
Sebagian para pengunjung supermarket melihat aksi perdebatan dua laki-laki yang memilih pembalut, mereka tetap pada pendirian mereka masing-masing hingga tanpa sadar, Abizar pun ikut melihat perdebatan mereka.
"Sayap." Ammar menaruh kembali pilihan Rey dan mengambil pilihan yang bersayap.
"Tanpa sayap," ucap Rey yang kembali mengambil pilihannya.
"Sa ... yap!" ujar Ammar yang menaikan intonasinya sembari mengambil pembalut yang bersayap.
"Tanpa sayap." Tangan Rey dicegah oleh Ammar. Rey pun menatap balik kedua mata Ammar.
Kedua mata mereka saling melempar rasa ketidak sukaannya, Ammar memberi tahu lewat sorot mata, bahwa dia adalah suaminya, dia yang berhak menentukan mana yang terbaik untuk istrinya, dan Rey tidak berhak untuk ikut campur.
"Eeehhem! Pak Ammar, Bang Rey." Abizar melerai perdebatan mereka.
Sontak keduanya melihat sekeliling mereka yang sudah ramai oleh pengunjung, mendengar bisik-bisikan para wanita yang melihat tangan mereka saling bersentuhan sembari memegang pembalut, Ammar langsung melepaskan cengkramannya.
"Ah, bro apa kabar!" sahut Rey yang menyentuh bahu Abizar.
"Alhamdulillah baik, Bang." Abizar membalas pelukan Rey.
"Oh ya, Bang kenalin ini tanya Abizar, Abizar dia Abang ipar gue," ujar Rey.
"Saya udah tahu, saya duluan." Ammar menepuk pundak Abizar lalu pergi meninggalkan mereka.
***
Di sisi lain.
Aini yang sudah menunggu lama di dalam kamar mandi merasa kesal, dia hendak menelpon sang suami tapi ponselnya berada di atas kasur. Aini memegang perutnya yang merasa sakit saat perutnya semakin melilit begitu hebat.
Tidak lama kemudian, Ammar datang mengetuk pintu kamar mandi. "Yank, kamu masih di dalam?"
"Ya ampun, Mas ... kamu beli di mana si? Lama banget," ucap Aini pada sang suami yang baru saja tiba.
"Ngantri, yank." Ammar memberikan sekantung penuh isi pembalut.
'Ini gak salah? Banyak banget,' gerutu Aini melihat pembalut begitu banyak dalam kantung plastik.
Setelah selesai, Aini keluar dari dalam kamar mandi dia mendekat ke arah sang suami yang sibuk melihat isi laporan dari Roy, Aini pun mendekat ke arah Ammar.
"Minumlah." Ammar menyodorkan segelas air jahe hangat untuk istrinya.
Aini begitu terharu saat sang suami membuatkan air jahe hangat untuk dirinya, dia meminumnya hingga tandas tak tersisa, Aini pun merebahkan kepalanya di atas bahu sang suami dan menuntun tangan Ammar untuk mengelus perutnya. 11
Ammar yang melihat tingkah istri langsung menutup laptopnya dan mengelus perut sang istri dengan lembut sembari membaca mantra, lalu dia meniup tepat di wajah Aini.
Tawa Aini langsung pecah saat melihat perilaku Ammar yang begitu lucu, rasa sakit perutnya langsung hilang ketika Ammar meniup wajahnya bukan di perutnya.
"Mas, kan perut aku yang sakit, kenapa wajah yang ditiup?" tanya Aini sembari tertawa.
__ADS_1
"Biarin orang yang melihat wajahmu, merasa ketakutan dan lari," ucap Ammar yang memasang wajah kesalnya.
"Kok gitu? Kan Aku pakai cadar ... mana ada yang liat langsung kabur." Aini masih tertawa geli melihat tingkah suaminya.
"Biar tambah takut, sini Mas tambahin." Ammar mengambil spidol permanen dan menulis di jidat Aini dengan tulisan.
"Sudah emak-emak, punya dua buntut." Aini membaca tulisan di keningnya melalui kamera ponsel.
"Astagfirullah, Mas ... ini spidol permanen?" tanya Aini yang begitu terkejut melihat tulisan yang tidak bisa ilang.
Ammar tidak memperdulikan komentar dari Aini, dia kembali melihat hasil laporan Roy yang memuaskan melalui laptopnya. Aini langsung merengek kepada Ammar untuk menghapus tulisan tersebut tetapi suaminya bersikap acuh tak acuh kepada Aini.
***
Ke esokan paginya.
Aini sudah bersiap-siap untuk kembali ke kampus, karena ada beberapa hal yang mesti dia urus sampai acara kelulusannya, dia mencoba untuk menghapus tulisan yang ada di keningnya hingga bersih. Setelah itu, dia baru menitipkan si kembar kepada bunda Ismi.
"Hati-hati Umi," ucap bunda Ismi yang melambaikan tangan si kecil kepada sang ibu.
Ammar pun pamit kepada bunda Ismi untuk mengantar sang istri ke kampus, lalu pergi menemui undangan direktur hotel sekaligus pemilik hotel.
Sesampainya di kampus, Aini berpamitan kepada sang suami. Dia mencium seluruh wajah Ammar sampai tidak tersisa sebagai bentuk rasa cintanya agar sang suami mau percaya dengan kesetiaannya.
"Awas jangan nakal!" pinta Ammar yang ******* bibir manis sang istri.
