Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 163. Jenguk Naura


__ADS_3

"Permisi, Sus. Pasien anak dengan nama Naura, di kamar nomor berapa ya?" Aini yang baru saja tiba di rumah sakit langsung bertanya pada bagian informasi.


"Sebentar ya," ucap perawat yang mencari data pada buku tebal di atas mejanya. "Naura ada di kamar nomor enam."


"Oh, begitu. Makasih ya, Sus!" Aini langsung pergi menuju kamar yang sudah disebut oleh suster itu.


Langkah Aini kian mendekat ketika hampir sampai di kamar nomor enam, tetapi tiba-tiba tubuhnya ditabrak dari belakang oleh seorang pria yang memakai pakaian serba hitam.


"Astagfirullahallazim!" Aini terkejut hingga buah dan boneka yang dia bawa untuk Naura terjatuh ke lantai.


Pria itu membantu Aini mengambil boneka dan buah yang berserakan di lantai sebagai tanda permintaan maaf karena tidak sengaja menabraknya, dia melihat wajah Aini sekilas lalu menutup wajahnya sendiri dengan topi ketika Aini membalas tatapannya.


"Lain kali itu jangan terburu-buru Mas, kan masih lega koridornya! Bukan gang sempit!" ujar Aini yang mengambil buah dari tangan pria itu.


Pria tersebut hanya mengangguk sebagai tanda permintaan maaf, kemudian berdiri seraya meninggalkan Aini yang masih melempar tatapan kesal.


"Dasar orang aneh!" Aini kembali menghadap pintu kamar enam, dia maju satu langkah untuk melihat isi dari dalam kamar rawat tersebut yang ternyata sudah ada Bunda Ismi dan Rahman.


"Bismillah!" Aini langsung membuka pintu itu kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. "Assalamualaikum?"


"Waalaikumussalam!" jawab Ismi dan juga Rahman.


Aini mencium tangan dan pipi Ismi secara bergantian, kemudian melihat Rahman yang sedang tersenyum ke arahnya. Langkahnya mendekat ke arah malaikat cantik tak berdosa sendang tertidur pulas dengan selang infus yang melekat di tangannya.


"Assalamualaikum, cantik!" Aini tersenyum ke arah Naura saat dia mencium kening mungil itu usai menaruh boneka dan juga buah.


"Terima kasih, ya! Kamu sudah mau datang," ucap Ismi yang mengelus tangan Aini ketika wanita bercadar itu duduk di sampingnya.


"Iya, Bun! Tapi Aini nggak bisa lama-lama, soalnya ada clien penting yang harus Aini temui!" Aini melihat ke arah Naura yang masih tertidur.


"Ya, ampun Aini ... jarak dari rumah sakit ini ke kantor kan jauh? Toh juga ada Nabila, kenapa mesti kamu? Kan, ada seorang asisten?" ucap Ismi.


"Bun, Mbak Nabila itu sedang ada acara lamaran, jadi dia izin cuti dua hari!" Aini mengusap bahu Ismi dengan lembut.

__ADS_1


"Ya ampun, baru juga mulai kerja, sudah ambil cuti aja, apalagi setelah menikah? Ya sudah, gini aja. Kamu nginep malam ini di sini, biar Rahman yang bertemu dengan clien kamu itu! Kasian Naura, Aini!" pinta Ismi yang memberi saran.


"Nginep? Pak Rahman mau bertemu Clien? Aduh ... bagaimana ya?" ucap Aini dalam hati, dia semakin bingung dengan permintaan Ismi.


Lama Aini termenung untuk menentukan pilihannya, Ismi sudah lebih dulu menyadarkan Aini untuk menjawabnya.


"Bagaimana, Aini? Mau kan?" tanya Ismi.


"Kayanya, tidak bisa deh Bun. Soalnya ini Clien penting Mas Ammar dulu, dia sudah berjasa pada perusahan Mas Ammar, jadi mau tidak mau Aini harus menemuinya." Aini menatap mata Ismi agar perempuan paru baya itu mau mengerti keadaannya.


"Kalau begitu, biar nanti saya antar untuk bertemu dengan Clien kamu!" sela Rahman pada Aini yang menawarkan dirinya.


Aini hanya terdiam saat Rahman menawarkan bantuan, dia ingin menolak tetapi bila dia menolak pasti Ismi akan terus memaksanya menerima tawaran dari Rahman. Dia melihat Ismi menganggukkan kepalanya sebagai bentuk untuk menyuruhnya menurut apa yang dikatakan oleh Rahman.


