Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
49. Membuang Rasa Cinta


__ADS_3

" Kamu yang menyuruh mas untuk menikahinya, sekarang kamu sendiri yang kawatir tentang perasa mas ke Nabila" heran Ammar ke Aini sambil tertawa sindir.


" Wajar bagi seorang suami cinta terhadap istrinya Aini,,, Apa mas salah..? " ucap Ammar yang membuat hati Aini merasakan sakit yang luar biasa.


" Trus, apa aku salah bila rasa cinta itu memang ada untuknya, karena dia yang sela.... " ucap Aini terpotong oleh Ammar.


" SALAH...! JELAS SALAH...! "Ammar langsung teriak dengan keras di hadapan Aini, membuat Aini takut seketika dengan Ammar.


Aini terdiam tanpa bicara lagi, takut yang Aini rasakan saat ini melihat Ammar marah yang berbeda dari biasanya. Ammar hanya mengusap wajahnya dengan kasar, melihat istrinya yang ketakutan akibat ulahnya.


Ammar menghampiri Aini, Aini segera menghindar, Ammar mencoba menarik tangan Aini, Aini malah menepisnya dan hendak pergi dari Ammar tapi Ammar memaksa menarik tangan Aini hingga Aini berada di pelukan Ammar.


Tok tok tok... suara pintu Aini. Aini melepasakan pelukan Ammar dan berlari ke kamar mandi.


" Maaf tuan, bibik bawakan makan malam nyonya Aini dan obatnya" ucap dari luar pintu.


" Masuk aja bik, taruh di atas meja. " titah Ammar, dan bik Nuni segera keluar.


Ammar mencoba membuka pintu kamar mandi namun di kunci dari dalam oleh Aini, dengan rasa kecewa dan kesal Ammar keluar dari kamar.


Beberapa menit kemudian Aini keluar pelan pelan melihat kanan kiri, ternyata sudah tidak ada suaminya. Aini buru buru mengunci pintu kamarnya dan perlahan memakan suop ayam yang sudah di antarkan bik Nuni.


Setelah makan, Aini meminum obatnya, Aini kembali bersih bersih ke kamar mandi dan tidur.


💤💤💤


" Aini,,? Bangun sayang... " ucap Ratna mamanya Aini.


" Hmmm... mama? " Ucap Aini terbangun dari tidurnya.


" Mama..?! ini beneran mama? " kaget Aini ketika melihat mamanya membangunkannya, Dengan senyuman Ratna pun mengelus rambut anaknya.


" Mama Aini kangen sama mama... " ucap Aini menangis di pelukan mamanya.


" Apa mama tidak merindukan Aini? "


" Tentu saja mama kangen, ingin memeluk kamu, tapi mama hanya bisa melihat kamu dari kejauhan yang kamu tidak bisa melihat mama" ucap Ratna.


" Kalau gitu bawa Aini ikut bersama mama, Aini mau ikut sama mama.. boleh ya mah, please" ucap Aini manja.


" Iya boleh sayang,,,,, tapi nanti,,, kalau sudah di perbolehkan,,, kita akan bersama sama,, tapi kamu harus sabar,,, bukan sekarang waktunya sayang" ucap Ratna yang masih membelai rambut Aini.


" Kenapa gak sekarang,,? mama gak sayang sama Aini? Aini maunya sekarang" ucap Aini yang berada di pangkuan mamanya.


" Karena kasian cucu mama nanti, dia membutuhkan kasih sayang dari kamu, ibunya. kamu harus ada untuknya, berjanjilah untuk merawat cucu mama dengan baik, agar menjadi cucu mama yang sholeh dan sholeha, supaya dia juga mengenal mama sebagai neneknya." ucap Ratna.


" Cucu..? mah,, Aini sama kak Al saja masih kecil... kata mama kak Al, nanti kalau Aini dan kak Al sudah besar baru bisa menikah dan punya anak.. mah..... " ucap Aini bingung.


" Jangan bilang seperti itu,, nanti suami kamu cemburu,,,, "


" Suami? maksud mama apa si? " ucap Aini tambah bingung.


" Tuh.." ucap Ratna yang melirik Ammar di belakang Aini, Aini mengikuti gerakan mata mamahnya dan melihat kebelakang, ternyata ada sosok laki laki yang Aini tidak mengenalnya.


" Mah dia siapa mah? " ucap Aini.


" Dia adalah sosok laki laki yang mama minta sama tuhan untuk melindungi kamu, menjaga kamu, agar mama bisa tenang di sini. dia juga sangat sayang sama kamu, dia akan rela melakukan apa saja demi kamu."


" Ohh ... Aini ingat,, dia kan yang sudah punya istri tapi menikah lagi sama temennya sendiri mah,,, " ucap Aini yang sedikit ingat dengan Ammar.

__ADS_1


" Gak mau akhh mah, kalau Aini sudah besar Aini gak mau nikah sama dia,, dia jahat orang nya mah, tukang nikah, egois, gak berprikemanusiaan, galak lagi... " oceh Aini.


