
Villa.
Keluarga besar Aini dan Ammar makan malam bersama di Villa Bogor. Mereka makan dengan harmonis dan penuh kenikmatan.
"Makan yang banyak ya, Sayang! Kamu butuh asupan empat kali lipat untuk si utun," ucap Bunda Ismi yang memberikan sayuran ke piring Aini.
"Utun?" tanya Aini yang tidak mengerti.
"Utun itu adik bayi yang ada di dalam perut kamu." Bunda Ismi berkata sambil mengelus perut Aini.
"Oh." Aini tertawa mendengar penjelasan ibunya.
"Nih, cobain deh!" Rey memberikan ikan bakar ke Aini
"Gimana?" Rey bertanya penasaran.
"Hmmm, enak!" ucap Aini senang.
"Ya sudah, nih buat kamu saja!" Rey bertukar piring dengan Aini.
"Ehheemm ..." deheman cemburu Ammar melihat Aini dan Rey saling bertukar piring.
"Kenapa bang? mau juga? nih ... gue mah kaga pilih kasih!" ucap Rey santai membuat lainnya ikut tertawa.
Posisi Aini berada di antara Ammar dan Bunda Ismi, sedangkan Rey berada di depan Aini.
"Mas mau coba punya Aini? nih Aaaa ...." Aini yang ingin mengambil hati Ammar agar tidak cemburu, Ammar hanya menganggukan dengan datar.
Ada sedikit rasa cemburu di hati Rey saat melihat kemesraan mereka berdua, tapi Rey menipisnya dan menguatkan hatinya untuk bisa tegar.
Makan malam telah selesai, Ustad Rahman dan Ustad Sobri berpamitan untuk pulang. Sedangkan keluarga Ghozali tetap menginap di kediaman Villa Ammar.
"Nur, makasih ya." Menyerahkan Charcer ke Aini.
"Sama sama A," ucap Aini.
"Jangan lupa di minum vitaminya!" Rey mengingatkan Aini penuh perhatian.
Deg,
Ammar yang baru saja mengantar Ustad ke depan gerbang dan beranjak ke kamar, tiba tiba melihat Aini dan Rey sedang bicara berdua di depan kamar.
"Ya, terimakasih kak," ucap Aini
Rey tersenyum dan pergi meninggalkan Aini yang sudah menutup pintu kamarnya, saat Rey berjalan menuju kamarnya, Rey bepapas dengan Ammar yang sudah menatapnya dengan tajam.
Ammar masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras.
Brukk!
"Astagfirullah ... kamu kenapa si mas? nutup pintu gak bisa pelan apa?" ucap Aini terkejut.
Ammar menghampiri Aini yang ada di meja rias, memeluknya dari belakang dengan manja.
"Cantik," Ammar mengecup lembut kepala Aini membuat istrinya tersenyum malu.
"Mas izin ke ruang kerja dulu ya, ada yang harus Mas tanda tangani," ucap Ammar
"Ya sudah, Aini ambilkan minuman ya, untuk mas," ucap Aini
"Jangan lama lama, Mas tunggu di ruang kerja." Ammar mencium pipi Aini lalu meninggalkannya.
__ADS_1
*******
Aini keluar dari kamarnya yang berada di bawah dan melihat sekitar ruangan yang ternyata sudah sepi, sebagian lampu juga sudah dimatikan. Aini berjalan ke arah dapur dan melihat sesosok makluk sedang membokar lemari tempat penyimpanan makanan.
Jantung Aini berdegup kencang, rasa kawatirnya semakin meningkat saat Aini mengambil sapu sebagai senjata untuk perlindungan diri dan berjalan mengendap endap untuk menangkap basah sosok yang ada di hadapannya.
Saat Aini hampir menangkap sosok tersebut, Aini justru tidak sengaja menendang bangku plastik yang ada di dapur, karena kondisi dapur yang gelap, hanya pantulan cahaya dari ruangan lain untuk meneranginya.
Ssreeekkk!
Terdengar suara kursi plastik bergeser akibat tertendang oleh kaki Aini, membuat sosok yang ada di depan Aini kini menoleh kepadanya. Sontak Aini ketakutan dan berteriak.
Aaakkkk!
Teriakan Aini bersamaan dengan sosok mekluk tersebut yang ikut berteriak. Aini langsung menyerang sosok tersebut dengan gagang sapu, memukulnya sampai sosok tersebut kesakitan.
"Rasain loe, euh ... euh ...." Aini yang terus menerus memukul sosok tersebut.
"Aduh, ampun ... Aini ini aa ..." ucap Rey kesakitan.
"Astagfirullah, aa?" Aini yang terkejut ternyata sosok tersebut adalah Rey.
"Aawwwh ... sakit." Rintih Rey kesakitan
"Maaf, lagian salah sendiri. Ngapain coba gelap gelapan di dapur, kirain Aini makhluk aksral." Aini yang meniup wajah Rey yang terkena pukulan.
"Astagfirullah, ganteng ganteng gini di bilang makhluk aksral." Protes Rey.
Saat Aini sedang mengoleskan obat merah ke kening Rey akibat terkena pukulan oleh Aini, tiba tiba semua orang berkumpul melihat keributan dari arah dapur.
"Astahfirullah, kalian ngapain?" ucap Bunda Ismi.
"Aini gak tau bu, kalau ternyata Kak Al. maaf Aini gak sengaja." Aini yang membela dirinya sendiri.