Di saat itu pula, Naura terbangun dari tidurnya, gadis kecil itu langsung menangis seraya memanggil bunda, tetapi yang dia panggil bunda adalah Aini.


"Bunda ... Ayah, Naura mau Bunda Aini!" Naura menangis saat matanya masih terpejam, gadis itu menangis sembari memeluk Rahman.


"Nggak mau, Naura maunya sama bunda Aini!" tolak Naura dengan suara tangisan yang cukup tinggi.


"Naura, coba kamu lihat dulu ... siapa itu yang datang? Itu Bunda, Nak!" ujar Rahman yang meyakinkan Naura.


Naura pun melihat ke arah Aini dengan raut wajah yang senduh, kelopak matanya yang membengkak akibat terlalu banyak menangis membuat dia kesulitan untuk melihat jelas.


Aini pun mendekat ke arah Naura, dia mengulurkan tangan seraya tersenyum. Akan tetapi, bola matanya ikut menangis melihat gadis kecil yang belum mengerti apa-apa terlihat menyedihkan.


"Ini Bunda Aini, Naura. Peluk Bunda, Nak?" Aini mengulurkan tangannya lalu mengambil tubuh kecil itu agar berada di dalam dekapannya dari pelukan Rahman.


"Bunda?" ucap Naura dengan lirih yang masih terisak oleh air mata.


"Apa Sayang? Anak Ayah Rahman nggak boleh nangis, liat nih, Bunda Aini bawa apa untuk Naura? Tada!" Aini menunjukan boneka pada Naura dengan ukuran boneka yang cukup besar.


Naura melihat bonekanya lantas tersenyum senang, dia pun memeluk boneka itu sembari memeluk Aini. "Terima kasih, Bunda!"

__ADS_1


Wajah Aini tiada henti-hentinya diciumi oleh anak gadis itu, kini tubuhnya pun tidak lepas sedetik pun. Ya, Aini begitu lemah terhadap anak kecil, dia sama sekali tidak bisa menolak bila sudah dekat dengan Naura, bahkan saat Naura menyuruhnya untuk menginap, Aini pun memberikan jawaban menyanggupi di atas keraguan.


"Permisi, untuk Naura?" Perawat itu masuk ke dalam kamar Naura dan juga menaruh makan siangnya.


"Terima kasih, Sus!" ucap Aini.


"Sama-sama, dihabiskan ya ... dan ini obatnya, jangan lupa diminum! Cepat sembuh ya, cantik!" ucap perawat itu yang kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Rahman mengambil mangkuk berisi bubur yang sudah disediakan dari rumah sakit, kemudian duduk di depan Aini yang sedang memangku Naura.


"Makan dulu, ya Sayang!" Rahman pun mengulurkan sendok seperti pesawat terbang. "Ngguiing ... aaaa!"


Naura tetap tidak mau membuka mulutnya, dia masih membekap mulutnya dengan rapat. Membuat Aini yang beralih menyuapi Naura dan saat itu juga Naura membuka mulutnya.


"Aaaaa ... pintar," ucap Aini.


Naura pun tersenyum, kemudian dia meminta lagi, sampai mangkuk yang dipegang oleh Rahman hampir separuhnya abis.


"Udah, Bunda!" pinta Naura yang menutup mulutnya seraya menggelengkan kepalanya.


Aini pun menaruh sendok ke dalam mangkuk dan mengajak Naura untuk membaca doa setelah habis makan, kemudian membacakan buku cerita yang sudah disiapkan oleh Rahman.


Aini begitu telaten saat membacakan dongen cerita anak-anak, sampai Naura tertawa mendengar Aini bercerita dengan ekspresi tubuh. Ismi yang melihatnya ikut tertawa, hatinya lega ketika cucu pertamanya bisa kembali ceria.


Sementara Rahman ikut masuk ke dalam cerita sebagai seekor macan yang siap memburu anak kelinci yang sedang bermain. Rahman pun meragakan seekor macan dengan aungan saat menangkap kecil putih itu yang diperani oleh Naura.


Naura tertawa ketika dirinya tertangkap oleh seekor macan, karena Rahman tidak hanya menangkap Naura, melainkan menggelitik pinggang anaknya.


"Aaaa ... ampun, Ayah! Ampun, Ayah!" pinta Naura yang tertawa.


Sekilas mereka bertiga bagaikan sebuah keluarga yang bahagia, tetapi di balik candaan mereka ada sepasang mata yang melihatnya. Dia pun memotret kebahagiaan ketiga orang yang sedang tertawa bersama melalui ponselnya lalu dia kirim ke nomor seseorang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2