Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 142. Foto


__ADS_3

Suasana di malam hari yang begitu cerah menambah kesan harmonis bagi pasangan suami istri tersebut, Aini yang memakai balutan busana berwana hitam, senada dengan jas yang Ammar kenakan.


Begitu romantis melihat kedua pasangan itu berjalan beriringan sembari melempar candaan, sesekali Ammar juga melempar sentuhan kecil di hidung sang istri, membuat Aini merasa manja dan nyaman berada di samping Ammar.


Malam ini mereka akan menghadiri acara perjamuan makan malam dengan pemilik hotel yang bernama Zidan, salah satu rekan kerja Ammar dalam dunia bisnis. Di mana Ammar dinobatkan sebagai pengusaha sukses termuda se-Asia.


"Selamat malam, Tuan Ammar." Staf karyawan yang ditugaskan oleh Zidan, mengantar Ammar dan istrinya untuk masuk ke dalam.


"Ya, terima kasih." Ammar mengangguk dan mengikuti langkah staf karyawan tersebut.


Begitu sampai di meja makan, Ammar dan istri disambut hangat oleh pemilik hotel berserta sang istri. Aini juga terkejut saat melihat bunda Ismi bersama suami sudah tiba lebih dulu.


"Bunda, ya ampun ayah!" Aini mencium tangan kedua orang tua angkatnya.


"Hai, ya ampun ... ganteng dan cantik cucuku." Ismi mencium kedua cucunya yang berada di dalam kereta bayi selesai mencium Aini.


Ismi langsung mengenalkan kedua cucunya dengan bangga kepada Naura, istri dari pemilik hotel. Naura mendekat ke arah si kembar yang sedang tertidur lelap di dalam kereta bayi.


"Lucunya, jadi kepingin punya cucu aku Pah," ucap Naura kepada Zidan.


"Tunggu kita melamar gadis yang sudah Abi kasih tahu ke kita," bisik Zidan dengan nada bercanda, mereka pun ikut tertawa mendengar ucapan dari Zidan.


Ammar ingin mengenalkan istrinya kepada Zidan. Namun, sang ayah terlebih dahulu mengenalkan Aini sebagai anaknya dan Ammar adalah menantunya, mendengar bahwa dirinya disebut sebagai mantu dari keluarga besar Al-Ghazali, hati Ammar langsung senang dan memeluk sang ayah.


"Sangat mengejutkan, dua pengusaha sukses yang dikabarkan saling bersaing, ternyata memiliki hubungan mantu dan mertua." Zidan dan sang istri tertawa mendengar kabar yang tidak terduga, semua orang yang berada di ruangan tersebut ikut tertawa.


"Silahkan duduk," ucap Naura, istri Zidan.


Mereka pun duduk, Zidan langsung memanggil beberapa koki untuk menghidangkan beberapa makanan tambahan untuk Aini dan Ammar, karena yang mereka tahu bahwa Ammar lebih memilih makanan lokal ketimbang makanan barat. Tidak lama kemudian, semua hidangan pun disajikan di atas piring.


"Ayo, silahkan Pak Ammar, Bu Aini jangan sungkan-sungkan," ujar Zidan dengan semangat.

__ADS_1


Tanpa ragu Aini dan Ammar langsung memakan hidangan yang sudah disiapkan, di saat mereka sedang menikmati makanan. Tiba-tiba Abizar dan Reyzal pun datang bersamaan. Suasana menjadi hening seketika.


"Assalamualaikum," ucap salam Abizar yang mencium tangan orang tuanya.


Aini dan Ammar pun menjawab salam dari orang tersebut, sontak membuat Ammar sedikit terkejut dengan kedatangan Abizar. Sesaat Aini melihat Abizar yang sedang melihat ke arahnya lalu menundukkan kembali pandangannya, begitu juga dengan Abizar.


Zidan langsung memperkenalkan sang anak kepada Ammar dan juga Aini, ternyata Abizar anak sulung dari pemilik hotel itu. Abizar tersenyum kepada pasangan suami istri tersebut sembari melihat kedua anak mereka yang berada didekat mereka.


"Nah, Aini ... jangan lupa kamu juga mesti banyak makan sayuran, karena ini bagus untuk kamu." Bunda Ismi memberikan beberapa sayuran kepada Aini.


"Terima kasih, Bun." Aini mencicipi makanan yang ada di depan matanya.


Sungguh beradab dan begitu anggun yang terlihat di mata Abizar, sampai sang empu sudah tidak tahan merasakan rasa kecewa, bila wanita yang ingin dia persunting ternyata sudah memiliki seorang suami yang begitu segala-galanya dari dia.


"Berati ini buat Aa." Reyzal mengambil ikan bakar gurame kesukaan dia dan juga Aini.


