
Pagi harinya, Veby terbangun dari tidur lelapnya. Dia membuka mata dan melihat suami bulenya yang menurut dia sendiri belum mencintainya dengan sepenuh hati, tapi sudah berani melakukannya walaupun dengan suaminya sendiri, wajah bule yang tampan dengan kulit putih, rambut pirang. hidung yang mancung, bibir tipis dan warna mata yang biru.
Deg, jantung Veby berdegup cepat saat melihat warna mata biru Frans, itu berarti Frans sudah terbangun saat Veby membelai wajah Frans.
Veby langsung masuk kedalam selimut dan menutup matanya dengan kedua tangannya saat melihat di dalam selimut ada belalai super yang menempel di kulit pahanya.
Frans yang merasakan kulit wajah nya tersentuh langsung membuka matanya dan melihat wajah Veby yang cantik begitu dekat.
Deg, debaran jantung Frans saat melihat wajah cantik istrinya yang sedang memperhatikanya dan menyentuh wajahnya.
"Good morning," ucap Frans mencairkan suasana agar tidak kaku. sambil memeluk tubuh istrinya yang seksi.
"Good morning juga" balas Veby yang masih belum percaya atas kejadian semalam.
"Are you okey?" tanya Frans yang membuka selimut dari wajah Veby.
"Idihhh, dia pake nanya are you oke, ini bule sarap kali ya." gerutu dalam hatinya.
"Ih kamu tuh... " ucap Veby yang menggantung saat memanggil Frans dengan sebutan kamu bukan Loe.
"Why.?" Tanya Frans bingung.
"Ihhss, tau ah... why, why, why" ucap Veby yang sebal dan bangun untuk ke kamar mandi.
"Aaaauuuhhh huhuhuhuhuh... sakitt" rengek Veby saat mau mengerakan kakinya ke bawah.
Frans langsung membopong Veby ke dalam kamar mandi. mereka berdua berendam di dalam bathtub bersama.
"Apakah lebih enakkan? " ucap Frans di telinga Veby. kini mereka berendam di dalam air yang hangat. Veby hanya mengangguk malu.
Bagaimana tidak, dia duduk didepan Frans di dalam bathtub, dimana senapan Frans begitu jelas berasa di p*ngk*l p*h* nya.
"Bolehkah aku memintanya lagi" bisik Frans yang merasakan tubuhnya mulai bereaksi lagi
__ADS_1
"Veby," melas Frans yang wajah nya sulit di artikan sehingga membuat Veby sulit untuk menolaknya.
Beberapa jam kemudian, Veby merasakan sakit di sekujur tubuhnya, bagaimana tidak, Frans seperti orang yang melampiaskan h*sratnya yang sudah bertahun tahun iya tahan. Veby merasakan itu semua, sangat terbaca oleh Veby di setiap sentuhan yang Frans berikan.
"Buka," ucap Frans yang membuat Veby bingung.
"Ih, mau ngapain?" tanya Veby yang heran.
Frans mendekat ke arah Veby yang masih menggunakan handuk, membuka lebar lebar kaki Veby, melihat dan mengarahkan jarinya ke kue apem mil*k Veby.
Glek, saat slavinah Frans menelannya dengan susah payah akibat melihat kue apem yang terpampang begitu dekat.
"Kita chancel hari ini ke Prancis, istrirahatlah yang cukup" Frans yang selesai mengoleskan salep ke kue apem tanpa rasa jijik.
"Kenapa batal? apa karena dia udah makan habis kue apem gue? jadinya berubah pikiran" batin Veby
"Mau makan apa?" Frans bertanya sambil mengusap pipi Veby.
"Apa aja," ucap Veby merasa tersanjung mendapat perlakuan hangat dari Frans.
Saat Veby sudah rapih dan mencoba berjalan untuk keluar, Veby merasakan perih saat berjalan. Hal hasil Veby berjalan dengan kaku dan terlihat aneh karena menahan rasa perih.
Belum sempat Veby menyapa Frans, Veby mendengar percakapan Frans dengan seseorang lewat ponselnya.
"Apa? bagaimana bisa? saya tidak mau tau! pokoknya kalian harus perhatikan Aini 24 jam, dan kasih laporan ke saya. ngerti! " ucap Frans.
Hatinya yang ikut merasakan sakit, saat mendengar Frans masih memikirkan Aini. Veby masuk lagi kedalam kamar. tanpa memperdulikan rasa perih di arah sensitivenya. hatinya begitu remuk saat suaminya masih memperdulikan wanita pujaanya ketimbang istrinya.
Bruukk...
Suara dentuman pintu yang di tutup kasar oleh Veby.Frans yang terkejut langsung melihat kearah pintu kamar Veby dan menghampirinya.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Veb?" Frans memanggil istrinya namun pintunya di kunci.
"Veby? buka pintunya? kalau kamu gak buka pintunya saya dobrak pintunya."
"Permisi tuan, makananya sudah bibik siapin di meja makan."
"Oh ya, trimakasih ya bik."
" Veb..." ucap Frans terpotong saat ada pesan darurat masuk di ponselnya.
Frans pergi meninggalkan Veby, tanpa memberitahu dan menitip pesan ke assisten rumah tangganya untuk menjaga Veby.
"Bik, bawa sarapan ini ke atas, pastikan dia makan dengan teratur, bilang saya harus pergi dan jangan menuggu saya pulang, mungkin saya akan malam pulangnya." ucap Frans yang di anggukan oleh Bik suminten.
------------
Perumahan Kemang, Jakarta Selatan,
Ammar terus gelisa di hatinya, mengingat orang tua Rey akan datang menemui istrinya.
"Bang, hayoo. Papi sudah nungguin di mobil" ajak Nabila saat Ammar di dalam kamar sedang mengubungi Aini.
"Ah, ya... " ucap Ammar yang keluar bersama Nabila.
Nabila meminta Ammar untuk makan malam di luar bersama dengan Papinya, Ammar bingung tidak menentu, saat tau hari ini orang tua Rey pergi menemui istrinya di kediaman Hanum.
Dalam perjalanan menuju sebuah Restoran. papinya terus membujuk Ammar agar bisa segera memberikannya seorang cucu, desakan papi membuat Ammar merasa tidak nyaman dengan obrolannya karena pikiranya terus ke arah Aini.
Saat mobil telah sampai di sebuah Restoran terkenal di Jakarta, Ammar memakirkan mobilnya tepat di samping mobil milik orang tua Rey.
Papi dan Nabila masuk lebih dulu dan duduk di tempat yang sudah di pesan lebih dulu. Saat Ammar masuk dan melihat tempat duduk nya, Mata Ammar langsung tertuju pada wanita yang memakai cadar sedang duduk makan bersama dengan orang tua Rey, dimana posisi Rey ada di samping Aini.
"Aini,?" ucap Ammar yang melihat ke arah istrinya seperti sebuah keluarga yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung...