
" Huaaa.... Bundaa... angan ingalin Enzooo, hhuuaaa... " tangisan Kenzo di luar pintu kamar, karena terbangun melihat Aini tidak ada di sampingnya.
" Astagfirullah Kenzo?" Ammar mendorong tubuh Nabila agar ciumannya berhenti.
Ammar menaiki tangga bersama Nabila, mendekati Kenzo yang sedang menangis di luar pintu kamar.
" Huuaaa... huuuu... huuu... " tangisan Kenzo mulai mereda, saat Ammat mendekatinya dan memeluknya.
" Kenzo kenapa? bunda Aini mana? " tanya Ammar menggendong Kenzo masuk kedalam.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Aini keluar dengan pura pura bingung melihat Ammar dan Nabila sudah ada di dalam kamarnya.
Aini sempat berlari pelan menuju kamar, agar suara tangisannya tidak menganggu aktifitas Ammar dan Nabilandi ruang keluarga.
" Mas? loh, Kenzo kenapa? nangis? bunda cuma ke kamar mandi sebentar sayang," Aini mengambil Kenzo dari Ammar tapi Kenzo tidak mau.
" Kita bobo lagi yuk sayang, udah malem. Besok kita main lagi sama Ayah Ammar dan Bunda Nabila," bujuk Aini.
" Ga auu, Enzo au bobo ama ayah Ammal," ambek Kenzo.
" Owh, ya sudah kalau gitu, biar Aini tidur dikamar mba Nabila, mba Nabila biar tidur disini," ucap Aini yang pergi meninggalkan mereka.
" Ga aauuuu bunda....... Enzo aauu bobo ama ayah dan bunda dan bunda" tunjuk Kenzo ke Aini dan juga Nabila.
" Hahaha, Kenzo sayang, tempat tidurnya gak muat, biar bunda Aini bobo di kamar yang lain aja ya, " Aini mengelus pipi Kenzo.
"Ga auu... ga auuu,,, " ngamuk Kenzo di gendongan Ammar.
" Ya ya, kita bobo bareng.Tapi, ayah Ammar bobonya di sini ya, kasian nanti Kenzo sempit, " tunjuk Ammar ke sofa yang ada di dalam kamar Aini. Kenzo pun mengangguk dan kembali tidur di pelukan Ammar.
Perlahan, Ammar merebahkan Kenzo ke atas kasur dan menyelimutinya.
" Ya sudah, kalian juga tidur. Biar mas atau abang tidur di sofa. " ucap Ammar yang duduk di sofa langsung menyelonjorkan kakinya, dan mulai memejamkan matanya.
Nabila mengambilkan bantal dan Aini mengambilkan selimut untuk Ammar. Sungguh, nikmat mana yang telah engkau dustakan. Saat engkau di lanyani penuh kasih sayang oleh istri istri mu yang begitu perhatian.
Aini dan Nabila hendak mencium pipi Ammar, sehingga mereka berdua menciumnya secara bersamaan antara pipi kiri dan pipi kanan Ammar. Ammar yang pura pura sudah tertidur hanya bisa menahan senyum di wajahnya.
Aini dan Nabila bergantian ke arah Kenzo yang sudah terlelap lebih dulu, mereka tidur disamping kanan dan kiri Kenzo.
Beberapa menit kemudian Nabila masih saja tidak bisa memejamkan matanya, rasa penasaran tentang Aini tiba tiba muncul di pikirannya.
" Apa kamu sungguh mencintai Bang Ammar? " tanya Nabila yang tiba tiba dengan nada pelan agar tidak membangunkan Kenzo dan Ammar yang sudah tertidur, saat Aini sudah mau memejamkan mata.
" Aku tau kamu belum tidur, " ucap Nabila penasaran.
" Teruuss,,, alesan apa aku harus menikah dengan nya? harta? kayaan juga ayah aku, ganteng? gantengan juga Kenzo. " ucapan Aini ikut pelan tapi masih di dengar oleh Ammar, sehingga ada senyum yang terlukis saat mendengarnya.
" Lalu bagaimana dengan tunanganmu?" pertanyaan Nabila sontak membuat Ammar langsung memasang kuping lebar lebar, karena ingin tau jawaban dari istri tercintanya.
Aini bangun untuk duduk bersender di atas kasur, " hubungan ku baik baik saja, kenapa? mba Nabila kepo ya.... pengen tau cerita aku? tapi maaf, saya ngantuk mba, besok ada kuliah pagi," Aini kembali tertidur dan menutup selimutnya hingga menutupi kepalanya.
" Kamu masih cinta sama tunangan kamu? " ucap Nabila yang kembali bertanya, namun Aini memilih diam.
" Kalau kamu sudah punya tunangan, kenapa kamu malah menikah dengan orang lain? " Nabila terus terusan bertanya ke Aini.
