
Lima hari kemudian.
Ammar masih terbaring koma di rumah sakit, berbagai selang memenuhin tubuh Ammar yang terhubung ke layar monitor, Berbagai jenis karangan bunga dari rekan bisnis Ammar terus berdatangan sebagai bentuk doa agar Ammar cempat sembuh.
Namun, Ammar masih belum juga siuman dari komanya, walaupun Dokter telah menyatakan Ammar sudah melewati masa kritisnya.
"Apa ada yang salah, Dok? Kenapa sampai saat ini anak saya masih belum sadar?" Ainun bertanya pada Dokter saat pemeriksaan.
"Semua hasil pemeriksaan bagus, hanya saja ...." ucap Dokter
"Hanya saja apa, Dok?"
"Pasien memilih untuk tetap berada di bawah alam sadarnya." Dokter yang memeriksa CT-Scan kepala Ammar.
"Maksudnya?" Ainun bingung dengan penjelasan dokter.
"Mungkin ini sulit untuk di jelaskan, tapi saran saya, Ibu harus memberi semangat untuk pasien untuk bisa kembali ke dunia nyatanya." Dokter menyerahkan hasil CT-Scan Ammar yang mulai membaik kepada Roy.
"Akan lebih bagus ... bila pasien cepat sadar dengan orang yang sangat berarti dalam hidupnya," ucap Dokter yang memberikan saran terhadap Ainun.
"Terima kasih, Dok!" ucap Ainun.
"Sama-sama, semoga pasien cepat sadar dan berkumpul kembali dengan keluarganya." Dokter memberikan senyuman kepada Ainun agar tidak sedih lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rawat Ammar yang di ikuti oleh para suster.
Setelah Dokter sudah keluar Nabila baru berani masuk kedalam, menghampiri Ainun yang masih setia menunggu anaknya yang belum kunjung sadar.
"Bu! Apa kata Dokter?" Nabila bertanya pada Ainun, tapi Ainun masih tidak mau berbicara pada Nabila.
"Ibu! Ibu masih marah sama Nabila? Nabila tahu, Nabila salah, Bu! Maafin Nabila. Bu!" Nabila berlutut di kaki Ainun yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur Ammar.
"Ibu hanya tidak menyangka dengan kamu Nabila!" Ainun berdiri untuk pergi ke arah balkon rawat inap yang di susul oleh Nabila.
"Maaf, Bu!" Nabila sadar atas perbuatannya.
"Apa salahnya Aini sama kamu? Sampai kamu tega sama dia?" Ainun mulai geram dengan Nabila, semenjak Polisi menjelaskan kronologi kecelakaan yang mengakibat Ammar kecelakaan.
"Karena Nabila sayang sama Bang Ammar, Bu!"
"Sayang? Sayang kamu itu salah Nabia! Ibu benar benar kecewa sama kamu!" ucap Ainun tanpa melihat ke arah Nabila.
"Sekarang kamu lihat! Ini yang kamu mau? Iya? Ini yang kamu bilang sayang sama anak saya?" Ainun yang berbicara dengan nada dingin sebagai mertua ke menantunya, menyadarkan Nabila karena perbuatannya lah Ammar mengalami kecelakaan dan belum kunjung sadar.
"Gak, Bu! Bukan ini yang Nabila mau. Nabila cuma mau hidup bahagia menjalankan rumah tangga dengan Bang Ammar, apa Nabila salah?"
__ADS_1
"Kamu gak salah kalau kamu mau seperti itu! Karena semua orang pun ingin hidup bahagia bersama orang yang di cintainya Nabila! Bagitu juga dengan anak Ibu! Ngerti!" Ainun yang menekan kata orang pun agar Nabila paham kalau Ammar juga ingin hidup bahagia bersama Aini dan juga calon anak-anaknya.
"Aini sudah mengizinkan Ammar untuk menikahi kamu! Tapi kamu malah membayarnya dengan memisahkan mereka!" Ainun langsung berdiri meninggalkan Nabila yang masih menangis di balkon rawat inap.
Nabila yang merasakan sakit di bagian dadanya karena mendengar ucapan mertuanya hanya menerima dengan ikhlas dan mengusap air matanya lalu bangun dan mendekat ke arah Ammar yang masih memejamkan matanya, Nabila mengusap wajah Ammar dengan lembut sambil menangis.
"Bang, bangun! Abang harus kuat! Nabila kangen sama Abang! Abang cepat sadar, ya?" Nabila terus berbisik pelan kepada Ammar di telinganya dengan tangisan yang tiada henti.
Selama ini, Nabila terus menanti Ammar untuk segera sadar, Nabila berharap saat Ammar membuka matanya, orang yang pertama kali Ammar lihat adalah dirinya.
"Abang, tahu? Dulu, waktu Nabila masih kecil, saat Nabila terjatuh. Abang selalu menggendong Nabila di punggung Abang, Abang begitu perhatian sama Nabila!" Nabila yang mulai bercerita saat dirinya dan Ammar masih kecil.
"Abang pernah bilang, Nabila Harus rajin mengaji, harus rajin sholat, dan semua itu sudah Nabila lakukan untuk Abang! Maafin Nabila bang, kalau Nabila sudah menjadi buta karena cinta! Maafin Nabila yang sudah memisahkan Abang dari Aini! Abang mau kan maafin Nabila? Nabila janji akan membawa Aini kembali kepelukan Abang, asal Abang bangun ya! Agar Abang bisa menghukum Nabila!" Nabila yang merasa sakit melihat Ammar tidak kunjung sadar.
"Abang, bangun! Hayoo! Nabila sudah minta maaf sama Abang!" Nabila menangis di telinga Ammar.
