
Jakarta,
Ammar yang sudah tidak tau harus mencari istrinya kemana lagi, setelah mendapatkan kabar dari Ibunya bahwa Aini menghilang saat berada di dalam kamarnya. Ammar langsung menghubungi pasukan Naga Putih meminta bantuan untuk mencari istrinya.
Ammar memeriksa rekaman CCTV namun hasilnya nihil, Ammar dan pasukan Naga Putih mencari di kediaman keluarga Ghozali terutama Rey. Namun hasilnya tetap nihil.
Robbet, pasti dia yang sudah membawa Aini pergi, batin Ammar yang merasa mertuanya lah dalang penculikan istrinya. Ammar segera pergi ke kediaman Robbet di Pondok Indah, bersama pasukan Naga putih di daerah Jakarta Selatan. Namun lagi lagi, Ammar tidak menemukan istrinya yang bernama Aini serta mertua dan juga nenek mertuanya.
"Gimana?"
"Maaf bos, tidak ada" ucap anak buah Ammar.
"Astagfirullah, aaakkkggghhh! " teriak Ammar memukul kaca rias dihadapannya yang ada di kamar Aini di rumah Pondok Indah.
Pranngggg!
Kaca berserakan dimana mana dan sebagian serpihan kaca mengenai tangan Ammar, darah segarpun keluar di sela sela jari Ammar.
"Keluar!" perintah Ammar ke anak buahnya.
Ammar duduk di tepi tempat tidur Aini yang berukuran king size, Ammar melihat sekeliling kamar istrinya dulu yang masih tertata rapih dan bersih.
Sepi, itu yang Ammar rasakan. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur milik istrinya, ada aroma wangi ciri khas dari Aini. Ammar memeluk bantal guling yang pernah Aini pakai dan Aini peluk. Ammar menangis merindukan istri pertamanya yang sedang mengandung anaknya. Tanpa memperdulikan rasa sakit di tangannya yang mengeluarkan darah segar.
"Maaf, Maafkan mas Aini. Mas mohon pulang lah sayang! Mas gak akan bisa hidup tanpa kamu dan calon anak anak kita." Ammar terus mempererat pelukan di bantal guling milik Aini.
Tanpa sadar Ammar sudah tertidur di tempat tidur Aini. Galih yang baru saja datang karena mendapat kabar dari pasukannya, menghampiri Ammar dan mengobati luka di tangan Ammar.
Para pelayan yang di tugaskan menjaga dan merawat rumah Tuan nya yang bernama Robbet hanya tutup mulut melihat suami dari anak Tuannya datang dan mencari keberadaan Aini.
"Biarkan dia menginap disini, bilang sama Tuan kamu untuk menemui saya secepat mungkin," ucap Galih ke pada maid yang berada di rumah Robbet. tapi hanya anggukan yang di dapat.
Galih menyuruh anak buahnya sebagian untuk tetap berada di rumah Robbet dengan tujuan menjaga Ammar.
_______
Flasback On
Mobil Ammar terpakir sempurna di halaman rumahnya, Kemang. Jakarta Selatan. Ammar langsung menaiki tangga dan mencari keberadaan Nabila.
"Abang!" Nabila langsung memeluk Ammar ketika Ammar membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" Ammar melepaskan pelukan Nabila.
"Nabila takut bang, sejak tadi siang, Nabila mendapat teror dari orang yang tidak di kenal bang." Nabila menjelaskannya sambil menangis.
"Di teror? Di teror bagaimana maksudnya?" ucap Ammar.
"Itu, ada orang yang mengirim Nabila sebuah paket, ternyata isi di dalam kotak ada ayam mati dan sebuah borgol."
"Dimana kotak itu sekarang?" Ammar memegang bahu Nabila.
"Udah Nabila buang ke tempat sampah luar di samping rumah." Nabila yang memeluk erat Ammat.
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang ya. Ada abang disini."
"Abang jangan tinggalin Nabila lagi ya, Nabila takut," ucap Nabila masih menangis di pelukan Ammar.
"Abang mau liat kotak itu dulu, sebagai tanda bukti." Ammar yang melepaskan pelukan Nabila.
"Nabila ikut." manja Nabila ke Ammar.
Ammar keluar mencari kotak yang sudah meneror istri ke duanya itu. Ammar mengambil lalu melihat isi kotak tersebut terdapat bangkai ayam bersamaan borgol.
