
Pekerjaan yang menguras akal dan pikiran membuat Aini ingin berendam dengan air panas lalu bermain dengan kedua anak kembarnya, setelah sampai di rumah.
Aini mengendarai mobil-nya sampai ke rumah, begitu sampai di dalam rumah, dia disambut oleh ke dua anaknya yang masih bermain dengan kedua baby sisternya.
"Assalamualaikum, anak Umi ... ya ampun gemesin! Umi mandi dulu ya," ucap Aini, dia melangkahkan kakinya menuju kamar lalu bergegas berendam di dalam bathtub.
Aini memejamkan matanya, merasakan rileksasi pada tubuhnya, seharian dia berkutik dengan semua barang bukti dan info data pelaku, dia tidak hanya menangani satu masalah. Akan tetapi dia menanggung dua masalah sekaligus, semata-mata untuk mengalihkan perasaan rindunya dengan sang suami.
Air matanya tanpa terasa menetes saat mengingat wajah Ammar, dia merindukan sosok suaminya, sudah seminggu lebih dia menjalani jarak jauh dengan Ammar, bahkan hanya sekedar menelepon mendengar suara Ammar pun sangat sulit.
"Mas ... aku rindu!" Aini memeluk kedua kakinya dengan erat, keningnya pun dia taruh di atas dengkul sendiri sembari terisak dengan suara tangisnya.
"Permisi, Nyah ... ada telepon dari Tuan Ammar!" Bik Sumi mengetuk pintu kamar mandi Aini.
"Iya, Bik ... sebentar!" Aini segera bergegas memakai handuk dan membuka pintu kamar mandi. Dia pun mengangkat panggilan video call dari sang suami.
"Astagfirullah ... abis ngapain, pake handuk doang?" tanya Ammar dari seberang telepon.
"Habis mandi," jawab Aini dengan suara yang senduh.
"Loh, kenapa? Kamu nangis?" tanya Ammar.
"Nggak apa-apa! Cuma kelilipan," dusta Aini yang mengusap air matanya.
"Hai, nggak boleh bohong sama suami! Kenapa? Apa bos kamu gangguin kamu?" tanya Ammar untuk memastikannya kembali.
"Nggak! Bukan! Dah lah ... nggak penting juga!" Aini mengambil baju tidurnya yang tertutup.
Ammar tertawa kecil melihat raut jawab istrinya yang kesal, dia tahu pasti karena dirinya yang jauh dari Aini, Ammar pun mencoba membujuk sang istri dengan berbagai cara hingga ada lengkungan bulan sabit di sudut bibir sang istri.
__ADS_1
"Janji, ya!" ucap Aini, dia pun sudah memakai baju dan menghampiri ke dua anak kembarnya.
"Insyaallah, Sayang!" Ammar pun ikut tertawa saat sang istri sudah tidak merasa kesal lagi.
Aini pun mengarahkan kamera ponsel ke arah kedua anak mereka yang semakin tubuh besar, walaupun belum genap satu tahun, tapi mereka sudah mulai tumbuh gigi satu persatu dan merambat dari satu benda ke benda yang lain, dan itu membuat Ammar semakin rindu dengan keluarga kecilnya.
"Khan ... say hello sama, Abi! Abi ... halo, assalamualaikum." Aini menggendong Khan dan melihat wajah Ammar yang tersenyum. Anak laki-laki Aini pun tertawa melihat wajah ayahnya.
Setelah itu, baru Aini menggendong Khanza. Anak kedua mereka, di mana Khanza justru menangis saat melihat wajah Ammar. Khanza mencium wajah sang ayah seraya mengucapkan rasa rindunya.
"Hhuuu ... kacian, anak Abi ... sabar ya, Sayang ... doain Abi, biar cepat beres kerjanya di sini. Biar cepat pulang main sama Khansa dan Abang Khan!" ujar Ammar yang meneteskan air mata saat melihat malaikat cantik tidak bersayap itu terus menangis ingin minta dipeluk.
Cukup lama Ammar melakukan panggilan Video call, hingga tanpa terasa kedua anak mereka tertidur dalam dekapan Aini yang masih meminum ASI dari Aini.
"Jangan ditutup!" rengek Aini yang ingin minta ditemani tidur oleh Ammar.
