
"Sudah?" tanya Roy saat Gabriel sudah siap dengan pakaian putih abu-abunya.
"Ehhm." Jawab Gabriel dengan menunduk.
Sebelum Gabriel setuju dengan keputusan Roy yang ingin mengantar dirinya kesekolah, Gabriel terlebih dahulu memberi pesan kepada Nico untuk menyuruhnya berangkat sekolah lebih dulu dan menunggunya di sekolah.
Benar saja, saat dirinya sudah berada di luar bersama Roy, mata Gabriel terus mencari keberadaan Nico. Namun, kekasihnya sudah tidak ada di area apartment.
"Cari siapa? Nico?" tanya Roy saat memasangkan sabuk pengaman pada wanitanya.
"Di saat kita sedang berdua di larang memikirkan, mencari atau menyebut lelaki lain! Paham?" Roy mencium bibir Gabriel dan melihat kedua mata gadisnya. Gabriel pun hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
"Ehhm, Om?" tanya Gabriel saat mobil perlahan mulai melaju.
"Aku, bukan Om, kamu!" Roy memasang nada tidak suka dengan panggilan Gabriel.
"Maaf, maksud aku ... bisakah apa yang barusan kita lakukan hanya sebuah kecelakan yang tidak sengaja?" ucap Gabriel dengan ragu.
Hiits, Roy mengerem mendadak dan memasang mata elang yang sangat tajam untuk membunuh mangsanya dengan sekali tatapan.
"Apakah kamu sangat mencintainya?" tanya Roy.
"Iya," jawab Gabriel dengan suara pelan tapi mampuh menusuk gedang telinga Roy.
"Mulai sekarang, kamu hapus semua cinta kamu sama dia! Jangan temui dia!" Printah Roy.
"Apa hak, Om?" tanya Gabriel yang heran dengan sikap Roy.
"Sudah aku bilang, aku ... bukan, Om kamu!" Roy kesal dengan gadisnya yang sesalu memanggilnya dengan sebutan kata Om.
"Ya terus apa hak kamu melarang aku? Kita baru kenal, sedangkan Nico sangat berarti dalam hidup ak ...." belum sempat Gabriel meneruskan ucapannya Roy melumatt bibirnya dengan sekali hentakan yang membuat Gabriel ingin merasakan lebih dan lebih.
"Karena aku, calon suami kamu! Mulai sekarang, kamu harus belajar mencintai Om kamu ini." Roy berterus terang kepada Gabriel, agar kesalahnya tidak terulang lagi saat dirinya di tinggal nikah oleh pujaan hati.
Mendengar ungkapan perasaan yang Roy katakan, lebih tepatnya lamaran mendadak dari lelaki yang lebih tua dari dirinya. Gabriel hanya terdiam selama perjalanan.
Dua puluh menit kemudian, mobil sampai di depan gerbang sekolah, Gabriel termenung sejenak lalu mengucapkan terima kasih kepada Roy.
"Pulang sekolah nanti, aku jemput! Aku mau kamu secepatnya mutusin hubungan kamu dengan dia." Roy membuka sabuk pengaman Gabriel sambil mencium kening gadisnya, lalu turun dari mobil agar bisa membukakan pintu untuk sang putri.
"Gab?" Nico menghampiri Gabriel yang baru saja turun dari mobil.
__ADS_1
"Nico?" ucap Gabriel dengan nada yang sedikit sedih.
"Dia siapa?" Tanya Nico yang melihat Kekasihnya di rangkul dengan kuat oleh Roy.
"Di-di-dia ...." Gabriel bingung menjelaskan kepada Nico.
"Aku Roy, calon suami Gabriel." Roy menjulurkan tanganya di hadapan Nico.
"Gab?" tanya Nico meminta penjelasan kepada sang kekasih.
"Ah ... ha-ha-ha. Dia, Om aku. Kamu tahu kan ... aku pernah ceritain ke kamu! Kalau dia suka bercanda orangnya, Iya kan, Om?" Gabriel menyikut perut Roy dengan kencang sambil tertawa garing.
"Oh, ini ... Om kamu? Maaf Om, hampir terbawa emosi, saya kira beneran!" Nico mengambil tangan Roy lalu menciumnya sebagai tanda menghormati Omnya Gabriel.