" Aini maunya sama kak Al... dia sayang sama Aini, Aini di ajarin ngaji, bersholawat, bisa main panah bareng sama kak Al, kak Al gak pernah nikah lagi, kak Al juga gak pernah galak sama Aini,, pokonya Aini cuma mau nikah sama kak Al..... titik" ucap Aini.


" Aini,,, Kak Al itu cuma masa lalu Aini,,, Aini harus bisa merelakan Kak Al jadi milik orang lain, Sekarang kan ada Kak Ammar, dia yang akan melindungi kamu, menjaga kamu segenap jiwa dan hidupnya"


" Tapi dia tukang nikah mah,, Aini gak mau,,, "


" Tukang nikah? "


" Iya,, dia juga bilang sendiri kalau dia juga udah jatuh cinta sama orang lain, Aini gak mau sama dia mah... " ucap Aini merengek.


" Aini,, Aini,, sudah akhh kalau gitu.. "


" Mah,, mamah mau kemana..? Aini ikut mah,,, mah..? mama..? "


" Belum boleh sayang,,, kamu harus patuh dan menjadi istri yang sholeha buat kak Ammar, baru boleh ikut mama" ucap Ratna.


" Mah,, jangan tinggalin Aini sama orang ini mah,, Aini takut mah,, kak Ammar galak mah... mah,, mamah..!" teriak Aini yang tersadar semua hanya mimpi, Aini bangun dari tidurnya dan bersandar.


" Astagfirullah,,, " ucap Aini tekejut yang melihat Ammar berada di depannya.


" Mas Ammar..? kok disini? belum tidur..? " ucap Aini keringat dingin dan teringat bahwa Aini mengunci pintu kamarnya.


" Tukang nikah,,? Gallak...? iya..? " ucap Ammar yang hanya mendengar Aini ngigau menyebut Ammar gallak.


" Ah,,, buk.. bukan... ituuu,, mak.. suud nya... taa di.. hmmm.. eh tunggu kok mas Ammar tau kalau Mas Ammar galak..? upps " ucap Aini ketakutan, dan keceplosan.


Ammar menghela nafasnya dan memberikan Aini minum, saat Aini minum Ammar mengusap keringat Aini di keningnya.


Saat Ammar ingin masuk ke kamar, pintu di kunci dari dalam, Ammar pun kecewa dengan istrinya lalu membuka dengan kunci cadangan. Saat Ammar masuk, Ammar melihat Aini sudah tertidur lelap, melihat piring sop yang habis dan melihat bukus obat yang sudah terbuka, ada rasa lega di hati Ammar.


Ammar mendekat ke arah Aini, mengambil kursi lalu duduk menjaga Aini tepat di depannya. Mengelus mukanya, mengusap rambutnya. menggenggam tangan nya, perlahan Ammar mulai mengantuk.


" Terimakasi, " ucap Aini memberikan gelas lagi ke Ammar.


Ammar mengelap sisa air di sudut bibir Aini dengan tisu, membuat Aini terdiam dengan perilaku Ammar ke dirinya, Aini terus melihat Ammar sehingga Ammar mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Aini.


" Mas,, " ucap Aini yang mendorong Ammar pelan karena Aini tidak mau Ammar elfil dengan Aini yang sedang berkeringat.


" Apa kamu mau yang mencium kamu si Rey..? sampai aku yang mencium mu kau tak mau" ucap kecewa Ammar yang mendapat kan penolakan terus dari Aini.


" Bukan begitu, aku cuma gak mau mas Ammar elfil sama aku yang lagi bau dan berkeringat. " ucap Aini yang memegang pipi Ammar.


" Apa aku tukang nikah..? apa aku gallak..? "


" Iya.. " ucap Aini dengan malu.


" Coba katakan sekali lagi...? " ucap Ammar yang mengigit pipi Aini.


" Auwhhh,, mas ih,,, sakittt" manja Aini yang ingin menangis


" Katakan sekali lagi... " ucap Ammar yang ingin mengigit pipi Aini sekali lagi.


" Ya ammpun mas,,, gak,,, " ucap Aini yang menghindar sambil menutup kedua pipinya dengan tangan.


Ammar menarik tangan Aini dan menci*m b*bir Aini dengan lembut.


" Mas, aku bau keringat loh,,, "

__ADS_1


Ammar tidak mendengarnya dan terus melanjutkan aksinya, kali ini dengan lembut dan penuh kasih sayang, Aini pun membalasnya setiap aksi yang Ammar lakukan.


" Mas..? Apa mas benar sudah jatuh cinta sama mba Nabila..? " ucap Aini yang membuat aksi Ammar mendadak berhenti.


Ammar langsung bangun dan berdiri. " Apa mas salah bila mas jatuh cinta terhadap istri sendiri..? " ucap Ammar yang membelakangi Aini.


" Tidak salah,, " ucap Aini yang menahan rasa sakitnya.


