Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 104. Tahan Rindu


__ADS_3

"Nabila bangun, Nabila! Astagfirullah ...." Roy yang panik dengan kondisi Nabila langsung membawa Nabila masuk ke dalam mobil.


Setelah meletakan Nabila di kursi depan samping pengemudi, Roy mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah sakit.


"Nabila bangun, Nabila!" Roy mencoba membangunkan Nabila tapi Nabila tetap belum sadarkan dirinya.


Ciitt!


Roy mengerem mobilnya secara kasar saat memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit.


"Sus, tolongin teman saya pingsan!" Roy berlari meminta tolong kepada pihak medis untuk membawa Nabila ke ruangan pemeriksaan.


Para medis keluar dan membawa tempat tidur rumah sakit untuk memudahkan pasien di bawa ke dalam UGD.


"Di mana pasiennya, Pak?" ucap staf medis.


"Di sini Mas," ucap Roy yang membukakan pintu untuk Nabila.


"Bantu saya pindahkan pasien ya, Pak!"


"Tapi saya, bukan ...."


"Hayo Pak, cepat!"


Mau tidak mau Roy menggendong Nabila untuk kedua kalinya karena keadaan darurat, setelah menaruh Nabila ke atas tempat tidur rumah sakit. Roy mengikutinya dari belakang, berharap Nabila akan baik-baik saja.


Setelah beberapa menit dari pemeriksaan Dokter, Roy dengan fokus mendengar penjelasan yang Dokter sampaikan mengenai kondisi Nabila.


"Istri anda mengalami tekanan yang cukup berat, sehingga daya tahan tubuhnya melemah. Selebihnya Bapak tidak perlu kawatir, cukup untuk istirhat yang cukup jaga pola makan, dan hindari berbagai macam bentuk pikiran yang menggangu kesehatannya." Dokter menjelaskan secara detail mengenai kondisi Nabila.


"Alhamdulillah ... Terima kasih, Dok!" ucap Roy yang berjabat tangan dengan Dokter.


"Sama-sama, ini saya kasih resep obatnya. Mohon di tebus di Farmasi." Dokter menyerahkan resep untuk Roy tebus di tempat pengambilan obat.


Beberapa menit kemudian, Nabila tersadar dari pingsanya, melihat Roy yang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk di kursi sambil melipat ke dua tanganya, membuat perasaan aneh yang timbul di dirinya.


Deg.


Ada perasaan hangat yang mengalir di tubuh Nabila, saat melihat seseorang menunggunya sampai tertidur.


"Seandainya saja, orang yang ada di samping ku ini adalah Abang Ammar. Pasti rasanya jauh menyenangkan," ucap Nabila


"Permisi, Nona Nabila!" ucap suster yang membuka hordeng pembatas dengan lebar sehingga membangunkan Roy yang sedang tertidur.


"Astagfirullah. maaf Bil. Saya ketiduran!" Roy mengusap wajahnya dengan kasar.


"Saya copot selang infusnya ya, kalau sudah agak enakan boleh pulang!" seru Suster memberitahu.


"Terima kasih, Sus," ucap Roy.


"Sama-sama, sudah ya ... Saya permisi dulu." Suster merapihkan peralatanya dan meninggalkan Nabila dan juga Roy.


"Masih pusing?" tanya Roy penuh perhatian.


"Sedikit, Thanks ya ...." ucap Nabila merasa malu.


"Santai saja." Roy merapihkan obat-obatan Nabila ke dalam kantong.

__ADS_1


Nabila termenung melihat Roy begitu perhatian dan hangat terhadap dirinya, beda dengan waktu pertama kali dirinya mengenal Roy yang jutek, dingin dan kesan sombong.


"Roy?"


"Hmm?"


"Pesankan saya tiket ke Jakarta! Saya rindu dengan Papih." Nabila meneteskan air matanya karena ini keputusan yang akan dia ambil olehnya.


Cintanya sudah membutakan hati nuraninya sebagai wanita muslimah, entah mengapa saat melihat wajah asli Aini, hati Nabila tersentuh dan melunak. Mengalahkan sisi ganda Nabila yang dominan dengan sifat egois.


"Bil?" Roy sangat paham dengan keputusan Nabila, ingin rasanya memeluk teman barunya dan memberi kenyamanan pada Nabila saat ini. Tapi Roy sadar bahwa dirinya bukanlah makhromnya.


"Antarkan saya untuk melihatnya dan berpamitan padanya!" ucap Nabila yang di anggukan oleh Roy. lalu mengantar Nabila bertemu dengan Ammar.


————————


"Assalamualaikum," ucap Aini yang baru datang bersama Robbet.


"Waalaikumussalam," ucap Ainun merasa senang akhirnya orang yang di tunggu-tunggu datang juga.


"Bu, maaf ya lama datangnya. Tadi nunggu ayah dulu katanya juga mau jenguk Mas Ammar." Aini menyerahkan bingkisan untuk Ainun.


"Alhamdulillah, terima kasih sudah mau datang, ah silahkan duduk," ucap Ainun.


"Sama-sama, bagaimana kondisinya?" tanya Robbet setelah duduk di sofa yang berada dalam satu kamar Ammar.