" Astagfirullah, mba ini kenapa sih? aku tuh mau tidur mba.... besok aku ada jadwal kuliah pagi, mba mau nya apa sih? " kesal Aini bangun dan duduk lagi.
" Kenapa? salah aku tanya? " Nabila ikut duduk dan bersandar.
" Ya salah lah, itu privasi aku, mau aku masih cinta sama dia juga bukan urusan mba, " kesal lama lama Aini.
" Jadi, kamu masih cinta sama mantan calon suami kamu." pancing Nabila yang berhasil membuat Aini geram.
" Iya! kalau iya kenapa emangnya? hah? " ucap Aini sedikit keras membuat Ammar bangun dan membuka kasar pintu dan membanting pintu cukup keras, membuat Aini dan Nabila terkejut.
__ADS_1
" Puas mba Nabila hah? bujuk sendiri sanah suaminya, bodo amat" ucap Aini yang memilih untuk tidur, dia tidak mau mengambil pusing membujuk Ammar yang salah paham. karena besok Aini ada kelas pagi.
Pagi harinya, mereka semua melakukan aktifitas seperti biasanya, dan saat Aini ingin pamit untuk berangkat kuliah, Ammar masih terdiam, dia menunggu istrinya untuk meminta maaf dan membujuknya.
Sayangnya Aini malah cuek bebek saat Ammar hanya mengangguk dan diam. karena menurut Aini, Nabila lah yang harus menjelaskannya, bukan Aini.
Aini langsung pergi ke kampus falkutas hukum, sedangkan Kenzo bersama Sarah pergi ke rumah nenek.
Ammar sangat kecewa dengan sikap Aini, entah mengapa Ammar mau di manja dan di bujuk oleh Aini layaknya seperti Kenzo. Namun Aini malah acuh tak acuh dengan suaminnya yang sedang kecewa.
Selang beberapa menit dari Aini, Ammar berpamitan dengan Nabila untuk pergi ke kantor dan Nabila minta izin untuk ke Tk Islamic Pusat.
PT. Abqori Energi.
Kantor, ruang Direktur.
Roy tidak heran melihat tingkah laku bosnya yang dari tadi uring uringan tidak jelas, terkadang sampai melampiaskan kekesalnya terhadap Roy dan karyawan lainnya, Shindy sekertaris Ammar yang sedang hamil 4 bulan merasa paham apa yang di alami bosnya.
" Pasti karena lagi berantem sama mba Aini, " ucap Shindy ke Roy asisten pribadi Ammar.
" Siapa lagi si mba, yang bisa buat bos kita jadi galau gak jelas kaya gini. " ucap Roy.
" Siska aja di usir dari ruangan pak bos, cuma gara gara minyak wanginya gak enak" ujar Roy.
" Wah, masa sih Roy? apa jangan jangan Mba Aini lagi hamil ya.? " tebak Shindy.
" Mungkin dua duuu... " ucapan Roy terpotong karena di sumpal oleh Shindy.
" Jangan sembarangan!!! di larang keras bicara istri ke duuuua bos, di perusahaan, bisa tamat riwayat loe dan gue" ucap Shindy yang tau maksud ucapan Roy.
" Gak jadi deh kalau gini gue minta cuti hamil," ucap Shindy kecewa.
" Lagian masih lama mba lahiranya, udah minta cuti aje, " ucap Roy yang menggosipin bos kesayangannya dengan Shindy.
" Astagfirullah, perasaan apa ya? kok gak tenang gini sih? " Ammar yang sedang tidak fokus hanya menatap kosong layar laptopnya.
Ammar mencoba menghubungi istrinya, tapi tidak ada jawaban.
" Apa masih ada kelas ya? " Ammar pun mengirim pesan ke Aini.
My honey 💖
" Assalamualaikum, sayang? udah selesai mata kuliah nya? mas jemput ya? " Ketikan Ammar di layar ponselnya, namun di hapus lagi.
" Assalamualaikum, dimana? " ubah ketikan Ammar di ponselnya. namun di hapus lagi.
" Aaggrrrhhh.... Aini, ya ampun, " teriak Ammar frustasi.
" I love u, i love u, i love u,,,, " ketikan Ammar tanpa sadar terkirim ke nomor Aini.
Ting, notifikasi pesan terkirim.
" Ahhh, terkirim" gummam Ammar melihat ponselnya. dan meletakkanya lagi dengan kasar diatas mejanya.
Tiba tiba, panggilan masuk ke ponsel Ammar 🎶 My Honey 💖📲
" Ma sya allah,, dia nelpon.. ahh beneran ini..? ya ampun," Girang Ammar saat melihat Aini langsung menghubunginya.
" Hallo, Assalamualaikum mas? " Suara lembut dari seberang telephone. Ammar tersenyum senang, bagaikan seorang anak dapat jatah jajan.