"Apa maksudnya ini? " Ammar bicara sendiri dan langsung menghubungi polisi.
Polisi pun datang saat menerima panggilan dari pelapor bahwa ada yang meneror di kediaman rumahnya.
Nabila menjelaskan secara detail bagaimana dirinya mendapat sebuah paket dari orang yang tidak di kenalnya, mendengar penuturan dari Nabila. Polisi meminta hasil rekaman CCTV yang ada di rumah Ammar dan CCTV di daerah perumahan tersebut.
Polisi pun akhirnya mengintrogasi satpam yang menjaga di rumah Ammar dan juga satpam yang menjaga di area kompleks perumahan tersebut. Malam semakin larut polisi sudah mengantongi beberapa bukti untuk di selidiki lebih lanjut.
"Terimakasih atas kerja samanya, kami akan memproses laporan anda dan akan kami bawa barang bukti untuk kami selidiki lebih lanjut. Mohon tetap waspada dan segera hubungi kami." Polisi akhrinya pergi dari kediaman Ammar.
Saat berada di dalam kamar Nabila terus memeluk Ammar dengan erat, Ammar hanya bisa membalas pelukan Nabila tapi hati dan pikirannya masih ke Aini.
Dalam pelukan Ammar, Nabila mencoba untuk mengambil kesempatan untuk bisa bermesraan dengan suaminya itu. Nabila medongakan kepalanya ke arah wajah Ammar dengan harap Ammar juga menundukan kepalanya agar mereka bisa berciuman.
Tapi sayang nya, Ammar sama sekali tidak menengok ke arah Nabila. Justru Nabila melihat tanda merah kebiruan di leher Ammar. Menandakan bahwa Ammar baru saja menikmati manisnya bercinta dengan istri pertamanya.
Nabila meneteskan air mata, kepalanya terasa berat dan ada sedikit gejolak di dalam perutnya. Nabila segera melepaskan pelukannya dan berlari ke arah kamar mandi.
Nabila memuntahkan semua isi perut yang dia makan tadi malam. Ammar segera menyusul Nabila ke kamar mandi dan memijat pundak Nabila dengan lembut.
"Kamu kenapa? sakit?" Ammar masih memijat pundak Nabila dengan lembut.
"Gak tau bang, kepala Nabila terasa pusing." membersihkan mulutnya dengan air keran dan mengelapnya dengan handuk kecil
"Ya sudah, besok kita kerumah sakit untuk periksa, sekarang istirahat lah! Sudah larut malam." Ammar menuntun Nabila ke tempat tidur.
"Bang Nabila takut." Nabila duduk di atas tempat tidur dan membaringkan dirinya di atas kasur ukuran besar.
"Jangan takut! Ada Abang, abang ambilkan air hangat dulu ya." menarik selimut dan menutupi tubuh Nabila.
__________
Ke esokan harinya.
Nabila terus menerus memuntahkan isi perutnya saat melihat leher Ammar yang kebiruan, mengingatkan Nabila pada b*ngkai ayam yang sudah m*ti, Sampai sampai Nabila tidak bisa ikut sarapan bersama Ammar.
" Kenapa Nabila, Mar?" ucap Gunawan saat berkunjung ke rumah anaknya.
"Ammar mau bawa Nabila ke rumah sakit Pih! dari semalam Nabila muntah muntah terus." Ammar yang menuntun Nabila ke luar kamar.
Pada saat mau mengantar Nabila ke rumah sakit. Polisi menghubungi Ammar untuk meminta datang ke kantor polisi karena Polisi sudah menangkap tersangka pertama dalam kasus peneroran di rumah Ammar
Terpaksa Ammar meminta Nabila dan Papih untuk menunggu nya sebentar, sementara Ammar pergi kekantor polisi untuk melihat tersangka pertamanya yang sudah berani meneror di kediamannya.
__ADS_1
Berapa jam kemudian. Ammar kembali dari kantor polisi dan segera mengatar Nabila ke rumah sakit terdekat. Namun Papih bersih keras untuk mengantar Nabila ke rumah sakit Cinta Ibu.
"Pih, Nabila cuma sakit biasa. Mending ke rumah sakit terdekat." suara Nabila yang sangat pelan menahan sakit.
"Walaupun cuman sakit biasa tapi tidak ada salahnya juga kamu diperiksa oleh Dokter Saffanah anak teman Papih." bujuk Papih Gunawan
Akhirnya Nabila dan Ammar hanya bisa menuruti permintaan Papih Gunawan untuk membawa Nabila ke Rumah Sakit Cinta Ibu.
