Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 102. Menunda perpisahan


__ADS_3

"Ernata!" teriak seorang wanita bercadar memanggil Aini yang sudah berada di luar kamar inap.


Aini yang merasa tak asing lagi dengan nama Ernata, menghentikan langkahnya sejenak sebelum melangkahkan kakinya lagi karena mengenal suara yang menyebut nama Ernata.


"Aini, tunggu!" teriak wanita bercadar itu, kini memanggil nama Aini, saat Aini tidak mengubrisnya saat di panggil dengan sebutan Ernata.


"Aini!" Wanita itu mencegah pintu lift tertutup menggunakan tanganya.


Pintu lift terbuka Aini melihat ke arah seorang yang berdiri tepat di hadapannya lalu memeluknya dengan erat, ternyata dugaan Aini benar. Wanita bercadar itu adalah Nabila.


"Maafin aku Ernata!" ucap Nabila menangis memeluk Aini yang sedang mematung mendengar panggilan dari Nabila.


"Maaf aku baru tahu kalau selama ini istri pertama Bang Ammar adalah kamu!" dengan suara terisak Nabila terus berbicara.


"Mungkin kamu gak ingat sama aku, atau bahkan, mungkin kamu gak kenal sama sekali dengan aku, tapi yang jelas aku bersyukur kamu bisa berada di sini sampai saat ini." Nabila melepaskan pelukanya dan melihat Aini sudah mengeluarkan air matanya.


"Kamu ingat sama aku?" Nabila yang bingung melihat Aini menangis.


"Serius, kamu ingat aku?" Nabila mengulang pertanyaan saat mendapat anggukan dari Aini.


"Ma sya allah, Aini!" Nabila kembali memeluk Aini, dan Aini pun membalas pelukan dari Nabila.


"Maafkan aku, yang telat menyadarinya." Nabila melepaskan pelukanya.


"Maafkan aku yang terlalu egois menyuruh kamu menjauh dari Bang Ammar!" lutut Nabila berangsur lemas dan berlutut di hadapan Aini.


"Sudah, kita duduk dulu!" Aini memapah Nabila agar tidak berlutut di hadapannya.


"Maafkan aku, Aini! Maafkan aku!" Nabila terus menangis di pelukan Aini.


Aini hanya mengusap pundak Nabila dengan lembut, sekilas melirik Roy yang masih setia menunggu dengan berdiri lebih jauh di antara ke dua istri bosnya.


"Sudah lah, Mba. Semua sudah berlalu, jangan di sesali! Aku pun ikhlas melakukanya." Aini mengusap air mata Nabila.


"Gak Aini! Aku harap ... Kamu mau memaafkan semua kesalahan aku!"


"Kenapa harus minta maaf? Mba gak salah, justru aku yang seharusnya minta maaf sama Mba," Aini meraih tangan Nabila untuk di genggamnya dengan lembut.


"Maafin Aini ya, Mba ... Sudah hadir di hubungan Mba Nabila dengan Mas Ammar." Aini menunduk malu dan merasa bersalah.


"Gak Aini, jangan seperti itu! Aku minta maaf mau kan kamu memaafkan aku?" Nabila mengangkat wajah Aini dan mendapat anggukan dari Aini.

__ADS_1


"Alhamdulillah ...." Nabila terus memeluk Aini seakan baru bertemu dengan adiknya yang sudah lama menghilang.


"Maaf, Nyonyah. Itu ... Sudah di tunggu sama Tuan Robbet!" Pak Bejo yang mendapat perintah dari Robbet untuk menyusul Aini.


"Ah, ya ... Tunggu sebentar, Pak!" Aini melepaskan pelukan Nabila dan mengusap air matanya.


"Maaf, Mba ... Aini harus pamit. In sya allah besok pagi Aini kesini lagi." Aini mulai berdiri dan di ikuti oleh Nabila.


"Oh, ya sudah. Kalau gitu, biar Mba yang antar kamu sampai depan." Nabila yang merangkul tangan Aini.


"Gak usah, Mba! Maaf bukan maksud Aini gak mau di antar sama Mba Nabila, Aini sudah ada Roy dan juga Pak Bejo, kok! Lebih baik, Mba Nabila temani Mas Ammar aja!" Aini mulai masuk ke dalam Lift.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya Pak Bejo bawa mobilnya." Nabila menyerahkan jaket kepada Aini.


"Terima kasih ya, Mba ... Salam buat Ibu dan Mas Ammar, Assalamualaikum! ucap Aini.


"Waalaikumussalam," balas salam Nabila. dan pintu Lift pun tertutup.


Ting!


Suara pintu Lift terbuka,


"Terima kasih ya, Roy!" Aini masuk kedalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh Roy.


