Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 146 Ammar vs Aini


__ADS_3

Rasa gugup langsung datang melanda di dalam diri Rey, saat dia dan wanita itu kini berada di dalam satu ruangan tertutup. Rey benar-benar menggerutuhi tingkah bodohnya, sampai mau melakukan hal tersebut. Di dalam hatinya, dia terus beristigfar agar semua bisa terlihat jelas ketika hatinya ingin memastikan sesuatu yang masih terus mengganjal.


"Minumlah." Rara memberikan satu gelas air kepada Rey dengan ketus.


Sekilas Rey melihat ke arah wanita itu, sebelum dia membuang pandangannya lagi ke sembarang arah. Jasmine yang menggunakan identitas bernama Rara, langsung tersenyum sinis ke arah pemuda yang sudah membayarnya.


"Tenang, ini bukan racun kok! Tapi vitamin, obat kuat biar si kecil gak cepat loyo," ledek Rara dengan ketus.


"Beginikah? Sikap kamu melayani semua pria itu?" balas Rey yang menyindir Rara.


"Ya tergantung, siapa orangnya? Dah deh ... jangan basa-basi, buruan diminum jamunya!" Rara menatap ke arah Rey sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maksud kamu apa?" tanya Rey dengan intonasi suara yang sedikit meninggi.


Wanita itu hanya terdiam, dia tidak ingin berdebat dengan pria yang sudah berani membayar mahal kepada mami Lala, kalau sampai Mami Lala tahu. Dia akan dikeluarkan dari pekerjaan berleendir tersebut.


"Maaf ya," ucap Rara dengan lembut.


Rara memberikan satu sendok air minum ke arah Rey, agar mau meminum ramuan miliknya. Rey yang mencium ramuan tersebut langsung memalingkan wajahnya, karena dia tahu obat apa itu.


"Kenapa aku harus minum?" tanya Rey saat wajahnya berpaling.


"Ya harus, karena ... karena—”


Rey melihat ke arah Rara, menunggu jawaban dari bibir Wanita itu, hatinya sungguh tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi. Rey langsung bangun dari duduknya dan segera pergi ke kamar mandi.


Dia melampiaskan rasa aneh yang ada di relung hatinya sembari membuka keran wastafel untuk mendinginkan kepalanya, dalam hatinya terus mengucapkan kalimat istighfar. Begitu dahsyat godaan syaitan saat kedua pasangan yang bukan muhrimnya dalam satu ruangan.


Rey memutuskan untuk mengambil air wudhu, dirinya tidak tahu ketika dibalik selah pintu tersebut, Rara melihatnya dengan takjub. Dia menyadari dengan sangat jelas bahwa pria yang membayar mahal dirinya adalah pria yang dia temui di hotel waktu itu.


Setelah selesai dari arah kamar mandi, Rey melihat Rara yang sudah berada di atas kasur menutupi dirinya dengan selimut dari atas sampai bawah. Perempuan itu juga menggelar kain bersih yang dia rentangkan menghadap kiblat.


Sekilas Rey melihat ke arah Rara yang meneteskan air mata, Rey tersenyum lalu dia berdiri untuk melaksanakan sholat sunah dua rakaat. Usai melaksanakan sholat sunah, dia menyuruh Rara untuk mengambil air wudhu.

__ADS_1


Rara pun mengikuti arahan Rey dia bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunah. Selesai sholat, Rey pun mengajak Rara untuk tadarus bersama.


Rara tidak habis pikir dari mana Rey bisa mendapatkan mukena dan kitab suci dalam waktu dekat, dia pun mulai melantunkan ayat suci ketika Rey sudah membacanya terlebih dahulu dengan merdu.


Rey sangat terkejut mendengar suara lantunan dari wanita yang ada dihadapannya dengan jarak cukup jauh dari posisi dia duduk, dia mengingat ketika dulu dia bersama Aini. Rasa rindu itu kembali muncul ketika dia memikirkan Aini, hatinya Langung mengucap istighfar.


"Ma fi qalbi ghairullah," ucap Rey yang terus berulang dia ucapkan ketika rasa rindu melanda.


Rara pun selesai membaca kitab suci, dia mencium kitab suci itu sembari menangis. Ada rasa bahwa dirinya tidak pantas untuk memegang kita suci tersebut.


"Mau mencoba ta'aruf denganku?" tanya Rey dengan to the point saat melihat Rara alias Jasmine sudah selesai membaca kitabnya.


Sungguh terkejut hati Rara saat pria yang baru dia kenal sudah mengajaknya untuk ta'aruf, ada sedikit senang di hati Rara. Namun, ada juga rasa ketakutan di hatinya, entah apa yang harus dia pilih antara mau menerima ajakan seorang pemuda itu atau tidak.


