Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 147. Baby sister si kembar


__ADS_3

Aini keluar dari dalam kamarnya, usai mengganti pakaian yang basah. Dia melihat ke arah seorang wanita muda yang sedang duduk manis di ruang tamu, menunggu kedatangannya. Aini melihat penampilan wanita itu menggunakan pakaian muslimah walaupun tidak bercadar.


Langkah Aini semakin dekat menghampiri wanita itu yang berniat ingin menjadi baby sister si kembar, dia pun menyambut hangat dengan mengulurkan tangan sebagai pengenalan pertama.


Wanita itu tersenyum manis kepada Aini sembari membalas uluran tangan dari calon tuannya, ia pun memperkenalkan dirinya mulai dari nama hingga pengalamannya sebagai baby sister.


Aini yang mendengar sekaligus melihat data pribadi dari wanita itu, perlahan mulai tertarik. Dia menaruh rasa kepercayaan kepada wanita yang berusia 20 tahun itu dengan nama panggilan bernama Nana.


"Oke Nana ... mulai besok, kamu sudah mulai bisa bekerja, saya menaruh kepercayaan sama kamu." Aini memanggil Bik Sumi untuk mengajak Nana ke kamarnya dan memberitahu tugas serta aturan yang ada di rumah ini.


"Alhamdulillah ... terima kasih, Bu." Nana sedikit membungkukkan badannya kepada Aini.


***


Semenjak Rey mengajak Jasmine untuk ta'aruf, perempuan itu terus menghindar dari Rey yang selalu menghubunginya, bagaimana mungkin pemuda yang tampan dan Sholeh itu bisa mengajak dia yang notabennya sebagai wanita penghibur.


'Aku hanyalah seorang wanita penghibur, bukan perempuan baik-baik. Lebih baik anda mencari wanita yang terhormat.'


Kata-kata itu masih teringat dalam benak hati Jasmine, dia menangis di atas hamparan sajadah yang terbentang menghadap kiblat, entah apa yang ada dibenaknya sehingga dia bisa menolak permintaan seorang laki-laki yang baik mau menolongnya dari lubang hitam tersebut.


Dilain sisi.


Rey sedang mendengarkan penjelasan dari Abizar mengenai informasi Jasmine, sosok wanita yang sudah membuat Rey terpukau dengan sisi ganda dari seorang guru yang mengajar ngaji.


Abizar menjelaskan bahwa Jasmine di jual oleh ayah tirinya tiga bulan yang lalu, ibunya sedang berada di rumah sakit dalam pengobatan dokter yang membutuhkan biaya ratusan juta untuk operasi.


"Siapa nama ayah tiri, Jasmine?" tanya Rey kepada Abizar.


"Bang Kerok, itu nama yang yang biasa dipanggil oleh warga setempat," jawab Abizar.


"Terus?" tanya Rey kembali yang begitu penasaran dengan sosok Jasmine.


Abizar pun melanjutkan membaca informasi yang dia dapat, bahwa Jasmine diperlakukan kasar oleh ayah tirinya. Semua hasil kerja melalui Mami Lala, selalu diberikan oleh sang ayah, sedangkan hasil mengajar, dia gunakan untuk biaya pengobatan sang ibu.


Jasmine juga tinggal bersama temannya satu kost yang bernama Jessica, wanita yang Rey liat saat di hotel bersama Jasmine. Jessica juga yang sudah menggantikan posisi Jasmine untuk melayani para pria hidung belang.


"Tunggu, tunggu, tunggu! Jadi ... maksud loe?" tanya Rey yang memastikan bahwa Jasmine tidak menjual dirinya.


"Yups, Jasmine tidak pernah tidur dengan pria manapun," sahut Abizar yang membenarkan perkataan Rey.

__ADS_1


Abizar pun menjelaskan secara terperinci tentang Jessica yang mau mengganti posisi Jasmine untuk melayani para pria hidung belang, karena dia diselamatkan oleh Jasmine dari korban penjualan organ tubuh ilegal.


"Loe yakin?" tanya Rey untuk memastikan yang kesian kalinya.


"Yakin lah ... kan Jesica sendiri yang ngomong!" terang Abizar yang menjelaskan.


Ada seuntaian senyuman di wajah Rey, ketika rasa penasarannya sudah terjawab sudah. Perasaannya menjadi sedikit tenang, mendengar ucapan dari Abizar bahwa ternyata Jasmine tidak pernah tidur oleh siapapun.


"Oke! Thanks." Rey menepuk pundak Abizar.


"Oke, sekarang ... giliran gue! Sesuai kesepakatan kita," ucap Abizar yang mengingatkan tentang janji Rey.


"Bro ... gue saranin, sebaiknya loe cari pengganti Aini, karena sampai kapanpun usaha loe, gak bakal bisa masuk ke dalam rumah tangga adek gue." Rey mengangkat kedua alisnya dan tersenyum


"Astagfirullah, seburuk itu kah gue di mata loe bang? Ya gak lah, gue cuma mau ketemu sama anaknya," elak Abizar.


"Ala ... ketemu anaknya, apa ibunya?" tanya Rey.


"Gak bang, gue sadar diri." Rey hanya menampakan gigi putihnya yang berbaris rapih.