"Ada ada aja, dah pada tidur lagi," ucap Ainun.
Semua orang pada bubar dan kembali ke kamar mereka masing masing, hanya Ammar yang terus berdiri melihat tajam ke arah Aini.
Aini melihat Ammar yang menatapnya dengan sinis langsung menghampirinya dan memeluknya di depan Rey. Rey yang tidak suka melihat pemandangan di hadapannya. Memilih untuk meninggalkan mereka berdua.
"Maaf mas, Aini ambilkan minum dulu ya." Aini segera membuka kulkasnya tapi Ammar membalikan tubuh Aini, membuka cadar Aini lalu mencium nya dengan rakus.
"Ahh ...." desahaan Aini keluar begitu saja saat Ammar mencumbunya dengan cermburu.
"Hmm... hmmm" suara ciuman mereka begitu memburu. Ammar mengangkat Aini dan menaruhnya di meja kitchen room.
Rey yang kembali lagi ke dapur untuk mengambil buah mangga muda nya yang tertinggal di meja. Berhenti sejenak dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Ammar yang melihat Rey kembali kedapur, sengaja mencium terus menerus bibir Aini dengan rakus tanpa berhenti. Seolah sengaja untuk menunjukan bahwa Aini milik Ammar seutuhnya.
Sedangkan Rey yang mengambil buah mangganya tanpa melihat adegan panas yang Ammar pamerkan hanya berlalu begitu saja.
Setelah masuk ke kamar Rey membuka buah mangga muda milik Aini, dan memakanya begitu saja dengan derai air mata, tanpa merasakan asam dari buah tersebut.
Ammar senang penuh kemenangan yang berhasil membuat adegan panas di depan Rey, kini mengajak istrinya untuk melanjutkan aksinya di dalam kamar.
"Mas, ahhh ... " ******* Aini saat Ammar mencumbunya dengan agresif.
Tiba tiba, suara ponsel Ammar berdering.
"Mas, angkat dulu siapa tau penting," ucap Aini.
__ADS_1
"Nanti saja, yang ini jauh lebih penting." Suara Ammar yang sudah berat.
Ammar tidak bisa lagi menahan hasrattnya kini menuntaskan penuh dengan rasa cemburu dan mengebu.
"Baby, say my name please!" Rancau Ammar yang sudah tahan ingin mengeluarkan Vitamin tambahan untuk bayinya yang ada di dalam perut istrinya
"Come on, baby... now! " Rancau Ammar yang mengerakan pinggulnya dengan cepat.
"Mas Ammar, ahhh ... " Aini menyebut nama suaminya saat Aini ikut melepaskan gelora rindunya
"Aaakkkhhh ..." ******* Ammar keluar saat Aini memanggil namanya disaat pelepasan gelora cintanya.
Ammar tersenyum senang melihat wajah Aini penuh dengan keringat akibat olahraga malam bersamanya.
Aini yang melihat suaminya tersenyum ke arahnya, mengelap keringat di kening Ammar yang hampir menetes ke wajahnya. walaupun kamar mereka terdapat mesin pendingin ruangan yang aktif.
Ammar memajukan wajahnya dan mencium bibir Aini dengan lembut. "I love you, Nur Aini," ucap Ammar.
"Kita istirahat sebentar ya, nanti di lanjut lagi," ucap Ammar yang merebahkan dirinya ke samping Aini.
Tiba tiba, ponsel Ammar terus berbunyi.
"Mas, angkat dulu!" ucap Aini kesal dari tadi ponsel Ammar terus berbunyi selama aktifitas panasnya.
"Hallo assalamualaikum," ucap Ammar dengan suara yang masih mengebu.
"Waalaikumussalam, abang? abang dimana? katanya abang mau pulang cepat," ucap Nabila pura pura tidak tahu.
"Abang masih di rumah Aini, kenapa Nabila." Ammar bangun dan duduk di samping Aini yang lebih dulu tertidur.
"Abang katanya mau pulang cepat, Nabila takut di rumah bang, dari tadi ada orang yang terus terusan meneror Nabila bang, abang buruan pulang ya!" Nabila yang menangis di sebrang telephone.
Ammar panik mendengar suara tangisan Nabila. Ammar langsung bangun dari tempat tidurnya.
"Nabila tenang dulu ya, tunggu abang, sebentar lagi abang kesitu ok! " Ammar yang panik lansung pergi kekamar mandi.
Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi Ammar bergegas memakai baju dan menghampiri Aini yang sudah tertidur.
"Maafkan Mas ya sayang, Mas harus pergi dulu, besok pagi mas akan kesini lagi. I love you, sayang! " Ammar berpamitan ke Aini mengecup keningnya dan pergi meninggalkan Aini yang masih polos mengunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tes.
Air mata Aini jatuh seketika, saat Ammar keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
Bersambung...
Terimaksih bagi kalian yang masih setia menunggu cerita selanjutnya dari Aini dan Ammar. maaf apabila kemarin tidak up karena kondisi author yang kurang fit.
salam hangat untuk kalian dan orang yang kalian sayang.
like
come
vote
hadiahnya ya.... jangan lupa, karena ada hadiah kecil kecilan untuk kalian yang setia dengan cerita receh authorr
kalau kalian penasaran hadiahnya apa? jangan lupa vote dan hadianya ke author ya, biar author semangat upnya.
terimaksih 😘
__ADS_1