
"Wah, di jaga ketat Ni!" ujar Dinda saat kakinya melangkah mulai perlahan saat melihat empat penjaga di luar kamar Ammar.
"Wah, iya Tan! Gimana dong?" Aini yang bingung.
"Gimana, gimana? Ya masuk lah Aini! Kan kamu mau jenguk Ammar bukannya mau merampok!" Dinda yang menyentil kening Aini.
"Auuwwh, sakit Tante!" Aini yang mengusap keningnya menggunakan tangannya.
"Sssstt ... Jangan berisik!" Dinda mulai tersenyum kepada pengawal yang menjaga kamar inap Ammar.
"Permisi, Om, Mas, Bang, atau Pak!" Dinda mulai berbicara kepada para empat penjaga kamar Ammar.
"Komplit banget, Tan!" Aini tertawa pelan.
"Sstt ... Bawel!"
"Iya?" sahut sang penjaga kamar.
"Ah, Hmm ... saya mau jenguk keponakan saya, boleh saya masuk?"
"Maaf, untuk sementara pasien tidak bisa di kunjungi! Karena Pak Roy belum mengizinkan siapa pun masuk selain dokter dan suster." Salah satu bodyguard menghalangi Dinda dan Aini masuk.
"Loh, ini istrinya loh! Masa mau jenguk suaminya gak boleh? Gimana sih!" Dinda mulai emosi dengan bertelak pinggang, para bodyguard akhirnya menghubungi Roy meminta persetujuan.
"Sabar, Tan!" Aini menarik Dinda untuk duduk terlebih dahulu di bangku di samping kamar inap Ammar.
Tidak beberapa lama, Roy datang dan menghampiri Aini dan Dinda yang sedang kesal dengan para pengawal.
"Maaf, Nyah! Atas ketidak nyamanannya, silahkan masuk!" Roy
"Kamu dari mana Roy?" Aini heran karena Ammar hanya di jaga di luar kamar.
"Saya habis mengantar Nyonyah Nabila dan Ibu Ainun balik ke hotel Nyah!" Roy menjawab seadanya.
Aini dan Dinda pun masuk ke dalam, Aini langsung mendekat ke arah Ammar yang masih terbaring koma di atas tempat tidur dengan berbagai selang yang ada di tubuhnya.
"Assalamualaikum, Mas?" ucap Aini yang mencium kening Ammar, setelah berdoa untuk Ammar. Ini kedua kalinya Aini datang ke rumah sakit menjenguk Ammar.
"Tante, tinggal dulu ya, Ni! Laper ... mau ke kantin!" ucap Dinda yang melangkah keluar sambil menyeret Roy agar memberikan waktu berduaan dengan Ammar.
Aini melihat sekitar ruangan Ammar saat Dinda sudah keluar dari ruangan, terasa sunyi di dalam ruangan rawat inap Ammar hanya suara detak di monitor yang mendeteksi jantung Ammar.
Aini mulai meneteskan airmata saat dirinya mengingat pertemuannya dengan suaminya, begitu dekat di mata tapi jauh untuk menggapainya.
"Mas, Aini kangen!" Aini mengusap airmatanya.
"Mas Ammar mau denger cerita Aini gak? Ini tentang anak kita, kata Dokter Fazila anak kita cewek dan cowok. Alhamdulillah mereka sehat Mas." Aini berbicara sambil menggengam tangan Ammar.
"Mas, mau pegang?" Aini menuntun tangan Ammar masuk kedalam perutnya dan menyentuh kulit perut Aini.
"Aduh ... Tuh, tuh, tuh kan, gerak! Gimana? Berasa gak gerakannya? Usianya in sya allah mau masuk 29 minggu, Mas!" Aini yang merasakan tendangan dari dalam perut yang ternyata juga di rasakan oleh Ammar.
"Nih, Mas ... Aduuhh!" saat gerakan di dalam perut Aini begitu aktif secara tiba-tiba dari sebelumnya pada saat tangan Ammar menyentuh kulit perut Aini.
Tanpa Aini sadari tangan Ammar mulai merespon gerakan yang ada di dalam perut Aini, ada sengatan yang terjalin di antara kedua bayi kembar dengan sang Ayahnya.
