Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 133. Drama cemburu.


__ADS_3

Kemang, Jakarta.


Setelah semua selesai dikemas, termasuk perlengkapan keperluan kedua buah hatinya, Aini hendak keluar membawa kedua anaknya bersama Sumi, dia menyalahkan mesin mobilnya yang dibelikan oleh bunda Ismi.


Namun, Roy mencegah Aini agar tidak keluar sebelum Ammar kembali dari rumah Nabila, Aini yang tidak kehabisan akal untuk mencari alasan agar bisa pergi dari rumah Ammar. Dia dengan mudah memberikan penjelasan kepada Roy.


"Biar saya yang antar, Nyonya." Roy menadahkan tangannya agar Aini bisa memberikan kunci mobil kepada dirinya.


"Saya akan ijinkan, asalkan saya meminjam ponsel kamu," ucap Aini.


Roy hanya bisa memberikan ponselnya kepada Aini, walaupun dia tidak tahu maksud Aini meminjam ponselnya. Tanpa curiga, Roy mengantarkan Aini ketempat rumah Ayahnya yang berada di pondok indah.


Selama perjalanan Aini sengaja memblokir nomor Ammar di ponsel Roy serta mengganti angka di belakang nomor Ammar, agar Roy tidak curiga. Sedangkan ponselnya di nonaktifkan agar suaminya tidak bisa menghubungi ke nomor ponsel Aini.


Ketika dalam perjalanan menuju rumah sang Ayah, Aini dikejutkan oleh sebuah kecelakaan lalulintas yang ternyata di alami oleh Rey. Aini pun panik dan menyuruh Roy untuk menepikan mobilnya sejenak.


"Innalilahi, Aa?" teriak Aini yang menghampiri Rey yang sedang ditangani oleh para medis.


"Nur? Akhh! Pelan-pelan Mba," ujar Rey kepada perawat yang mengobati lukanya.


"Ya ampun, kenapa Aa gak langsung kasih kabar ke Nur?" Aini panik melihat tangan Roy yang diperban oleh perawat.


"Kok, kamu bisa di sini? Mana suami kamu?" tanya Rey yang melontarkan pertanyaan kepada Aini dan tidak menjawab ucapan Aini.


"Aa, gak apa-apakan? Ada luka selain di tangan?" Aini pun tidak menjawab pertanyaan dari Rey melainkan menanyakan tentang keadaan Rey.


"Gak apa-apa." Rey mengusap pucuk kepala Aini dan tersenyum ternyata adiknya begitu mengawatirkan dirinya.


Melihat tangan Rey menyentuh istri bosnya, Roy pun berdeham dengan keras agar Rey menjauhkan tangannya dari Aini, tapi tidak di gubris oleh Rey. Terpaksa Roy melangkah maju dan berdiri tepat di depan Aini dan juga Rey, seakan menjadi dinding di antara keduanya.


"Maaf Nyonya, saya hanya menjalankan tugas saya," ucap Roy kepada Aini, tapi matanya ke arah Rey.


Rey hanya memandang Roy dengan tatapan sinisnya dan beralih kepada petugas kepolisian yang menghampirinya, mencoba untuk memberikan keterangan yang begitu detail tentang kronologi kecelakaan yang menyebabkan tiga mobil sedan rusak tetapi tidak memakan korban jiwa ataupun luka berat.


Setelah memberikan keterangan, Aini menawarkan agar Rey mau ikut naik mobil bersamanya. Rey pun senang dan menerima tawaran dari Aini, sementara Roy sibuk memberitahu kepada Ammar lewat pesan singkat yang dia kirim.


"Aa benar gak apa-apa? Apa kita ke dokter aja dulu?" tanya Aini yang begitu khawatir melihat luka ditangan Rey dan juga pelipis.


"Gak usah, gak apa-apa." Rey begitu senang melihat Aini yang begitu perduli kepada dirinya.


"Benar gak apa-apa?" Aini kembali bertanya kepada Rey untuk meyakinkan.


"Iya, adikku zheyeng." Roy ingin sekali mencubit pipi sang adik tapi dia urungkan niatnya dan beralih mencubit Khansa yang sedang tertidur dipangkuan Bik Sumi.

__ADS_1


"Roy, mampir dulu ke apotik!" perintah dari Aini yang melihat pelipis Rey mengeluarkan darah.


"Baik, Nya." Roy melajukan mobilnya ke arah apotik terdekat.


Sesampainya di halaman parkiran apotik, Roy turun dari mobil dan membelikan beberapa obat untuk luka Rey dan langsung membuka pintu mobil yang berada di samping Rey.


"Eh, mau ngapain?" tanya Rey kepada Roy yang meraih wajahnya.


"Maaf saya hanya menjalankan tugas saya." Roy menahan wajah Rey agar tidak bergerak.


"Gue bisa sendiri," elak Rey yang mengambil kantung obat dari tangan Roy.


Roy melepaskan wajah Rey dan kembali ke kursi pengemudi, Aini hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat tingkah Roy yang menjadi kamera untuk suaminya.


Selama perjalanan Roy terus melirik ke arah belakang untuk mengawasi gerak-gerik Rey bersama Aini, hingga perjalanan mereka tiba di sebuah tempat yang dituju oleh Rey.


