
Ke esokan paginya.
"Bu, Aini belum datang?" tanya Ammar penuh kawatir terhadap istri pertamanya.
"Belum, lagi sibuk mungkin Mar. Kan sudah hampir masuk bulannya, kasian kalau di suruh mondar mandir mulu ke rumah sakit!" Ainun mencoba menjelaskan kepada Ammar agar tidak kawatir yang berlebihan terhadap Aini.
"Tapi dari semalam nomor ponselnya tidak aktif, Bu!"
"Mungkin batrenya lowbet, Bang. Lagi dicas!" sahut Nabila lembut.
Perasaan Ammar semakin tidak karuan, saat dirinya tidak bisa menghubungi Aini dari semalam. Ammar mulai kesal dengan dirinya sendiri yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
Hari sudah semakin siang, tapi Ammar belum juga mendapat kabar dari istri pertamanya, sudah berapa kali Ainun menenangkan hati anaknya yang sangat terlihat gusar, tapi itu tidak cukup untuk membuat Ammar merasa tenang.
Sedih dan sakit saat Nabila melihat tatapan kosong dari suaminya yang baru saja kemarin senyum indah terlukis di wajahnya saat dirinya sudah bertemu kembali dengan tulang rusuknya.
Namun, kini. Nabila harus melihat orang yang dicintainya tidak memiliki semangat untuk hidup, bahkan untuk berbicarapun enggan menjawab.
Melihat suaminya seperti itu, Nabila tidak tinggal diam, Nabila meminta Roy mengantarnya ke tempat Aini untuk melihat keadaan Aini yang tidak kunjung datang ke rumah sakit.
"Kamu yakin di sini Roy, tempatnya?" Nabila melihat sebuah rumah sederhana masih dengan ciri khas Joglo.
Sumber foto by Google.com
"Tunggu sebentar ya, biar aku yang turun!" ucap Roy yang melepaskan seat belt nya lalu turun dari mobilnya.
"Permisi," ucap Roy yang mengetuk pintunya tanpa melihat bel pintu di sampingnya.
"Permisi!" teriak Roy dengan suara yang lebih kencang.
"Maaf, Mas. Masnya cari siapa ya?" ucap salah satu tukang kebun yang ada di samping rumah.
"Oh, saya mencari Nyonya Aini, apa ada di dalam?"
"Aini? Mungkin Masnya salah alamat disini tidak ada yang namanya Aini," ucap sang tukang kebun.
__ADS_1
"Loh tapi kemarin saya sering mondar mandir kesini kok, Pak!" ujar Roy yang tidak mau mengalah.
"Ya, tapi orang yang tinggal di sini, tidak ada yang namanya Aini, Mas." Tukang kebun menekankan kata tidak ada kepada Roy.
"Kalau Dinda Hualu ada?" tanya Roy yang tidak kehilangan akalnya.
"Oh. kalau Nyonya Dinda sedang tidak ada di rumah, Mas!" ucap tukang kebun yang bingung dengan Roy.
"Kemana ya, Pak?" Roy terus mengorek informasi sedapat mungkin
"Lagi pergi sama ponakannya. Mas," ucap tukang kebun yang menjelaskan kepada Roy.
"Ponakkanya? Ah yang lagi hamil itu?" Roy mencoba menebak sosok Aini.
"Iya Mas," ucapan tukang tebun berhasil Roy kunci.
"Maaf kalau boleh saya tau, memang siapa nama keponakannya?" Roy memastikan dugaanya tidak salah.
"Namanya Naomi, Mas." tukang kebun berbicara dengan sejujur-jujurnya.
'Menyembunyikan yang paling aman adalah bersembunyi dekat dengan musuhnya! Pantas saja pasukan Naga Putih tidak berhasil menemukan Nyonya Aini di berbagai luar negeri! Tapi biar bagaimanapun kalau memang sudah jodoh, Tuhan pasti mempertemukanya kembali, walaupun orang-orang yang ada di dekatnya itu berusaha untuk memisahkan mereka,' ucap Roy dalam pikirannya.
"Ehemm! Mau apa kalian kemari!" Robbet baru saja datang dari luar dan menggerakan jarinya untuk menyuruh tukang kebun meninggalkan mereka berdua.
"Ah, selamat siang Tuan Robbet!" salam Roy kepada mertua Bosnya.
"To the poin saja, lebih baik kalian jangan pernah menemui anak saya lagi!" Robbet dengan angkuhnya mengucapkan dengan suara beratnya.
"Maaf, Tuan. Maksud saya Pak! Setau saya anda sebagai mertuanya tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga putri Anda!" Roy tanpa takut berhadapan dengan Robbet kalau sudah menyangkut kebahagiaan Bosnya.
