
"Yah, Ammar minta maaf, sudah membuat Ayah kecewa sama Ammar. Ammar sangat mencintai Aini, Yah," ucap Ammar menjelasakan.
"Bagaimana bisa kamu mencintai anak saya, sedangkan kamu menikah lagi dengan wanita lain?" ucap Robbet ketus.
"Itu di luar kemauan Ammar Yah, Ammar sama sekali tidak ada niat untuk menikah lagi selain dengan Aini," ucap Ammar menjelasakan dengan sejujur jujurnya.
"Ceih!" tawa sinis Robbet
"Yah! demi Tuhan Ammar tidak berbohong!"
"Bagaimana dengan wanita itu?" Robbet melipat kedua tangan didada nya.
"Ammar tidak mencintainya Yah, Ammar hanya menganggap dia sebagai adik Ammar, gak Lebih," ucap Ammar yang penuh penekannan dengan kata Adik.
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu menikahinya? Apakah karena perusahaannya yang ingin kamu ambil?"
"Astagfirullah, gak Yah! Ammar menikahinya karena ingin membantu nya Yah." Ammar menjelaskan dengan ekspresi serius.
"Apa kamu sudah menyentuhnya?" Robbet masih duduk manis walaupun raut wajah dengan ekspresi yang menyeramkan dan sorot mata yang tajam.
Pertanyaan Robbet tidak bisa Ammar jawab dengan cepat, Ammar memang sudah menyentuhnya. Tapi, Ammar tidak menyentuh Nabila dalam arti menjalankan hak nya sebagai suami.
"Jauhi anak saya!" hanya tiga kata yang terucap oleh Robbet yang langsung berdiri meninggalkan Ammar, saat Ammar tidak memberi jawaban atas pertanyaan Robbet.
Deg.
Denyut jantungnya begitu sakit saat mendengar ucapan Robbet untuk menjauh dari Aini.
"Yah, Yah! Tunggu Yah, Ammar belum menyentuhnya Yah, Ammar sangat menghargai Aini!" Ammar berdiri dan mengejar Robbet agar tidak keluar dari ruangannya.
"Ck! Kamu sudah mengecewakan saya Ammar! Lebih baik kamu ceraikan anak saya setelah cucu saya lahir! Baru kamu bebas menikahi putri siapa saja, asal jangan dengan anak saya! Karena saya tidak Ridho bila kamu menyakiti anak saya! " Robbet yang sudah sangat kecewa dengan sikap Ammar ke Aini.
Selama empat bulan sebelum acara Tasyakuran. Robbet memantau Ammar lewat anak buahnya dan ternyata hasil yang Robbet dapat adalah kekecewaan terhadap menantunya yang lebih mementingkan Nabila dari pada Aini yang sedang mengandung anaknya.
"Astagfirullah, Ayah! Sampai kapapun Ammar tidak akan menceraikan Aini! Aini istri Ammar! Ammar bisa menuntut ayah karena sudah membawa istri Ammar, karena Ammar berhak atas Aini Yah!"
"Kamu mengancam saya? Menuduh saya membawa Aini? Bukannya Aini sendiri yang sudah tidak mau bersama kamu?" Robbet memasang mimik yang menyindir Ammar.
"Oke, Ammar sudah mengaku salah Yah, ayah boleh mengambil apapun dari Ammar, Asal jangan Aini Yah, Ammar sayang sama anak ayah, izinkan Ammar membuktikannya sekali lagi Yah."
"Baik, saya akan memberi kamu kesempatan untuk membuktikannya, tapi setelah kamu sudah tidak mempunyai sangkut pautnya dengan wanita itu!" Robbet yang memberi harapan untuk Ammar, lalu melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Ammar yang masih mematung karena mendengar ucapan Robbet.