Aini tau apa yang harus Aini lakukan sekarang, ketika dia mengetahui bahwa suaminya sudah jatuh cinta sama madunya.


" Maaf, Aini hanya ingin tau, " ucap Aini yang langsung tidur membelakangi posisi Ammar yang sedang berdiri.


"Apa kamu kecewa..? apa kamu marah sama mas? Mas akan berusaha seadil mungkin. " ucap Ammar yang memeluk Aini dari belakang, Aini hanya terdiam dan Ammar pun mengecup rambutnya lalu tertidur.


Pagi harinya di ruang meja makan Aini sudah rapih dengan penampilannya yang ingin berangkat kuliah pagi pagi.


Seperti biasa Aini mencoba melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan air minum sedangkan Nabila mengambilkan lauk kesukaan Ammar.


Dengan manja Nabila selalu memberikan perhatian pada Ammar, kini Aini tau,, Ammar cepat jatuh cinta karena perlakuan Nabila yang begitu so sweet di mata Aini.


Aini pun mencoba belajar membuang rasa cemburunya terhadap madunya. Kini Aini harus bersabar pelan pelan melepas dan merelakan Ammar sepenuhnya untuk Nabila.


Selesai makan Ammar pamit pada ke dua istrinya, Kali ini mengecup kening Nabila juga dan beranjak mengecup kening Aini, tapi Aini langsung buru buru mengambil tas kerja Ammar dari tangan Nabila dan memasukannya ke dalam mobil.


Agar bisa terhindar dari kecupan Ammar. Ammar yang merasakan Aini mencari alesan untuk menghindar darinya mencoba bersabar kali ini.


Saat Ammar sudah berangkat bekerja Aini pun berangkat ke kampus lebih pagi bersama Asistennya bersama Sarah, walaupun jadwalnya sedikit siang.


" Mba saya pamit kuliah dulu," ucap Aini yang berpamitan dengan Nabila, Nabila pun hanya tersenyum kaku.


Aini membawa mobil sendiri kali ini. walaupun sopir pribadinya melarang, tapi Aini tetap bersih keras untuk membawa sendiri bersama Sarah.


" Sar,, ikutin map ini ya,, " ucap Aini karena Sarah yang menyetir mobilnya.


" Loh,, kita gak ke kampus non..? " ucap Sarah bingung.


" Ke kampus,,,, tapi nanti jam 10 an.. sekarangkan masih jam 8an,,, kita ke rumah nenek aku dulu, aku kangen tempat masa kecil ku,,, " ucap Aini.


" Apa tuan Ammar tau non? " ucap Sarah.


" Tidak tau, aku gak mau mas Ammar kawatir tentang aku" ucapan Aini yang bergetar dan menahan tangis, membuat Sarah seedih.


" Kenapa non? mas Ammar kan suami non, non harus minta izin dulu. Mas Ammar kawatir itu wajar karena dia sayang banget sama non. "


"Mulai saat ini aku lagi belajar untuk membuang rasa cinta dan sayang aku Sar ke mas Ammar. ?" ucap pasrah Aini.


" Astaugfirullah,, non, sebaiknya jangan..! Non sama tuan itu kan saling cinta dan sayang, apalagi tuan, dia sayang banget sama nom Aini. " nasihat dari Sarah.


"Sayang,,,? heuh...! sayangnya sudah tebagi Sar.. "


"Non jangan bilang begitu, apalagi kan Non dan tuan baru menikah, mas Ammar sayang bangettt ke non. non percaya sama saya. "


"Tapi pernikahan saya beda Sar, Mas Ammar.... hmmm... sudah lah Sar kamu pasti tidak akan mengerti bila saya ngomong.. "


Sarah menepikan mobilnya mengambilkan tisu ke Aini, dan memeluknya.


" Maaf non apabila saya lancang memeluk non, maaf juga non saya memang belum menikah, tapi saya tau bangetttt, sakit rasanya bila kita di madu, karena ibu saya korban percer*an akibat di polig*mi non. godaan menjadi single perents, hinaan, berjuang keras merawat saya seorang diri. mangka dari itu saya gak mau non Aini mengalaminya. " ucap Sarah melepaskan pelukannya dan memegang tangan Aini.


" Hiks hiks,, Saya gak akan minta cerai Sarah ke mas Ammar, saya akan tetap menjadi istrinya mas Ammar selagi dia tidak menceraikan saya,, hanya saja mulai sekarang saya tidak mau pakai perasaan lebih ke mas Ammar. karena kalau nanti mas Ammar lebih memilih mba Nabila saya rela dan tidak akan terlalu merasakan sakit, seperti yang sekarang saya rasakan. " ucap Aini.

__ADS_1


" Non maaf, bukan saya bela tuan, karena saya di gajih oleh tuan. Saya juga sakit bila tuan menyakitin non,,, tapi yang saya tau non dan saya lihat dari tuan,,, Tuan Ammar lebih sayang ke non Aini dari pada ke nyonyah Nabila." ucap Sarah.


Bersambung,,,


__ADS_2