
Polisi mendobrak pintu rumah saat tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana ketika komandan memerintahkan untuk keluar, begitu pintu telah didorong semua anggota kepolisian masuk dengan siap siaga membawa pistol di tangan mereka masing-masing.
Mereka mendobrak pintu satu persatu tetapi hasilnya nihil, Rahman pun ikut mengecek diseluruh ruangan mencari keberadaan kembar tetapi hasilnya tetap juga nihil.
Suara tembakan dari luar terdengar oleh mereka yang tengah sibuk mencari ke dua balita yang menjadi korban penculikan, mereka menengok secara bersamaan ke arah sumber suara
"Komandan, target melarikan diri ke arah jam tiga!" Salah satu anak buah polisi melapor.
"Cepat kejar!" Komandan itu pun bergegas untuk mengejar tersangka.
Aini yang masuk ke dalam ruangan melihat mainan anaknya tergeletak di lantai, air matanya keluar saat mengambil mainan Khan lalu memeluknya. Dia melihat Rahman yang berjongkok ke arahnya lalu memberikan sapu tangan.
"Bersabarlah!" Rahman mengajak Aini untuk keluar dan menunggu di dalam mobil sementara dia akan ikut mengajar tersangka yang menculik si kembar.
Kali ini Aini pun hanya nurut dengan ucapan Rahman, dia terus merapalkan doa agar hajatnya terkabul meminta sang anak kembali ke dalam pelukannya dalam keadaan selamat. Air mata tiada terus berhenti mengalir saat mainan anaknya dia genggam erat dipeluk dan dikecupnya bagaikan sebuah rindu yang sudah lama dia rasakan.
"Mas Ammar aku percaya sama kamu, disana kamu membantu melindungi anak kita! Please, jangan pisahkan aku dengan anak-anak kita mas aku nggak sanggup bila harus kehilangan kalian semua!" Aini terus memeluk mainan anaknya.
Namun, pada saat semua polisi telah pergi mengejar dan diduga adalah tersangka Aini justru melihat di balik semak-semak ada seseorang dan juga suara isakan tangisan seorang anak, dia pun turun dari mobil mencoba mendekat pelan-pelan ke arah semak-semak itu.
Pada saat matanya melihat bila ternyata Rose tengah membekap mulut Khansa sampai anak itu terus menangis ketakutan, Aini pun langsung berlari ke arah anaknya hingga membuat rose menyadari keberadaan dirinya.
"Stop tante! Tante Aini mohon serahkan Khansa pada Aini! Tante boleh ngelakuin apa aja yang Tante mau pada Aini asal jangan sakiti anak Aini, Tante! Aini mohon!" Ucap Aini dengan memelas.
Mereka berdua pun berdiri di tengah lapangan yang terhampar oleh rerumputan yang luas oleh ilalang-ilalang di sekitarnya, terlihat jelas oleh Aini bagaimana Khansa ketakutan memanggil namanya.
Suara tangisan kecil dari mulut bibir mungil itu keluar menyebut nama Aini dengan sebutan kata umi di usianya setahun lebih.
"Mmi, Mmi!"
__ADS_1
Begitulah kiranya suara mungil itu keluar untuk pertama kalinya saat melihat Aini dengan tangisannya, Aini pun langsung menangis saat mendengar anak keduanya memanggil dirinya dengan lirih.
"Sayang, tenang ya ... jangan takut! Ada umi di sini!" Ucap Aini yang mencoba untuk menenangkan anaknya.
Baru saja Aini melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan sang anak, ternyata anak buah Rose yang berjumlah lima orang menghadangnya.
"Ooh, begitu so sweet! Ada kata terakhir untuk melihat anakmu?" ucap Rose dengan bahasa Prancis.
"Tante, Aini peringatkan sekali lagi, kalau Tante berani macam-macam jangan salahkan Aini akan besikap tegas sama, Tante Rose!" ucap Aini yang maju satu langkah tetapi dengan cepat ke dua pengawal Rose menahan tangannya.
Tentu saja Aini berusaha lepas dari cengkraman kedua pria berbadan besar itu, dia mengeluarkan jurus bela dirinya agar bisa melawan kelima pria berbadan besar itu tetapi dia kehabisan tenaga karena menangis seharian dan juga belum makan.
"Hahaha, kamu pikir aku takut dengan ancaman mulut baumu itu? Dasar munafik! Inilah pembalasanku, karena kamu telah memisahkan aku dengan anakku—Monica! Sekarang waktunya adiknya ini menyusul Kakaknya yang sudah lebih dulu aku buang ke sungai itu! Ucapakan selamat tinggal dengan ibumu itu! Dadah Umi!" Rose langsung melempar Khansa ke arah jurang.