"Abang, Nabila janji. bakal jadi adik Abang yang sholeha! Nabila janji bakal berubah, bakal memperbaiki sikap Nabila. Nabila janji bakalan jadi adik Abang yang Abang sayang! Nabila janji gak bakal nakal jadi adik Abang! Tapi Abang harus bangun! Nabila gak mau lihat Abang seperti ini!" Nabila mulai merancau tidak karuan di samping Ammar.
Roy yang mendengar semua ucapan Nabila merasa iba dan sedih, pasalnya Roy tahu kenapa Ammar sangat sayang kepada Nabila hanya sebagai adik tidak lebih. Kenapa Ammar sampai saat ini tidak berani menalak Nabila dan tidak berani sedikitpun menyakiti Nabila.
Roy semakin percaya dengan ucapan Nabila yang merancau tidak jelas, karena dirinya takut kehilangan sosok Abang yang begitu Nabila sayangi, trauma yang dulu Nabila rasakan saat Abang Faris koma tidak kujung sadar dan akhirnya meninggal akibat tahuran.
______
Dibalik jendela, ada sosok wanita yang memiliki mata merah dan sembab akibat menangis meghawatirkan suaminya.
"Mau tante temani kamu ke rumah sakit? Biar kamu tidak sedih terus! Kasian nanti sama dedek bayinya juga ikutan sedih kalau ibunya sedih." Dinda yang merangkul pundak Aini dengan hangat.
"Gak usah, Tan! Lagian juga Mas Ammar sudah ada Mba Nabila ini sama Ibu ... Aini lega kalau Mas Ammar bersama Mba Nabila, Aini tahu kalau Mba Nabila bisa merawat Mas Ammar dengan baik." Aini mengelus tangan Dinda yang berada di pundaknya.
"Ya ... Tante cuma mau kasih saran sih, kalau kamu mau ... itu juga!" Dinda duduk si samping Aini.
"Saran?" Aini mengerutkan keningnya.
"Iya, saran! Gak ada salahnya kan ... jenguk orang sakit? Malahan agama mengajurkannya. Apalagi kita mau menjenguk Ayah dari anak-anak yang kamu kandung." Dinda mengusap lembut sisa airmata Aini di di pipinya.
"Ya sudah kalau gitu, Tante, Aini mau siap-siap dulu ya," ucap Aini semangat.
"Nah, gitu dong! Ya sudah. Tante tunggu di depan ya!" Dinda berdiri lalu keluar dari kamar Aini.
Beberapa menit kemudian, Aini sudah siap dengan penampilan nya. Memakai syari warna hitam yang senada dengan cadarnya dan memakai banana mata elangnya.
"Sudah siap?" ucap Tantenya yang di anggukan oleh Aini.
__ADS_1
"Ok, let's go! Bismillah" Dinda yang menancapkan gasnya dan mobil pun berjalan ke arah rumah sakit.
Sebelum sampai di rumah sakit, Aini sempat mampir ke toko buah untuk membelikan beberapa buah-buahan kesukaan Ibu Ainun dan juga Ammar.
Aini berharap Ammar sudah sadar, karena terakhir kali mendengar info dari Roy yang selalu mondar mandir ke rumahnya untuk menyampaikan info kondisi tentang Ammar dan mengajak Aini agar mau menjengkuk bosnya yang masih terbaring di rumah sakit.
Sekitar tiga puluh menit Aini sampai di rumah sakit, perasaanya terus berdebar saat langkah kakinya semakin mendekat ke arah kamar inap VVIP Ammar.
Aini mengintip kedalam kamar yang terdapat kaca, tapi tidak ada orang sama sekali dan terlihat kosong. Aini mulai hilang semangatnya melihat kamar rawatnya sudah bersih dan kosong.
"Aini?!" panggil Dinda yang bingung melihat raut wajah keponakannya.
"Kita balik lagi aja, Tante!" ucap Aini yang ingin menangis.
"Loh, kenapa?" Dinda mulai mendekat ke arah Aini yang berdiri di depan pintu kamar rawat, karena Dinda sempat pergi ke tenpat info terlebih dahulu.
"Mas, Ammar sudah balik ke Jakarta, Tante! Kamarnya sudah kosong!" Aini menangis di pundak Dinda.
Dinda yang bingung dengan sikap Aini hanya melihat nomor kamar yang ada di depannya, lalu melihat ke arah jendela yang terlihat ruangannya kosong tidak ada pasien.
Huuuffhh!
Dinda membuang nafas panjang dan menepuk jidatnya.
"Emang benar ya, kalau cinta itu bisa bikin buta angka!" Dinda yang menggelengkan kepala melihat tingkah keponakanya.
"Maksud, Tante?" Aini langsung tersindir dengan ucapan Dinda.
"Kamu salah kamar! Ini kamar nomor 202, sedangkan Ammar kan di rawat kamar nomor 205. Gimana si kamu! Ampun dah ...." Dinda yang lagi-lagi tidak habis pikir lihat tingkah konyol Aini.
"Oh iya, ya ... Lupa Aini, Tan!" Aini yang awalnya menangis jadi malu sendiri dan tertawa.
"Lupa, lupa! Mangkanya jangan kebanyakan nangis mulu!" Dinda yang menggandeng tangan Aini melangkah ke kamar nomor 205.
"Sorry, Tan!" Aini yang masih cengengesan yang di tarik tangannya oleh Dinda.
Bersambung...
Terima kasih pada readers yang masih setia membaca kisah Aini dan Ammar, yang sudah memberikan dukungan kepada author... tunggu kejutan dari author ya.... buat readers yang sudah memberi like, komen, hadiah dan vote nya...
Mampir juga yuukkk di certa yang seru satu ini dari author yang cantikk ini...
__ADS_1