
"Bang Ammar mau pesan apa?" tanya Nabila yang mengangetkan Ammar, saat Ammar melihat ke arah meja makan Aini.
"Heh, terserah kamu saja." ucap Acuh Ammar yang menahan rasa kecewa.
Papih dan Nabila terkejut melihat sikap Ammar, Ammar menyadari tatapan mata mertuanya, dan langsung berubah terhadap Nabila.
"Abang, terserah kamu saja sayang, apapun yang kamu pilih. Abang akan makan" ucap Ammar yang mengelus kepala Nabila.
"Ya sudah ade pesanin. kalau papih mau pesan apa? " tanya Nabila yang dibalas juga oleh papi seperti Ammar.
Ammar melihat ponselnya, tidak ada pesan atau telepone dari Aini ataupun dari orang orang penting.
"Aneh..." gumma Ammar yang heran dari tadi pagi tidak ada satu pun notifikasi yang masuk dari ponsel Ammar, selama Ammar kerja. Roy pun tidak memberi kabar lewat ponselnya.
"Permisi tuan makanannya" ucap pelayan yang datang sehingga saat Ammar menghubungi Roy, dibatalkan.
Ammar dan keluarga pun makan dengan nikmat seperti hal nya keluarga Ghozali, yang terkadang candaan Rey membuat Aini kesal dan tertawa. itu berhasil membuat Ammar yang samar samar mendengarnya merasa cemburu.
"Permisih tuan makananya" ucap Pelayan cowok yang mengantarkan makanan penutup untuk Ammar.
"Tapi saya tidak pesan"
"Ini spesial tuan dari kami" ucap Pelayan cowok itu yang memandang Ammar dengan tatapan aneh.
"Oh thanks" ucap Ammar yang menerima mangkuk yang diselipkan kertas oleh pelayan cowok itu.
Ammar membaca pesan dari secarik kertas yang di berikan oleh pelayan tersebut tanpa di ketahui Nabila dan papihnya.
Isi pesan
...09 : 00, 06 : 00, 04 : 00, 01 : 00...
F.
__ADS_1
Ammar yang tau maksud dari pesan tersebut, Ammar langsung melirik orang sesuai dengan arah jarum jam yang di tunjukan.
"Astagfirullah. banyak sekali. Siapa mereka semua? apa anak buah Jhon, tapi kenapa mereka semua bisa masuk. " ucap dalam hati Ammar.
Ammar berfikir, targetnya pasti Aini, tapi pada saat ini Nabila lah yang ada di sampingnya kemungkinan besar mereka tidak tau kalau yang bersamanya bukan Aini. Tapi, masalah nya ada mertuanya yang baru sembuh dari penyakit jantungnya, dan masih proses penyembuhan.
Ammar langsung mengirim pesan ke Roy untuk menjemput papi terlebih dahulu, tapi yang di balas Roy membuat Ammar terkejut.
"Siapa loe? nyuruh nyuruh gue se enak jidat loe? loe kira gue babu loe apa? "
"Rooooy!! saya tunggu 15 menit, atau dompet kamu masuk Rs? " Ancam Ammar yang membalas pesan Roy.
Roy terkejut saat mendapati nomor asing yang menyuruhnya adalah bosnya dan membalasnya dengan cepat.
"Bos? maaf bos biasanya bos mengirim pesan pake nomor bos, baik bos"
"Nomor baru? Fix Nabila! " Batin Ammar yang geram dengan kelancangan Nabila mengganti nomornya.
Beberapa menit kemudian Ammar melihat Frans yang berjalan menghampirinya.
"Oh, Tuan Frans... ya ya ya... gak nyangka bisa bertemu disini. ya kebetulan saya dan keluarga sedang makan disini, oh ya pih kenalin ini salah satu patner bisnis Ammar dari Afrika" ucap Ammar yang mengerti basa basi Frans.
" Afrika? " tanya Papih
"Maksudnya Australia pih,"
"Halo, selama malam tuan saya Frans" ucap frans yang berjabat tangan oleh mertuanya Ammar dan di sambut hangat.
"Maaf pak Ammar setelah makan boleh kita bicara?" pinta Frans yang melirik ke arah mertua Ammar untuk minta persetujuan.
"Oh tentu silahkan" ucap mertuanya Ammar.
"Ok kalau gitu selamat menikmati makan malam" ucap Frans yang meninggalkan mereka.
__ADS_1
Selang beberapa menit Ammar melihat Aini ke toilet, Ammar memerintahkan Frans untuk mengikuti Aini lewat matanya.
Benar saja, orang orang itu tidak mengikuti Aini, yang mereka incar adalah Nabila yang disangka Aini.
Saat Aini balik lagi ketempat duduk Aini melihat Ammar dan Nabila sedang makan malam bersama. Begitu sakit melihat Ammar menyuapi Nabila di depan matanya dengan mesra.
"Oh ini alesan kenapa nomor mas Ammar tidak aktif" ucap Aini dalam hati yang kembali duduk di meja makannya.
"Selamat malam bos" ucap Roy yang datang dengan tergesah gesah.
"Ah pih ini Roy, asisten Ammar. nanti Papi pulang bersama Roy, Ammar sama Nabila mau bertemu clien Ammar dulu yang tadi, takut papi kelamaan menunggu Ammar." ucap Ammar yang di mengerti oleh Papih
Selang sesaat Keluarga Ghozali memanggil pelayan untuk meminta bon mereka, begitu juga dengan keluarga Ammar.
"Silahkan Tuan ucap" Roy yang mempersilahkan Papih untuk berjalan lebih dulu.
"Papi duluan ya, salam buat clien kamu" ucap Papi yang berpamitan.
"Hati hati pih" ucap Nabila yang mencium tangan Papihnya begitu juga Ammar.
Ammar dan Nabila pindah duduk untuk bertemu Frans, dengan berbasa basi mengobrol yang tidak penting.
Saat Keluarga Ghozali ingin keluar, mata Aini dan Ammar bertemu saling bertatap begitu lama, tapi di antara mereka hanya bisa terdiam. Rey yang menyadari hal tersebut langsung mengahlikan Aini untuk tidak melihat Ammar.
"Nur, liat deh lucu kan? " ucap Rey memperlihatkan gantungan mobil berbentuk tengkorak, agar Aini tidak melihat Ammar.
Saat Aini sudah keluar duluan bersama Rey, Ismi memanggil Aini dengan keras karena dompet Aini terjatuh.
"Aini, Aini, dompet kamu jatuh nak? " sontak panggilan Ismi terdengar oleh orang orang yang mengicar Aini.
Orang orang yang berjas hitam langsung mengubah posisi mereka, ada yang keluar mengikuti keluarga Ghozali, dan sebagian masih ada yang memantau Aini palsu bersama Ammar.
"Astagfirullah," ucap Ammar yang rencananya gagal untuk meloloskan Aini pergi dengan aman dan menjadikan Nabila sebagai targetnya. sedangkan Frans terkejut bahwa Aini yang di luar pengawasannya berada di dekatnya.
__ADS_1
Bersambung...