"Khansa!" teriak Aini seraya langsung berlari mengejar Khansa tapi ditahan oleh kelima bodyguard tersebut.
Untung saja Rahman yang datang dari arah belakang dengan cepat langsung melompat ke arah jurang menangkap dan memeluk Khanza dalam pelukannya dan ikut terjatuh ke dalam jurang air terjun tersebut.
"Aaakkkhh!" teriak Aini yang tidak kuasa melihatnya dan suara deburan air yang terkena benda terjatuh pun terdengar di telinga Aini.
Rose melangkah mendekati Aini yang sedang tersimpuh di tanah, menerapi kejadian yang baru saja wanita bercadar itu lihat. Dia mencengkeram kuat kerudung yang Aini pakai selalu dibukanya begitu saja oleh Rose hingga terekspos rambut panjang Aini.
"Lihatlah! Kau kehilangan suamimu sekarang kehilangan kedua anakmu! Dan sekarang kau nikmati harga dirimu yang berada di ujung tanduk Aini!" Rose tertawa lantas menyuruh kelima bodyguardnya untuk menikmati tubuh Aini.
"Baik, bos!" sahut kelima bodyguard yang siap menggilir Aini.
Aini menatap tajam karena Rose yang masih tertawa, dia mengumpulkan di sisa tenaganya. Baru saja dia ingin melawan melabrak Rose tapi tangannya sudah di tahan oleh kelima bodyguard tersebut lagi dan lagi.
"Hahaha, mau kemana kamu nona manis?" ucap Salah satu yang mendekat ke arah ini seraya meneteskan air liur.
__ADS_1
"Lepasin!" Teriak Aini yang kehabisan suara, dia menangis seraya memberontak dengan lemah. "Jangan, aku mohon! Jangan!"
Kelima bodyguard itu tidak menggubris ucapan wanita bercadar yang sudah tidak memakai kerudung, dia menahan kedua tangan Aini dan kaki yang di bentangkan dengan lebar.
"Astagfirullah! Jangan! Mas Ammar!" teriak Aini dan langsung saja suara tembakan terdengar.
"Berhenti! Jangan bergerak!" Polisi langsung mengepung tersangka.
Semua pada mengangkat tangan dan ada yang melarikan diri, tetapi yang melarikan diri langsung ditembak di tempat saat itu juga.
"Astagfirullah!" Reyzal langsung membuka jaketnya dan menutup tubuh Aini yang sebagian sudah terekspos dengan pakaian compang-camping.
Rey memakaikan kembali kerudung Aini dan cadarnya lantas menggendong Aini untuk di bawa ke mobil, tetapi pada saat ingin beranjak dari lapangan dengan penuh rumput ilalang itu.
Terdengar suara teriakan minta tolong dari seorang wanita baru baya, Rose berteriak ketakutan saat kakinya dililit oleh ular kobra sedangkan taring ular tersebut menancap di mata kaki wanita itu yang ternyata adalah Rose.
"Astaghfirullahaladzim, innailaihi!" Ucap Reyzal saat melihat wanita itu berusaha melepaskan diri dari lilitan ular kobra.
"Aini, tolong Tante Aini! Tolong!" pinta Rose saat merengek meminta tolong kepada Aini, wajahnya mulai pucat, bibirnya mulai biru. Tetapi, Aini hanya terdiam menyaksikan ular tersebut terus melilit dan memberikan racun pada wanita itu.
Ya, itulah salah satu teguran Allah langsung turun saat itu juga, perbuatan Rose tidak bisa di toleransi lagi. Langsung mendapat DP di dunia ketika dia tidak sengaja menginjak buntut ular berbisa saat dia hendak pergi meninggalkan Aini yang ingin digilir.
Polisi langsung menembak ular berbisa itu dan menelepon mobil Ambulance ketika Rose sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Aini menatap Rose saat wanita paru baya itu mengembuskan napas terakhirnya, tangannya mencengkram erat kaos yang dipakai oleh Reyzal dia menyaksikan orang yang menghina dan berbuat jahat padanya mendapatkan apa yang sudah dia perbuat.
Ya, mungkin kata-kata yang tepat adalah ketika kau tersakiti oleh seseorang yang menzolimimu cukup berdoa meminta pertolongan pada Allah, makan selebihnya biar karma dan teguran Sang Pencipta yang berjalan.
Jika kalian beruntung, maka kalian bisa melihat mereka yang telah menyakitimu mendapatkan terguran atas apa yang mereka lakukan, seperti halnya yang terjadi dengan Aini. Dia menyaksikan betapa pedihnya teguran langsung pada Rose.
__ADS_1
Bersambung...