
2 hari kemudian.
Fakultas hukum
" Asalamualikum bu ustazah... " ledek temen sekumpulannya yang menepuk pundak Aini.
" Waalaikumussalam,,, astagfirullah.. ngagetin aja si kalian" ucap Aini yang memegang d*d* nya karena kaget
" Vieee bu ustadzah yang bentar lagi mau in to the hoy... uyu uyu... heheh... masih masuk kuliah aje " ledek si C
" Apa si.?" ucap Aini yang memukul pake buku.
" Asatghfirullah ya allah, ini yang satu pikirannye ye.. cuci dulu sono pake rins* biar kinclong" sentil temen si A ke C
"Ya ampun bek loh kalau ngomong yang bener ngapa, pasti di rumah lo kaga ada saringan ye, mangkanye omongan loe ngeres mulu." ucap si D
" Astaghfirullah ye ye mangaapp ngapa si... " ucap C
" Maaaaafffff" ucap kompak A, B, dan D
"Orang cuma berjanda doang kok" ucap C lagi
"Bercanda" ucap Kompak.
" Serius Ammar" ucap C
" Amat! dodol lipet" ucap se genks nya lagi membuat Ernata hanya mengeleng gelengkan kepala.
" Wah otak lo nyangkut dimana si bek? " ucap si A
" Gue rasa otaknya nyangkut di pohon toge tuh" jawab si B.
"Parah loe sih, otak gue selalu gue bawa kok gak percaya? nih gue bawa" ucap si C sambil mengeluarkan dari kantong
" Itu otak otak ikan tenggiri inemmmmmmm" ucap Si D.
" Ya ampuunnn gue punya temen parah bangeettt yaaa, kalao ada tukang loak mending gue tuker aja dah sama piring cantik lumanyan kan buat nambah koleksi piring emak gue di rumah... hahahah" ucap si B.
" Hai jangan kasian tauu.. dia lucu tau bisa bikin ketawa, yakan bek, dari pada di tuker di tukang loak mending loe gue ajak kaloborasi sama bik Sumi asisten gue" ucap Aini membela yang dari tadi hanya tertawa mendengar ucapan teman sekelasnya
Dosen killer Prof. Dr. Pratama pun masuk...
" Ehhh sstttsss diem papi gue udah dateng jangan berisik" ucap si C
Pelajaran pun di mulai dengan tenang, selama pelajaran Aini menatap mata sendu dosennya.
Dan ketika mata pelajarannya usai seperti biasa Aini membantu membawakan tugas dan barang milik dosen nya.
" Taruh di situh aaja ya Nat, eh maksud saya Aini" ucap Salah dosennya.
" Gk apa apa Prof panggil senyaman Prof aja," ucap Aini
" Maaf Prof apa prof ada masalah ? Aini lihat mata prof bengkak dan merah, apa Prof abis menangis? " uca Aini
" Tidak apa apa hanya saja kurang tidur karena memikirkan Shandy" ucap Prof Pratama yang mengusap air matanya dengan tisu.
" Loh kenapa dengan Shandy Prof? "
" Tidak apa apa"
" Prof, Prof itu udah Aini anggep ayah sendiri, jadi kalu Prof seperti ini Aini sedih juga melihatnya" ucap Aini lirih.
" Hehe, tidak apa apa, saya hanya terlalu kawatir dengan kondisi Shandy yang semakin kurus, jarang makan dan hanya dapat nutrisi dari infusan " ucap Pratama.
" Astaghfirullah ya ampun Prof, kenapa baru bilang sekarang? dari kapan Shandy sakit? " tanya Aini yang kawatir
__ADS_1
" Sejak sepulang dari rumah mu, dia langsung berubah jadi pendiam dan di tambah kabar bahwa kamu masuk islam dan di lamar oleh Ammar, Shandy semakin terpuruk dan langsung ngedrop" ucap Dosennya yang menangis.
" Maafin Aini Prof, gara gara Aini Shandy seperti ini, terus Aini harus bagaimana? " ucap Aini yang bingung di sisi lain dia merasa bersalah, dan di sisi lain dia sudah menerima lamaran Ammar.
Tanpa sepengetahuan Aini dan Prof. ternyata Ammar mendengar percakapan Aini dan dosennya.
Ammar sengaja datang menjemput Aini pulang kampus tapi pada saat Aini tidak nongol, Ammar bertanya pada temannya dan memberitahu bahwa Aini sedang berada di ruang dosenya, dan Ammar langsung menyusul ke ruangannya.
" Bolehkah saya minta tolong ke kamu? " ucap Dosenya. Ammar pun memasang kuping lebar lebar mendengar ucapan Pratama.