"Lancang sekali kamu! Dengar ... Kamu juga tidak berhak menasihati saya! Saya adalah Ayahnya ...." ucapan Robbet terpotong oleh Roy yang langsung menyambung perkataanya.
"Dan Ammar adalah suaminya, dia lebih berhak atas putri anda!" suara Roy yang lantang membuat amarah Robbet terpancing dan menarik kerah baju Roy.
"Kamu!" Robbet menaikan kerah baju Roy dengan kuat.
"Saya mohon lepaskan, dia! Dia tidak bersalah!" Nabila yang melihat pertengkaran antara Robbet dan Roy. turun dan ikut melerai agar tidak terjadi baku hantam.
__ADS_1
"Maaf, ayah! Bila saya lancang memanggil mu Ayah, karena bagi saya Ayah mertua dari suami saya juga termasuk orang tua saya." Nabila perlahan mendekat ke arah Robbet dan Roy.
Mendengar suara dari istri kedua menantunya, Robbet hanya melepaskannya dengan kasar hingga Roy tersungkur kebawah.
"Mau apa kamu ke sini? Belum puas ? Anak saya sudah mengalah demi perempuan licik seperti kamu!" ucap Robbet yang begitu menyayat hati Nabila.
"Maafkan saya, bila kedatangan saya kesini membuat anda terluka, Ayah! Wajar bila anda sangat marah kepada saya, karena setiap orang tua ingin kebahagian pada anaknya ...."
"Ayah, saya datang kesini untuk meminta maaf secara langsung pada Ayah! Maafkan semua kesalahan saya, Ayah! Bila ayah ingin marah dan melampiaskan amarah ayah, silahkan! Asal jangan pisahkan Aini dari Bang Ammar, Yah! Mereka saling mencintai. Bang Ammar sangat membutuhkan Aini saat ini, Yah!"
"Mereka saling mencintai, sampai kamu merusak kebahagian anak saya!" teriak Robbet kepada Nabila membuat Nabila meneteskan air matanya.
"Saya tahu, saya salah! Saya sadar dengan semua yang sudah saya perbuat itu menyakiti Aini dan juga keluarga Aini! Dan saya kesini untuk meminta maaf secara langsung sama Ayah dengan tulus! Saya mohon! Jangan pisahkan Aini dengan Bang Ammar ya, Bang Ammar tidak bersalah! Saya yang salah sudah memaksa Bang Ammar menikahi saya!"
"Percuma kamu bicara panjang lebar! Karena saya tidak perduli dengan sandiwara wanita licik seperti kamu!" Robbet masih terus berbicara buruk kepada Nabila.
"Anda tidak berhak berbicara kasar pada seorang wanita, Pak! Dia tulus meminta maaf!" Roy tidak tinggal diam saat istri kedua Bosnya di hina.
"Kalian berdua sama! Mending kalian angkat kaki dari sini dan jangan pernah menganggu anak saya lagi!" Robbet yang melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah, tapi Nabila menarik kaki Robbet dengan menangis.
"Ayah ... Tunggu! Saya mohon biarkan Aini dan Bang Ammar bersama lagi, Ayah! Saya akan menjauh dari kehidupan mereka! Tapi saya mohon! Jangan pisahkan mereka lagi, Ayah!"
"Nabila, bangun!" Roy kesal dengan sikap Nabila yang mengemis di kaki Robbet.
"Gak mau! Sebelum Ayah memaafkan saya!" Nabila masih menangis di bawah kaki Robbet.
"Nabila, saya bilang bangun, ya bangun!" Roy memanarik kasar tangan Nabila agar melepaskan kaki Robbet.
"Ayah, ayah perah meminta bantuan pada saya untuk membantu anak Ayah yang terbaring koma di rumah sakit, saya sudah bantu anak ayah sampai Aini bisa berada disini! Jadi saya mohon, Yah! Saya minta tolong sama Ayah! Bang Ammar butuh Aini untuk terus ada di sampingnya, Yah!" ucapan Nabila membuat Robbet bergetar akan sesuatu.
"Jadi kamu, wanita yang dulu menyelamatkan anak saya! Pergilah saya akan memikirkannya lagi! Dan tepati janji kamu! ucap Robbet yang melepaskan kakinya dari tangan Nabila dengan kasar membuat Nabila tersungkur.
Segera Roy membantu Nabila untuk berdiri, Nabila yang merasa tenang ketika Robbet sudah mau menyetujui permintaanya langsung berangsur kehilangan kesadaraanya dan terjatuh kepelukan Roy.
"Astagfirullah, Nabila!" Roy panik melihat Nabila tidak sadarkan diri di dekatnya.
Bersambung...
__ADS_1