Mobil perlahan mulai melaju meninggalkan area rumah sakit, dalam keheningan malam sepanjang perjalanan Aini hanya menatap luar kaca jendela yang di temani oleh germelapnya lampu jalanan.


Perasaan aneh menyelimuti dirinya saat Nabila sudah mengetahui dirinya adalah Ernata, Keputusan dirinya saat memilih mengalah untuk Nabila adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya.


Namun, di saat hatinya sudah mengikhlaskan Ammar untuk bahagia bersama Nabila. Tuhan berkehendak lain, mempertemukan dirinya kembali dengan suaminya dalam waktu sesingkat mungkin.


Tetesan demi tetesan airmata Aini jatuh di atas pipinya, Apakah dirinya akan benar-benar kembali lagi kedalam kehidupan rumah tangga poligaminya? Atau hanya sekedar penunda perpisahan dengan suaminya.


...Tuhan ... Maafkan diri ini, yang tidak bisa menjauh dari angan tentangnya ......


...Namun ... Apalah daya ini, bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta ... Dia ......


Terlanjur cinta by : Rosa.


"Maaf, Nyah. Kita sudah sampai!" Pak Bejo membukakan pintu mobilnya, ternyata Aini sudah tertidur dalam tangisanya selama perjalanan.


"Waduhh! Tidur ternyata." Pak Bejo bingung harus apa.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Robbet yang kebetulan ada di rumah Andi saudara ipar Robbet.


"Anu, Tuan! Anu ... itu ...."


"Anu, anu ... Anu apa?" betak Robbet yang tidak mengerti ucapan sang sopir.


"Anu itu, maksud saya Nyonyah Aini tertidur," ucap Pak Bejo memasang wajah ketakutannya saat melihat raut wajah Robbet yang sangar.


"Ya sudah, biar saya saja yang bawa masuk ke dalam!" ucap Robbet yang melihat Aini tertidur lelap di kursi belakang.


"Ya Tuhan ... Berat sekali!" suara Robbet yang tertekan karena menahan berat Aini.


"Ya Allah, kenapa Aini?" tanya Dinda dari jauh yang melihat Robbet membopong tubuh Aini.


"Ssstt ... Buka pintu kamarnya! " jawab Robbet yang merasakan sakit di pinggangnya.


"Oh, iya. Maaf lupa." Dinda berlari ke arah kamar Aini dan membukakan pintu kamarnya.


Robbet meletakan Aini dengan perlahan, seperti bak permata yang begitu sangat berharga di mata Robbet.


Melihat putri kecilnya tertidur pulas Robbet menyelimutinya dengan perlahan lalu mencium keningnya. Iya benar, walaupun seorang anak sudah dewasa bahkan sudah menikah sekalipun tapi di mata orang tua anaklah tetap seorang anak kecil baginya.


"Aduuhh, pinggang ku encok!" ucap Robbet yang sudah ada di luar kamar Aini.


"Lagian, sok-sok an gendong bumil doubel !" Robbet yang di tertawakan oleh Andi.


"Aduh sudahlah, besok pagi aja berangkatnya!" Robbet memijat pinggangnya yang masih terasa sakit akibat menggendong Aini dalam hamil besar.


"Kamu yakin. Mas? Mau bawa Aini?" Andi yang teringat dengan ucapan Robbet tentang rencananya membawa Aini untuk lahiran di negaranya.


"Yakin!" Robbet penuh kepercayaan dirinya.


"Apa gak sebaiknya di sini saja? Dokter di sini juga hebat-hebat kok! Perlalatannya juga komplit!" Dinda ikut membuka suara.


"Iya. apa lagi dengan kondisi Aini yang sudah hamil tua, sangat rentan untuk naik pesawat!" Andi merasa keberatan dengan keputusan Robbet.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Aini," ucap Robbet yang mengingat ucapan Dokter Fazila bahwa sangat rentan Aini untuk melahirkan normal karena ada beberapa gangguan di kepala Aini pasca kecelakan.


"Kenapa waktu Aini sudah sembuh atau sadar dari komanya tidak ada tindak lanjut untuk penanganan pengobatannya?" Dinda yang masih bingung dengan keluarga Aini.


"Kita sudah melakukan yang terbaik, sakit yang ada di kepalanya sembuh seketika ketika Aini bertemu dengan Reyzal. Dokter menyatakan seperti itu, tapi selepas itu Dokter Fazila menemukan kejanggalan pada kesehatan Aini menyangkut sakitnya." robbet menjelaskannya kepada Dinda dan juga Andi.

__ADS_1


"Astagfirullah." ucap Dinda yang sudah lepas tangan kalau sudah menjadi kehendak Tuhan.


Bersambung....


__ADS_2