"Loe beneran suka sama Adek gue?" Rey meminum segelas air yang sudah disediakan oleh Abizar.


Abizar pun menceritakan bagaimana dia bisa tertarik dengan seorang wanita yang sudah berstatus istri orang, mulai dari pertama dia berkenalan lewat daring, cara dia bicara, semua yang ada di Aini Abizar sudah jatuh cinta.


"Sakit ya, bro?" Rey mengelus pundak Abizar agar dirinya bisa tegar menerima kenyataan.


"Sakit, tapi gak berdarah" jawab Abizar yang tertawa.


Sontak tawa mereka melepaskan segala rasa kekecewaannya, karena cinta tidak harus memiliki, itu ungkapan yang tepat bagi kedua pria yang sama-sama jatuh cinta pada orang yang sama.


***


Di sisi lain.


Aini yang sudah menerima Nana sebagai pengasuh kedua anaknya, kembali menemui Ammar di ruang kerja. Dia melihat sosok laki-laki yang tampan rupawan, memiliki pesona menarik sedang fokus berbicara kepada asisten pribadinya lewat layar sentuh.


Perlahan Aini mendekat ke arah Ammar, dia memeluk lelaki itu penuh dengan manja. Tanganya mulai menjalar ke arah bidang dada Ammar, hidunganya terus mencium leher sang suami dengan lembut.


"Jangan macam-macam ... kamu kan belum selesai," ucap Ammar kepada Aini. Namun, Roy yang salah paham mengartikan maksud dari Bosnya.

__ADS_1


"Maksud, bos?" tanya Roy.


"Saya gak ngomong sama kamu!" Ammar langsung mengkonfirmasi email yang dikirim oleh Roy. asistennya langsung mengerti maksud dari ucapan Ammar.


Aini yang terus bergelayut manja di tubuh sang suami, mendapat kecupan dari Ammar secara mendadak. Aini pun akhirnya meminta sesuatu yang sudah dari tadi ingin dia katakan.


"Tuh kan! Pantesan aja, man ... ja ... ternyata, ada maunya." Ammar mencubit gemas pipi sang istri.


"Ya, Gak apa-apa kan mas." Aini memainkan rambut kecil yang berada disekitar ranghang Ammar.


"Mau apa?" tanya Ammar sembari fokus mendengarkan laporan Roy di telinganya.


"Gak mau apa-apa ... cuma mau manja sama Mas Ammar, mumpung Mas Ammar di rumah, terus juga ... mumpung si kembar lagi tidur." Aini perlahan naik ke atas pangkuan Ammar.


Ammar tersenyum dan membiarkan istrinya duduk di atas pangkuannya yang menghadap ke arah laptop Ammar, tangan Ammar pun langsung mendekap ke arah perut Aini sedangkan Aini mengetik apa yang diperintahkan oleh sang suami.


Mendengarkan suara romantis dari atasannya membuat Roy menjadi cemburu, pasalnya semenjak Ammar pergi ke kota xx untuk menemani sang istri, dia yang harus menangani urusan kantor.


Hal hasil, dia harus kerja lembur dan waktu bersama sang istri menjadi berkurang. Dia ingin protes kepada atasannya, mau mengambil hari libur untuk bisa bermanja-manjaan dengan Gabriel, sang istri tercinta.


"Setelah lulus, yakin kamu gak menerima di tempat Mas ajuin?" tanya Ammar yang meletakan dagunya di atas bahu Aini.


"Aduuhh, maaf ya ... kan mas tahu sendiri, Aini sudah janji sama Bunda Ismi, gak enak juga nolaknya." Aini terus membantu mengetik di atas keyboard sang suami.


Perasaan Ammar sedikit kecewa, saat Aini lebih memilih untuk menerima kerjaan dari sang bunda, lagi-lagi keluarga Ghozali selalu paling terdepan untuk segala kebutuhan Aini.


"Mas, boleh tanya gak?" tanya Ammar.


"Tanya apa?"


"Kalau Mas boleh tahu, dulu ... sebelum kecelakaan, apa kamu pernah dengar kalau keluarga Ghozali begitu dekat dengan keluarga kamu?"


Pertanyaan Ammar membuat Aini langsung menghentikan ketikkannya, dia terdiam sejenak sebelum ingatnya kembali muncul saat- saat dia terus mendapat hinaan dari teman-temannya karena tidak memiliki seorang ibu.


"Ke-kenapa emangnya, Mas?" tanya Aini yang begitu sesak, saat dia mengingat tentang perlakuan Tante Rose dan juga Paman Jhon yang begitu kasar.


Selama ini Aini tidak mau mengingat tentang kecelakaan orang tuanya, dia hanya terus mengirimkan doa untuk sang ibu, karena setiap dia mengingat bahwa dia tidak mempunyai seorang ibu. Ingatan tentang kekejaman Tante Rose dan hinaan teman-temannya terus muncul di kepalanya.


"Mas mau tanya aja, apa waktu kecelakaan, orang tua Rey juga berada di tempat kejadi—”

__ADS_1


"Mas, Aini lupa ... belum kasih tahu Bik Sumi, tentang kamar Nana. Aini tinggal dulu ya?" Aini langsung bangun dari pangkuan Ammar dan meninggalkan sang suami yang terkejut dengan sikap istrinya.


Bersambung...


__ADS_2