
"Pesawat Boeing 12345, telah ditemukan di barat daya laut selatan. Di mana posisi pesawat saat ini berada di ke dalaman yang cukup dalam, sehingga sulit untuk melakukan eksekusi black box pada badan pesawat. Sementara itu, data jumlah korban yang ikut dalam penerbangan pesawat—”
Aini langsung mematikan saluran televisinya sebelum dia mendengar semua berita yang sedang hangatnya diperbincangkan, Air matanya menetes bersamaan dengan Ainun—ibunda Ammar.
Meski Aini telah mencoba menguatkan hatinya agar tidak ambruk dan tegar menerima kenyataan, tetapi tetap saja air mata dan jiwanya rapuh bagaikan kapas yang terkena air. Begitu cepatnya tenggelam dalam kepedihan.
Sudah tiga hari berlalu setelah pihak bandara menyatakan bahwa seluruh penumpang dinyatakan meninggal dunia ketika melihat bagaimana kondisi badan pesawat yang hancur berkeping-keping. Dari pihak maskapai sendiri pun merahasiakan ke publik bagaimana penyebab kecelakaan itu terjadi.
Kini Aini harus tegar dan kuat demi kedua anaknya, tepat hari ini Aini tengah menyiapkan pengajian untuk sang suami tercinta yang sudah berjalan seminggu.
Seluruh keluarga besar Aini dan Ammar pun ikut membantu acara pengajian tersebut yang digabung oleh keluarga Roy, Aini akan mengambil tanggung jawab sebagai bentuk rasa empatik pada Gabriel yang tengah mengandung di usia muda.
Aini yang akan bertanggung jawab atas kelahiran anak yang di kandung Grabriel, membiayai sampai anak itu sekolah di perguruan tinggi, karena biar bagaimanapun Roy telah berjasa ikut membangun perusahaan sang suami.
"Bun, semuanya sudah kebagain?" tanya Aini dengan muka sembab ketika acara tahlilan sudah selesai.
"Ya sudah, Nak! Ini ada tambahan untuk Pak Ustadz!" Bunda Ismi bergegas keluar dari dalam dan menyerahkan bingkisan berisi makanan dan amplop untuk Ustadz.
"Biar Aini saja Bun, yang antar. Sekalian Aini ingin mengucapkan terima kasih." Aini mengambil bingkisan makanan dan menghampiri Ustadz yang masih bicara dengan Rahman di depan teras rumah dan ingin pergi setelah acara selesai.
"Ustad, tunggu dulu! Ini ada sedikit tambahan rezeki untuk Ustadz!" Aini memberikan bingkisan pada Ustadz di depan Rahman.
"Terima kasih, Bu Aini," ucap sang ustadz.
"Sama-sama, Pak Ustadz. Justru saya yang bilang terima kasih karena Ustad sudah meluangkan waktu untuk ikut mendoakan suami saya!" Sungguh sakit saat Aini ingin menyebut suaminya almarhum.
__ADS_1
"Sama-sama, Bu. Semoga Bu Aini berserta keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran," sahut Pak Ustadz yang hanya mendapat anggukan dari Aini. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu, Pak Rahman, Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam," jawab Aini dan Rahman yang serempak.
Tanpa menunggu lama, Aini memilih masuk begitu saja tanpa melihat ke arah Rahma yang memperhatikannya. Ya, Aini dan Rahman tidak bicara sama sekali semenjak Ammar dinyatakan ikut menjadi korban kecelakaan pesawat.
Sebisa mungkin Rahman menjaga jarak dengan Aini, meski hatinya senang karena begitu dia mempunyai kesempatan untuk memiliki Aini. Kendati demikian, dia harus bersabar dan menunggu waktu yang pas untuk dia utarakan niatnya meminang Aini pada Robert melalui Ismi.
"A, bisa tolong Aini ambilkan pampesr si kembar di belakang Aa?" Aini menujuk lemari besar yang berada di belakang Reyzal saat berada di ruang televisi karena di ruang tamu para maid masih sibuk membersihkan piring-piring selepas Tahlilan.
"Biar saya," ucap Rahman yang melihat Reyzal sedang sibuk mengupas kulit jeruk untuk Khanza.
