Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 115. Permainan Panas Dingin


__ADS_3

"Assalamualaikum, sayang!" Ammar melajukan kursi rodanya untuk mendekat ke arah Aini yang sedang mengganti baju pada ke dua bayinya.


"Astagfirullah, Mas! Ngagetin aja, kok cepat si?" Aini terkejut oleh kepulangan Ammar dari kantornya.


"Kangen!" Ammar menarik Aini agar berada di pangkuannya.


"Mas, kaki kamu kan belum sembuh betul! Kalau aku duduk di pakuan kamu ... yang ada kursi roda kamu rusak!" sela Aini yang ingin bangun dari pangkuan Ammar.


"Ini cukup kuat untuk kita berdua kok, mau buktiin?" Suara Ammar cukup parau saat terus menerus mencium pipi istrinya.


"Eh, Aini siapkan dulu air panasnya ya, Mas." Aini mulai tahu arah pembicaraan Ammar langsung melepaskan pelukan dari Ammar.


"Sstt ... mau kemana? Sini dulu, Mas masih mau manja sama kamu." Ammar mulai masuk kedalam kerudung Aini.


"Ah, Mas!" keluh Aini saat suaminya menyesap leher putih yang harum.


"Boleh, ya? Mas janji akan pelan-pelan." Tangan Ammar mulai kembali aktif untuk menyentuh sesuatu yang sudah menjadi hak paten milik kedua bayinya.


"Ai-Ah ... Mas!" suara yang di rindukan Ammar lolos dari bibir manis istrinya.


"Ehmm?" tanya Ammar yang masih sibuk mencium leher istrinya yang harum.


"Aini mau minta izin untuk boboin si kecil dulu ya, Mas! Kasian mau nyusu dia." Aini begitu gugup saat hari di mana seorang istri harus siap melayani kebutuhan biologis suaminya setelah selesai dari masa nifasnya.


"Ya, sudah." Ammar membuang nafas panjangnya secara kasar.


"Mas, marah?" tanya Aini yang melihat ada kekecewaan di raut wajah suaminya.


"Gak, ya sudah sana! Mas mau mandi dulu." Ammar membantu Aini agar berdiri dari pangkuannya.


Melihat sikap Ammar yang merasa kecewa, ada rasa penyesalan di hati Aini sebagai seorang istri.


'Apa sikap ketakutan aku berlebihan, ya?' suara batin Aini saat dirinya menyusui anaknya


'Tapi gimana dong? Masih belum siap ... ok, Aini ... kamu pasti bisa melakukannya, Mas Ammar kan sudah bilang pasti akan pelan-pelan melakukanya, tapi kan sudah beberapa bulan, Mas Ammar belum dapat jatah! Kalau lepas kontrol bagaimana?Aduh ... percaya aja deh,' perang konflik batin Aini.


Beberapa menit kemudian kedua sang bayi pun tertidur di tempat tidur bayi. Aini menarik nafas panjangnya dan mulai masuk ke dalam kamar mandi berniat membantu suaminya.


"Mas?" Aini melihat Ammar sedang berendam di dalam Bathtub dengan mata terpejam.


Aini memberanikan diri untuk mengambil sebuah penggosok badan beserta sabun lalu perlahan jari Aini mendarat ke kulit bagian dada Ammar dari belakang.

__ADS_1


"Ya ampun, Aini bikin kaget saja!" protes Ammar saat dirinya sedang melakukan meditasi untuk menenagkan si junior.


"Maaf ya," bisik Aini di telinga Ammar lalu menciup pipi Ammar.


"Khan dan Khansa sudah tidur?" tanya Ammar yang tidak menanggapi ucapan maaf Aini.


"Sudah." Aini mulai menggosok punggung suaminya dengan lembut lalu berpindah kearah kepala Ammar untuk menggosok atau memijat kepala suaminya dengan teknik yang membuat Ammar merasa rileks.


Saat Aini memijat bagian kepala Ammar dan melihat mata suaminya yang terpejam menikmati setiap sentuhan dari dirinya, Aini mulai mencium kening Ammar.


Satu kecupan berhasil memancing gebrakan kesabaran Ammar untuk menahan hawa nafsuunya, Ammar langsung membuka matanya dan menarik wajah Aini untuk mendekat ke arahnya lalu mencium bibir Aini dengan memburu.


"Mendekatlah," pinta Ammar setelah melepaskan ciumanya.


Ada sedikit rasa ragu di dalam diri Aini, hingga akhirnya Aini memberanikan diri untuk menepis rasa takutnya dan masuk kedalam bathtub yang sama dengan suaminya.


Aini mulai berinisiatif untuk melepaskan bajunya sendiri di hadapan Ammar, menutup rasa malu dengan menundukan wajahnya dan menutup kedua quisynya menggunakan kedua tangan.


Ammar tersenyum senang saat dirinya mendapat lampu hijau dari sang istri, akhirnya yang di tunggu-tunggu oleh Ammar dari sekian beberapa bulan, dirinya bisa merasakan pemandangan yang sudah lama Ammar rindukan.