Ainun menjelaskan secara perinci kepada Ayah mertua Ammar yang sudah mau menjenguk anaknya, karena melihat kondisi yang sempat kurang baik, antara kedua belah pihak keluarga. Akhirnya Robbet mau berkunjung melihat menantunya.


Ketika kedua orang tua sedang berbicara mengenai kondisi Ammar, Aini memilih untuk mendekat ke arah Ammar yang masih tertidur di atas kasur rumah sakit.


Buughh!


Aini tidak sengaja menutup lacinya dengan sedikit keras, sehingga membangunkan Ammar dari tidurnya.


"Aini?" ucap Ammar saat melihat Aini berada di sampingnya.


"Maaf, berisik ya?" Aini tertawa pelan saat mengucapkan maaf kepada suaminya.


"Kenapa gak bangunin, Mas?" tanya Ammar yang sudah mulai perlahan bangun menyandarkan posisinya lebih tinggi.


Ammar menarik tubuh Aini agar duduk di sampingnya lebih dekat.


"Gak tega bangunin ... Mas kan butuh istirahat biar cepat sembuh." Aini hanya tersenyum saat Ammar mengusap pipinya dan membuka cadarnya.


"Mas pikir, Mas akan kehilangan kamu lagi!" Ammar mengusap bibir ranum milik Aini.


"Kok Mas berfikirnya begitu?" tanya Aini heran.


"Karena nomor kamu dari semalam gak bisa di hubungin! Mas kawatir sama kamu." Ammar masih terus mengusap setiap inci wajah Aini.


"Maaf lupa ngisi batrai." Aini masih saja tertawa tanpa dosa.


"Dasar ...." Sambil tersenyum Ammar mendekatkan wajahnya ke arah Aini lalu mencium bibir Aini tanpa permisi.


"Hmmmp ... Mas!" Aini berusaha mendorong dada Ammar dengan pelan untuk menghentikan aktifitas ciumannya.


"Kenapa? Ini hukuman buat kamu, karena sudah membuat Mas kawatir!" Ammar kembali menciumi istrinya dengan lembut tapi penuh penekanan.

__ADS_1


"Hmmp ... Buk ... Maasppmm!" Aini terus mencoba untuk menghentikan ciuman Ammar.


"Ehhem!" Ainun berdeham agar meminimalisir rasa canggungnya saat Ammar memaksa Aini untuk berciuman saat ada Robbet ayah mertuanya.


"Saya rasa, Ammar sudah sembuh total!" ucap Robbet sedikit kesal karena melihat putrinya di paksa berciuman dengan suaminya di depan dirinya dan juga Ainun.


Deg.


Ammar langsung melepaskan ciumannya saat mendengar suara berat dari sang Ayah mertua dan juga deheman Ibunya.


Rasa malu langsung menjalar keseluruh tubuh Ammar saat menyembunyikan wajahnya di pundak Aini.


"Kenapa kamu gak bilang, ada Ibu dan Ayah!" bisik Ammar di telinga Aini.


"Salah Mas sendiri, yang main nyosor aja!" balas Aini dengan wajah merah merona.


"Bukan begitu, Ammar!" tanya sang Ayah yang mendekat ke arah Ammar bersama Ainun.


Ammar seperti terciduk oleh polisi saat melakukan hal mesum di rumah sakit, hanya senyuman kaku yang terlukis di wajah Ammar.



Sumber foto : Rawat inap Rs. Al-Irsyad Surabaya by google. com


"Eh, Ayah? Kapan datangnya?" ucap Ammar basa-basi.


"Kapan datangnya, Ni?" bukanya menjawab pertanyaan dari menantunya. Robbet justru melempar pertanyaan pada putrinya.


"Ah, barusan!" Aini tersenyum garing saat dirinya disindir oleh Ayahnya.


"Ammar, Ammar ... Lain kali kalau kebelet ya liat sikon dulu! Jangan main nyosor aja! Sakit yo masih aja pikiranya kesitu," ucap Ainun.


"Maaf Yah, Bu. Gak kuat nahan Rindu!" ucap Ammar tanpa malu.


"Iisshh, Kamu itu." Aini menutup wajahnya yang malu mendengar ucapan dari suaminya.


Melihat tingkah Aini yang menggemaskan semua orang tertawa bahagia satu sama lain, hubungan yang tadinya merenggang antara ayah mertua dengan menantu lelakinya, kini berangsur membaik.


Ketika sebuah keluarga sedang berada di puncak kehangatan kebahagian, dari balik pintu Nabila sudah memasang hatinya untuk tergar saat ingin berpamitan kepada suaminya.


Ceklek!


"Assalamualaikum," ucap Nabila.


"Waalaikumussalam," ucap Aini, Ammar dan Ainun secara bersamaan.


Suasana terasa canggung saat Nabila melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan bersama dengan Roy, ketika semua mata tertuju pada dirinya.


"Maaf, sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat," ucap Nabila.


Bersambung....


Semoga suka ya dengan episode kali ini....


jangan lupa untuk jempolnya ya... bila berkenan jangan lupa hadiah dan juga Rate bintang 5... di pojok kiri atas di halaman sinopsisnya


Terimakasih yang sudah memberi dukungannya semoga rezekinya semakin lancar ya... 😀

__ADS_1


__ADS_2