"Siap bos," ucap Aini dengan patuh.
"Aini?" panggil seorang wanita yang masih satu jurusan dengan Aini.
"Hai, Natali," sahut Aini yang ketika temannya mendekat ke arahnya.
"Cie, siapa tadi?" tanya Natali.
"Oh, yang barusan? Ayah dari anak-anakku," jawab Aini dengan jujur?
Natali langsung terkejut, pasalnya semua teman-teman satu jurusan tidak ada yang tahu mengenai identitas Aini, mereka berpikir Aini masih single, dan selalu menjodoh-jodohkan Aini dengan Abizar, mahasiswa tampan yang sholeh.
Selama ini, Aini memang menyembunyikan identitas asli di fakultas barunya, karena satu alasan yang membuatnya menjadi privasi. Namun, takdir berkata lain. Aini yang awalnya ingin mengubah hidupnya yang berencana pisah dengan Ammar dan membesarkan kedua anaknya sendiri, kini kembali ke dalam pelukan sang suami.
"Loe, lagi gak bercanda kan, Ni?" sorot mata Natali bertanya dengan serius, tetapi Aini menjawabnya dengan santai bahwa dia serius.
"Terus Abizar gimana?" Natali berusaha mengorek informasi tentang Aini.
Aini mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya, dia tidak ingin membahas soal Abizar. Natali yang mengerti dengan kondisi temannya langsung diam dan tidak banyak berbicara.
Setelah urusan kampus sudah selesai, Natali mengajak Aini untuk makan di kampus terlebih dahulu, Natali memesankan satu porsi bakso jumbo dan Es jeruk untuk temannya sedangkan dia memilih memesan satu porsi mie ayam dengan es teh manis.
"Natali, Aini!" teriak teman-temanya yang ingin ikut bergabung makan bersama.
__ADS_1
"Oh, hai." Aini ikut melambaikan tangan ke arah teman-temannya.
Mereka pun ikut duduk bersama Aini dan juga Natali, suasana menjadi heboh ketika teman-teman Aini selalu menyangkut-pautkan dia dengan Abizar.
"Cie, makanan mereka sama dong," ledek salah satu teman wanita yang belum tahu soal kebenaran Aini.
"Dah, Zar ... langsung ta'aruf setelah wisuda." Salah satu teman cowok menepuk punggung Abizar.
Sang empu langsung tersedak mendengar ucapan dari temannya, dia pun mengambil gelas Aini lalu meminumnya tanpa sadar. semua teman-temannya yang berada satu meja makan langsung ramai.
"Cciie, ciuman secara tidak langsung. Uhuy!" teman pria tersebut terus meledek Abizar.
"Diam-diam, Abizar nackal ya ... huuu, gemes," sahut teman wanitanya.
Abizar melihat Aini ketika teman-teman mereka terus menintimidasi mereka, dia berusaha agar Aini tidak merasa risih bila di dekatnya. Aini hanya terdiam sesekali dan ikut tertawa saat mendapat ledekan dari sahabatnya.
Usia makan bersama, mereka memutuskan untuk pergi menonton film bersama, Abizar yang tidak biasa seperti itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Begitu juga dengan Aini, dia memilih untuk tidak ikut bersama teman-temannya.
"Sorry, ya." Abizar membuka suaranya ketika mereka berjalan di belakang teman-temannya.
"Gak, apa-apa. Santai aja, toh mereka seperti itu karena mereka juga gak tahu." Aini terus menundukan matanya saat berbicara kepada Abizar.
Hati Abizar semakin tersentuh melihat sikap Aini, rasanya ingin menculik wanita yang ada di samping dan membawanya ke KUA, tetapi dia tersadar bahwa wanita yang ada di sampingnya sudah milik orang lain ditambah sudah mempunyai dua orang anak.
"Aini?" tanya Abizar yang berhasil menghentikan langkah sang wanita.
"Hmm?" jawab Aini yang melihat ke arah Abizar yang mematung di tempat, lalu membuang mata kembali ke arah yang lain.
"Ini untuk Khan dan Khansa." Abizar menyodorkan sebuah kado kepada Aini.
"Ini?" tanya Aini yang begitu heran kenapa Abizar mengetahui nama kedua anaknya.
Teman-teman Aini langsung melihat ke romantisan dua sejoli tersebut, membuat kesalahpahaman menjadi semakin rumit saat semua menyuruhnya untuk terima sebagai kekasihnya.
"Cie ... jadian, jadian," ucap teman-teman wanita yang besorak untuk hubungan Aini dan Abizar
"Terima, terima, terima," ucap teman-teman cowoknya.
Tiba-tiba, sebuah klakson mobil begitu menggelagar di telinga Aini dan juga Abizar. Semua melihat ke arah mobil yang terparkir di depan kampus.
Ammar membuka kaca mobilnya dan menyuruh sang istri untuk segera masuk ke dalam mobil, sontak membuat teman-temannya terdiam saat Ammar memanggil Aini dengan sebutan sayang.
"Sayang! auto buruan!" teriak Ammar dari dalam mobil.
Bersambung...
Hallo, Assalamualaikum ... sobat readers tersayang, author mau promosi nih... tapi karya kedua author sendiri hehe 🤠jangan lupa mampir dan meninggalkan komen, like, vote dan hadiahnya ya ... Author tunggu loh ðŸ¤
Ok! Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya, salam sayang untuk kamu dan orang yang kamu sayang.
__ADS_1