" Selagi saya bisa, pasti saya bantu Prof "
" Bisahkah kamu sekarang bertemu dengan Shandy? dan mau membujuknya untuk makan? setidaknya hanya sesuap saja mungkin saya tidak sesedih ini melihatnya"
" Saya akan minta izin ke Ammar bila perlu" ucap timpal Pratama.
" Tidak usah Pak, saya mengizinkannya tapi apa boleh saya juga ikut menjenguknya? " ucap Ammar yang langsung muncul dari balik pintu.
" Mas Ammar? "
" Benar kah? puji syukur tuhan... trimaksi nak Ammar kamu sudah baik mengijinkan calon istrimu bertemu dengan anak saya, ya ,,, boleh,, malah saya bersyukur nak Ammar mau menjenguk anak saya. " ucap Pratama yang senang mendengarnya dan Aini hanya tersenyum.
Ammar menggunakan mobil sendiri, sedangkan Aini bersama dosennya 1 mobil, Aini tidak mau naik mobil yang membuatnya selalu mengingat di lampu merah, walaupun Ammar tidak tau sampai sekarang alesan Aini apa.
Mobil Pratama pun sampai, Shandy dengan badan yang kurus duduk di kursi roda, dengan selang infusan disampingnya, yang melihat dari balkon jendela kamar berharap Ernata turun dari mobil ayahnya.
Ternyata benar,, Aini turun dari mobil Pratama membuat Shandy sadar dari lamunannya mencompot selang infusanya dan berlari ke arah Ernata.
Setibahnya di depan kamar Shandy, Aini pun masuk bersama Prof Pratama disusul oleh Ammar beserta abang abangnya yang lain.
" Shandy,,? " ucap Aini yang melihat kondisi Shandy yang kurus duduk di kursi roda.
Shandy pun tersenyum melihat Ernata walaupun dengan penampilannya yang memakai cadar.
Shandy hanya terdiam tanpa membalas ucapan Ammar, matanya terus tertuju ke arah Ernata. Ernata pun memdekatinya.
" Shandy? apa sudah makan? " tanya Aini, Shandy hanya mengelengkan kepalanya.
" Shandy mau makan? Mau makan apa? oia dyer bawakan buah kesukaan Shandy, Shandy mau? " ucap Aini. dan di anggukan oleh Shandy.
" Ya sudah, Dyer bantuin kupasin kulitanya ya" ucap Aini yang membuat Ammar cemburu.
" Ckkk. Dyeerrrr? " ucap Ammar cemburu yang masih kedengeran oleh Aini.
Aini mengupas buah Apel kesukaan Shandy dan memeberikannya ke Shandy, dengan lahab Shandy terus memakan buah buahan yang di kupas oleh Ernata.
Orang tua Shandy beserta abang abangnya tersenyum melihat adik bontotnya sudah mau mulai makan dengan lahab.
" Dyer? " ucap Shandy
satu kata keluar dari mulut Shandy semenjak pulang dari rumah Ernata, Shandy terus terdiam, membuat seisi rumah kawatir tentang Shandy.
" Gelang ? " ucap Shandy sambil menunjuk ke arah tanganya Aini
"Ohh. ahhh hhehehe itu, pas mau ke kamar mandi aku lepas karena takut hilang mangkanya aku simpen. tapi maaf aku lupa memakai nya lagi hehehe.." ucap asal Aini yang takut membuatnya sakit hati
" Cantik" ucap Shandy yang melihat Aini memakai baju muslim.
" Hehehe kamu baru tau aku cantik? " ucap ledek Aini biar kondisi ruangan tidak suram apalagi Ammar sudah menahan Amarahnya.
" Boleh aku cium kamu... " ucap Shandy dan berhasil membuat semua orang bilang tidak boleh, terutama Ammar yang semangat langsung menarik Aini yang menjauh dari Shandy.
" Jangan..! " ucap serempak keluarga Shandy.
" ENGGAK BOLEH..! " ucap Ammar tegas.
__ADS_1
Shandy melihat Aini di tarik oleh Ammar membuat Shandy pun tersenyum pasrah dan menangis, Prof yang tidak tega melihat anaknya akhirnya meinta ijin kepada Ammar.
Awalnya Ammar tidak setujuh tetapi saat tau yang di bicarakan Dosen Aini Ammar dan Aini menyetujuihnya.
" Haiii jangan sendih... makan lagi ya, nii aaaa" ucap Aini yang di lepar piring nya oleh Shandy..
"Astagfirullah " batin Aini.
" Ya sudah, tapi Shandy tutup mata dulu,, malu banyak orang... " ucap Aini.
