Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 130. Takut di rebut


__ADS_3

"Sisil?" Gabriel tidak menyangka bila sahabatnya atau mungkin lebih tepatnya mantan sahabat bisa mengikuti dirinya.


"Kok, kamu duduk di sini? Gak satu meja sama, Om panji?" tanya Sisil yang melihat sekitar Gabriel ternyata ada Ammar dan juga Altan teman satu patner Omnya.


"Hai, Om Ammar, Om Altan!" Sisil terkejut saat teman partner kerja Om Raihan berada di dekat Gabriel.


"Hai, juga." Ammar tersenyum ke arah keponakanya Raihan, begipun juga dengan Altan.


"Boleh Sisil gabung di sini? Kebetulan ada Gabriel sahabat, Sisil." Sisil tersenyum ke arah semua orang yang berada disatu meja.


Berbeda dengan Nico yang beradu pandang dengan Roy, saling melempar pedang samurai lewat tatapan masing-masing.


"Oh, ya silahkan! Kamu, satu sekolah sama, Gabriel?" tanya Ammar dan semua yang berada di meja tersebut langsung terfokus ke Sisil dan Nico.


"Oh, Om Ammar, kenal sama Gabriel?Calon Istrinya Om Panji?" tanya Sisil dengan sengaja menyindir sahabatnya.


"Iya! Dia ... Adik, Om," ucap Ammar kepada Sisil.


"Adik, Om? Kok aku baru tahu ya, Om?" Sisil penasaran dengan hubungan Gabriel dan Ammar.


"Oh ya? Apakah Gabriel belum kasih tau, kalau dia punya seorang Abang yang tampan?" pertanyaan Ammar membuat orang-orang yang berada di dekatnya tertawa mendengar candaan dari Ammar yang cukup garing.


"Karena, Abang Ammar itu, orang yang cukup penting, jadi gak sembarangan orang yang tau soal, Abang," jawab Gabriel yang membalas sindiran Sisil.


Kata-kata Gabriel mampu membungkam mulut Sisil yang selalu menyerang dirinya agar terlihat malu di depan semua orang, tetapi, bukan Gabriel namanya bila tidak bisa membalas serangan dari Sisil.


"Oh, iya. Kapan rencananya tanggal pernikahan kamu dengan, Om Panji. Gab?" tanya Sisil yang terus memojokan Gabriel agar malu di depan Ammar dan Altan.


"Ehm, Insyaallah ... besok, iya kan, sayang." Roy menjawab pertanyaan dari Sisil dan melihat ke arah Gabriel dengan senyum manisnya.


Sisil yang masih tidak menyadari dengan ucapan seorang Pria yang berada di samping Gabriel, terus memberikan serangan lewat kata-katanya, berbeda dengan Nico yang mulai curiga dengan Omnya Gabriel.


"Kok kita, belum dapat undangan dari, Om Panji ya, Yank?" tanya Sisil yang bergelayut manja di lengan Nico, tetapi, Nico masih terus memperhatikan wajah Gabriel tanpa berkedip.


"Nico!" Sisil mulai kesal dengan sikap Nico yang terus menerus melihat Gabriel tanpa memperdulikan keberadan dia di sampinya.


"Ah, Iya." Nico langsung berpaling melihat Sisil.


"Karena kita hanya mengudang saudara terdekat," jawab Roy mencoba memberitahu kepada Sisil, bahwa calon suami Gabriel adalah Roy.

__ADS_1


"Beruntungnya, kamu, Gab. Om Panji masih menerima kamu disaat kamu hamil anak orang lain!" Sisil memberikan rasa empatinya kepada Gabriel dengan menepuk pundak Gabriel.


"Sisil!" Nico membentak Sisil dengan lembut agar tunangannya tidak berbicara sembarangan.


"Kenapa? Kan kita sahabat sama Gabriel, gak usah malu-malu. Benar kan, Gab?" Sisil meraih tangan Gabriel seakan rasa kepeduliannya sebagai sahabat begitu besar.


Aini, Ulfa dan para suamin mereka hanya melihat adegan yang dimainkan Sisil, seorang yang ingin terus menjatuhkan harga diri dari Gabriel. Aini tidak tinggal diam saat Gabriel yang sudah menjadi Adiknya terus-terusan mendapat hinaan secara halus oleh Sisil.


"Benar kata teman kamu, Gab. Kenapa harus malu memperkenalkan calon suami sendiri sama teman?" Aini mulai memberikan intruksi kepada Gabriel agar Sisil sadar bahwa calon suami Gabriel bukan Panji melainkan Roy yang berada di sebelah kanan Gabriel.


"Takut direbut, Kak!" jawab Gabriel dengan santai sambil tertawa.


Semua orang yang berada di meja tersebut langsung tertawa mendengar jawaban polos dari Gabriel, termasuk Roy yang berada di sampingnya.