"Lepas, Mas mau liat!" pinta Ammar yang menurunkan kedua tangan Aini secara perlahan.


Begitu jelas Ammar mengingat bahwasanya ketika seseorang lelaki timbul rasa gejolak dalam dirinya ketika melihat yang ada di tubuh wanita lain. Pulanglah, temui Istrimu, karena apa yang ada pada wanita itu ada pula pada Istrimu.


Mengingat akan hal itu. Ammar tersenyum puas melihat yang ada di depan matanya lebih halal, sehat dan higienis. Tanpa ragu mulai memegang dagu Aini agar istrinya bisa melihat ke arah dirinya.


Aini melihat raut wajah sang suami yang tersenyum ke arahnya, Aini pun ikut tersenyum dan berinisiatif untuk mencium bibir suaminya terlebih dahulu.


Mendapat serangan pertama dari sang istri, Ammar melihat mata, hidung Aini dengan sangat dekat, lalu tenggelam dalam permainan yang Aini berikan.


Perlahan Ammar memejamkan matanya lalu membalas setiap serangan yang Aini berikan. Pergulatan bibir dan lidah antara dua sejoli yang sudah di mabuk asmara begitu dasyat, membuat ruangan kamar mandi yang sunyi menjadi ramai dengan decapan suara dari pangutan kedua bibir.


Tangan Ammar yang sudah tak terkendalikan lagi, telah berkeliling buana menelusuri setiap inci yang ada di tubuh istrinya tanpa ada rasa puas.


"Lebih dekat." Perintah Ammar kepada istrinya dengan suara yang memburu.


"Mas, Aini takut!" Aini mengungkapan perasaanya yang selama ini dia takuti.


"Jangan takut, kita lakukan secara perlahan." Ammar mengusap pipi Aini untuk menyakinkan istrinya.


Melihat anggukan pelan dari istrinya Ammar mencium bibir Aini untuk mengahlikan rasa ketakutan pada istrinya lalu mengarahkan tubuh sang istri agar sang junior bisa masuk kedalam sangkar.

__ADS_1


"Aakkhhhh ...." teriakan Ammar saat junior masuk secara perlahan.


"Aaahh ...." Disusul oleh suara merdu dari istrinya saat junior milik sang suami masuk begitu sempurna.


"Apakah sakit?" tanya Ammar penuh perhatian kepada istrinya sebelum melanjutkan step berikutnya.


Aini menggelengkan kepalanya dengan malu sebagai tanda rasa ketakutanya selama ini sudah menghilang terhempas jauh dan di ganti dengan rasa yang luar biasa.


"Mas, lanjut ya?" Ammar meminta izin terlebih dahulu sebelum memulai satu gerakan.


"Ehhm." jawab Aini dengan anggukan yang di sertai rasa malu.


Mendapat persetujuan dari istrinya Ammar mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan dengan posisi Aini masih duduk di atas sang juniornya, di bantu oleh Aini yang menaik turunkan tubuhnya agar mendapatkan gesekan yang tiada tara.


"Ahh ... good job, honey." Ammar langsung melahap benda yang sudah di rindukannya sejak berbulan-bulan dan kini harus berbagi dengan kedua anaknya.


"I miss you, honey ... I miss you." Ammar berahli mencium bibir Aini dengan rakus sambil meremas pemandangan gunung yang dia liat dengan full.


"Apakah kamu juga merindukan aku?" tanya Ammar saat melihat raut wajah istrinya begitu menikmati permainan di dalam bathtub


"Ah ... ah, yea ...." rancau Aini yang tidak terlalu fokus dengan pertanyaan Ammar.


Senyuman Ammar tambah mengembang saat mendengar jawaban dari istrinya, Ammar langsung memberikan kenyamanan senyaman mungkin untuk istrinya dalam permainan dingin-dingin tapi panas yang mereka lakukan di sore hari.


Beberapa jam kemudian, setelah mereka melakukan gesekan, getaran dan pergulatan panas di dalam bathtub, akhirnya Ammar sampai pada titik puncak bi rahinya, dengan sekali tancapan yang dalam. Ammar meleguhkan suara panjang yang di sertai doa.


"Aah ...." Disusul oleh Aini yang sudah mencapai titik puncaknya bersama sang suami lalu memeluk Ammar saat tenaga nya sudah terkuras.


Ammar tersenyum puas lalu mencium kepala istrinya sembari mengusap rambut Aini yang sudah mulai panjang saat sang istri jatuh kepelukannya dengan keadaan lemas.


Di sisa hasratnya yang masih lemas, Ammar melumatt bibir Aini sebagai disert penutup permainan yang telah usai.


Bersambung...


Hohoho, panas sekali cuaca hari ini....


Maaf ya bila partnya tidak begitu memuaskan.


Oh iya, Author mau mengingatkan nih, tanpa ada niat buruk untuk menyinggung pihak manapun dan siapapun dalam adegan di part suami istri kali ini ya.


Terimakasih pada readers yang sudah berkenan menunggu kisah Aini untuk Up.😘

__ADS_1


__ADS_2