Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 125. Virgin


__ADS_3

Pukul menunjukan 22 : 00 wib.


Suara ponsel Gabriel membangunkan sang pemiliknya, tanpa sadar Gabriel menjawab panggilan telepon dari Nico.


"Hmm?" ucap Gabriel yang masih setengah sadar dari tidurnya.


"Keluar!" suara emosi Nico membuat Gabriel tersadar dari sisa kantuknya.


"Bentar!" jawab Gabriel yang berbicara dengan nada pelan, agar tidak membangunkan Roy.


Gabriel melepaskan tangan Roy dari pinggangnya dan memakai bajunya kembali, tak lupa memakai jaket Roy untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin malam hari.


Gabriel mengendap-endap jalan keluar dari apartemen Roy untuk menemui Nico yang sudah berada di bawah.


"Kenapa?" tanya Gabriel yang berada di dekat Nico.


"Ikut!" Nico menarik paksa Gabriel untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Gak mau!" Gabriel menghempaskan tangan Nico. Namun, Nico menyeret paksa dan melempar Gabriel masuk kedalam kursi belakang mobil.


"Ehmmp! Nic-Hmmp!" Gabriel berusaha melepas ciumannya dari Nico saat Nico memkasa mencium Gabriel dengan brutal.


Nico yang sudah memuncak akan emosinya, membuka paksa jaket dan kemeja Gabriel hingga semua kancing baju terlepas semua. Terlihat jelas banyak bekas tanda merah di area leher dan sekujur bagian dada Gabriel yang sudah di lukis terlebih dahulu oleh Roy.


"Dasar pellacur!" Nico mengunci pintu mobil belakang dan langsung mengendarai mobil menuju sebuah Hotel.


"Nico! lepasin gak?" Nico menarik paksa Gabriel masuk ke dalam lift saat mereka sudah tiba di sebuah hotel milik sahabatnya.


"Diam!" Nico mencekik leher Gabriel karena sudah terbawa emosi saat melihat kekasihnya yang dia cintai memiliki hubungan dengan pria lain.


Gabriel yang ketakutan atas tindakan yang Nico berikan, membuat dirinya teringat akan penyiksaan yang Ayahnya selalu berikan, Gabriel hanya patuh dan menuruti kemana Nico membawanya.


"Ampun, Nic!" ucap Gabriel yang gemetaran.


Nico melempar Gabriel ke atas kasur dan membuka ikat pinggangnya lalu mengikat tangan kekasihnya dengan kencang.


"Berapa tarif mu dalam sekali?" tanya Nico yang sudah memuncak emosinya saat mengetahui kekasih yang dia tahan untuk tidak menyentuhnya telah rusak oleh pria lain.


"Kamu salah paham, Nic!" tangisan Gabriel pecah saat Nico melepas semua pakaian yang ada di tubuh dirinya.


"Ck! Salah paham?" Nico mencumbu Gabriel dengan kasar. Nico menambah setiap lukisan yang berada di tubuh kekasihnya hingga melebihi lukisan yang Roy buat.


Nico yang kesal karena selama ini dia belum pernah menyentuh Gabriel selain mencium bibirnya, berusaha untuk menjaga wanita yang dia sayangi. Namun, sudah hancur saat Gabriel telah memilih bermain di belakangnya.


Berbeda dengan Gabriel yang merasa jijik saat Nico mencumbu dirinya seperti Nico mencumbu Sisil di depan matanya.

__ADS_1


"Nico, Stop!" teriak Gabriel saat dirinya sudah tidak tahan oleh permainan Nico yang begitu lihai.


"Kenapa? Apa karena dia lebih jago membuat kamu puas? Aku tunjukan sama kamu bagaimana menjadi pellacur sejati." Nico membuka semua pakaianya dan melebarkan kaki Gabriel hingga Nico bisa melihat area hutan terlarang.


"Nico! Please, Stop it! ... Aku bukan Sisil!" teriak Gabriel kencang membuat Nico berhenti mencium rumput hitam milik kekasihnya.


Nico langsung menghentikan aktifitasnya saat Gabriel menyebut nama Sisil, perasan Nico menjadi bersalah ketika mengingat adegan panas yang dia lakukan bersama Sisil.


Namun, Nico kembali tersenyum licik, ketika rasa bersalah kepada Gabriel tertutup dengan rasa kecewa Nico yang mengetahui kekasihnya juga sudah hamil anak pria lain.


"Bukan kah sekarang kita impas, Gab?! Aku melihat seberapa lihainya kamu memuaskan, aku!" Nico yang sudah amat kecewa dengan Gabriel langsung mencumbunya kembali dan mengarahkan senjatanya kepada lubang lorong waktu milik Gabriel.


"Akkhhh! Sakit, Nic." Teriak Gabriel dengan kencang saat Nico mencoba memaksa masuk kedalam sangkar milik Gabriel yang masih tergembok rapih.


Nico langsung tercengang saat miliknya tidak bisa masuk kedalam sangkar milik Gabriel, rasa bersalah, dan kecewa langsung masuk kedalam relung hati Nico, saat mengetahui bahwa kekasihnya masih Virgin.


"Kenapa kamu bohong, Gab!" teriak Nico yang berada di atas tubuh kekasihnya dengan perasaan yang bersalah.