Bagi mereka, sebulan menjalani hubungan jarak jauh itu seperti satu abad, sangat lama dan tersiksa. Namun, karena mereka memiliki ikatan cinta yang begitu kuat akan ridho Allah. Membuat mereka semakin bersabar untuk menunggu waktu itu tiba. Melampiaskan rasa rindu yang hanya bisa terobati dengan bertemu.
***
Pagi hari Aini sudah rapih dan ingin berangkat ke kantor, dia pun berpamitan kepada kedua anak kembarnya lantar pergi dengan mobil kesayangannya yang pernah dibelikan oleh Ammar.
Sepanjang perjalanan, Aini masih kepikiran dengan tugasnya yang diberikan oleh atasannya, pasalnya Rahman sangat ingin sang pelaku bisa dikenakan pasal berlapis, walapun kenyataannya memang benar bahwa pelaku terbukti kenal pasal tiga lapis yaitu, pencemaran nama baik, ITE dan penyalahgunaan identitas orang lain.
"Astagfirullah!" Aini terkejut ketika mobilnya ditabrak dari belakang saat lampu merah. Dia pun melihat ke arah belakang melalui kaca spion.
Aini turun dari mobil dan memeriksakan keadaan mobilnya. Benar saja, bumper pada bagian belakang mobil Aini mengalami kerusakan parah. Aini pun melihat pengemudi yang turun dari mobil yang ternyata masih anak muda dengan penampilan anak muda jaman sekarang.
"Waduuh ... sorry, Mbak!" ucap pemuda itu yang hanya menampakan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Aini hanya menghela napas panjang, kemudian dia menelepon montir untuk menderek mobil tersebut, polisi pun datang untuk mengamankan situasi jalanan yang sedikit terganggu.
Setalah perdebatan yang cukup panjang. akhirnya pemuda itu meminta maaf dan mau mengganti kerugian yang di alami oleh Aini. Sementara itu di saat dia sedang berbincang dengan polisi, Aini mendapat telepon dari Rahman yang meminta untuk datang ke kantor lebih cepat. Namun, wanita bercadar itu memberi alasan bahwa dirinya mengalami kecelakaan dan akan terlambat.
Rahman menawarkan dirinya untuk menjemput Aini, tetapi Wanita itu tidak mau sampai Rahman menjemputnya. Seberusaha bagaimanapun juga Aini untuk menolaknya, tetapi Rahman bersih keras untuk menjemputnya.
"Ya Allah, ini orang ngeyel banget sih, kalau di bilang nggak usah dijemput malah jemput!" gumam Aini dalam hatinya, dia pun terpaksa masuk ke dalam mobil Rahman dan duduk di belakang.
"Astagfirullah ... Aini, saya ini Bos kamu! Bukan sopir pribadi kamu! Pindah ke depan!" bentak Rahman dengan kesal.
"Saya tetap milih duduk di belakang! Bila Pak Rahman keberatan, saya bisa naik taksi," ucap Aini yang masih dengan lembut dengan tutur katanya, walaupun sebenarnya dia ingin sekali marah dan membentak Bos-nya itu.
"Terserah kamu lah!" Rahman pun dengan kesal menjalankan mobilnya.
Selama perjalanan, wajahnya selalu ditekuk. Tidak ada ramah-tamah nya saat masuk ke dalam kantornya. Aini hanya bersikap acuh tak acuh dengan sikap Rahman yang memasang wajah cemberutnya.
"Kamu! Temui saya lima menit lagi, dan kamu ... kirim proposal yang sudah kamu riset ke ruang saya!" Tunjuk Rahman dengan intonasi suara yang menakutkan bagi karyawannya.
Aini hanya bisa menepuk jidatnya saat melihat tingkah Bosnya begitu kekanakan hanya karena dirinya tidak mau duduk di depan samping Pria itu.
"Ini, jadwal sidang pertama, saya harap kamu bisa memenangkannya!" Rahman melempar satu dokumen di hadapan Aini.
"Loh, kenapa dimajukan? Bukanya bulan besok?" tanya Aini dengan panik.
"Kenapa? Tidak bisa?" Ammar memajukan raut wajahnya ke arah Aini dengan sorot mata yang tajam. Akan tetapi, Aini memilih untuk menghindar kontak mata.
"Kapan kamu melihat ke arah aku Aini? Aku berharap suamimu tidak akan pernah pulang! Sehingga aku bisa memilikimu!" batin Rahman yang sorot matanya terus melihat bola mata Aini yang melihat ke arah lantai.
Bersambung..
__ADS_1