telepon seraya memukul si kembar hingga kedua anak ini itu menangis menjerit kesakitan.


"Tante, stop! Please, stop it! Aini mohon jangan sakitin anak Aini Tante, dia masih kecil Tante belum mengerti apa-apa! Kalau Tante ingin membalas dendam jangan sama mereka!" Aini menangis sesuguhkan menelepon rose.


Rahman yang mendengarkan ucapan mereka semua langsung bertindak memasang alat pelacak dan merekam semua percakapan Aini dengan Rose, ketika mengetahui titik lokasi tersebut dia pun langsung menjalankan mobilnya saat ini masih terus berbicara kepada rose.


"Ini belum seberapa Aini, atas apa yang sudah kamu lakukan kepada Monic! Aku menikmati ketakutan kamu saat mendengar anak kamu menangis kesakitan!" Rose kembali tertawa terbahak-bahak seraya memutuskan sambungan telepon.


Ketika sambungan telepon sudah terputus Aini langsung menangis jadi-jadinya, dia menyesal karena selama ini kurang meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Sibuk dengan dunia bisnis untuk membangun kembali perusahaan suaminya agar tidak bangkrut.


"Hai, tenanglah kita akan segera sampai di sana! Aku sudah menghubungi polisi untuk mengepung lokasi tersebut! Percayalah bila si kembar akan baik-baik saja!" Rahman ingin sekali mengusap kepala wanita yang ada di sampingnya tetapi ia mencoba untuk bersabar.


"Kamu nggak tahu ada di posisi aku kayak gimana, kamu nggak ngertiin aku! Andai saja Mas Ammar ada, pasti dia akan segera—"


Mendengar semua penuturan Rahman, Aini hanya terdiam membisu tidak tahu harus menjawab apa tidak tahu harus menanggapi apa ketika Rahman mengatakan semua itu hanya air mata dan kata maaf yang dilakukan untuk saat ini.


"It's oke, maaf karena telah membentakmu!" Rahman kembali fokus untuk menyetir menuju lokasi yang sudah diketahui letak titik keberadaan Khan dan Khanza.


Begitu mereka sudah sampai di titik lokasi tersebut yang ternyata berada tidak jauh dari tempat mereka, Rahman pun langsung menghubungi polisi menanyakan keberadaan mereka yang sudah bersembunyi di balik semak-semak untuk mengepung tersangka kasus penculikan.


"Kamu tunggu sini!" Rahman keluar dari pintu mobil dan menghampiri komandan yang mengatur rencana penangkapan Rose.


Aini yang tidak mau mendengar perkataan Rahman, turun dari mobil dan menghampiri mereka yang sedang berbincang untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


"Astaghfirullah Aini, aku kan sudah bilang, tunggu di dalam mobil!" Rahman memijat keningnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku tenang di dalam mobil sedangkan anakku ada di dalam sana!" ucap Aini dengan tegas.


Rahman membuang nafasnya dengan kasar seraya baru ingat bila wanita yang dia sukai cukup memiliki bela diri yang tinggi. "Baiklah, kalau begitu izinkan aku untuk menyentuhmu!"


"Untuk apa? Tidak mau!" Bentak kau ini dengan tatapan surat mata yang tajam.


"Hanya untuk keadaan darurat Aini! Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, terus aku diem aja gitu ngelihat kamu tergeletak atau gimana?" Rahma mulai kesal dengan berdebat dengan Aini.


"Kamu nyumpain aku?" Aini membentak Rahman dengan tatapan yang kesal.


"Astagfirullah! Kamu tahu nggak sih? Aku sayang, sama kamu! Sayang sama kamu, Aini! Sayang! Puas!" Rahman langsung menyuruh komandan untuk segera bertindak usai berdebat dengan wanita bercadar itu yang terdiam saat dirinya mengucapkan kata sayang di depan semua polisi yang siap dengan tugasnya.


Pada saat komandan itu mengeraskan toak di tangannya, semua pasukan siap di posisinya masing-masing. "Untuk tersangka yang bernama Rose atas tuduhan penculikan anak balita, kami perintahkan dengan tegas untuk segera menyerahkan diri sebelum kami bertindak lebih lanjut!"


Suara pengeras itu pun tidak ada reaksi sama sekali dari orang yang ada di dalamnya hingga untuk kedua kalinya komandan itu memerintahkan dengan ancaman bila Rose tidak keluar maka dia akan bertindak melangkah maju masuk ke dalam.


***


Sementara di posisi Ammar, mereka sudah mengatur rencana dengan matang. Pada saat penjagaan itu masuk ke dalam untuk memberikan jatah makan untuk dia dan juga Roy, Amar pun menganggukkan kepalanya agar Roy menjalankan aksinya.


"Hhuuhk, hhukkk! Haus! Sa ... ya, haus," ucap Roy dengan lirih meminta pada sang penjaga agar memberikannya air minum.


Penjaga itu tanpa ada rasa ragu mengambilkan minum untuk Roy, dan saat itu juga Amar melepaskan pasungan pada kaki dan tangannya agar terlepas, kemudian berjalan mengendap-endap di belakang penjaga itu.


Jleb, Ammar menusuk penjaga itu tepat di belakang lehernya dengan patahan besi yang selama ini dia asa untuk senjata pelindung nya. Penjaga itu menengok ke arah belakang yang melihat Amar sudah terlepas dari pasukan dia pun ingin berteriak tapi Amar sudah menahan yang lebih dulu. Amar memelintir leher tersebut hingga penjaga itu tewas seketika.


Amar mengganggukan kepalanya pada Roy ketika dia sudah mengamankan penjaga tersebut, mereka membuka pintu gubuk itu lalu melihat betapa banyaknya penjagaan yang ada di sekitar tersebut dalam jumlah orang yang tidak sedikit.


"Astagfirullah! Aini, Ana Uhibbuki Fillah! Hhiiiiiiaaaaaat!" Ammar maju lebih dulu untuk menyerang mereka yang sudah siap memberi pelajaran pada Ammar dan Roy karena berani keluar dari pasungan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2