
Rumah sakit karya bersahaja adalah rumah sakit di mana tempat Rahman dirawat bersama anaknya—Khanza, Rahman yang baru saja keluar dari ruangan operasi setelah pengambilan peluru di punggungnya sedangkan Khanza hanya mengalami luka memar.
Sementara bayi kembar yang bernama Khan sampai sekarang belum ditemukan dan masih terus dalam pencarian, pasalnya saat pengajaran pertama Rahman tidak mengikuti polisi dia kembali lagi mengingat Aini yang sendiri di dalam mobil dan firasatnya itu benar terbukti bila Aini tengah bersama Tante Rose.
"Aini, makan dulu!" Ucap Robert, dia membawakan sepiring makanan untuk Aini.
Aini menerima makanan dari sang ayah, perasanya kali ini benar-benar kabut. Belum juga dia bisa move on dari kepergian suaminya tetapi kini dia harus menghadapi ujian lagi, ditambah saat ini anak kembar pertamanya belum ditemukan.
Rasa pada makanan itu terasa hambar meski begitu dia tetap mengunyah makanan tersebut agar bisa dia telan karena dia tidak mau mengulangi kesalahan saat berada di posisi genting tetapi tenaganya lemah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya ayah Ghazali saat baru tiba bersama Ismi—strinya.
"Alhamdulillah, Khanza hanya mengalami luka memar di punggungnya. Berkat Mas Rahman," ucap Aini dengan lirih.
"Alhamdulillah, untung ada Rahman! Ya Allah, Bunda tidak habis pikir apa yang akan terjadi bila Rahman tidak membantunya!" Ismi duduk di samping Aini saat berada di dekat tempat tidur Khanza.
"Ayah mau melihat kondisi Rahman dulu!" Ghazali langsung pergi dari sana usai mencium kening Ismi.
Sementara Reyzal dia duduk di samping Khanza yang tengah tertidur lelap, dia elus kepala mungil itu lantas mengecupnya. Pada saat itu juga Ismi langsung bertanya kepada Aini.
"Aini, maaf sebelumnya. Di sini bunda bukannya mau ikut campur masalah kamu, tapi kalau bunda liat Rahman itu udah banyak berkorban untuk kamu! Apa kamu sama sekali nggak ada niatan untuk sedikit saja membalas kebaikan Rahman?" ucap Ismi langsung mendapat tatapan sinis dari Reyzal.
"Entahlah, Bun! Aini belum kepikiran untuk ke sana! Pikiran Aini masih kacau!" sahut Aini.
"Bunda, Aini itu masih dalam masa ida!" tegas Rey yang keberatan.
"Loh, kenapa kamu yang jadi marah? Bunda cuma ingin Aini aman! Toh kalau Aini sama Rahman juga, Bunda tenang ... Setidaknya ada yang melindungi Aini dan anak-anaknya! Emang kamu mau jadiin Aini istri kedua kamu?" kesal Ismi ketika Rey ikut berkomentar.
__ADS_1
"Astagfirullah! Bunda kok ngomongnya begitu? Serah Bunda, deh!" Rey lebih memilih keluar.
Aini dan Ismi hanya terdiam saat melihat Rey keluar dari ruangan Khanza seraya dengan emosi, kedua wanita itu pun saling tetap menatap entah apa yang dirasakan oleh suami—Jasmine yang selalu marah ketika ismi mencoba untuk membujuk Aini meminta Rahman sebagai suaminya.
"Bun, makan dulu yuk!" Ajak Ghazali ketika usai menengok Rahman yang masih belum sadarkan diri.
Ismi pun keluar dari ruangan Aini yang tidak lama kemudian Khanza terbangun menangis menyebut nama Ammar dengan sebutan Abi dengan suara manjanya. Langsung saja, Aini mengangkat tubuh Khanza dan memberikannya ASI.
Pada saat itu juga Reyzal masuk untuk mengecas ponselnya, dia melihat Khanza yang sedang menyusu pada Aini dengan halangan penutup kerudung hitam Aini. Mendengar suara pintu terbuka Khanza langsung terusik saat meminum susu, dia pun melepaskan empengnya baru keluar dari balik kerudung Aini menyebut nama Ammar.
"Ehmi, mbi? Mbi anna, euhmmi?" tanya Khanza yang menanyakan keberadaan Ammar.