"Aduh, sayang! Kalian aktif banget, sampai Umi merasakan ngilu, tapi Umi senang kok! Kalian pasti ingin cepat-cepat main ya sama Abi? Do'ain Abi ya ... biar cepat cembuh! Nanti bisa ngajak kalian main deh, sama Abi." Aini yang ikut mengelus perutnya dengan lembut saat tendangan dari dalam perut begitu terasa.
Aini mulai duduk kembali saat kakinya sudah mulai terasa pegal saat berdiri, agar Ammar bisa menyentuh perutnya yang sudah mulai membesar.
"Maaf ya, Mas ... Aini baru sempat jenguk Mas lagi." Aini mengusap lembut wajah Ammar yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Kini tiba masuk dzuhur, Aini memutuskan untuk sholat di dalam ruangan Ammar,setelah sholat Aini mulai melantunkan ayat-ayat suci yang ternyata berhasil membuat Ammar tersadar dari komanya.
Ammar mulai membuka matanya secara perlahan dengan tatapan yang masih lemah Ammar mendengar suara dari seseorang yang dia rindukan selama ini sedang membaca lantunan yang merdu.
Melihat ke arah atap yang terasa asing bagi dirinya, dan mencoba melihat ke arah sumber suara yang masih asik membaca dengan merdu, tapi ternyata sangat sakit yang Ammar rasakan di area kepalanya.
"Aa-a-ini," ucap Ammar terbatah dengan suara yang pelan.
Deg.
Aini langsung berhenti membaca karena terkejut saat mendengar suara yang masih begitu lemah memanggil namanya.
"Sodakallahuazim," Aini mengakhir membaca kitab sucinya lalu menciumnya dengan lembut. Segera Aini bangun perlahan untuk memastikan keadaan suaminya.
"Ma sya Allah, Alhamdulillah ...." Aini menghampiri Ammar sambil menangis lalu memencet tombol otomatis untuk memanggil perawat.
"Aaainiii," ucap Ammar memanggil nama istrinya ke dua kalinya sambil menyetuh wajah Aini dengan tangan yang di infus.
"Iya, Mas! Ini Aini ...." Aini meraih tangan Ammar lalu di tempelkannya ke pipi Aini.
Tidak lama kemudian Dokter dan Suster pun datang membawa alat untuk memeriksa kondisi Ammar.
"Permisi, Bu!" ucap Susternya agar Dokter bisa mengechek kondisi Ammar saat ini.
"Iya ... Tolong periksa, Dok!" Aini yang merasa senang.
"Iya, kami periksa dulu ya, Buk! Ibu duduk dulu!" ucap suster yang menyarankan agar Aini bisa duduk melihatnya.
Dokter memeriksa dengan telaten di setiap tubuh Ammar, saat selesai pemeriksaan. Dokter pun menyarankan agar melepas berbagai alat yang ada di tubuh Ammar.
"Bagaimana, Dok?" tanya Aini penasaran
"Hasil pemeriksaan, Alhamdulillah semua baik! Maaf, Ibu ... Siapanya pasien?"
"Issti ... sayaaa, Dok" Ammar meraih tangan Aini dan menjawab pertanyaan Dokter dengan suara yang masih lemah dan belum jelas.
"Oh, ya ... Kalau begitu nanti Ibu keruangan saya untuk lebih lanjut lagi, saya permisi dulu. Selamat siang!" ucap Dokter yang melangkah kan kakinya ke arah depan.
"Siang, Dok!" Aini membalas ucapan Dokter.
Kini tinggalah mereka berdua di dalam satu ruangan yang hening. Ammar masih saja menggengam tangan Aini begitu erat, seakan takut Aini akan kabur lagi dari sisinya.
Terasa seperti ta'aruf membuat dua sejoli di dalam satu ruangan yang hening merasa canggung dan Nervous saat mata mereka saling pandang memandang.
Aini tersenyum malu saat Ammar menarik tangan Aini dan menciumnya dengan lembut.
"Auuwwhh!" mengeluh Aini saat bayi yang ada di dalam perut Aini bergerak cepat.
"Kenapa?" tanya Ammar masih suara pelan.
Aini tersenyum kepada Ammar dan meletakan tangan Ammar di atas perut Aini saat bayi yang ada di dalam perut Aini terus menerus bergerak aktif.
"Ma sya allah!" ucap Ammar terkejut saat tangannya merasakan pergerakan dari kedua bayinya.