Aini hanya terdiam dan mengambil minyak kayu putih, baru saja Aini ingin mengambil popok bayi dari tangan Rahman, pria yang berstatus duda anak satu itu langsung mengambil Khan dari hadapan Aini.
"Kamu di panggil sama Ayah, biar aku yang menggantikan popok Khan!" ujar Rahman yang datar.
Rahman pun menggantikan popok dengan telaten di depan Reyzal dan Jasmine, dia melihat bagaimana Rahman mempunyai arti dalam menatap Aini.
"A, sorry sebelumnya, Lo nggak main curang kan?" ucap Reyzal to the poin pada sepupunya yang lebih tua.
"Ck! lo, nuduh gua penyebab kematian Ammar?" Rahman tersenyum lalu menggendong Khan usai selesai memakaikan popok.
"Ya kalau Lo merasa gua nuduh Lo, ya maap! Berati bener dong?" pancing Reyzal yang mendapat teguran dari Jasmine.
"Serah, Lo mau bilang gua main curang atau nggak yang jelas setelah masa ida-nya selesai gua yang lebih dulu taken dia!" Rahman langsung berdiri membawa Khansa.
__ADS_1
"Ck! Yakin? Gua rasa nggak bakalan terjadi sampai kapanpun!" ledek Reyzal yang sebenernya kesal dengan Rahman.
Rahman pun kembali menghampiri Reyzal yang tengah duduk di sofa. "Kenapa? Lo mau jadiin Aini istri ke dua Lo? Atau nyesel udah nikahin Jasmine dan ingin kembali dengan Aini?" balas Rahman yang melirik ke arah Jasmine yang memangku Khansa.
Reyzal pun langsung bangun dari duduknya dan mencengkram kuat kerah baju Rahman saat Khan masih dalam pelukan Pria itu. "Jaga ucapan Lo!"
"Reyzal! Rahman! Apa-apaan kalian ini? Bikin malu saja!" Ismi mengambil Khan dari gendongan Rahman dan menyuruh mereka berhenti bertengkar.
Rahman lebih memilih untuk segera pamit pulang dari sana dan mengajak putrinya ikut bersamanya. Namun, Naura tidak mau pulang dan ingin tidur bersama Aini.
"Naura mau tinggal sama Bunda Aini, Ayah! Mau bobo sama Bunda dan Ayah!" Tangisan Naura begitu memilukan bagi seorang anak yang merindukan kasih sayang dari ibunya di telinga siapapun yang mendengarnya.
"Naura, Bunda Aini cape, perlu istirahat yang cukup kalau Naura bobo sama Bunda, yang ada bunda nggak bisa bobo nyenyak karena Naura kan sering nangis kalau malam," ujar Rahman dengan lembut yang berjongkok sesuai dengan tinggi putrinya.
"Tapi, Naura mau bobo sama Bunda Aini, Ayah ... Naura janji nggak bakal nangis, Naura janji bakalan jadi anak yang nurut sama Bunda, nggak nakal!" Naura menangis meminta pada sang Ayah lalu berlari ke arah Aini yang tidak jauh dari mereka.
"Bunda, Naura kangen sama Bunda, Naura mau bobo sama Bunda! Naura janji, Naura akan jadi anak yang penurut, gak nakal, dan bakal jadi kakak yang baik buat Khan dan Khansa," ucap Naura yang memelas sembari memeluk Aini. Air matanya pun semakin dekat deras ketika Rahman mulai menariknya yang memeluk Aini.
"Nggak mau, Ayah! Nggak mau! Naura masih mau sama bunda, Ayah! Bunda!" teriak Naura yang memberontak dalam gendongan Rahman.
Aini yang tidak tega melihat Naura seperti itu, langsung mendekati dan berdiri di hadapan Rahman seraya berkata, "Biar Naura tidur sama saya!"
Aini langsung mengambil Naura dari pelukan Rahman yang masih mematung mendengar ucapan Aini, dia melihat putrinya langsung terdiam dalam pelukan Aini saat menjauh dari dirinya.
Sementara itu, semua orang yang menyaksikannya hanya bisa terdiam, mereka semua pun tahu bila Rahman mengincar Aini. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat semua terjadi begitu saja.
__ADS_1
Bersambung...