Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 157. Kabar duka


__ADS_3

Semua orang terdiam mendengar ucapan sari anak kecil itu, termasuk Aini. Baru saja Aini membuka suaranya tapi Rahman langsung menarik tubuh kecil Naura agar bisa berada di pangkuannya.


"Naura, mau es krim?" tanya Rahman yang berniat untuk mengalihkan pembicaraan Naura.


"Mau!" ucap Naura semangat.


"Ya sudah kalau gitu, tunggu bentar ya, biar Ayah yang ambilkan untuk Naura." Rahman mencolek hidung Naura dengan gemas lalu berniat menuruni anak itu dari pangkuan Rahman, tapi Naura tidak mau, gadis kecil itu ingin pergi bersama Aini untuk mengambil es krim.


Aini pun mengulurkan tangannya dan mengajak Naura untuk pergi mengambil satu mangkuk es krim, pada saat itu juga Nabila ikut bersama Aini. Sementara Abizar, tertawa sinis melihat sikap Rahman yang seolah-olah suami Aini.


"Apakah ada yang lucu?" tanya Rahman yang sangat tidak suka dengan cara Abizar tertawa.


"Ya, sangat lucu ... berhentilah bercanda, Tuan Rahman!" Abizar masih saja terus tertawa.


"Maksudmu apa? Jangan sampai kesabaran aku habis meladeni anak kecil sepertimu!" ujar Rahman yang dengan tegas.


"Anak kecil? Bukannya kamu yang seperti anak kecil? Bermain rumah-rumah dengan istri orang? Jangan sok belaga seolah-olah kamu suaminya, Tuan Rahman! Hentikan permainanmu, dia sudah punya suami, jangan harap bisa masuk ke dalam kehidupannya!" Abizar langsung berhenti tertawa dan menatap serius ke arah Rahman.


Rahman ingin membalas ucapan Abizar tapi Aini sudah datang lebih dulu, dia pun menyuruh Naura untuk duduk manis menikmati es krim yang ada di hadapannya.


"Aini, apa setiap saat, Bang Ammar menghubungi kamu?" tanya Nabila yang berbasa-basi.

__ADS_1


"Alhamdulillah sering, Mba. Mungkin nanti malam dia telepon lagi," ucap Aini.


"Pasti, anak-anak kangen ya, sama Abinya?" tanya Nabila, dia mencoba untuk melirik ke arah Rahman untuk mengetahui ekspresi dari pria tersebut.


"Jangankan anak-anak, Mba! Aku aja kangen sama Mas Ammar!" sahut Aini yang tersipu malu dan itu berhasil membuat Rahman berdeham untuk menetralkan rasa hatinya yang sakit.


Abizar dan Nabila bisa merasakan ada yang aneh melihat sikap Rahman, seakan dia cemburu dan tidak suka bila membahas soal Ammar.


"Jelas, apa lagi istrinya! Jadi mau, merasakan dikangenin sama calon istri!" Abizar langsung melihat ke arah Nabila.


"Aini, saya tinggal dulu ya, sebentar!" Rahman tersenyum ke arah Aini dan mengajak Naura untuk ikut bersamanya menemui Bunda Ismi, dia enggan lama-lama mendengarkan ucapan dari Abizar dan Nabila yang seakan memanasi hatinya.


...----------------...


Namun nyatanya, hampir tiga jam lebih, Aini belum melihat kedatangan sang suami, sampai akhirnya pihak bandara terbang menginformasikan tentang pesawat Boeing 12345 hilang kontak.


Aini pun langsung pingsan ditempat mendapat kabar bila pesawat yang di tumpangi Ammar hilang kontak. Baby sister Aini langsung panik dan menghubungi Bunda Ismi serta keluarganya.


Sang ayah sibuk menelepon beberapa orang kepercayaannya untuk mencari menantunya di kota tersebut, memastikan bila Ammar tidak menaiki pesawat yang hilang kontak.


Namun, naasnya informasi yang Robbert dapat membenarkan bila Ammar naik pesawat yang hilang kontak tepat pukul 07 pagi di waktu Negera tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa katanya?" tanya Ismi yang panik.


"Ammar dan Roy benar naik pesawat itu," ucap Robert yang menjelaskan, tentu membuat Aini menangis sejadi-jadinya.


Begitu juga dengan Gabriel, dia pun menolak informasi tersebut karena saat ini dia sedang mengandung anak Roy yang baru dua bulan. Semua rekan medis pun langsung mengangkat tubuh Gabriel dan mendapatkan penanganan pertama saat gadis yang baru lulus sekolah itu jatuh pingsang.


"Aini, makan dulu!" Rahman menyerahkan satu mangkok untuk Aini.


Abizar, Nabila, Rey dan juga Jasmine melihat sikap Rahman yang seolah-olah memberikan rasa senyaman mungkin untuk Aini, mereka semua tahu bila Rahman sedang mengejar Aini. Namun, Bunda Ismi selalu memandangnya karena Rahman adalah saudara Aini.


Sudah hampir 18 jam pesawat yang di tumpangi oleh Ammar dan Roy belum terlihat jelas titik temunya, hingga Aini terus menerus berada di sajadah untuk memohon perlindungan pada suaminya, meski pun dia tahu bila kecelakaan pesawat 1% untuk bisa selamat tapi karena keyakinan dia teguh pada apa yang di tetapkan oleh Tuhan-nya.


Aini pun meminta Kun fayakun pada Sang Pencipta dirinya dan suaminya, tiada hentinya dia meminta belas kasih, mengemis dan memohon agar Allah menyelamatkan suami dan asisten suaminya dari kecelakaan pesawat.


Hari pun semakin larut, tapi kabar tentang keberadaan pesawat tersebut belum juga menemukan titik terang. Melihat adiknya terus-menerus menangis, Reyzal menjadi tidak tega, dia pun memutuskan untuk melaksanakan Sholat Ghoib berjamaah di dalam kamar hotel yang disinggahi untuk sementara waktu.


"El, makan dulu, kasian janin kamu butuh asupan nutrisi! Serahkan semuanya pada Allah! Kamu harus kuat!" ucap Ibunda Roy yang menjaga menantunya.


"Benar, lebih baik kamu makan, begitu juga dengan kamu Aini!" ucap Rey yang mengambil makanan dari tangan Rahman.


"A, pesankan tiket ke sana! Aini mau cari Mas Ammar, siapa tahu Mas Ammar masih menjalankan tugas di sana!" rengek Aini pada Reyzal, Namun, Rahman memberikannya harapan palsu bila anak buahnya sedang menyelidiki keberadaan Ammar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2