Ammar berjalan ke kursi lalu duduk sambil memegang keningnya yang begitu pusing, karena Ammar harus bicara apa terhadap Gunawan Papih mertuanya yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Selama bekerja Ammar sangat sulit untuk bekonsentrasi, memikirkan perkataan Robbet. Ammar senang karena Robbet memberikan kesempatan terhadapnya. Namun, disisi lain Ammar harus berhadapan dengan Papi mertuanya yang memiliki riwayat penyakit jantung.
"Bos! Bos! " Roy berlari masuk keruangan Ammar.
"Bisa tidak toak kamu di kecilin, Roy!" kesal Ammar karena mendengar Roy berterik teriak memanggilnya.
"Maaf, Bos. Emergency!" Roy berdiri di hadapan meja kerja Ammar.
__ADS_1
"Aini sudah ketemu? Dimana?" Ammar yang mendengar ucapan Roy langsung berdiri mengambil kunci mobilnya.
"Maaf, Bos. Bukan Nyonyah Aini, tapi istri Bos yang satunya lagi," ucap Roy yang menjelaskan dengan takut.
"Kenapa dengan Nabila?" Ammar kembali duduk setelah mendengar bukan Aini.
"Nyonya Nabila ingin melakukan percobaan bunuh diri Bos!"
"Apa?! Di mana sekarang?" Ammar terkejut.
"Di rumah Pak Gunawan Bos, seluruh asisten rumah tangganya sedang berusaha untuk menenangkan Nyonya Nabila bos."
"Di rumah Papih? Apa Pak Gunawan tahu soal ini?" tanya Ammar yang bergegas keluar dari ruangannya.
"Untungnya Pak Gunawan sedang berada di luar rumah untuk menghadiri acara pertemuan temannya bos." Roy yang mengikuti langkah Ammar.
"Cepat siapkan mobil!" ucap Ammar
"Baik. Bos!" Roy bergegas menyiapkan mobil.
Ammar langsung menyuruh Roy untuk mempercepat laju mobil hingga sampai di rumah Gunawan.
Setelah sampai di depan rumah Gunawan. Ammar turun dari mobil nya di sambut oleh salah satu asisten rumah tangga Gunawan dengan wajah panik dan menangis.
"Tuan, tolong Nyonyah Tuan ... Nyonya dari kemarin selalu mau mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri!" lapor si Bibik ke Ammar yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Di mana dia sekarang Bik?" Ammar mendengar semua ucapan bibik.
Ammar langsung menuju atas menaiki tangga sambil berlari, karena pintu Nabila terbuka Ammar bisa mendengar teriak Nabila.
"Lepasin! Aku gak peduli, Aku benci sama semua!" Nabila yang sudah memegang sebuah pisau buah yang di tahan oleh supir pribadi Nabila.
"ASTAGFIRULLAH, NABILA!" teriak Ammar yang melihat Nabila berusaha mengarahkan pisaunya ke lehernya.
Sopir pribadi Nabila perlahan melepaskan tangan Nabila, saat melihat majikannya sudah mulai terdiam saat Ammar datang.
"Mau apa kamu kesini? Hah!" Nabila yang sudah tidak karuan.
"Nabila, istigfar! Apa yang kamu lakukan ini dosa besar! Abang rasa kamu tahu itu!" Ammar perlahan melangkah mendekat ke arah Nabila.
"Dosa? Heh! Terus apa bedanya dengan Abang yang memperlakukan Nabila seperti ini, hah?! Apa bedanya?" Nabila mengarahkan pisau kearah depan.
"Nabila, kita bicara baik-baik, jangan seperti anak kecil. Nabila!" Ammar maju satuh langkah secara perlahan.
"Diam di situ, dan jangan mendekat!" ancam Nabila yang mengarahkan pisau ke lehernya.
"Oke, Abang gak akan mendekat! Tapi, jauhkan pisaunya!" perintah Ammar.
"Gak! Nabila benci sama Abang! Nabila sudah bersabar selama ini menunggu Abang untuk cinta sama Nabila. Tapi Abang, Abang dengan mudahnya memberi cinta Abang untuk orang yang baru Abang kenal! Dari pada Abang tidak memilih Nabila, lebih baik Nabila pergi dari dunia ini Bang! " Nabila yang memegang pisau dengan kedua tanganya yang siap menancapkan pisaunya ke perut Nabila.
