Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 152. kekhawatiran Aini


__ADS_3

"Ok! Aku akan melakukan yang terbaik, tidak perlu khawatir!" Aini mendorong dada Rahman menggunakan pulpen yang ada di tangannya.


Rahman tersenyum ketika melihat wanita yang sudah mencuri hatinya itu selalu menjaga kesetiaannya pada sang suami, dia juga berpikir bila dia mendapatkan Aini, kelak wanita itu akan menjaga kehormatannya sebagai istri dari Rahman Zayyan.


"Ok, kalau kamu buat aku kece—"


"Kalau saya buat kecewa, Pak Rahman! Dengan suka rela, saya akan mengundurkan diri." Aini bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu untuk menyuruh salah satu karyawan memindahkan hasil data pelaku ke file berikutnya.


"Astagfirullah, sabar Rahman! Kalau kamu ingin merebutnya, kamu harus bermain secara halus," ucap Rahman dalam hati seraya mengepalkan tanganya.


Rahman pun keluar dari ruangan Aini dan kembali ke ruangannya, dia tidak habis pikir dengan Aini yang akan mengundurkan diri. Bila itu terjadi maka dia tidak akan bisa dekat dengan wanita yang dia suka.


"Astagfirullah, ya Allah ... kenapa engkau menitipkan cinta ini pada wanita yang sudah bersuami! Jangan salahkan aku bila aku akan berjuang mendapatkannya." Rahman mengusap wajahnya dengan kasar, walaupun dia tahu apa yang dia lakukan salah tetapi tetap saja dia sangat mencintai Aini, wanita bercadar yang sudah memiliki suami.


...----------------...


Hari semakin sore, tetapi Aini masih berkutik dengan beberapa laporan yang masuk ke atas mejanya. Mau tidak mau dia harus lembur atas perintah atasannya.


Rahman membawa secangkir teh ke dalam ruangan Aini, dia melihat wanita itu bekerja keras untuk memenuhi janjinya sebagai seorang pengacara yang profesional dan bertanggungjawab.


"Minumlah dulu, biar tidak terlalu tegang dengan kasus yang aku kasih!" Rahman duduk di sofa tunggu.


Aini hanya melirik tanpa meminumnya, lalu melihat jam di tangannya kemudian melanjutkan pekerjaannya. Pandangan Aini terfokus pada layar monitor hingga dia tidak memperhatikan Rahman yang sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Apakah ada yang belum kamu pahami?" tanya Rahman, dia membukukan tubuhnya untuk mengimbangi penglihatan Aini.


"Astagfirullah!" Aini terkejut saat melihat Rahman sudah ada di sampingnya.


"Mau makan, dulu?" Rahman menengok ke arah Aini sehingga wajahnya begitu dekat.


Sontak Aini langsung bangun dari duduknya dan meminta izin untuk ke toilet, degup jantungnya begitu terasa, bukan degup jantung gerogi atau pun suka. Akan tetapi degup jantung yang begitu khawatir akan sikap dan perilaku Rahman.


"Ya Allah, kok aku jadi takut ya? Apa aku harus minta ditemani A'Rey?" pinta Aini yang begitu khawatir.


Tidak mau berkompromi dengan pikirannya, Aini langsung mengirim pesan pada Rey untuk membelikan beberapa cemilan dan minuman, tidak membutuhkan waktu yang lama Aini mendapat balasan dari Rey, tapi sayangnya pesan yang Aini dapat tidak sesuai dengan harapan dia.


Terpaksa Aini memberanikan dirinya, dan kembali ke ruang kerjanya, sampai di sana dia sudah melihat begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja, Rahman pun menyuruh untuk Aini makan lebih dulu setelah itu baru melanjutkan pekerjaannya.


"Makanlah yang banyak, tidak usah takut. Aku tahu kamu sudah bersuami, aku hanya ingin kita lebih dekat sebagai saudara." Rahman membuka penutup makanan lalu memberikan kepada Aini.


"Apakah, suamimu belum pulang?" tanya Rahman yang berbasa-basi dengan Aini untuk memecahkan keheningan.


"Hmm," ucap Aini dengan singkat.


"Kapan rencanannya suamimu akan kembali?" tanya Rahman.


Aini tidak menjawab ucapan Rahman, dia hanya melirik lalu meminum gelas yang ada di hadapannya tanpa ragu. Dia melihat sekilas ke arah Rahman yang menunggunya untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Ok, kalau kamu tidak mau menjawabnya!" Rahman kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Usai makan malam, Aini kembali fokus kerja bersama Rahman, dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 21 : 16, dia pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai.


Setelah selesai, dia pun mematikan laptopnya lalu membereskan barang-barangnya, kemudian berpamitan kepada Rahman.


"Ayo aku antar kamu pulang," ujar Rahman yang menawarkan diri.


"Tidak usah, aku pesan taksi online saja!" tolak Aini secara halus.


"Jam segini sangat berbahaya bagi seorang wanita, lebih baik aku antar! Tidak perlu takut, bila perlu aku meminta izin terlebih dahulu pada Bunda Ismi?" Rahman mengambil ponsel di dalam saku jasnya, lalu mengubungi Ismi di depan Aini.


Aini pun mendengar percakapan Rahman dan Ismi, mau tidak mau Aini setuju pulang di antar oleh Rahman. Dia mengambil tasnya lalu menyuruh Rahman untuk berjalan lebih dulu.


"Ladies lebih dulu!" Rahman mempersilahkan Aini untuk jalan di depannya. Namun, Aini menolaknya dia menyuruh Rahman untuk jalan lebih dulu.


Rahman tahu, mungkin adab seorang wanita adalah berjalan di belakang laki-laki yang bukan makhrom nya, Rahman pun mau tidak mau berjalan di depan Aini sampai di sebuah mobil, Rahman membukakan pintu mobil Aini di depan. Namun, lagi-lagi Aini memilih menolaknya dan duduk di belakang pengemudi.


Selama perjalanan Aini tidak berani membuka suaranya dia terus terdiam sampai akhirnya mobil pun sampai di depan rumah, Aini mengucapkan rasa terima kasih kepada Rahman karena sudah mau mengantarnya dengan selamat.


"Sama-sama," ucap Rahman. Dia melihat dari dalam mobil, rumah Ammar dan Aini yang cukup mewah. Terlihat bagaimana Ammar ternyata bukan orang sembarangan.


Rahman melihat Aini masuk ke dalam rumah tanpa satu kata pun untuk berbasa-basi menyuruhnya masuk ke rumah lebih dulu, memang Aini ternyata calon istri idaman.

__ADS_1


"Sabar Naura, sebentar lagi kamu akan mendapatkan ibu pengganti." Rahman menyalahkan mesin mobilnya lalu pergi dari kediaman rumah Aini.


Bersambung...


__ADS_2