"Ya ampun, anak ini ... gak mau ngalah sama sekali sama adeknya," ucap bunda Ismi yang menepuk bahu Reyzal.


"Nih, makan yang banyak." Naura mengambil ikan bakar Abizar kepada Aini.


Semua terlihat senang saat Aini menerima suapan dari sang suami, begitu mesra dan romantis. Abizar langsung ikut senang melihatnya, walaupun hatinya sedikit teriris. Begitu juga dengan Rey yang memilih untuk menghabiskan sendiri, ikan bakar punya Aini.


Mereka tertawa sesaat melihat betapa romantisnya Ammar dan Aini, sembari menikmati makanan mereka masing-masing, hingga akhirnya setelah mereka makan. Zidan memberitahu bahwa Abizar akan mempersunting gadis yang bernama Naomi.


Mendengar kata Naomi, membuat Aini tersedak. Ammar sebagai suami dengan sigap memberikan air minum kepada istrinya, Aini begitu terkejut saat Zidan menyebut nama Naomi. Pasalnya Naomi adalah nama samaran yang dia pakai untuk menutupi dari sang suami.


"Kamu gak apa-apa, Ni?" tanya bunda Ismi.


"Gak apa-apa, Bun," jawab Aini yang melirik ke arah Ammar.


"Istri pak Ammar bukan hanya pintar tapi lucu," tawa Naura.

__ADS_1


"Iya, saya rasa Abizar juga akan seberuntung seperti Pak Ammar, memiliki istri yang Sholehah, dan pintar.


"Alhamdulillah, terima kasih atas pujian dari Bu Naura dan juga Pak Zidan untuk istri saya, memang ... dia itu, bagi saya adalah segala-galanya, bukan hanya sekedar sholeha dan pintar ... tapi membawa keberuntungan untuk saya melalui doanya." Ammar melihat ke arah Istrinya sembari menggenggam tangan Aini.


Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut merasa kagum dengan pasangan muda di hadapan mereka, Rey yang mendengar pernyataan Ammar ada rasa senang dan juga kesal. Dia merasa senang karena Aini memiliki suami yang tepat, dan rasa kesalnya karena Ammar terlalu pamer di depan matanya.


Berbeda dengan Abizar, mungkin untuk sekarang rasa sakit itu masih ada, rasa kecewa dan kesal. Namun, dia tetap menerima takdir tuhan bila dia bukan jodohnya. Abizar dan Rey tidak tahu bila masing-masing mencintai seorang wanita yang sama.


"Insyallah Abizar akan menyusul pak Ammar, menjadi pengusaha sukses termuda dan memiliki istri seperti istri anda, karena sekarang katanya masih proses pendekatan, bener kan Bi?" Zidan menepuk pundak anaknya yang hanya terdiam.


"Wah, langsung segera dilamar, dan langsung menikah," saran dari Sang Ayah mertua yang melirik ke arah Ammar.


"Oh sudah ada calonnya, beruntung calonnya." Bunda Ismi tersenyum menanggapi obrolan tersebut.


"Sudah, dia satu jurusan dengan Abizar, namanyaโ€”โ€


"Aaahheemm!" Abizar berdeham agar sang ibu tidak banyak berbicara.


Melihat gelagat aneh dari Abizar, membuat Ammar semakin bisa menebak bahwa yang dia maksud adalah sang istri, Rey yang mendengar itupun penasaran dengan sosok wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta, pasalnya Abizar adalah adik kelasnya waktu sekolah kejuruan.


"Namanya Naomi, Nah ... ini fotonya." Zidan mengeluarkan wanita bercadar.


Ammar dan Rey sangat terkejut saat melihat foto Aini, Rey langsung tersedak dengan air liurnya sendiri sedangkan Ammar memasang wajah sinisnya. Hatinya benar-benar tidak terima melihat foto sang istri bisa ada di tangan Abizar.


"Saya rasa, anak bapak kuliah jurusan hukum, bisa mengerti hukum mengambil foto tanpa seizin yang punya." Ammar mengambil foto sang istri lalu memasukannya ke dalam dompet.


"Maksudnya?" tanya Zidan yang sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Ammar.


"Berapa harga foto istri saya? Agar anda bisa menghapus semuanya." Ammar mengeluarkan kartu debitt yang berasal dari Dubayi


Bersambung...

__ADS_1


Sepi ... tidak ada yang komen, ๐Ÿฅบ maukah bersedakah untuk memberi hadiah, komen, like, dan vote? karena itu membuat saya semangat untuk up ๐Ÿฅบ


Tapi gak apa-apa, asal kalian jangan pergi dari saya ๐Ÿ˜Š tetap stand by ya... kalau bisa kasih like and komen ya๐Ÿ˜„. love you sobat readers ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2