***


Kemang, Jakarta.


Setelah pulang dari kota xx, Ammar memilih untuk libur sehari, menghabiskan waktu bersama sang istri dan anak-anaknya, saat ini mereka tengah menikmati matahari pagi bersama keluarga di halaman belakang rumah dekat pinggir kolam renang.


"Mas, Aini gak suka! Mas ... Aku bakalan marah sama kamu." Aini terus menghindar dari suaminya.


"Kenapa marah? Ini cuma balon," ucap Ammar yang tertawa mengejar sang istri.


Suara tawa Ammar begitu jelas di telinga Aini, hatinya begitu senang mengerjai sang istri yang terus menghindar sembari memohon seperti anak kecil.


"Mas, kalau kamu sekali lagi mendekat, gak akan aku kasih jatah!" teriak Aini yang mengancam Ammar.


"Gak bakal minta jatah, kalau sekarang mah," jawab Ammar yang tertawa mengingat sang istri lagi halangan.


Aini pun mengeluarkan jurus bela dirinya untuk menghindar dari sang suami, dia melihat satu ekor kecoa yang berada di pinggir kolam, dia berniat mengambil kecoa tersebut, tapi Ammar sudah menebak gerakan Aini.


Satu langkah kaki Aini yang ingin maju, Ammar membalasnya dengan menginjak kaki sang Istri agar menjauh, tapi dengan sigap Aini menghindar dari serangan Ammar lalu berlalu mengambil kecoa itu dengan berhasil.

__ADS_1


"Aaah, Shiit!" umpat Ammar dengan pelan tapi masih terdengar oleh Aini.


"Eh, ngomong apa tadi?" Aini langsung memicingkan sudut matanya.


"Astagfirullah ... keceplosan, Yank." Ammar langsung berlari menjauh dari Aini saat sang istri memegang kumis kecoa.


Aini terus mengejar sang suami sembari tertawa, Ammar yang tidak bisa terus menghindar dari Aini, langsung membalikan tubuhnya dan melayangkan tendangan pada kecoa tersebut. Namun Aini yang sudah membaca gerakan kaki suaminya langsung mengubah posisinya seperti gerakan kayang.


Aini pun bangun kembali saat Ammar menjauh, di mencoba untuk mengeluarkan jurus tendangannya ketika Ammar ingin mengambil balon yang berada di bawah, sehingga Ammar tidak bisa meraih balon tersebut.


"Ups, kasian ... balonnya terbang," ucap Aini tertawa dan menjulurkan kecoa di atas wajah Ammar.


Tidak terima dirinya diledek oleh sang istri, terpaksa Ammar juga mengeluarkan jurus bela dirinya untuk membuang kecoa dari tangan Aini.


Tendangan, pukulan yang Ammar berikan tidak ragu-ragu, dia mengeluarkan segala jurus untuk menaklukan sang istri, tapi Aini sungguh pintar dalam bela diri terutama pancak silatnya.


Pertarungan suami-istri tersebut semakin seru, saat di antara mereka tidak mau mengalah, Aini yang masih terus mempertahankan kecoa, sedangkan Ammar berusaha untuk menyingkirkan kecoa dari tangan sang istri.


Ketika Aini ingin menghindar dari tendangan Ammar, kakinya tidak sengaja terpeleset dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Kecoa pun ikut terpental saat dia menarik baju Ammar agar tidak terjatuh ke dalam kolam.


Ammar yang ikut terseret bersama sang istri, langsung memeluk Aini dalam dekapannya dengan posisi Ammar yang berada di bawah. Mereka pun berdua terjebur ke dalam kolam bersamaan.


Suara dentuman air yang begitu keras, membuat kedua bayi Aini tertawa dengan suara yang nyaring untuk pertama kalinya. Sepasang suami istri tersebut langsung mengambil napasnya masing-masing ketika kepala mereka sudah timbul dari dalam air, telinga mereka mendengar suara tawa dari dalam kereta bayi membuat Ammar dan Aini ikut tertawa.


Ammar langsung memeluk sang istri dalam dekapannya dan mengecup kening Aini, hingga ciuman di dalam kolam renang tidak dapat dihindari oleh mereka.


"I love you," ucap Ammar saat hidung mereka saling menempel satu sama lain.


"I love you too," jawab Aini dengan senyuman.


Ammar begitu mengagumi sosok istrinya yang begitu pandai dalam bela diri, dia memeluk istrinya dan menuntunnya untuk keluar dari kolam renang itu.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Di depan ada tamu yang mencari Tuan, katanya sih dari lembaga baby sister," ucap Bik Sumi.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Bik. Suruh tunggu di luar!" pinta Ammar yang memberikan handuk kepada istrinya.


Bersambung...


__ADS_2