"Harus kah aku berkata jujur sama kamu?" tanya Gabriel yang sudah benci dengan Nico.


"Ya! Karena aku, pacar kamu! Kita sudah menjalin hubungan hampir setaun, Gab! Kenapa kamu bohongin, aku!" Nico menangis memeluk Gabriel.


"Pacar? Jujur? Nico, kamu gak sadar, kamu sendiri yang berbohong sama aku!" ucap Gabriel yang menangis di bawah tubuh Nico.


"Ternyata kamu ngeselin ya? Oke, aku perjelas! Mulai sekarang ... kita putus! Aku gak sudi berpacaran dengan orang yang sudah tidur sama sahabat pacarnya!" Gabriel menatap tajam ke arah Nico.


Mendapat hinaan dari kekasihnya, Nico sangat marah dan kesal. Nico pun melanjutkan aksi untuk membobol gawang kekasihnya agar bisa dia miliki seutuhnya.


"Kamu gak akan pernah bisa putus dari aku!" Amarah Nico yang sudah berada di ujung tanduk langsung mencium bibir Gabriel dengan kasar sembari meremas benda kenyal yang begitu berisi.


"Brengsekk!" Gabriel menendang perut Nico. Namun, Nico menguncinya dengan erat sehingga Nico bisa menancapkan senjatanya ke dalam lubang yang ada di bawah sana.


"Bang sat." Roy menarik bahu Nico lalu memukulnya tepat di wajahnya.


Roy pun menutupi tubuh Gabriel dengan selimut lalu memukul Nico hingga bertubi-tubi tepat di raut wajah Nico dengan amarah yang sudah memuncak.


"Om, Stop!" Teriak Gabriel saat melihat Nico hampir tidak sadarkan diri dan berlumuran darah.


Mendengar teriakan dari wanitanya, Roy mendekat ke arah Gabriel yang terikat di atas kasur, melepaskannya lalu memeluknya dengan erat.


"Maaf." Roy mengusap air mata Gabriel dan mencium kening wanitanya yang menangis di pelukannya.


"Pakai bajunya kita pulang!" Roy mengambil pakain yang berserakan di lantai dan memberikannya kepada Gabriel.


"Akkh!" Teriak Gabriel saat merasakan sakit di area pakal pahanya saat hendak bangun.

__ADS_1


Roy pun langsung menggendong Gabriel, ketika mendengar wanitanya kesakitan untuk berjalan. meninggalkan Nico yang terbaring di lantai merasakan sakit di area tubuhnya.


"Gab!" ucap Nico yang menahan sakit dan melihat Gabriel di bawa pergi oleh Roy.


"Urus dia!" perintah Roy kepada pelayan hotel untuk menangani Nico. lalu pergi malangkahkan kakinya meninggalkan Hotel tersebut.


Roy meletakan Gabriel di kursi depan dan memasang seatbelt pada Gabriel saat mereka sudah sampai di dalam mobil.


Selama perjalanan pulang, Gabriel terus menangis saat dirinya terus memikirkan Nico. Kekasih yang sampai saat ini ada rasa cinta dan berat melepaskannya yang sudah menemaninya selama hampir setahun.


Namun, harus menelan kepahitan saat tahu, bahwa ternyata kasih sayang Nico juga berlaku kapada Sisil sahabatnya.


Begitu sampai di apartemen, Roy memberikan segelas air hangat kepada Gabriel dan mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Menangislah," ucap Roy yang mengerti kondisi Gabriel.


"Takut, sakit, Om!" Gabriel membuka suaranya saat Roy memeluknya dengan erat.


Roy mengepalkan tanganya saat mendengar keluhan dari sang gadis yang berada dalam dekapannya. Roy pun ikut meneteskan air matanya saat Gabriel terus menangis meminta maaf.


"Sstt ... sudah, ada aku di sini! Tidurlah." Roy mengusap air matanya dan mengecup kening sang gadis.


Gabriel pun tertidur dalam dekapan Roy saat Roy terus-menerus memeluknya tanpa melepaskan gengamannya sedikitpun.


 


Setelah pentempuran panas yang menguras emosi cemburu, Ammar mengecup puncak kepala Aini dengan lembut.


"Pagi, sayang!" Ammar tersenyum saat melihat Aini terbangun akibat ulahnya.


"Pagi." Aini memeluk erat suaminya dengan manja.


Ammar menikmati setiap perilaku manja istrinya yang begitu menggemaskan, membuat Ammar merasa bahagia.


"Malam besok mas ada acara amal, Mas mau kamu menemani Mas datang ke acara itu, ya? Sekalian kita pacaran!" bisik Ammar di telinga Aini.


"Oh ya, berarti sekarang hari jum'at ya? Aini yang mengingat jadwal ulangan di mata kuliahnya."


"Iya," ucap Ammar menarik selimutnya lagi dan tersenyum ke arah Istrinya dengan senyuman nakal.


"Mas, Aini belum gosok gigi!" Aini menutup bibirnya saat Ammar mulai mendekat ke arah bibirnya.


"Gak apa-apa, Mas tetap suka!" Ammar langsung menajutkan gelora asmara sisa semalam dengan sang istri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2