Shandy tersenyum licik sambil melihat Ammar. dan menutup matanya lalu mendekat ke arah Aini.
" Cup.. " kecupan ke bibir Shandy.
Shandy yang membuka matanya langsung tersenyum melihat Aini.
" Ya sudah Sekarang minum obatnya dulu ya terus istirahat yang cukup okkee". ucap Aini.
Aini pun menyuapin obat ke Shandy, Shandy meminta Aini untuk tidur bersamanya dengan berat hati Ammar pun terus mengijinkan dan melihat calon istrinya tidur di sebelah laki laki lain.
Shandy yang tiduran di tengan kasur sedangkan Aini di pinggir kasur dan dialaskan selimut untuk menepuk pundak Shandy agar tertidur lelap dan semua orang melihatnya agar tidak ada fitnah, sedangkan Ammar memilih untuk keluar karena tidak tahan melihatnya.
Setelah tertidur Aini pun pamit dan berbisik ke Shandy untuk pulang. Shandy pun mengijinkanya asalkan besok dia datang dan menemaninya lagi.
Aini menasihati Shandy dengan halus bahwa Shandy harus kuat walaupun Aini tidak bisa menjadi pendamping Shandy, Shandy harus sembuh biar bisa datang ke pernikahannya membawa gadis cantik yang lebih dari Aini,
" Shandy harus sayang sama ayah dan ibu Shandy, liat mereka yang sangat mengawatirkan Shandy karena mereka sayang sama kamu.. Liat lah Shan.. apakah kamu tak kasian melihat kulit keriput di wajahnya memerah akibat terkena air mata karena menghawatirkan kamu? " ucap Aini yang membuat Shandy tersadar.
" Terimakasi kamu sudah menjenguk ku dyerr, aku harap kamu tidak melupakan aku "
" Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan kamu sabagai sahabatku dan juga tukang ojek ku" ucap Aini yang mencairkan suasana dan semua orang tertawa kecuali Ammar yang berada di dalam mobilnya.
Aini pun pamit pulang ke Shandy dan keluarganya, Pratama mengantar Aini sampai ke mobil Ammar dan mengucapkan kata Maaf dan terimakasi ke pada Ammar.
Ammar langsung menginjakan gas mobilnya tanpa mengucapkan kata sepatah pun pada Pratama.
" Apakah kau jijik dengan ku? sampai kamu tak melihat ku sedikit pun? " ucap Aini yang melihat Ammar yang selalu memalingkan mata nya saat Aini melihatnya.
" Apakah aku harus mandi kembang tujuh rupa? atau harus bertapa di gunung kidul? sampai kau mau melihat ku lagi? " ucap Aini kesal.
Ammar masih terdiam dan tak mau melihat Aini.
" Berhenti aku bilang, aku mau turun... kalau mas tidak mau berhenti aku bakal nekat keluar.. " ucap Aini yang mengancam.
Mobil pun berhenti dan Aini ingin keluar tapi di pegang tasnya oleh Ammar.
" Apa kau tau perasaan ku Aini?, aku calon suami mu, aku menahan semua hasrat ku ke kamu, menahan ke inginan ku untuk memeluk kamu, mencium mu, karena aku sayang sama kamu, menjaga kehormatan mu, menjaga cinta suci ini agar di ridhoi allah., tapi di depan mata ku, aku melihat calon istri aku membantu mengupaskan buahnya, memanggil panggilan sayang bahkan tidur satu ranjang dengan laki laki lain di depan mata ku. APA KAMU TIDAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN KU?, HAH? Astaghfirullah allazim.. " ucap Ammar yang mengeluarkan segala uneg uneng nya yang dia tahan dari tadi dan mukul palanya sendiri ke setirnya.
Aini dengan tas di tanganya menghentikan kepala Ammar membenturkan ke gagang setirnya.
Duugggkk suara kepala Ammar yang menghantam tas Aini, dan Ammar langsung berhenti dan melihat mata Aini yang merah sembab karena nangis.
" Maaf kan aku, kamu boleh menghukum ku dengan cara apa pun, kamu boleh cambuk aku sesuka kamu atau yang lainnya, tapi jangan kamu sakiti diri kamu sendiri.. " ucap Aini.
" Maafkan aku atas semua nya sampai kamu mau melakukan hal yang memalukan demi melindungi ku, " ucap Aini yang setaunya Aini. Ammar yang mencium bibir Shandy, padahal abangnya Shandy yang mencium Shandy.
" Aku maafin kamu, asalkan dengan 1 syarat."
"Apa? "
" Aku ingin akad ijab kabul kita di percepat"
" Iya " ucap Aini yang mengangguk dan tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1