Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 131. Bakat terpendam Roy


__ADS_3

Suara di dalam aula mulai kembali meriah, saat tiba acara bebas. Menampilkan bakat keterampilan yang ingin menunjukan ekspresi untuk memeriahkan penutupan acara.


Roy kembali duduk di samping Gabriel, saat Ammar dan Aini mulai memberi tepukan tangan pada Ulfa setelah selesai menampilkan bakatnya dalam bermain piano.


"Woow, keren. Ul." Aini merasa terkesima melihat permainan piano yang Ulfa bawakan.


"Thank you," ucap Ulfa yang melihat Roy sudah kembali duduk di samping Gabriel.


"Kamu memang, Istriku." Altan mencium kening Ulfa di depan semua orang.


"Wooow!" teriak semua orang yang berada satu meja dengan mereka, termasuk Roy yang semakin geram dengan hatinya yang mudah terbakar cemburu.


Acara pun berlanjut, Ammar dan Aini mengompori Roy untuk menampilkan bakatnya setelah Ulfa. Karena Ammar tahu bahwa asistennya punya bakat terpendam selain mengubah penampilan seseorang dalam menyamar.


"Gab, mau nyanyi bareng, aku?" tawar Nico yang mengetahui Gabriel memiliki suara emas.


"Bee, ayo!" Gabriel mengajak Roy untuk naik ke atas panggung, menunjukan bakat mereka dan mengacuhkan Nico.


Roy yang kesal berada di sekitar Altan dan Ulfa, menenggak segelas minuman bersoda di hadapannya dan membalas uluran tangan calon Istrinya.


"Yey ... cemungut, Gab!" teriak Aini dengan heboh.


"Semangat, Roy! Jangan malu-maluin." teriak Ammar tertawa melihat kelakuan asistennya yang cemburu melihat keromantisan Altan dengan Ulfa.


"Woow ... kasih tepuk tangan yang meriah dari pasangan satu kali ini, " ucap pembawa acara saat mereka naik ke atas panggung.


"Kamu main gitar, aku yang nyanyi," ucap Gabriel saat mereka sudah berada di atas panggung.


"Emang bisa nyanyi?" ledek Roy menggunakan mikrofonnya.


"Ih, meremehkan. Om sendiri bisa main gitar gak?" balas ledek Gabriel kepada Roy.


Semua orang menjadi tertawa, melihat dan mendengar obrolan Roy dan Gabriel di atas panggung dengan microfonnya. Begitu juga dengan Roy yang selalu tertawa melihat tingkah mengemaskan dari calon Istrinya.


"Oke, kita buktikan pada mereka. Kita bisa," ucap Roy yang sudah siap dengan gitar yang berada di tangannya, begitu juga dengan Gabriel yang duduk begitu anggun dan mempesona siap melantunkan lagu yang ingin dinyanyikan.


"Mau lagu apa?" tanya Roy yang mengetes suara dari gitar yang dipegangnya.


"Cicak-cicak di dinding!" teriak Sisil yang memberi saran kepada sahabatnya. Satu ruangan aulapun langsung ramai dengan suara tawa.


Roy membisikan di telingan Gabriel, lagu yang akan dia bawakan dan akan mereka persembahkan untuk seseorang yang kini masih hinggap dihati mereka masing-masing.


"Bisakan?" tanya Roy


"Kita coba ... duel aja ya, nyanyinya," ucap Gabriel


"Oke." Roy mulai mengambil kunci lagu yang akan dibawakannya.


"Oke, lagu pertama akan kita persembahkan untuk kalian yang sedang merasakan potek hatinya." Gabriel berbicara begitu jelas, kemudian Roy mulai memetikan senar gitarnya dengan alunan pertama.


...Semua yang ku mau, hanya sedikit waktumu, untukku...


"Woow!" teriakan mengema di dalam aula saat Gabriel membuka suara emasnya. Roy pun terkejut dan tersenyum ke arah Gabriel.


...Hanya satu pesan singkat, Sedang apa dirimu?...

__ADS_1


...Awal pertemuan kau sangat peka padaku, dan itu dulu...


...Rasa yang terlanjur dalam, kau buatku semakin bodoh...


...Oh mengapa harus kulihat kau dengan dirinya...


...Terluka tapi tak berdarah....


Dilanjut oleh Roy dengan suara tidak kalah merdu dari calon Istrinya saat Gabriel berhenti bernyanyi. Roy bernyanyi penuh menghayati yang ditunjukan untuk Ulfa.


...Ajarkan aku cara tuk melupakanmu...


...*Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk...


...hilangkan kamu*...


...Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya...


...Awal pertemuan kau sangat peka padaku, dan itu dulu...


...Rasa yang terlanjur dalam, kau buatku semakin bodoh...


...Oh mengapa harus kulihat kau dengan dirinya...


...Terluka tapi tak berdarah...


Gabriel pun masuk intro menyanyikan lagu dengan menyentuh hati sembari melirik ke arah Nico dan membuat kedua mata mereka saling bertemu.


... Ajarkan aku cara tuk melupakanmu...


...Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu...


...Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya...


...Tak tahu bagaimanakah caranya...


...Agar diriku bisa lupakanmu...


Roy langsung ikut bernyanyi bersamaan dengan Gabriel, memadukan suara emas mereka, menggema di dalam aula, membuat orang-orang yang berada di dalam aula ikut bernyanyi bersama mereka.


...… Ajarkan aku cara tuk melupakanmu...


...Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu...


...Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya...


...Sebelum aku trauma...


...Mencintai (Mencintai)...


...Mencintai...


...Mencintai sosok yang baru lagi...


lagu By : Arvian Pangestu / Rivan Hendrawan. (Ajarkan Aku...)

__ADS_1


"Woow! Tepuk tangan yang meriah untuk pasangan duel kali ini, begitu merdu. Sampe terhanyut suasana loh, kita-kita yang dengerinnya," ucap Pembawa acara yang mendekat ke arah mereka.


Setelah selesai, mereka turun dan kembali ketempat duduk semula, semua orang bertepuk tangan akan bakat yang di tampilkan oleh kedua sejoli tersebut.


Roy nampak kecewa saat melihat Ulfa bersama suaminya tidak ada di dekat Ammar dan Aini, begitu juga dengan Nico bersama Sisil.


"Cieee ...." Aini merasa tersentuh dengan lagu yang dibawakan oleh Gabriel dan juga Roy.


"Wah, ternyata bakatmu bukan hanya merias wajah, Roy!" Ammar tertawa mengingat saat Roy berubah menjadi seorang wanita cantik waktu di Paris.


"Merias wajah?" tanya Gabriel


"Iya, mau lihat?" Aini mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Ammar dan Roy saat menyamar menjadi sugar daddy and sugar baby.


"Jangan, Nyah!" Roy ingin mengambil ponsel Aini. Namun, Ammar melotot ke arah Asistennya karena Roy terlalu dekat dengan Aini.


"Aku, kirim aja ... ya." Aini mengirim foto Roy yang berpenampilan seorang wanita yang seksi dan cantik.


"Bos!" Roy merengek ke Ammar agar Istri Bosnya tidak mengirim foto ke Gabriel.


"Sorry, Roy. Gak bisa bantu." Ammar mengangkat tanganya saat sang Istri melempar tatapan tajam kepada dirinya, ketika ingin membantu Roy.


Pesanpun masuk ke notifikasi Gabriel, dia membuka isi pesan dari Aini dan melihat foto seorang yang begitu cantik dan mempesona. Melihat calon suaminya begitu cantik. Gabriel langsung tertawa terbahak-bahak, sampai air mata keluar dari sudut mata Gabriel.


"Dah, liatkan? Hapus!" Roy begitu malu saat penyamaran menjadi seorang wanita di ketahui oleh calon Istrinya sendiri.


"Ya ampun, Om. kyuuutt banget!" Gabriel terus tertawa melihat foto calon suaminya, dia pun langsung memajang foto Roy sebagai walpaper di ponselnya.


"Hapus, gak!" bentak Roy merebut ponsel Gabriel dengan paksa.


"Gak mau, wleee!" Gabriel menghindar dari tangan Roy dan berlari menjauh dari Roy.


"Om, aku kirim ke sosmed aku, ya? Aku mau ngenalin calon suami aku yang cantik!" Gabriel berlari menjauh dari Aini dan juga Ammar.


Roy mengejar Gabriel hingga sampai ke teras taman, halaman samping aula.


"Gab, gak lucu! Hapus gak?" pinta Roy memaksa Gabriel.


"Gak mau, ya ... udah, aku kirim!" Gabriel berpura-pura memasang wajah sedihnya.


Sekali gerakan Roy berhasil menangkap tangan Gabriel. Sehingga posisi mereka begitu dekat, bahkan Gabriel bisa merasakan deru napas Roy yang begitu terasa di indra penciuman Gabriel.


Suasana luar yang gelap dan sunyi membuat situasi yang di alami Roy begitu mendukung untuk melakukan adegan romantis di malam hari, Roy melihat bibir ranum milik Gabriel begitu menggoda imannya.


Roy memajukan bibirnya untuk bisa mencium bibir ranum milik Gabriel.


"Apakah, Om boleh menciumnya?" tanya Roy yang meminta izin kepada Gabriel.


"Tapi aku bukan, Ulfa." Gabriel mendorong pelan tubuh Roy agar menjauh.


"Aku tau, kamu adalah Gabriel, Gabriel Anatasya. Calon Istriku, dan aku meminta izin kepada calon Istriku, apakah aku boleh menciummu?" tanya Roy yang sudah menegang.


"O-om, ka-kata, Kak Aini kita gak boleh sedekat ini. Masih belum mukhrim." Gabriel mengrecepkan matanya akibat gugup ketika Roy sangat dekat dengan dirinya.


"Ok, aku akan sabar sampai kamu jadi milik, aku." Roy melepaskan tubuh Gabriel dan mengajaknya untuk masuk ke dalam aula.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2