"Hai, assalamualaikum! Si cantik udah bangun?" Reyzal langsung mendekat ke arah Khanza setelah menaruh ponselnya di atas maka yang sedang cas.
"Ehmi, mbi?" ucap Khanza yang melihat ke Aini.
Khanza menangis dalam pangkuan Aini tetapi Rey langsung menggendong Khanza dari pangkuan Aini.
"Aduh, anak mbi nangis ... Eh, mana mbi? Mbi ... Khanza kangen, gitu ya?" ucap Reyzal yang sudah menggendong Khanza seraya mengajak bicara agar anak itu terdiam.
"Mbi, ono ... usu eumi, mbi." Khanza masih berceloteh tidak jelas saat masih menangis di pangkuan Reyzal.
Reyzal pun berusaha untuk menghibur Khanza dengan berbagai jurus hingga anak itu pun berhenti menangis dan tertawa dengan candaan Reyzal sedangkan Aini yang melihatnya itu pun ikut tersenyum.
"A, boleh Aini bertanya?" Aini melihat ke arah Reyzal yang ternyata dianggukan oleh sang empu, dia pun langsung berkata, "Apa Aini salah kalau terima atau nggak terima lamaran Rahman?"
Reyzal terdiam, dia langsung melihat serius ke arah Aini. "Apa kamu ingin menerimanya?"
__ADS_1
Aini hanya terdiam, jujur dia tidak ada niatan sama sekali untuk menerima Rahman sebagai suaminya, keputusan dia pun sudah dia tentukan bila dia ingin menolak lelaki itu usai perjamjian seminggu kemudian. Namun, setelah kejadian ini perasaan yang dimiliki Aini semakin bingung.
Bingung bukan karena perasaan yang Aini miliki berubah menjadi cinta, tetapi bingung tanah Rahman telah banyak berjuang untuk dia dan anaknya sampai dia membahayakan dirinya demi menyelamatkan sang anak.
"Aku tidak akan pernah melarangmu mau menjalani hubungan dengan siapa, kalau memang hati kamu sudah siap untuk membuka lembaran baru untuk pria lain demi kebahagiaan anak, Why not?" ucap Reyzal meski dalam hatinya dia berat banget untuk membiarkan Aini jatuh ke tangan Rahman.
"Baiklah akan aku pertimbangkan!" ucap Aini.
"Jangan memaksakan sesuatu yang kamu sendiri tidak ingin melakukannya, walaupun itu demi anak-anak! Karena Aa dan Jasmine juga mampu kok menjadi orang tua tambahan untuk Khanza dan ...."
Ucapan Reyzal terhenti ketika mengingat kembaran Khanza belum ditemukan, dia melirik Aini yang meneteskan air matanya lagi. Dia menghela nafasnya seraya merasa bersalah karena salah berucap, dia menyeka air mata ini dengan tisu yang di bantu oleh Khanza.
"Eumi, angis?" ucap Khanza yang mendapat perintah dari Rey, agar anak kecil itu mau mencium Aini. Anak itu mencium ibunya dengan mesra membuat Aini pun tersenyum.
"Sudah, jangan nangis! Kita berdoa agar Khan cepat ditemukan," ucap Rey.
***
Sementara itu di posisi Amar dan juga Roy mereka bertarung hebat habis-habisan melawan dua orang penjaga sekaligus, usai melakukan pertarungan sengit Roy mengikat salah satu yang masih hidup dan bertanya kepada orang tersebut.
"Cepat katakan sekarang juga, siapa yang udah nyuruh kalian buat nyokap kita? Hah!" Roy memukul wajah orang tersebut yang sudah penuh dengan luka. Namun, orang tersebut masih saja enggan berbicara mengatakan yang sejujurnya.
Amar pun maju mendekat ke arah orang tersebut, lalu berkata, "Siapa orangnya? Katakanlah!"
Orang itu melihat Amar memfokuskan penglihatannya, lalu anehnya dia berkata dengan nurut. "Ra–Ra–Rah ... man!"
Usai mengatakan itu, orang tersebut pun langsung meninggal di tempat karena kehabisan darah. Sementara Ammar dan Roy yang melihat kejadian tersebut langsung mengucapkan kata, "Innalilahi wainailaihi Raji'un!"
__ADS_1
Bersambung...