"Makasih ya, Dek." Rey berpamitan kepada Aini dengan senyuman yang manis.


"Hati-hati, ya A." Aini melambaikan tangannya ke arah Rey.


***


Ammar yang tengah sibuk membantu acara tahlilan di rumah Nabila hanya bisa terus bersabar menunggu kabar dari Aini dan juga Roy, karena setiap Ammar menghubungi Aini, nomornya tidak terhubung sedangkan menghubungi Roy. Ammar tidak dapat menghubunginya karena terblokir oleh asistennya.


"Menginap lah di sini, Nabila masih membutuhkan kamu, Mar." Mami Nabila mencoba untuk membujuk Ammar agar dia mau tidur di rumah Nabila.


" Maaf, Mih ... Ammar gak bisa," ucap Ammar dengan nada dingin.


"Kenapa gak bisa?" tanya Mami Nabila dengan wajah yang menekuk.


"Karena Ammar harus pulang menemui istri dan anak-anak." Ammar terus menghubungi Aini tapi tetap saja tidak bisa di hubungi.


"Apa kamu gak kasihan dengan Nabila? Kalian kan bisa rujuk, Mar!" Mami Nabila terus mendesak Ammar agar mengikuti keinginannya.


"Halo, Bik? Sambungkan saya dengan Aini!" Ammar tidak menjawab ucapan dari Mami Nabila, dia memilih untuk menjauh dan menelepon orang rumah.


"Astagfirullah, apa?" Ammar terkejut mendengar kabar dari rumah, bahwa Aini tidak berada di rumah dan diantar oleh Roy.


"Kenapa, Mar?" tanya Mami Nabila yang berpura-pura panik.


"Maaf, Mih. Ammar harus pulang." Ammar langsung meninggalkan Mami dan Nabila yang sudah memperhatikan Ammar dari jauh dan berharap Ammar bisa menginap di rumahnya walau hanya semalam.


***

__ADS_1


Kemang, Jakarta.


Ammar yang sudah sampai di rumahnya langsung masuk ke dalam kamar dan melihat perlengkapan si kembar sudah tidak ada di tempatnya, Ammar langsung melacak melalui GPS yang berada diponsel Roy yang masih aktif.


Segera Ammar menyuruh sopir pribadinya untuk menuju lokasi tempat Aini berada bersama anak-anaknya. Perasaan bersalah terus menyelimuti hatinya, dia sadar bahwa sikapnya sudah melukai perasaan istrinya.


Begitu sampai Ammar langsung masuk ke dalam rumah dan melihat Roy yang sedang melafalkan ijab kabul untuk hari H nya yang sudah diundur beberapa hari kebelakang karena masalah kabar duka.


"Astagfirullah, Bos!" Roy langsung berdiri menghampiri Ammar.


"Di mana dia?" tanya Ammar yang begitu emosi melihat Roy.


"Dikamar, lantai dua Bos." Roy beralih mendorong Ammar dan mengantarnya menggunakan lift.


Setalah berada di depan pintu kamar, Ammar langsung masuk dan melihat Aini sedang tertidur bersama kedua anaknya. Ammar masuk ke kamar mandi sebelum dia mencium si kembar dan juga istrinya.


"Astagfirullah!" Aini terkejut saat Ammar mendekapnya menciumi lekuk tubuh dirinya.


"Maaf," ucap Ammar dengan lirih lalu memeluk istrinya.


Aini hanya bisa terdiam tanpa menjawab permintaan maaf dari sang suami, dia hanya memejamkan matanya sembari meneteskan air matanya.


"Apakah kamu mau rujuk sama mba Nabila?" tanya Aini dengan suara yang gemetar.


"Hai kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Ammar yang mengusap air mata istrinya.


"Mas kenapa sih gak langsung tanggap jadi suami? Haruskah aku bilang, aku sakit saat di bilang pelakor sama Mami? Haruskan aku melarang Mas dan menarik kamu pulang bersamaku?" Aini mulai bangun dan duduk di samping Ammar.


"Maaf, Mas gak bermaksud buat kamu berfikir seperti itu, Mas sama Nabila sudah gak ada hubungan apa-apa hanya membantu saja." Ammar duduk dan memeluk Aini dalam dekapannya.


"Gak berfikir gitu gimana? Mas itu suami aku, Mas itu ...." ucapan Aini terpotong oleh Ammar.


"Sayang, Nabila dan yang lain juga pada tahu Mas itu suami kamu!" Ammar menyakinkan perasaan sang istri.


"Mas denger ya ... Muljem aja tahu Dani punya Maya, Claudia aja tahu Aris punya Kinan! Dan sekarang yang lagi viral Baby sister aja tahu bahwa tuannya sudah punya istri, paham!" ucap Aini yang menjelaskan kepada suaminya.


"Enggak," sahut Ammar dengan polos.


"Astagfirullah, iiihhh ... Mas nyebelin tahu gak? Dah akkhh sana tidur di luar, kalau perlu tidur di tempat mba Nabila!" Aini kembali tidur dan membelakangi Ammar.


"Yank, Mas beneran belum paham." Ammar mencolek bahu Aini.


" Tahu, Akkh!" Aini menutup kepalanya dengan selimut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2