Dalam perjalanan, ponsel Ammar terus berdering, Ammar melihat ke arah ponselnya ternyata Aini yang menghubungi nya. Ammar ingin mengangkat telefon dari Aini, tapi Ammar sedang menyetir, dan tidak mungkin untuk berhenti menepikan mobilnya disaat ada mertua di belakangmya.
Mobil terpakir di halaman Rs. Cinta Ibu. Ammar membukakan pintu untuk Nabila dan mertuanya, mereka turun dan masuk kedalam rumah sakit. Saat Hendak ingin ke loket pendaftaran Ammar bertemu dengan Aini di rumah sakit Cinta Ibu.
Deg
Ada rasa sakit di dada Ammar saat melihat Rey yang mengantar istrinya untuk pergi mengechek kandungan. Ammar terus menatap mata istri pertamanya yaitu Aini, namun Aini sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
Deg
Hati Ammar bertambah sakit saat Papih menyebut Aini adalah istri Rey. Ammar melihat mata Rey yang tersorot tanjam ke arahnya sambil berbicara mengenai kondisi anak kembar Aini dan juga Ammar. Ammar merasa senang karena Rey mengatakan bahwa anak yang di kandung istri pertamanya kemungkinan sepasang.
Tapi rasa senang itu hilang, saat Aini memilih pergi lebih dulu tanpa melihat ke arahnya dan lagi lagi hati Ammar merasakan sakit yang teramat saat Rey menyebut Aini adalah istrinya.
Air mata Ammar langsung menetes saat ucapan Rey yang mengaku ngaku Aini adalah istrinya terus terngiang di pikiranya. Ammar tidak dapat menahan emosinya lagi, Ammar langsung pamit meminta izin ke Papih dan juga Nabila dan segera menyusul Aini.
Saat sampai di depan parkiran Ammar melihat ke segala penjuruh arah, namun terlambat. Ammar melihat mobil Rey sudah menjauh di depan matanya.
Ammar kembali ke Nabila dan mengantar Nabila untuk di pepriksa, mengetahui keadaan Nabila yang hanya sakit lambung biasa. Ammar merasa lega karena selama ini Ammar sama sekali belum menyentuh istri ke duanya.
Perasaan hati dan fikiran Ammar masih fokus ke Aini saat Ammar dan Nabila sudah kembali ke rumah, sedangkan papih kembali ke rumahnya. Ammar ingin sekali menemui istrinya untuk meminta maaf dan ingin mengetahui perkembangan anaknya dari mulut istrinya sendiri.
Tapi ketidak berdayaan Ammar membuat dirinya terjebak dalam situasi yang di benci oleh dirinya. Ammar bersabar merawat Nabila dan menjaganya sampai ke esokan paginya Ammar mendapat kabar dari Ibu nya, bahwa Aini tidak ada di kamarnya.
Flasback Off.
Perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Ammar terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya ternyata dirinya masih di kamar istrinya yang dulu. Ammar melihat jam tangan di kirinya menunjukan pukul tiga sore, seketika Ammar melihat tangan kanannya yang sudah di obati dan di perban.
Ammar tersenyum senang karena Aini mengobati tangannya yang terluka. Berarti Aini sudah kembali dan menemuinya, perasaan senang yang Ammar rasakan saat ini. Ammar segera bangun dan mencari sosok istri tercintanya.
"Aini? Sayang! Kamu di mana Honey?" Ammar mencari di setiap ruangan tapi tidak menemukan sang istri tercinta.
"Bik, Aini di mana?" ucap Ammar yang bertanya pada salah satu maid di rumah tersebut
"Maaf tuan, saya tidak tau!" ucap Maid yang menjawab dengan penuh ketakutan.
"Bik, Aini di mana?" ucap Ammar yang bergantian ke arah Maid lainnya, dan hanya mendapat gelengan dari para maid setiap Ammar menanyakanya.
"Aini! Kamu di mana Honey? Mas tau kamu ada di sini kan? Keluar sayang, Mas minta maaf sama kamu. Please jangan buat Mas seperti ini!" teriak Ammar dalam tangisannya dan merasa frustasi.
Para maid yang mendengar Ammar berteriak langsung pada berlari menjauh dan menghindar, hanya anak buah Ammar saja yang masih setiah menunggunya.
Bersambung...
__ADS_1