
Mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu UGD, Ammar langsung di bawa oleh para medis yang di ikuti oleh Aini dari belakang.
"Mohon tunggu di luar ya, Bu!" ucap Suster yang menutup pintu ruang operasi UGD.
Aini yang hanya diam membisu ketika pintu sudah di tutup oleh suster langsung di tuntun oleh Bu Rum untuk duduk di kursi tunggu, lalu mengusap pundak Aini secara perlahan agar Aini bisa tegar menghadapi cobaan dari sang pencipta.
Aini masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya, hatinya begitu sakit saat melihat orang yang selalu di rindukannya kini terbaring di ruang opersi sedang memperjuangkan nyawanya.
Aini tak henti-hentinya berdzikir meminta pertolongan kepada sang pencita, agar suaminya bisa selamat, walaupun mereka berpisah. Setidaknya calon anak-anaknya masih memiliki seorang ayah.
"Pak, Bejo!" panggil Aini agar Pak Bejo menghampiri dirinya.
"Iya, Nyah?" Pak Bejo mendekat ke arah Aini dan juga Rum.
"Sudah kabarin Tante Dinda?" tanya Aini dengan tatapan kosong.
"Sudah, Nyah! Nyonyah Dinda dan Tuan Andi sekarang menuju ke arah sini, Nyah," ucap Bejo
"Tolong, hubungi nomor ini dan juga ini! Jangan sebut nama saya!" Aini memerintahkan Pak Bejo untuk menghubungi Roy asisten Ammar dan juga Nabila tanpa menyebut namanya.
"Baik, Nyah!" ucap Pak Bejo yang mengerti perintah dari Aini.
Beberapa menit kemudian Dinda dan Andi datang, melihat Aini yang di temani oleh Bu Rum dan juga Pak Bejo di luar ruangan
"Akstagfirullah, Aini!" Dinda langsung memeluk Aini, tangisan Aini pecah dalam pelukan Dinda.
"Mas Ammar, Tante!"
"Ya, ya sudah! Kamu yang sabar! Tante yakin, Ammar pasti baik-baik saja." Dinda terus menenangkan hati Aini.
Tidak lama kemudian Roy datang dengan raut wajah yang penuh kekawatiran terhadap bosnya, Roy menghampiri seorang pria paru baya yang kemungkinan pria itu yang mengabarinya lewat telepon.
"Maaf, apa Bapak yang menghubungi saya? Soal Bos saya yang kecelakaan? " tanya Roy memastikannya.
"Oh, iya!" ucap Pak Bejo.
"Di mana sekarang, Bos saya? Gimana keadaanya?" tanya Roy kepada Pak Bejo.
"Pak Ammar sedang di tangani oleh para medis, sekarang berada di dalam ruang operasi," ucap Pak Bejo yang menjelaskan.
"Terima kasih Pak, atas info nya." Roy langsung terfokus oleh seorang wanita bercadar yang sedang menangis dalam pelukan wanita yang lebih tua.
Ketika Roy ingin menghampiri wanita bercadar itu, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dari ruangan operasi dan menanyakan keluarga pasien.
"Keluarga pasien?" tanya sang Dokter.
"Saya, Dok!" Roy menunjuk dirinya sendiri, saat Dokter bertanya.
__ADS_1
"Pasien kehilangan banyak darah, kami membutuhkan pendonor cepat untuk pasien!" ujar sang Dokter.
"Saya bisa, Dok! Golongan darah saya sama dengan pasien!" ucap cepat Roy yang menawarakan dirinya sendiri
"Ok, kalau begitu silahkan ikuti asisiten saya ke ruangan!" perintah Dokter kepada Roy.
Roy melupakan sejenak tentang wanita bercadar yang ada di hadapannya, lebih memilih fokus untuk keselamatan sang Bosnya.
_________
Ke esokan paginya.
Roy yang sudah mengetahui wanita bercadar itu adalah istri pertama bosnya yang sudah menghilang lebih dari sebulan, kini duduk manis sambil membacakan ayat suci di samping Ammar yang masih terbaring koma.
Lantunan demi lantunan Aini bacakan di samping Ammar, doa tidak henti-hentinya Aini panjatkan sambil terus berharap Ammar akan segera sadar.
"Bang, Ammar!" ucap Nabila yang baru datang dan menghampiri Ammar sambil menangis.
Aini yang menyadari kedatangan Nabila, langsung berhenti membaca kitab suci dan berdiri. Perlahan Aini melangkahkan kakinya untuk keluar. Memberikan waktu luang untuk Nabila dan Ammar.
"Nyonyah, saya mohon agar Nyonyah tetap berada di samping Bos Ammar! Karena saat ini, beliau sangat menbutuhakan anda! Saya harap, Nyonyah tidak meninggalkannya lagi!" Roy yang menghentikan langkah Aini saat berada di luar ruangan rawat.
"Tugas saya sudah selesai! Istrinya sudah datang, saya hanya orang luar yang hanya terikat oleh anak yang saya kandung darinya!" Aini berbicara tanpa membalikan badannya. dan melangkahkan kakinya.
"Nyonyah, saya mohon! Bos sangat mencintai anda, Nyonyah! " Roy terus menghadang Aini agar tidak pergi.
"Alhamdulillah, Nak! Akhirnya ibu bisa bertemu kamu lagi. Ibu kangen, Nak! pulang lah, sayang!" Ibu Ainun memeluk Aini begitu erat seakan tidak mau kehilangan kedua kalinya.
"Maafin Aini, Bu! Sudah membuat Ibu cemas! Maaf juga Bu, Aini tidak bisa pulang! Walaupun Aini ingin pulang bersama Ibu, tapi Aini sadar bu. Bahwa Aini lah yang menjadi orang ketiga di hubungan Mas Ammar dan Mba Nabila!"
