Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 158. Harus Ihklas


__ADS_3

Sudah hari ke tiga, pencarian pesawat Boeing 12345 lepas kontak dan sampai saat ini dari pihak maskapai terbang belum juga memberi kepastian kepada sanak keluarga yang menunggu kabar tentang keberadaan pesawat tersebut.


Bagi sebagain keluarga pun memilih kembali ke rumah masing-masing sembari menunggu kabar dari pihak yang bersangkutan, sebagian lagi masih tetap bertahan menunggu kabar baik di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak bandara.


Sementara Aini beserta keluarga memilih untuk pulang ke rumah sembari menunggu kabar tentang kondisi orang tercinta, begitu juga dengan Gabriel yang ditemani oleh ibunda dari Roy.


"Nak, percayakan semua pada Allah. Bunda tidak mau bila kamu seperti ini, Bunda juga yakin bila suamimu tahu, dia akan marah melihatmu seperti ini." Ismi selalu memberikan semangat untuk Aini yang kini masih dalam keadaan drop.


"Benar kata Bunda Ismi, makan ya, Nak!" ucap Robert yang membawakan makanan.


"Aini nggak laper, Yah! Aini cuma mau Mas Ammar!" rengek Aini yang seperti anak kecil.


"Istighfar, Aini ... kamu jangan egois, kasian anak-anak kamu! Mereka butuh asi kamu," tegur Ismi secara halus.


"Ayah sudah mengirim beberapa orang untuk membantu mencarinya, sekarang kamu makan biar ada tenaga untuk mengadu menangis meminta sama Allah," timpal sang ayah—Reyzal.


Aini hanya terdiam, dia melihat si kembar yang lagi aktif-aktifnya bermain bersama baby sister, dia pun menghela napas lalu mengambil piring dari tangan Bunda Ismi.


Ya, meski sulit untuk menelan nasi yang Aini kunyah tapi harus dia paksa, demi anak-anaknya. Air mata yang terus keluar menambah rasa asin pada sayur yang dia makan.


***


Dua minggu kemudian, pihak dari bandara maskapai penerbangan telah mengumumkan bila tim Barsanas telah menemukan serpihan badan pesawat di sebelah laut daya, kemungkinan besar titik letak box hitam pesawat Boeing tidak jauh dari penemuan serpihan badan pesawat.


Aini beserta keluarga yang mendapat kabar dari pihak bandara dan juga melihat berita di televisi, ada rasa sedikit lega sekaligus sedih kerena terbukti pesawat itu hancur.

__ADS_1


Aini pun langsung ambruk seketika yang dibantu oleh Robert dan keluarga yang berkumpul di rumah Aini begitu juga dengan ibunda—Ammar.


"Al, cepat telepon dokter!" ucap Ismi yang menyuruh anaknya.


Sementara ibunda Ammar langsung di angkat oleh Robert masuk ke dalam kamar, semua orang pun menjadi cemas atas kabar yang mereka dapat, pasalnya korban sampai saat ini belum juga ditemukan dan baru serpihan badan pesawat.


Jasmine sebagai Kakak ipar—Aini, terus menemani Aini yang dibantu oleh Nabila. Nabila pun terus memberikan semangat pada adiknya agar tegar saat mengetahui hasil lebih lanjut demi si kembar.


"Mba Nabila, Aini minta maaf sama, Mba! Maaf bila Aini menyakiti hati Mba Nabila!" ucap Aini yang kembali mengingat masa lalu.


"Aini, sudah ... kamu lagi keadaan drop, mending kamu istirahat, banyak-banyak istighfar dan jangan berfikiran yang aneh-aneh!" tegas Nabila seraya mengusap pipi adiknya yang masih memakai cadar, meski cadar itu menjadi basah akibat tangisan Aini.


"Tapi, Mba! Aini sudah merebut Mas Ammar dari Mba Nabila, mungkin ini cara Allah menegur Aini lewat cara seperti ini," ucap Aini dengan lirih.


Sementara Abizar yang ingin membawakan cemilan makanan sesuai permintaan Nabila, berdiri di balik pintu yang terbuka mendengar percakapan antara Nabila dan Aini karena sampai sekarang dia masih belum paham betul masa lalu Nabila.