"Ha-ha-ha, jadi kamu mau bermain dulu? Ok! Aku akan ikuti semua permainan kamu sekarang, setelah pulang sekolah kamu akan mendapat hukuman." Tawa Roy begitu kencang lalu berbisik di telinga Gabriel sembari meremas bokong wanitanya.
"Bodo amat dapat hukuman, yang penting, sekarang bukan waktunya yang tepat," bisik Gabriel yang menginjak kaki Roy dengan kencang.
"Ha-Ha-ha, hanya bercanda? Iya, iya!" Tawa Roy sangat di paksa ketika sang gadis menginjak kakinya dengan sangat kencang.
"Ya sudah, kita masuk dulu ya, Om." Nico menarik tangan Gabriel agar bisa berpindah kedalam rangkulannya.
Melihat wanitanya di gandeng dengan mesra oleh lelaki lain di depan matanya, membuat Roy semakin menarik untuk menikung cewek lain dari cowoknya.
Roy memasang senyum sinis saat dirinya akan melakukan hal yang sama, seperti Altan merebut Ulfa dari gengamannya.
Kemang, sore hari.
"Sayang?" panggil Ammar mencari istrinya.
"Iya?" Aini menghampiri suaminya.
"Sudah siap?" tanya Ammar yang melihat ke arah si kembar.
"Sudah." Aini mendorong kereta bayinya menyusul Ammar dari belakang untuk siap naik kedalam mobil.
Setelah semua sudah naik ke dalam mobil, sopir pribadi Ammar siap menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk memberikan imunisasi pada si kecil.
"Mas?" Tanya Aini saat memberikan asi kepada Khan.
__ADS_1
"Iya?" jawab Ammar sambil fokus ke materi usahanya.
"Si Roy, sakit apa?" Aini heran kepada Roy, karena baru pertama kali asisten suaminya mengambil cuti begitu mendadak.
"Kenapa emangnya?" Ammar cemburu saat sang istri menanyakan kabar tentang asisten pribadinya.
"Ya, kalau beneran sakit parah, apa gak sebaiknya kita jenguk?" tanya Aini saat mengelap mulut sang putra.
"Gak usah, cuman di pukulin doang. Lagian Mas, sudah menyuruh orang lain untuk memantau Roy," ucap Ammar dengan santai.
"Dipukulin? Kok bisa?" Aini mulai penasaran dengan cerita Roy.
"Iya ... dia, di fitnah trus di pukulin sama sekelompok mafia, ternyata mafia itu orang suruhannya Bahrudin, Ayah dari Gabriel. Cewek yang sudah menyelamatkan Roy waktu di Bar." Ammar masih terfokus dengan layar monitor di pangkuannya.
"Di fitnah?" ucap Aini masih bingung.
"Iya, dia di tuduh menghamili Gabriel, padahal yang hamil itu Erika, anak pertama Bahrudin," ucap Ammar mengetahui dari anak buahnya.
"Kok bisa?" Aini terus bertanya kepada suaminya.
"Ih, kamu tuh ... nanya terus! Intinya, Erika ingin mencelakai adiknya dan Gabriel setuju karena dia ingin lepas dari perjodohannya bersama Panji yang sudah punya lima istri." Ammar menutup layar monitornya dan mencubit pipi Aini dengan gemas.
"Ih, sakit tau, Mas!" Aini mengusap pelan pipinya.
"Sudah gak usah di pikirkan, lagian tadi Roy bilang, dia mau membawah Gabriel menjauh dari kehidupan kotor ayahnya dengan menikahinya." Ammar beralih menatap wajah istrinya.
"Mas, setuju?" tanya Aini.
"Ya karena ... Mas juga nyuruh Roy untuk bertanggung jawab." Ammar berterus terang dengan Istrinya.
"Kenapa Roy harus tanggung jawab?" Aini masih penasaran dengan apa yang di maksud oleh suaminya.
"Karena Mas tau bagaimana sikapnya, dia." Ammar mengusap pipi Aini penuh kasih sayang.
"Maksdunya? Bagaimana apanya, Mas?" tanya Aini yang tidak mengerti maksud suaminya.
"Sudah, ini urusan lelaki." Ammar mengusap lembut kepala Aini agar berhenti bertanya.
Sang sopir yang melihat sosok Tuannya yang begitu penyabar menghadapi pertanyaan dari istrinya, begitu salut sekaligus senang melihat keharmonisan rumah tangga Bosnya.
Bersambung...
__ADS_1