
Hari semakin sore, kini Aini menunggu kedatangan sang suami untuk menjemputnya di halte bus kampus. Namun, tanda-tanda kehadiran Ammar belum juga tercium oleh Aini.
"Lagi nunggu jemputan?" tanya seorang pemuda yang ternyata satu jurusan dengan Aini.
"Iya," ucap Aini.
Pemuda itu mulai duduk di samping Aini, tapi Aini memilih untuk bangun dari duduknya. Ia pun tersenyum ketika melihat tingkah Aini yang menjaga jarak di antara mereka.
Ada rasa sedikit senang di hati pria tersebut karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka bertemu satu sama lain, ia pun kembali melihat Aini yang sedang gusar ketika orang yang menjemputnya belum juga datang.
Berkali-kali Aini melihat jam di tangannya, sembari membaca zikir di dalam hati agar mengusir rasa kejenuhan dan rasa kesal di relung hatinya. Namun, Ammar belum juga datang menjemputnya.
Melihat jemari Aini yang bergerak secara perlahan seakan menandakan orang tersebut sedang berzikir, pemuda itu tersenyum kembali. Selama ini dia memang sudah mengenal Aini dengan baik, karena sering bertemu saat jam pelajaran dimulai walaupun hanya lewat daring.
Di mata pemuda itu, Aini sosok wanita yang Sholeha, baik, ramah dan pintar. Nilai Aini dan Pemuda itu hanya selisih sedikit, walaupun Pemuda itu lebih tinggi di atas Aini terkadang dia pura-pura bodoh, hanya untuk bisa bertanya kepada Aini.
"Duduk aja, biar aku yang berdiri." Pemuda itu bangun dari duduknya dan menyuruh Aini untuk duduk karena melihat kaki sang wanita terus bergerak menahan rasa pegal.
"Makasih ya," jawab Aini dengan singkat.
"Hmm," ucap pemuda itu dengan tersenyum.
Aini pun duduk kembali ketempat duduknya, dia mencoba untuk menelepon sang suami tapi nomor Ammar tidak aktif, dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi sebelum dia memutuskan untuk naik taksi ke arah hotel.
Sudah hampir menjelang magrib, Aini memutuskan untuk menyewa taksi online, tapi saat dirinya melihat ke layar ponsel ternyata ponselnya mati kehabisan baterai.
"Yaa ... lobet," ucap Aini pada dirinya sendiri ketika melihat ponselnya mati.
"Hmm ... maaf, Zar. Kalau mau ke arah jalan Flamboyan naik apa ya?" Aini yang mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada teman satu jurusannya
"Kamu mau ke jalan Flamboyan?" tanya Pemuda itu yang bernama Abizar.
"Iya," jawab Aini dengan lembut.
"Oh, kalau mau ... bareng saja, kebetulan arahku ke sana," ujar Abizar kepada Aini.
"Oh, ya." Aini hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
Tidak lama kemudian, bus yang mereka tunggu telah tiba. Abizar menyuruh Aini untuk naik terlebih dahulu sebelum dirinya, mereka pun masuk ke dalam bus dan melihat semua kursi penumpang sudah terisi penuh. Terpaksa Aini berdiri memegang handgrip sedangkan Abizar berdiri di sampingnya.
Suasana di dalam bus begitu canggung saat Aini berdiri tepat di samping Abizar, dia mencoba menggeser sedikit posisinya tapi pada saat Aini bergerak, mobil langsung berjalan, sehingga tubuh Aini kehilangan keseimbangan.
Abizar pun dengan sigap langsung menangkap tas Aini agar tidak terjatuh, membuat mereka terdiam sejenak merasakan posisi yang canggung. Kedua mata mereka juga saling bertemu saat tangan Abizar mencoba melepaskan cengkramannya.
"Astagfirullahaalazim." Aini langsung menjauh dari Abizar.
__ADS_1
Abizar langsung memegang dadanya yang berdegup kencang ketika kedua mata mereka saling beradu pandang, perasaannya menjadi semakin tidak karuan saat dirinya benar-benar begitu dekat dengan orang yang selama ini membuatnya penasaran.
Mobil pun semakin penuh oleh penumpang, Aini menjadi merasa risih saat seorang penumpang pria yang mencoba memepet tubuhnya. Abizar yang mengetahui Aini berada di posisi yang tidak nyaman, langsung menyenggol orang tersebut dan berdiri tepat dihadapan Aini, kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
Aini tahu bahwa Abizar berusaha untuk menolongnya, dia merasa lega saat pemuda itu menaruh tas ranselnya di depan sehingga Aini bisa bertumpuh memegang tas Abizar sekaligus menjadi jarak di antara mereka berdua.
"Terima kasih," ucap Aini.
"Turun di halte mana?" tanya Abizar yang begitu dekat dengan Aini yang hanya terhalang oleh tas.
"Ha-halte Hotel Praabu," jawab Aini dengan gugup.
"Bertahanlah sebentar." Abizar memalingkan pandangannya saat kedua mata mereka bertemu.
Suara Abizar begitu jelas di telinga Aini, membuat suasana di dalam bus menjadi semakin canggung, Abizar terus mengucapkan kalimat istighfar dengan nada pelan tapi masih didengar oleh Aini.
Aini melihat Abizar yang selalu menghindari kontak mata dengannya dan bibir pemuda itu terus mengeluarkan kalimat istighfar, membuat Aini merasa kagum karena selama ini dia telah salah menilai Abizar selama ini.