" Waalaikumussalam, hmm iya?" masih pura pura dingin.
" Mas, sebelumnya Aini mau minta maaf soal semalam, danAini mau bilang, abis pulang dari kampus Aini balik kerumah nenek ya, Aini minta izin untuk nginep di rumah nenek lagi ya? kasian nenek, "
" Ah, iya" jawan Ammar tanpa sadar karena sangking senangnya.
__ADS_1
" Bener mas? ya sudah kalau gitu Aini tutup dulu ya telepone nya, karena masih ada kelas satu lagi, makasi mas, assalamualaikum" ucap Aini yang mau menutup teleponenya tapi terhenti saat Ammar berteriak.
" Eh... tunggu dulu... Aini... ? hallo.....? Aini.....? " Sadar Ammar dengan ucapannya.
" Iya mas.....? "
" Kata siapa? gak boleh!!" ucap Ammar menarik lagi kata katany, hanya untuk Aini.
" Katanya tadi boleh, gimana si mas? kasian nenek mas, boleh ya.. ? boleh ya? ya please," pinta Aini.
" Asalkan habis pulang kuliah kamu langsung ke kantor mas, minta maaf langsung sama mas kesini, baru mas pikirkan" ucap Ammar tersenyum jail.
" Ih..... kok gitu sih mas....? ya sudah in sya allah nanti habis mata kuliah Aini langsung ke kantor mas, ya udah dulu ya mas, udah ada dosen, bye mas, assalamualaikum," ucap Aini sambil memutuskan sambungan telepone.
" Ya ampun,, nih orang gak ada romantis romantisnya ya,, cium dulu kek, main di tutup aja," ucap Ammar kesal sendiri.
Tok tok tok... suara ketukan pintu.
" Masuk, " suruh Ammar yang duduk kembali setelah telephonan.
" Maaf pak, ruangan metting sudah saya siapkan, semua karyawan sudah menunggu bapak,"
" Ok kalau gitu, " ucap Ammar yang tersenyum ceria membuat Roy pusing melihat tingkah bosnya yang berubah ubah.
1 jam berlalu Ammar masih dengan seriusnya metting membahas proyek kerja sama dengan salah satu clien nya.
Aini yang baru tiba di kantor Ammar merasa takjub dengan bangunan perusahaan milik suaminya, ini pertama kalinya Aini pergi ke kantor Ammar.
" Kok gue jadi norak ya? liat bangunan milik suami gue sendiri," ucap Aini yang masih di dalam mobil sambil melihat dari kaca mobil.
Sebelum turun Aini mengirim pesan ke Ammar bahwa dirinya sudah sampai di perusahaanya, Aini turun tanpa ada yang mengetahui bahwa istri dari pemilik perusahan datang berkunjung, padahal sebelumnya Ammar sudah menyuruh Roy dan Shindy untuk menyuruh karyawannya menyambut istrinya saat istrinya datang,
Sesampainya di lobby utama, Aini langsung ke resepsionis menanyakan ruangan Ammar dimana.
" Permisi mba, " tanya Aini.
" Ya, ada yang bisa kami bantu? " ucap salah satu karyawan dengan senyum manisnya.
" Ruangan pak Ammar lantai berapa ya? " tanya Aini dengan nada biasa.
" Maaf sebelum nya, atas nama siapa dan ada perlu apa? "
" Ah? eh.. saya Aini mau bertemu dengan pak Ammar." ucap Aini.
" Baik mba tunggu sebentar ya," ucap Karyawan tiba tiba melihat Aini dengan tatapan sinis. Karyawan Ammar berbisik ke teman satunya sambil melihat ke arah Aini.
" Maaf mba Aini, pak Ammar nya sedang tidak ada di ruangannya, untuk sekarang Pak Ammar nya lagi sibuk, tidak bisa di ganggu," ucap Salah satu karyawannya yang memandang senyum sinis.
" Tapi saya, issss..... Owh gitu ya mba, makasih ya mba, " Aini langsung mengerti dengan tatapan sinis karyawan suaminya.
Aini tidak mau menjadi orang bodoh, yang di anggep oleh mereka sebagai salah satu penganggu suaminya. Aini melangkah kan kakinya menuju lift.
" Astagfirullah, gak salah nih? ada 40 lantai? " gumma Aini saat sudah menerobos masuk ke dalam lift.
Aini pun memperhitungkan ruangan Ammar terletak di lantai berapa, dengan yakin Aini memencet tombol di mana ruangan Ammar berada.
Bersambung,,,
Bonus visual Aini saat ke kantor Ammar sepulang dari kuliah.
Maaf ya, apabila masih banyak letak kesalahan dalam mengetik, baik itu typo, dan lain sebagainya,
mohon dukunganya like, komen, vote nya ya,, biar author semangat, terimaksih 😘😘
__ADS_1