"Nabila!" teriak Ammar yang berlari ke arah Nabila dengan cepat sehingga pisau itu tidak mengenai perut Nabila.
__ADS_1
Prangg!
Suara pisau terjatuh yang di lempar oleh Ammar ke lantai, para Maid pun keluar dari kamar Nabila saat Ammar memerintakan keluar dan membawa pisaunya.
Ammar langsung memeluk Nabila setelah berhasil menjauhkan pisau dari gengaman Nabila, sedangkan Nabila menangis histeris dalam pelukan Ammar.
"Abang jahat, Nabila benci sama Abang, biarin Nabila mati kalau Abang masih tidak cinta sama Nabila," ucap Nabila yang mengancam Ammar.
"Lepasin!"
"Astagfirullah, istigfar Nabila. Istigfar!" Ammar terus mempererat pelukannya.
"Jangan pergi bang dari Nabila, Nabila sakit bila harus bersabar lebih lama lagi untuk bisa rela membagi Abang dengan Aini!" ucap Nabila yang menangis di pelukan Ammar.
"Maaf Nabila, Abang harus jujur. Abang sudah berusaha untuk membagi cinta Abang untuk Nabila. Tapi, tetap hati Abang sayang sama Nabila hanya sebagai adik gak lebih." Ammar terus mengelus kepala Nabila dalam dekapannya.
"Abang jahat, kalau Nabila gak bisa mendapat hati abang. lebih baik Nabila mati. Biar Abang puas melihat Nabila tidak ada." Nabila mendorong Ammar dengan kuat dan memecahkan kaca lalu mengoresakan ke urat nadi di tangannya.
Tes.
Darah langsung menetes kelantai, Ammar yang terjatuh dari dorongan Nabila langsung bangun dan berlari menangkap tubuh Nabila yang perlahan jatuh.
"Astagfirullah, Nabila!" teriak Ammar yang sangat kesal dengan sikap Nabila.
"Nabila buka mata kamu Nabila!" Ammar menggemam pergelangan tangan Nabila dengan kencang agar darah bisa berhenti keluar.
Ammar merobek sedikit kain dan mengikat pergelangan tangan Nabila dengan kuat, lalu Ammar menggendongnya keluar dan memasukaknya kedalam mobil.
Para maid yang melihat Nyonyah dan Tuannya berlumuran darah di bajunya merasa panik dan bingung.
"Roy buka pintu mobil, buruan!" Ammar yang tidak kuat menahan Nabila.
"Bik, bilang ke semua para Maid agar tidak ada yang bilang soal kejadian ini kepada Papih!" perintah Ammar agar mertuanya tidak mengetahui soal Nabila.
"Sekalian bersihkan darah yang ada di setiap lantai dan kamar Nabila!" Ammaryang memerintahkan ke pada kepala Maid.
Para Maid pun mengangguk sebagai tanda mengerti perintah Tuannya. Ammar langsung masuk kedalam mobil dan menyuruh Roy untuk mempercepat laju mobil.
Bersambung....
Hallo semua, terimakasih sudah membaca karya Authorr yang masih belum sempurna ini, Author minta maaf kalau cerita masih kurang greget, Author akan usaha semaksimal mungkin untuk membuat para readers suka.
Mohon dukungannya ya,
Like, komen, hadiah dan vote... yang ada di bawah ini...
terimakasih bagi yang sudah membaca karya author dengan like, komen positif, hadiah dan vote dengan ikhlas mendungkung karya author... semoga apa yang kalian berikan rezeki ke author allah akan melipat gandakan rezeki kalian . Aamiin
Sambil menunggu Aini Up yuk mampir di cerita karya temen author satu ini.. di jamin ceritanya tidak jalan di tempat!
__ADS_1