"Gimana? Berasa?" tanya Aini yang di balas Ammar hanya mengedipkan mata secara pelahan menandakan iya. Karena masih terasa sakit bila Ammar menggerakan kepalanya sedikit saja.
"Maaf," ucap Ammar pelan.
Aini yang mendengar permintaan maaf dari mulut suaminya merasa tersentuh sekaligus bersalah. Aini duduk di samping kiri Ammar dan mendekat ke arah Ammar agar bisa menyentuh wajah suaminya.
"Maafin Aini juga, Mas!" Aini meneteskan airmatanya yang di usap oleh Ammar, Ammar yang ingin mencium kening Aini langsung mengeluh kesakitan di bagian kepalanya.
__ADS_1
"Auuwwh!" meringis kesakitan.
"Astagfirullah, Mas gak apa-apa?" Aini mulai panik.
"Gak apa-apa." Ammar mengusap kepala Aini.
"Tapi tadi, Mas kesakitan loh! Apa Aini sudah buat Mas sakit? Maaf, Mas!" Aini yang masih merasakan panik terhadap Ammar.
"Gak apa-apa, sayang! Mas cuma mau cium kamu, tapi kepala Mas masih sakit untuk di gerakan." Ammar tersenyum lebar karena malu niatnya ketahuan.
"Ih, baru juga sadar ... Sudah mau cium ciuman aja!" Aini jadi malu.
"Emangnya gak boleh ya? Kalau Mas mau cium kamu?" tanya Ammar.
"Oh iya, Aini lupa kasih tau Ibu, Mas! Aini mau nelepon Ibu sama Mba Nabila dulu ya, Mas!" Aini langsung mengganti topik pembicaran dan hendak menjauh dari Ammar tapi tanganya di tahan.
"Biar Roy, saja! Mas mau berduaan sama kamu!" Ammar perlahan mulai lancar bicaranya.
"O-ohh ... Kalau gitu, Mas ma-mau minum apa mau buah?" aura Nervous datang lagi pada Aini.
"Minum saja!" ucap Ammar yang melihat tingkah Aini yang lucu.
"Sebentar Aini ambilkan dulu airnya." Aini berdiri lalu mengambil buah Apel dan mencari pisau untuk motong buah.
"Aini!" panggil Ammar yang melihat Aini sibuk mencari sesuatu.
"Sebentar Mas." Aini masih sibuk mencari pisau di lemari penyimpanan.
"Aini, kamu cari apa?" Ammar yang tidak mengerti dengan Aini.
"Cari pisau, Mas kan tadi min ... ta ...." Aini baru sadar kekonyolanya kumat lagi.
"Minta?" Ammar yang tersenyum lihat ke luguan Aini.
"Minta minum ya? Lupa, Mas! Maaf!" ucap Aini salah tingkah sambil tertawa garing.
Sambil membawa sebotol air minum, Aini masih tertawa garing dan mendekat ke arah Ammar. Aini langsung memberikan kepada Ammar mengunakan sedotan. Tapi, di tolak oleh Ammar.
"Katanya mau minum? Nanti tumpah kalau gak pakai sedotan!" ucap Aini.
"Kan bisa pakai yang lain!" ucap Ammar mancing.
"Pakai a ... pa ...." Aini mulai menangkap arah pembicaraan Ammar.
"Pintar!" Ammar memuji kecerdasan istrinya saat di ajak traveling ke arah dewasa.
"Ih, gak Akh!" Aini langsung malu. sedangkan Ammar memasang wajah memelas.
"Mas, haus!" Ammar mulai sedih dengan penolakan Aini.
Akhirnya Aini mau melakukannya, mengambil sebotol minum lalu meminumnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Ammar dan memberikan air minumnya melalui bibir Aini.
Glek, glek, glek!
Ammar meminum semua air yang ada di dalam mulut Aini, saat sudah selesai. Aini ingin bangun dari posisinya, namun Ammar menahan tengkuk Aini hingga akhirnya Aini terjebak oleh permainan Ammar.
Ciuman rindu akhirnya berlangsung lama.
Bersambung...
Di tunggi vote, hadiahnya juga ya... selain komen dan juga like...
__ADS_1
salam sayang untuk kamu dan orang yang kamu sayang. 😘
see you next time...