
"Jelasin apa? Kamu memfitnah aku untuk menjadi kambing hitam kakak, kamu! Iya!" Bentak Roy sangat kencang saat Gabriel sudah mentok di dinding.
"Jawab!" teriak Roy yang sudah kalang kabut akibat kebohongan Gabriel.
"Iya!" jawab Gabriel yang ketakutan.
"Iya, aku ngaku, aku salah ... maaf!" sambung Gabriel.
"Jelas, salah! Kamu gak sadar? Apa yang kamu lakukan itu membuat orang lain dalam masalah!"
"Maaf, aku gak sampai berfikir seperti itu." tangisan Gabriel mulai pecah.
"Maaf? Enak banget ... setelah apa yang sudah kamu perbuat, trus ... dengan mudahnya minta maaf? Kamu itu berapa tahun sih, hah? Berbuat tanpa berfikir panjang! Gede badan doang, tapi akal dan pikiranya kecil! Kamu tau, kamu bisa saya laporkan ke polisi? " bentak Roy yang menyudutkan Gabriel.
"Iya! Aku emang selalu salah dalam melakukan apapun, tanpa berpikir panjang dan gak becus melakukan apapun. Sekarang terserah, Om ... mau jadiin aku suster. atau jadi pembantu Om juga gak apa-apa, asal jangan laporin aku kepolisi Om, maafin aku, Om!" Gabriel memohon kepada Roy dengan isak tangisanya.
Akal bulus Roy berjalan lancar saat Gabriel masuk kedalam perangkap yang sudah Roy susun saat mendengar percakapan Gabriel dengan kakaknya.
"Ok, akan saya pertimbangkan, sebagai gantinya. Kamu harus menjadi pembantu pribadi saya dua puluh empat jam. Tan ... pa ... di bayar!" ucap Roy penuh aura rencana akal bulusnya.
"Bener, Om? Saya gak jadi di penjara kan?" Gabriel menghapus air matanya.
"Selagi kamu menjalankan hukuman dengan baik, dan selama dua puluh empat jam," ucap Roy mengulang perkataanya.
"Maaf, boleh intruksi?" Gabriel mengakat tanganya sebagai pengajuan keberatan.
"Gak ada!" Roy membalikan tubuhnya dan meninggalkan Gabriel.
"Tapi saya harus sekolah, Om!" teriak Gabriel yang merasa keberatan dengan hukuman yang Roy berikan.
Roy melupakan Gabriel yang masih anak sekolah, langsung menghampiri ke arah gadis belia tersebut.
"Ok, saya akan berikan waktu bebas yang kamu gunakan, untuk sekolah! Besok saya akan memberikan syarat apa saja yang harus kamu patuhi selama tinggal di apartment, saya." Roy mengambil ponsel Gabriel yang berada di atas meja makan.
Mendengar ucapan Roy membuat rasa lega di hati Gabriel, setidaknya dia tidak akan di penjara akibat perbuatanya.
Ke esokan paginya.
Tepat pukul 7 : 00 pagi hari, Gabriel sudah rapih dengan seragam putih abu-abunya, duduk manis di ruang televisi bersama dengan Roy.
Keduanya saling bertatap muka dan saling memandang satu sama lain, Roy tidak menyangka bila gadis remaja yang masih duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu akan dia persunting untuk menjadi istrinya karena desakan perintah dari bosnya.
Gabriel Anatasya salah satu anak mafia dari Geng Maong yang terkenal kejam dalam berbisnis, identitas asli Gabriel di rahasiakan sehingga Roy tidak bisa melacak tentang gadis yang dia cari selama dua bulan ini.
__ADS_1
"Ok, ini persyaratannya, silahkan di baca dengan keras, lalu tanda tangan." Roy menyerahkan selembar kertas surat kepada Gabriel.
"Mengurus segala keperluan yang di butuhkan pihak A selama masa pengobatan, sepeluang sekolah harus pulang ke apartment, tidak boleh memanggil dengan sebutan Om di saat berdua? Selebihnya harus mengikuti intruksi dari pihak A." Gabriel membaca dengan keras dan langsung menandatangi surat perjanjian tanpa rasa keberatan.
'Wah, parah nih ... cewek, main langsung tanda tangan aja, masa iya ... karena ketakutan mau di penjara main setuju dengan keputusan orang asing?' batin Roy yang melihat gadisnya sangat misterius.
'Eh, tunggu dulu ... Serius nih, gue jadiin dia istri gue? Cinta juga gak! Tapi kalau gue gak nikahin dia ... yang ada Bos Ammar gantung gue di pohon toge! Tapi, kalau di liat-liat wajahnya lumanyan cantik dan body nya ....' Roy mulai melanjutkan menghayal saat malam pertamanya dengan Gabriel membuat sang pusaka berkembang dari sangkarnya.
"Om? Hallo ... Om? Om!" Gabriel membuyaran lamunan kotor si Roy.
"Ah, iya? Apa?" Roy tersadar dari hayalan tingkat dewanya.
"I-i-tu, hidung, Om ... ke-keluar darah." Gabriel memberikan tisu kepada Roy.
"Astagfirullah." Roy langsung lari ke arah wastafel dapur untuk membersihkan hidungnya yang berdarah.
"Om, sudah bisa lari?" tanya Gabriel yang heran melihat Roy sudah tidak merasakan sakit ketika berjalan.
"Ah, aauuhh!" Roy teringat dan langsung memainkan dramastisirnya.