"Aini!" teriak Andi memanggil keponakannya yang datang menjemput Aini di kala Nabila dan Ainun sudah datang.
"Aini pamit dulu, Bu! Maaf, tidak bisa lama menjenguk Mas Ammar. Assalamualaikum." Aini mencium tangan Ainun dan segera pergi dari Ainun dan juga Roy.
Roy yang melihat Ainun menangis saat Aini pergi, tidak tega dan membawa Ainun untuk masuk ke dalam ruang rawat Ammar. Setelah itu, Roy mengejar Aini lalu mengikutinya dari belakang.
"Roy! Ngapain kamu ngikutin saya terus?" Aini merasa kesal karena Roy mengikuti langkahnya.
"Maaf, Nyah! Ini tugas saya." Roy tidak mau kehilangan istri pertama Ammar.
"Tugas? Udah deh, Roy. Mending kamu siap siaga di samping Bos kamu! Dari pada ngikutin saya terus." Aini membuka pintu mobilnya.
"Saya akan terus mengikuti kemana Nyonyah pergi, sampai Nyonyah berjanji pada saya untuk kembali lagi bersama Bos saya!" Roy menahan pintu yang akan di buka oleh Aini.
"Roy!" Aini menatap tajam ke arah Roy.
"Maaf, Nyah. Bila saya bersikap tidak sopan terhadap anda!" Roy memundurkan dirinya dan memberi jalan terhadap Aini agar bisa masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Tanpa melihat kearah Roy, Aini langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh Om Andi untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Roy tersenyum ketika Aini pergi, karena Roy sudah berhasil memasang alat pelacak baru ke dalam tas Aini saat Roy mengikuti Aini sampai ke mobilnya.
Di sisi lain.
Nabila yang sedang mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Ammar yang masih terbaring koma, pasca operasi di bagian tangan dan kaki yang mengalami patah tulang, serta benturan keras di bagian kepala, membuat Nabila dan Ainun langsung syok.
"Astagfirullah, Roy! Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Ammar bisa mengalami kecelakaan?" Ainun yang memarahi Roy ketika Roy sudah ada saat Dokter menjelaskan kepada keluarga Ammar.
"Maaf, Bu. Roy belum mendapat kabar dari pihak polisi mengenai kronologi kecelakannya," ucap Roy yang merasa bersalah.
"Terus kamu di mana? Saat kecelakaan!" Ainun yang bingung kenapa Roy baik-baik saja, padahal Roy asisten Ammar yang pasti Roy selalu mengikuti ke mana Ammar pergi.
"Pada saat itu, saya tidak berada satu mobil dengan Bos Ammar, Bos Ammar menyuruh saya untuk mencari Nyonyah Aini dengan mobil yang berbeda, sedangkan Bos mengendari mobilnya sendiri untuk mengejar mobil yang di tumpangi Aini," ujar Roy menjelaskan.
"Tapi saya tidak berhasil menemukan Aini, begitu juga dengan Bos Ammar, beliau sempat menghubungi saya untuk mengentikan pencarian dan menyuruh saya untuk kembali ke Hotel, tapi saat saya sudah menunggu Bos Ammar di lobby Hotel, saya mendapat kabar dari seseorang, bahwa mobil bos mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit." Roy menjelaskan yang dia tau dengan jujur.
"Aini? Ini semua karena Aini, Bu! Kalau saja Bang Ammar tidak mengejar mobil Aini, Bang Ammar tidak akan mungkin kecelakaan, Bu!" Nabila yang mendengar penjelasan oleh Roy langsung beransumsi penyembab kecelakann Ammar adalah Aini.
"Maaf, Nyonyah. Penyembab kecelakaan sesungguhnya kita belum tahu, dan masih dalam penyelidikan Polisi." Roy yang membantah atas tuduhan Nabila ke Aini.
"Iya, betul apa yang di katakan oleh Roy! Lebih baik kita tunggu hasil penyelidikan dari Polisi." Ainun yang setujuh dengan pendapat Roy.
"Tapi, sudah jelas! Aini lah penyebah Bang Ammar kecelakaan, Bu!" ucap Nabila yang masih bersih keras menunduh Aini penyembab kecelakaan suaminya.
"Maaf Nyonyah Nabila! Sebaiknya anda jangan menuduh sembarangan, karena kalau terbukti Nyonyah Aini tidak bersalah, maka Nyonyah Nabila Lah yang akan di tuntut atas nama pencemaran nama Baik."Roy mulai tidak suka dengan sikap Nabila.
"Ceuh! Kamu mau menuntut saya?" Nabila mulai tersinggung dengan ucapan Roy.
"Hai. sudah-sudah! Nabila ... Benar apa kata Roy, sebaiknya kamu jangan langsung menuduh Aini! Bukan cuma kena tuntutan atas pencemaran nama baik, tapi akan menimbulkan fitnah! Karena kamu sudah suuzon pada Aini." Ainun membela Roy dan itu membuat Nabila tambah kesal.
"Terserah, Ibu deh!" Nabila langsung duduk di kursi tunggu di dalam ruang rawat inap Ammar.
Bersambung...
Pengingat diri.
Bila ada seorang muslimah yang melakukan hal buruk.
Ingat! Jangan salahkan kerudung yang ia pakai karena kerudung nya tidak salah,
Jangan pula membenci orangnya, karena kita tidak tau orang yang kita benci mungkin saja derajatnya lebih bagus di mata sang pencipta.
Namun, Bencilah dengan sikapnya yang merupakan salah satu sifat setan!
Terimakasih atas dukungannya, Jangan lupa mampir juga ya... di cerita yang menarik satu ini dari author terkece.. sampai jumpa lagi di episode berikutnya. 😘
__ADS_1