"Mas Ammar itu sayang banget sama Mba Nabila, Bahkan Aini terkadang cemburu bagaimana sikap Mas Ammar terhadap Mba Nabila. Mas Ammar pernah bilang sama Aini, Mba Nabila adalah satu-satunya wanita yang akan selalu ada dihatinya." Aini tersenyum saat mengingat ucapan suaminya yang membuat dirinya cemburu.


"Ya, tapi sayangnya itu hanya sebagai adik, Aini ... tidak lebih, tetap kamulah the winner atas hati Bang Ammar. Kamulah wanita yang kedudukannya paling tinggi di hati Bang Ammar setelah Ibu," ucap Nabila dengan lembut.


"Karena itulah, selama menjadi istri Mas Ammar, beliau masih menjaga hati kamu agar tidak menyentuh Mba. Jujur, ada sedikit rasa sakit! Tetapi Mba sadar, Mba lah yang menjadi duri di antara kalian. Maaf telah mengucapkannya, maafin Mba ya Aini!" Nabila meneteskan air matanya.


Aini hampir tidak percaya dengan ucapan Nabila yang berterus terang tentang dirinya yang tidak di sentuh oleh suaminya, bagaimana mungkin? ketika mengingat dia sering melihat Ammar dan Nabila saling berciuman dan bercumbu mesra, tetapi ucapan jujur dari Nabila sangat meyakinkan bila mantan madunya itu belum disentuh oleh Ammar.


Deg, debaran jantung Abizar begitu kencang saat mengetahui bila wanita yang ingin dia persunting ternyata seorang janda yang masih virgin, dia tidak perduli masa lalu Nabila seperti apa? Entah semua orang dulu membencinya karena telah merusak rumah tangga orang lain, membenci sikap Nabila yang terobsesi dengan Ammar, ataupun usia mereka berdua yang jelas sekarang, Abizar ingin membangun rumah tangga bersama Nabila.

__ADS_1


"Ehem, udah ... pepet terus jangan kasih kendor!" bisik Reyzal yang menyenggol lengan Abizar yang masih berdiri di balik pintu.


"Astagfirullah! Ngagetin aja!" Abizar langsung tersadar.


Sontak kedua wanita yang ada di dalam terkejut dan melihat ke arah sumber suara yang sedang terjadi, berapa malunya Nabila saat melihat pemuda yang usainya lebih mudah dua tahun darinya berada di depan pintu.


"Ha–hai!" ucap Abizar yang melambaikan tangan pada Nabila dan Aini secara canggung lalu masuk ke dalam kamar dan menaruh cemilan makanan ke atas nakas.


Aini melihat jelas ke arah Nabila yang menunduk saat Abizar masuk, ingin rasanya dia bertanya tentang hubungan mereka berdua tapi mungkin untuk sekarang bukan waktu yang kurang tepat.


"Mba Aini, ini buahnya!" Jasmine masuk membawakan sepiring buah semangka kesukaan Aini yang telah dia potong.


"Makasih ya," ucap Aisyah.


Melihat buah kesukaannya telah dipotong dan begitu menggiurkan, Reyzal langsung mendekat dan mengambil buah semangka itu, tetapi ditepis oleh Jasmine.


"Satu doang, yank!" ucap Reyzal yang mencium pipi Jasmine.


Melihat keromantisan kakak angkatnya membuat Aini tersadar, banyak orang yang meluangkan waktunya untuk menemani dia, semestinya Reyzal masih menikmati waktu berduanya dengan sang istri, Nabila menikmati luang memberi kesempatan pada Abizar, dan Rahman bisa fokus pekerjaannya di kantor. Namun, mereka semua dengan ikhlas berada di rumah Aini untuk memberikanya semangat.


Aini pun bertekad akan mulai bersabar, kuat menerima apapun yang terjadi mengenai kabar suaminya, dia tidak mau bila dia terus menyusahkan orang-orang terdekatnya.


Ya, insyaallah Aini ikhlas bila harus melepas Mas Ammar, dia akan berusaha kuat dan tegar. Apapun itu, meski doa yang dia panjatkan adalah keselamatan Ammar agar bisa kembali padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2