"Hayo turun," ucap Abizar kepada Aini saat bis tersebut telah berhenti di halte tujuan mereka.
Abizar menyuruh Aini untuk jalan terlebih dahulu dan tangannya memberi jalan kepada Aini agar mempermudah untuk keluar dari kerumunan penumpang, dia terus memperhatikan dan mengikuti Aini, hingga mereka berhasil turun dari dalam bis.
"Aaauuh," keluh Aini kesakitan saat bahunya ditabrak oleh seseorang.
Abizar dan Aini langsung melihat ke arah pencopet yang sudah berlari menjauh, tanpa keduanya sadari mereka pun mengejar copet itu secara bersamaan.
Aini terus mengejar pencopet tersebut sedangkan Abizar mengejar dari arah lain yang bisa mengepung pencopet itu menjadi tidak bisa berkutik, mereka menarik napas dengan menggebu-gebu saat pencopet berhenti di antara Aini dan Abizar.
"Ntar dulu, gue cape! Kasih gue napas dulu," pinta pencopet itu yang sudah ngos-ngosan.
"Balikin dompet yang udah loe copet," ucap Abizar dengan suara yang beradu dengan napas yang memburu.
Pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam, dia melihat ke arah Abizar lalu melihat ke arah perempuan bercadar, dia berpikir bahwa dia bisa mengancam Aini dan bisa lolos dari Abizar tapi dugaan pencopet itu salah.
"Biarin gue lolos, kalau mau istri loe aman." pencopet itu mengeluarkan belati ke arahkan leher Aini.
"Lepasin gak!" teriak Abizar yang ketakutan melihat Aini menjadi sandraan pencopet itu.
"Ok, ok ... gue gak akan menangkap loe, asal loe lepasin istri gue." Abizar mengangkat tanganya sebagai tanda dia tidak akan melakukan perlawanan.
Pencopet itu perlahan menjauh dari Abizar saat dirinya terus mengarahkan belati ke arah Aini, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri setelah Abizar menjauh dan memberikan dia jalan. Namun, pada saat dia ingin berlari, Aini sudah menarik tangan pencopet itu dengan kuat.
Aini membanting tubuh pencopet itu hingga jatuh terpelanting, pencopet itu bangun dan berusaha menendang perut Aini, tapi dengan cepat Aini menangkis tendangan dari pencopet itu, lalu memberikan pukulan yang tepat mengenai wajahnya.
Mata Abizar tidak bisa berkedip saat melihat adegan di depan matanya, ternyata dia telah salah menilai Aini. Begitu terkagumnya Abizar melihat bela diri Aini, wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta selama ini, bisa mengalahkan pencopet dengan tanganya sendiri.
__ADS_1
"Aa-ampun mba, ampun ... ini dompetnya." Pencopet itu menyerahkan dompet berwarna hitam kepada Aini dengan tangan yang gemetar.
"Kali lagi loe copet, abis loe!" Aini mengambil dompet itu dan meninggalkan pencopet itu.
Abizar tersenyum ke arah Aini, hatinya tidak salah memilih calon istri, begitu kagum melihat sosok Aini untuk pertama kalinya. Selama ini dia hanya melihat Aini di balik layar monitor saat jam mata kuliah.
"Alhamdulillah, terima kasih Mba, Mas." Pemilik dompet itu merasa senang saat Aini berhasil mengambil dompetnya dari pencopet itu.
"Sama-sama, Bu." Aini tersenyum dan menganggukan kepalanya secara perlahan.
"Semoga rumah tangga kalian bisa langgeng sampai ke surga," ucap ibu itu sembari menangis.
"Ahh, saya bu-buk ...." ucapan Aini terpotong oleh Abizar.
"Aamiin, terima kasih atas doanya, Buk." Abizar mengusap bahu wanita paru baya itu agar berhenti menangis.
"Ya, sudah kalau gitu, kalian hati-hati di jalan." Wanita paru baya itu langsung pergi meninggalkan Aini dan Abizar.
Setelah selesai, Aini pun juga berpamitan kepada Abizar tapi pemuda itu menahannya, dia menawarkan dirinya untuk mengobati luka di tangan Aini yang lecet akibat perkelahian dengan pencopet.
"Duduk dulu." Abizar menyuruh Aini untuk duduk di bangku halte.
"Sejak kapan kamu bisa bela diri?" tanya Abizar saat dia memberikan obat kepada Aini.
Aini mengambil plaster dari tangan Abizar. "Sudah lama."
"Thanks, ya," ucap Aini.
Setelah usai mengobati luka di tanganya, Aini pun langsung bangun dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya menuju hotel yang berada di seberang halte.
"Biar, aku antar," ujar Abizar.
"Gak usah, tinggal nyebrang doang kok." Aini berusaha untuk menjauh dari Abizar.
"Gak apa-apa, aku juga juga mau ke hotel itu kok," modus Abizar yang ingin lebih lama dengan Aini.
"Oh, ya," ucap Aini dengan canggung.
Pada saat Aini dan Abizar menunggu lampu hijau untuk menyebrang, dia melihat sosok laki-laki yang sudah melipatkan tanganya sembari menatap ke arahnya sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Astagfirullah!" Aini langsung terkejut memundurkan tubuhnya kebelakang saat matanya melihat sang suami yang berada di seberang jalan.
"Kenapa?" tanya Abizar yang melihat Aini begitu ketakutan.
Bersambung....
__ADS_1