"Auhh, sakit. Bee." Gabriel meringis kesakitan karena mendapat cubitan dipipinya, saat orang lain sedang menertawakan tingkah polosnya.


"Abis kamu, gemesin banget. Jadi tambah sayang sama, kamu!" ucap Roy yang keceplosan berbicara. Membuat Ulfa langsung merasa sesak didada saat mendengar orang yang dicintainya sudah bisa move on dari dia.


Detak jantung Nico, berubah cepat saat melihat kemesraan dan ucapan seorang laki-laki yang berada di sampingnya begitu mesra kepada mantan pacarnya.


"Kak, aku mau ke toilet dulu." Ulfa meminta izin kepada suaminya yang masih saja tertawa bersama yang lainnya.


Begitu juga dengan Nico yang meminta izin kepada Sisil untuk pergi ke toilet berniat menyusul Roy, memastikan sesuatu yang menjanggal di hatinya.


🍀


"Roy? Mau apa?" tanya Ulfa yang panik saat Roy memasuki toilet wanita.


"Apa kamu bahagia?" tanya Roy yang tidak menjawab pertanyaan dari Ulfa.


"Apa maksud, kamu?" Ulfa mendorong tubuh Roy agar lebih menjauh dari dirinya.


"Apa kamu mencintainya? Apa tidak pernah sedikitpun dihati kamu terbesit untuk mencintai, aku?" Roy berusaha untuk bersabar meluapkan emosinya ketika dia mengingat saat Ulfa telah menjadi milik Altan.


"Iya! Aku mencintai suamiku. Dan aku tidak pernah mencintai, kamu! Selama kita mengenal satu sama lain. Puas?" Ulfa memberikan jawaban dari pertanyaan Roy.


"Bohong!" Roy membaca pikiran Ulfa.


"Terus kamu mau apa? Kalau aku bilang, iya! Aku cinta sama, kamu, hah?"

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau menungguku, sebentar ... saja, Ulfa!" Roy menangis menghadap kaca wastafel.


"Sebentar ... saja, kamu menungguku lebih lama lagi." Roy menjambak rambutnya saat deraian air mata terus keluar dari mata Roy.


"Maaf! Mau menunggu lebih lama lagi juga, dia yang akan tetap menjadi suamiku, Roy! Hanya dia suamiku, tidak ada pilihan lain."


"Why?" Roy berteriak di hadapan Ulfa


"Karena aku sudah dijodohkan dengan dia dari kecil." Ulfa menangis saat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa demi cintanya.


"Bulshit!" Roy memukul kaca wastafel hingga pecah.


"Lupakanlah, Roy. Sekarang kamu sudah mendapatkan yang lebih dari, aku! Akupun juga sedang mengandung anak dari suamiku. Mungkin ... kita memang diciptakan bukan untuk bersama." Ulfa menghapus air mata lalu keluar dari ruangan toilet wanita.


"Akkkkhhh!" teriak Roy saat hatinya begitu sakit mendengar penjelasan dari Ulfa, karena ternyata Ulfa pun mencintai dia.


Air keran diputar oleh Roy untuk membersihkan tangan yang terluka akibat pecahan beling kaca yang menancap di tangannya.


Rasa sakit dari tangannya tidak begitu terasa seperti rasa sakit yang berada di relung hatinya, Roy mencoba untuk belajar melupakan Ulfa sepenuhnya dan menerima Gabriel apa adanya.


"Siapa loe sebenarnya?" Nico mendorong tubuh Roy kedinding, saat Roy berjalan ingin kembali ketempatnya.


"Ck! Cukup gede juga nyali, loe." Roy melihat Nico mencengram kerah mejanya.


"Gue gak bakalan takut, walaupun loe lebih tua dari, gue! Katakan, Loe siapanya, Gabriel? " Nico berbicara dengan nada yang cukup berani.


"Gue dah bilang dari awal sama loe, Gue calon suaminya, Gabriel," ucap Roy dengan nada sombongnya.


"Ck! Jadi selama ini, loe tinggal sama cewek, gue?" tanya Nico yang kesal karena selama ini Gabriel sudah membohongi dirinya.


"Iya, kenapa? Bahkan dia selalu tidur dalam pelukan gue, kenapa?" Roy mengompori perasaan Nico.


"Anying, loe ... bang sat!" Nico mengepalkan tanganya dan mengarahkan ke wajah Roy. Namun, Roy menangkisnya dengan tangan.


"Gimana rasanya, cewek loe gue tikung, Boy?" Roy tersenyum smirk kepada Nico lalu pergi menjauh dari Nico yang sudah terpancing emosi.


"Gue ucapin selamat aja buat, loe. Selamat menikmati, bekas bobolan, gue!" teriak Nico yang berhasil membuat Roy tersenyum kesal yang berlalu meninggalkan Nico.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2