Tanpa ada rasa curiga terhadap Roy. Gabriel langsung memapah Roy ke dalam kamar, memberikan sarapan di atas meja lemari kecil yang ada di samping tempat tidur.
"Om ... eh, maksudnya ... Kak, aku ... berangkat sekolah sekarang ya, udah telat soalnya! Ponselnya aku ambil lagi ya." Gabriel mengambil ponselnya dari atas meja lemari dan langsung berlari ke arah pintu.
"Eh, tunggu!" panggil Roy. Namun, Gabriel sudah berlari keluar.
Emosi Roy tambah memuncak saat anak laki-laki itu memakaikan helm kepada Gabriel dan mencubit manja hidung si gadis yang tersenyum ke arah anak laki-laki itu.
"Si al! Dah punya pacar, rupanya!" Roy tersenyum sinis dan sudah timbul rencana lebih licik yang ada di pikirannya.
Kediaman rumah Ammar.
Mendapat kabar dari asistennya untuk izin cuti beberapa hari, Ammar hanya bisa membawa pekerjaanya untuk diselesaikan di rumah.
"Mas, ini tehnya." Aini membawakan segelas teh hangat dan cemilan kue kelinci.
"Makasih ya, sayang." Ammar menarik Aini agar duduk di pangkuannya.
"Eh, Mas kan lagi kerja," ucap Aini.
"Gak apa-apa, temani Mas sebentar seperti ini." Ammar membiarkan Aini berada di pangkuannya dan mulai mengetik kembali pada papan keyboard.
Melihat suaminya begitu tampan saat fokus kerja, jantungnya berdebar begitu kencang. Aini yang penasaran apakah suaminya juga merasakan debaran yang hebat saat berada di dekat dirinya.
__ADS_1
Aini langsung mengarahkan tangan kanannya menyentuh pada dada bidang Ammar, menekan sedikit kencang untuk merasakan debaran pada jantung Ammar, tanpa Aini sadari, suaminya sudah memperhatikan tingkah dirinya yang meraba-raba pada bagian dada Ammar.
"Eh, ketauan." Aini langsung tertawa tanpa rasa bersalah.
"Gantian ya?" Ammar melirik pada bagian dada Aini.
"Ya ... ampun, Mas." Aini langsung menutup bagian dadanya dengan ke dua tanganya saat Ammar mulai mengelitik pinggang Aini.
"Mas, ampun ... geli." Aini mengeliatkan badanya sambil tertawa saat suaminya terus menggelitiki pinggangnya.
"Ah," keluh pelan Ammar saat adik juniornya mendapatkan gesekan dari pinggul Aini.
"Kenapa, Mas? Sakit ya?" Aini mencoba berdiri, namun Ammar menariknya kembali dalam pangkuannya.
"Gak apa-apa, udah diam sini. Jangan banyak gerak! Kalau gak mau seharian di tempat tidur." Ammar mulai fokus kembali pada layar monitornya.
Aini yang mendengar ucapan Ammar langsung mematung seketika, tanpa ada gerakan sedikitpun dari tubuhnya. Karena Aini tahu maksud perkataan Ammar, Aini juga merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana yang sangat besar menganjal di pangkal pahanya.
"Ehem!" Ammar mulai berdeham saat adik juniornya mulai berdenyut pusing karena sesak di dalam sangkarnya yang tertekan benda empuk dari atas sangkar.
"Mas, minum dulu tehnya." Aini yang begitu gugup mendengar deheman dari suaminya, karena merasakan sesuatu yang bergerak di bawah sana.
"Aini ... jangan gerak!" protes Ammar saat tubuh Aini bergerak ingin mengambil teh untuk Ammar.
"Oh, iya ... maap lupa," ucap Aini yang langsung mematung.
"Mas, lebih baik ... Aini ke kamar aja ya? Takut ganggu konsentrasi, Mas Ammar." Aini hendak bangun. Namun, di cegah lagi oleh Ammar. Hal hasil, membuat gebrakan pada sang adik junior.
"Ah, Aini! Bisa diem gak?" ucap Ammar menahan sesuatu yang terasa ngilu.
Tanpa menjawab perintah Ammar, Aini memajukan mulutnya sebagai tanda sebal dengan suaminya.
Beberapa menit berlalu, Ammar selesai mengetik tugas dan menutup laptopnya, kemudian memutarkan kepala Aini hingga berhasil meraup bibir istrinya yang sudah menggoda imannya.
Ammar menuntaskan rasa gejolak yang sudah mendesaknya untuk di tuntaskan, melahab seluruh bagian luar maupun dalam pada bibir istrinya.
"Ehhmm," Ammar begitu menikmati setiap inci di bibir istrinya tanpa henti.
"Boleh ya, di sini." Pinta Ammar saat menghentikan ciumannya dan melihat ke arah Aini.
"Owwekk, oweek!" tangisan Khansa terdengar melalui alat pendeteksi suara tangisan bayi.
Mendengar tangisan dari Khansa. Aini langsung berdiri dari pangkuan Ammar tanpa menjawab permintaan Ammar.
"A-a-aini ... liat, Khansa dulu Mas!" Aini berdiri dari pangkuan suaminya lalu pergi meninggalkan Ammar yang sudah terbakar api gelora asmara.
__ADS_1
Ammar hanya tersenyum melihat tingkah Aini yang begitu menggemaskan, kehidupan barunya setelah lepas dari Nabila, membuatnya semakin cinta terhadap Aini dan sedikit pun tidak mau lepas dari istrinya.
Bersambung...